
Badrina masih duduk terdiam di ruang keluarga kediaman Poppy, sibuk menerka-nerka apa gerangan maksud tantenya menyerahkan selembar kertas. Pikiran Badrina berkecamuk sambil membaca berulang kali tulisan yang tertera.
Badrina kenal betul dengan isi tulisan yang diserahkan Poppy padanya.
Dering ponsel di tas kecil menyela alam pikiran Badrina.
Badrina merogoh tas lalu meraih ponselnya. Masuk panggilan dari Arshaka, lantas Badrina merespon panggilan itu.
"Rina, apa kamu sudah selesai? Aku ada di depan rumah tante Poppy," ucap Arshaka langsung masuk inti pembicaraan.
Badrina mengerjap, memproses ucapan Arshaka. "Hah? Kamu di depan? Ngapain?" tanya Badrina setelah memahami maksud Arshaka. Aksi Arshaka tentu saja membuat Badrina heran, sebab ia tidak pernah memberi tahu pada Arshaka akan berkunjung ke rumah Poppy.
"Menjemput kamu," sahut Arshaka dengan wajah ceria. "Kalau sudah selesai, segera keluar. Aku parkir di seberang rumah tante Poppy," lanjutnya.
Badrina segera mematikan sambungan telepon di antara mereka. Badrina berpikir, Arshaka jangan sampai masuk ke rumah, sebab Poppy menolak merestui hubungan mereka lagi. Badrina tidak ingin sampai terjadi keributan kalau Arshaka sempat bertemu Poppy.
Badrina segera mengambil tas kecilnya, berjalan ligat tanpa suara menuju pintu utama.
Belum sampai tujuan, baru berjalan sebentar, Badrina mendengar suara sayup-sayup dari kamar yang bersebelahan dengan ruang keluarga, pintu tidak tertutup rapat.
Badrina mengintip ke kamar, terlihat punggung seorang pria, entah siapa gerangan. Perempuan itu ingin memastikan siapa tamu pria yang masuk ke kamar pribadi Poppy. Namun, pikirannya mendadak ingat akan perkataan Arshaka kalau dia menunggu di luar.
Badrina mengurungkan niat untuk mencari tahu siapa pria itu, bisa saja tukang yang sedang memperbaiki kamar, batinnya.
"Kamu di sini sudah berapa lama?" tanya Badrina sembari memasang sabuk pengaman, begitu masuk mobil, duduk di sebelah Arshaka.
"Sepuluh menit yang lalu," jawabnya mengamati Badrina secara seksama.
"Kenapa memandang aku seperti itu?" tanya Badrina salah tingkah dengan tatapan dalam Arshaka.
"Kamu tidak diapa-apakan oleh Poppy, 'kan?" Arshaka malah balik mengajukan pertanyaan, duduknya menyamping ke arah Badrina.
"Shaka, kamu lupa menyebut kata 'tante'," ingat Badrina menggeser ke atas bola matanya. "Aku juga tidak kenapa-napa, apa yang dikhawatirkan?" tanya Badrina lagi sembari menunjukkan badan yang baik-baik saja.
__ADS_1
"Dia tante buat kamu, bukan buat aku," ucap Arshaka lalu meluruskan tubuhnya ke arah depan.
Badrina menghela nafas, ia ingin menegur Arshaka karena tidak menunjukkan sikap hormat pada tantenya. Namun, tidak ingin terjadi perdebatan, Badrina memilih bersidekap dan diam.
"Kenapa diam? Kalau mau marah, marah saja," cetus Arshaka memancing Badrina.
"Kamu mau jemput aku atau ajak berantem sih, Shaka. Aku naik taksi saja kalau begitu," protes Badrina, tangannya bergerak membuka sabuk pengaman.
Buru-buru Arshaka menahan jari Badrina yang akan menekan tombol sabuk pengaman. "Aku Mau jemput kamu, Mama Cantara. Kita pulang ya," respon Arshaka tersenyum iseng.
Kendaraan Arshaka meninggalkan rumah Poppy. Hanya terdengar suara alunan instrumen musik Yiruma di mobil Arshaka. Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing beberapa waktu.
"Kamu sudah makan?" tanya Arshaka memulai kembali pembicaraan.
"Belum."
"Mau makan malam bersamaku?" tanya Arshaka menoleh sesaat, berharap Badrina menyetujui.
"Setelah tiga bulan berbaikan," sindir Badrina sambil menoreh senyum samar. Badrina sengaja menggerakkan kepalanya untuk menambah efek insinuasi.
