BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
48. Ditentang


__ADS_3

Malam ini Badrina bersiap-siap berkunjung ke rumah Poppy. Cantara semula ingin turut serta ke sana, mengingat esok hari bocah itu akan sekolah, maka Badrina menolak keinginan putrinya.


Cantara sempat menangis merespon penolakan mamanya. Badrina menanggapi dengan baik, mengajaknya bicara, bermain, membacakan buku, dan memberi janji kalau akhir pekan akan pergi bersama putrinya.


Mendengar tawaran yang memukau itu, Cantara merasa lebih baik. Dia bersedia ditinggal bersama Muryati.


Badrina menaiki taksi untuk sampai ke rumah mewah Poppy. Di tempat inilah, masa kecil hingga melepas masa lajangnya dihabiskan Badrina. Banyak sekali kenangan tertoreh di rumah ini, terlebih memori pahit.


Meskipun mewah, tetapi Badrina tidak pernah benar-benar merasa nyaman sebagai penghuni. Badrina kerap merasa sendirian menjalani masa kecil hingga dewasanya.


Kaos oblong dan celana berbahan denim melekat di tubuhnya. Sosok perempuan biasa yang tidak begitu menyukai riasan berwarna di wajah mulusnya. Berbeda jauh dengan penampilan Poppy dan Monera, sepupunya.


Walaupun demikian, kulitnya yang cerah membuat penampilannya tetap segar.


"Selamat malam, Nona Rina," sapa sekuriti begitu ia turun dari taksi tadi.


Badrina didampingi menuju teras, ia sempat mengobrol hal ringan dengan sekuriti itu. Sesampainya di teras, Badrina disambut oleh asisten rumah tangga, Badrina diantarkan masuk menuju ruang keluarga.


Badrina ditinggal sendirian, ia melihat ke sekeliling, mengamati pigura mulai dari yang kecil hingga besar. Di sudut ruangan ada foto ayahnya, tidak lain saudara sekandung tantenya. Hanya itu satu-satunya foto anggota keluarga Badrina yang terpampang.


Tidak ada foto dirinya dan ibu di rumah itu. Selebihnya, foto keluarga Poppy.


Kesan kemarahan tidak lagi terbit dalam diri Badrina, ia telah terbiasa tidak dianggap oleh tantenya. Bila ada fotonya terpajang, malah menjadi aneh.


Namun, perasaan tak dianggap itu diabaikannya, tidak diambil pusing lagi oleh Badrina, sebab dirinya memiliki kisah hidup sendiri.


Pada Poppy, Badrina selalu menegakkan rasa hormat. Badrina tidak pernah melihat tantenya berlaku jahat, kecuali masa sekolah dasar ia pernah dikurung dan ditakuti karena bersikap nakal. Ucapan Poppy saja yang kerap ketus dan pedas dalam pendengaran Badrina.


Terlepas dari itu semua, faktanya, Poppy begitu berjasa menurut Badrina.

__ADS_1


"Hei Rina, kamu datang. Tidak bilang Tante dulu," sapa Poppy datar, menegur Badrina. Perempuan itu duduk berseberangan dengan posisi Badrina.


Badrina menoleh begitu mendengar suara tantenya, setelah sempat terbawa arus memori masa lalunya. "Iya, Tante. Tante, apa kabar?" tanya Badrina ramah, ia berdiri ingin memeluk Poppy, sayangnya ditepis dengan halus.


"Seperti yang kami lihat, baik," sahut Poppy. "Tante tidak sempat berkunjung ke rumahmu. Tahulah... Tante banyak kesibukan sebagai seorang pengusaha," lanjut Poppy lalu duduk menyilangkan kedua kakinya.


Badrina mengangguk. "Ya, Tante. Tidak apa-apa. Aku sudah semakin sehat," respon Badrina berusaha memahami kondisi yang terjadi.


"Ada keperluan apa kamu kemari?" tanya Poppy langsung.


Mendengar pertanyaan itu, mendadak Badrina meragu. Badrina menduga ia mengganggu jam istirahat tantenya.


Muncul pertanyaan di benaknya, apakah penolakannya untuk menjadi pasangan Hafez bisa nanti menyakiti perasaan tantenya. Hal yang dikhawatirkan Badrina, hubungan sebagai keluarga merenggang.


Badrina bergeming, padahal ia telah memupuk keberanian berminggu lamanya. Kini, otaknya malah menginginkan agar dirinya tidak mengucapkan kalimat yang akhirnya bisa berdampak buruk. Badrina bungkam beberapa saat.


