BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
54. Fakta Mengejutkan


__ADS_3

Badrina berlari kencang sembari menangis, meninggalkan gedung perkantoran. Jauh di belakangnya, Arshaka berteriak-teriak memanggil namanya, Badrina tidak mempedulikannya.


Perempuan itu baru saja mendengar fakta yang lebih mengejutkan dari Akmal bahwa Arshaka delapan tahun yang lalu bersekongkol dengan tantenya untuk merebut harta peninggalan orang tua angkatnya. Sebelumnya, Arshakalah yang menghubungi Akmal memintanya untuk menceritakan tentang kejadian masa lalu, bila Badrina bertanya.


Fakta itu lebih menyakitkan dibandingkan saat Badrina mendengar ternyata dirinya hanyalah anak angkat atau Poppy mengincar harta bagiannya.


Hati Badrina bagai dihantam dengan bongkahan batu besar saat mendengar rahasia besar yang tersembunyi selama ini. Pandangannya tadi sempat beralih pada Arshaka yang menunduk ke arah meja.


Meskipun dulu Badrina kerap marah-marah pada Arshaka, tetapi jauh di lubuk hatinya begitu mengasihi Arshaka sebagai suami. Tidak ada rasa benci pada Arshaka, itulah sebabnya kini Badrina mampu membuka hati untuk kembalinya Arshaka.


Namun, kenyataan yang baru saja didengarnya membuat dugaan dalam benaknya bahwa cinta Arshaka semu dan pura-pura. Badrina menjadi kecil hati, merasa tak berharga.


Kilatan cahaya di langit disusul guntur yang menggelegar menandakan hujan akan turun. Arshaka terpaksa kembali ke area gedung perkantoran untuk mengambil mobilnya, Badrina berlari terlalu kencang sampai-sampai ia tak mampu menyusul.


Hujan membasahi jalanan beraspal. Arshaka memelankan kendaraannya menyisir dengan pelan untuk mencari mantan istrinya. Ia jadi menyesal setelah tadi meyetujui cerita kebenaran bahwa dirinya diterima Poppy untuk menikahi Badrina melalui kesepakatan kerja sama dengan tujuan membuat mentalnya rusak demi perebutan warisan.


Akmal sebagai orang yang paham hukum dulu sempat memperingatkan Arshaka akan dampak dari perbuatan di masa mendatang, sayangnya baik Arshaka dan Poppy gelap mata karena harta. Akmal pun tidak bisa berbuat banyak sebab saat itu karirnya bersinar.


Arshaka mengatakan bahwa selama tahun pertama benar ia lakukan sepenuh hati merusak mental Badrina dengan cara-cara manipulatif. Masuk di tahun kedua kebimbangan mendera, rasa bersalah menghantamnya, akhirnya ia menemui Poppy dan mundur dari rencana jahat. Dari situlah Poppy mulai membenci Arshaka karena membangkang dari rencana awal.


Meskipun demikian, bukan berarti Arshaka jatuh cinta pada Badrina. Masih ada bayang sosok perempuan di relung hatinya kala itu. Ia memperlakukan Badrina dengan dingin, sekalipun kerjasama dengan Poppy telah diakhirinya. Dengan alasan itulah, Poppy menjadi tidak menyukai Arshaka yang dianggap sesuka hati membatalkan persekongkolan.


Arshaka benar-benar menyesal dengan sikapnya di masa lalu. Sayang beribu sayang, Badrina terlalu terkejut mendengar fakta pedih mengenai pria yang mengisi hatinya selama delapan tahun, bahkan sampai saat ini.


Terus berjalan di tengah hujan yang deras bagai orang kehilangan arah, pikiran Badrina kembali pada memori-memori lama yang bergantian tampil di otaknya.


Badrina merasa sedih, tidak dicintai oleh siapapun. Ditakdirkan untuk sendiri dan diperalat oleh orang terdekat. Ditambah lagi, entah siapa orang tua kandungnya dan mengapa ia sampai diangkat oleh keluarga Wriatmaja.


Badrina menggigil berjalan di tengah derasnya hujan. Bibirnya menghitam, seperti kelam hidupnya yang tanpa cinta.

__ADS_1


Apakah ia harus menyalahkan takdir, artinya ia menyalahkan Sang Pencipta? Badrina menggeleng, mengusap wajahnya yang basah karena air mata dan air hujan.


Tanpa sadar Badrina berjalan cukup jauh, hingga ia memandang ke depan tampak hamparan taman yang indah. Hujan telah berhenti menemani pelariannya. Badrina melangkah menuju taman bunga yang bermekaran.