Arshaka tersenyum mendengarnya dan mengusap wajah malu. "Aku lapar, perlu makan," ucap Arshaka. Pria itu masih saja kaku bila berhadapan dengan Badrina.
Arshaka akui perlu waktu untuk membuat dirinya lebih rileks bila berhadapan dengan perempuan yang pernah menjadi istrinya itu.
Mereka tiba di sebuah restoran bernuansa Jawa. Menu makanan lokal yang menggugah selera, serta iringan musik instrumen daerah yang lembut di pendengaran.
Badrina masuk duluan untuk memesan makanan, sementara Arshaka masih mencari tempat untuk parkir. Badrina masih ingat apa yang menjadi menu favorit mantan suaminya.
"Tadi membicarakan apa dengan tante Poppy?" tanya Arshaka begitu pesanan selesai diletakkan di meja. Arshaka terpaksa menggunakan kata tante daripada diamuk lagi oleh Badrina.
"Tidak bicarakan apa-apa," ucap Badrina berhohong sembari menuang nasi ke dalam piring dan menaruh lauk serta sayur.
Arshaka mengamati raut Badrina sambil mengunyah makanannya. "Keperluan apa ke sana?" tanyanya lagi. Arshaka merasa tidak tenang sebab ada rahasia besar diantara dirinya dan Poppy yang belum diketahui perempuan di hadapannya ini.
__ADS_1
"Sekedar berkunjung. Lama tidak mengunjungi tante dan rumah masa kecilku," jawab Badrina. Tidak ada ekspresi yang berlebih dalam pengamatan Arshaka.
Perempuan itu terlihat tenang menjawab semua pertanyaan Arshaka. Arshaka tidak bisa menggali makna dari ketenangan Badrina.
Arshaka menduga kalau Poppy tidak menceritakan kisah kelam masa lalu yang terjalin di antara mereka berdua.
Tidak terasa makan malam mereka berakhir. Hanya ada sederet percakapan di atas meja mengenai Poppy, bukan tentang kelanjutan hubungan mereka.
Tersadar akan rahasia yang masih disimpannya, Arshaka melontarkan pertanyaan. "Bila kelak... ya, suatu saat nanti... katakanlah aku membuat kamu kecewa, apakah kamu akan pergi meninggalkanku?"
Sontak Badrina yang saat itu tengah merogoh tas kecilnya, mengangkat kepala mengamati raut Arshaka.
"Tergantung... tergantung... kemampuan aku mampu menerima kekecewaan atau tidak," lontar Badrina.
Arshaka meraih jari-jemari Badrina, menggenggamnya. Ibu jarinya bergerak mengelus punggung tangan mama Cantara. Menjalar kehangatan diantara mereka berdua.
Arshaka menghirup nafas panjang dan dalam. "Bila besok atau lusa atau waktu mendatang kamu mengetahui ada yang salah sama aku, please jangan pergi tinggalkan ...." Ucapan Arshaka mendadak tercekat di tenggorokannya.
"Aku... semua akan ku jelaskan pada kamu," sambung Arshaka memohon.
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak mengerti," timpal Badrina menarik tangannya dan menaruh ke bawah meja. Ada perasaan tidak enak yang singgah di hati Badrina.
"Nanti kamu akan mengerti, hingga tiba waktunya berjanjilah Rina, kamu akan tetap bertahan untuk membuktikan kebenarannya," ucap Arshaka terkesan diplomatis.
"Apa sebenarnya yang kamu maksudkan? Kenapa tidak sekarang saja ceritanya?" tuntut Badrina, ia makin gelisah dengan perkataan absurb Arshaka dan juga penuturan Poppy di rumahnya tadi.
"Waktunya belum tepat," kilah Arshaka. "Satu hal yang kamu tahu, aku tulus untuk memperbaiki hubungan kita, bukan karena dorongan siapa atau apa pun. Aku benar-benar... mencintai kamu," pesan Arshaka dengan jujur disertai eskpresi memohon menyirat di rupa tampan Arshaka.
Badrina terpana mendengar ucapan Arshaka yang dinilainya berani. Badrina menyentuh pipinya yang menghangat.
Selama ini, Arshaka sebaik mungkin menyimpan perasaan, jarang ada ucapan romantis paska mereka kembali memutuskan untuk merajut relasi yang sempat kusut.
Batin Badrina diliputi rasa penasaran akan kalimat demi kalimat yang terlontar Arshaka. Ada apa sebenarnya, tanya Badrina di hati.
__ADS_1