"Rina, kamu dengar Tante, tidak?" tanya Poppy geram sebab Badrina tidak kunjung mengemukakan maksud kedatangannya. "Tante tidak punya waktu untuk diam-diaman seperti ini," ketusnya mulai melempar kata sindiran.


Bibir Poppy kelu, ia tercenung mengulangi penuturan keponakannya di dalam otaknya. Terbayang menara rencana yang dibangun roboh seketika.


"Apa alasannya?" tanya Poppy melembutkan nada suaranya agar Badrina tidak tertekan.


Inilah kesempatan Badrina berkata jujur sekalian meminta restu pada tantenya. Ketegangan masih mengikat perasaan Badrina.


Sudah melangkah, maka dirinya akan meneruskan. Mau apa lagi! batinnya.


"Aku...." Badrina tidak mampu membalas tatapan tajam tantenya. Poppy mengangkat cangkirnya dengan anggun, menyesapnya sembari menunggu kata dari Badrina.


Mama Cantara menunduk seraya berkata, "Aku ingin memperbaiki hubungan dengan Arshaka, Tante."

__ADS_1


Terdengar suara nyaring pecahan cangkir di lantai. Badrina menegakkan kepalanya.


Dapat disaksikannya Poppy terlihat berang, matanya memelototi Badrina, nafasnya naik turun tidak beraturan.


"Kamu anak yang tidak tahu diuntung!" makinya pada Badrina. Poppy berdiri dan menghardik lawan bicaranya, "Bagaimana bisa kamu akan kembali pada pria itu? Dia sudah mengecewakan. Kamu memanglah tidak cerdas!" lontar Poppy menunjuk-nunjuk Badrina.


Badrina ikut berdiri, "Tante, Arshaka menyesal akan masa lalu yang kurang terjalin baik diantara kami," ucapnya menjelaskan. "Kami telah mengevaluasi, komunikasi yang buruklah memicu pertengkaran demi pertengkaran. Aku tidak langsung akan menikah Tante, melainkan melihat keseriusan Arshaka," tambahnya dengan nada bermohon tenang.


"Kamu ini polos jadi mudah tertipu. Arshaka hanya berpura-pura baik sama kamu," tuduh Poppy.


Badrina tertegun mendengar perkataan tantenya. "Apakah tante masih tersinggung dengan ucapan Arshaka sewaktu di rumah sakit?" tanya Badrina menerka-nerka. "Aku akan membawanya ke hadapan Tante untuk meminta maaf," lanjut Badrina menunjukkan keseriusan.


Poppy tertawa terbahak. "Rina... Rina... saya tidak butuh kamu bawa Arshaka ke hadapan saya. Dia tidak berarti apa-apa buat saya," ungkap Poppy menyepelekan maksud hati Badrina.


"Saya tidak selugu kamu yang mau saja dibohongi dan kembali menerima pria pendusta itu," lanjutnya dengan sengit.


Badrina tidak mengerti maksud Poppy. Dusta apa yang dimaksud tantenya? Sepengetahuannya Arshaka telah membeberkan isi hatinya yang mendalam selama tiga bulan ini.


"Dusta apa, Tante?" tanya Badrina, merinding melihat sisi amarah Poppy bila tidak menyukai seseorang.


"Jangan ada fitnah," lontar Badrina tiba-tiba berani menegur Poppy dengan nada lebih tinggi, entah keberanian dari mana.


"Lancang kamu!" hardik Poppy dengan mata memerah sembari menunjuk Badrina. "Hanya karena seorang pria kamu berani menaikkan nada suara kamu pada tante! Kalau bukan karena saya, saat ini kamu mungkin menggembel di jalanan," ungkit Poppy.


Badrina meluruh, ia merasa bersalah pada tantenya. "Maaf, Tante," ucapnya disertai isakan penyesalan. "Aku hanya ingin tahu dusta apa yang tante maksudkan," lanjut Badrina memohon.


Poppy berjalan ke arah nakas, menulis sesuatu dengan cepat, lantas menyerahkannya pada Badrina.


"Silakan kamu kunjungi tempat ini. Kamu akan tahu fakta yang disembunyikan oleh Arshaka, pria pembohong itu," ketus Poppy menyerahkan secarik kertas berisi tulisan.

__ADS_1


"Tante tidak bisa berlama-lama, ada keperluan lain. Dan maaf, tidak bisa mengantarkan kamu," ucap Poppy masih dalam suasana panas hati.


Perempuan itu gegas meninggalkan Badrina, seribu pertanyaan hinggap di kepala Badrina. Kebenaran apa yang disembunyikan oleh Arshaka?


__ADS_2