Badrina duduk di sebuah bangku panjang. Ia tersenyum, bisakah dirinya menjadi bunga saja, bukan seorang manusia? Bunga yang menyenangkan hati setiap orang, rela dipetik dan dibuang begitu saja saat telah layu. Dilupakan.


Namun, bukankah begitu hidup Badrina? Dimanfaatkan dan diperalat, diambil manisnya saja?


Senyum yang tadi merekah berganti raut sedih. Ia kembali menangisi nasibnya yang buruk sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Sesekali dipukuli dadanya yang terasa sesak dan berat. Badrina merebahkan tubuhnya di bangku panjang, lelah begitu erat menderanya. Seharusnya ia bahagia berada di taman, sayangnya kesedihan menyelimuti seluruh pikiran dan perasaannya. Badrina jatuh terlelap dalam kesesakan.


Di tempat lain, Poppy merobek kertas berisi pemberitahuan bahwa akan dilakukan penyerahan harta warisan peninggalan Wriatmaja pada Badrina kurang dari sebulan.


"Sial!" umpatnya melempar kertas yang tadi dibaca ke tong sampah. Akmal tidak bisa diajak kerja sama, terlalu loyal pada Wriatmaja.


Ponselnya berdering tanda pesan masuk, Poppy menoleh. Masuk notifikasi pesan dari Hafez.


Poppy menekan tombol unduh. Ia terbelalak melihat isi videonya yang diteriaki oleh Badrina saat di hotel tempo lalu bersama Ahmed Sabri. Poppy tidak meneruskan menonton isi video itu. Kembali ia mengumpati kondisi yang dialaminya.


Masuk kembali pesan dari Hafez.


[Tidak menyangka kamu membeli pria-pria lebih muda. Aku berpikir satu-satunya dalam hidupmu.]


Poppy tidak ingin dicap buruk, ia membalas Hafez.


[Jangan sok suci, kamu juga mendekati saya demi satu kepentingan 'kan. UANG.]


Hafez meradang membaca pesan Poppy. Lantas ia membalas dengan kalimat sengit.

__ADS_1


[Saya memang butuh uang dan mau jadi pemuas nafsu kamu, bukan berarti saya mau diduakan atau ditigakan oleh kamu. Mulai saat ini saya tegaskan, kita tidak memiliki hubungan apa pun].


Amarah Poppy memuncak, bukan hanya disebabkan oleh isi pesan Hafez, tetapi juga karena surat pemindahan harta warisan dari Akmal.


Ia membalas pesan Hafez.


[Saya juga tidak sudi lagi punya hubungan dengan kamu].


Saat pesan itu dikirimkan pada Hafez hanya muncul centang satu pada aplikasi pesan milik Poppy, ternyata setelah pesan terakhir dikirimkan Hafez, pria itu langsung memblokir nomor ponsel Poppy.


Poppy semakin bertambah kesal, ia lemparkan ponselnya hingga membentur sofa. Tangannya mengepal penuh amarah mengingat kondisi yang tengah membelitnya.


Badrina terbangun dengan kepala dan mata yang berat. Dia berusaha menegakkan tubuhnya, disentuhnya mata yang membengkak.


Ia melihat matahari mengintip di luar jendela kamarnya. Dia mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya yang membuat dirinya tidak sadarkan diri. Terakhir dalam ingatannya, ia duduk di sebuah taman. Bila saat ini sampai di rumahnya, Badrina tidak tahu menahu jalan ceritanya.


"Ibu sudah bangun?" tanya Muryati yang telah berada di dalam kamar Badrina. Perempuan paruh baya itu dipesankan untuk menunggui Badrina sampai terbangun.


"Ya, Bibi," jawabnya. "Siapa yang membawa saya pulang, Bi?" tanya Badrina membutuhkan jawaban.


"Bapak, Bu. Pak Arshaka," jawab Muryati. Perempuan paruh baya itu dapat merasakan ada aura masalah diantara keduanya, meski tidak jelas apa.


Mendadak hati Badrina tidak suka mendengar nama Arshaka disebut Muryati. "Mana Canta, Bi?" tanyanya lagi.


"Masih di rumah mamanya Pak Arshaka, Bu," jawab Muryati.


"Bi, tolong...." Tercekat kalimat ditenggorokan Badrina. "Jangan sebut nama bapak di hadapan saya," titahnya.


Meskipun bingung, Muryati menganggukkan kepalanya. Setelah itu, ia izin keluar untuk berbenah kembali di dapur.

__ADS_1


Ingin rasanya Badrina menangis lagi, tetapi tidak ada gunanya. Dia berusaha menguatkan diri sendiri. Badrina harus menyusun tindakan untuk memberi pelajaran pihak yang dulu memandangnya tidak berharga.


__ADS_2