BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
52. Memeluk


__ADS_3

"Mengapa diam saja?" tanya Arshaka menatap Badrina yang tertunduk, duduk di sofa ruang tamu rumah Nuraini.


Badrina masih menahan posisi, ia tidak menyangka Arshaka akan pulang secepat ini lalu memberondong dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kemana, dimana, bersama siapa, dan lain sebagainya.


Badrina jenuh, ingin beristirahat dari kecamuk pikirannya saat ini. Arshaka hanya akan membuat Badrina terpantik emosi, tidak akan baik bagi hubungan keduanya yang baru saja membaik.


"Aku mau pulang," ucap Badrina memainkan ujung pakaiannya. Ada rasa panas di matanya, tetapi sekuat tenaga ditahan Badrina agar air matanya tidak tumpah.


Arshaka berdecak tidak mengerti maksud Badrina. "Rina, aku pulang hanya karena mendengar kamu tidak ada di sekolah Cantara, menghilang tiba-tiba. Ponselmu dihubungi pihak sekolah, tetapi tidak diangkat," gerutu Arshaka melanjutkan perkataannya.


"Sekarang kamu diam dan minta pulang seperti anak kecil," keluh Arshaka sulit mengerti komunikasi Badrina. Arshaka semakin tidak paham sebab Badrina hanya diam dan mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya, Arshak menggunakan kata-kata bernada tinggi agar setidaknya Badrina membalas ucapannya sehingga terbukalah alasan mengapa Badrina menghilang mendadak.


Pundak Badrina bergetar menangis tanpa suara. Pipinya diusap kasar dengan punggung tangan, lalu disapukan ke celananya. Badrina tidak mau bila Arshaka melihatnya menangis.


Papa Cantara mengamati gerakan tubuh Badrina, ia hela nafas panjang. Jarvis berdiri lalu duduk di sebelah Badrina.


Seketika, Arshaka merasa bersalah karena tidak sabaran melontarkan banyak pertanyaan yang pada akhirnya tidak dijawab Badrina.


Arshaka ingin sekali memeluk perempuan di hadapannya ini, tetapi ia meragu bisa-bisa Badrina mengamuk.


Badrina pernah mengatakan 'tidak ingin disentuh secara sembarangan, termasuk dipeluk', Arshaka mengurungkan niatnya. Jadilah, rasa canggung menyelimuti diri Arshaka untuk membantu Badrina menenangkan diri.


"Maaf, aku telah mencecar kamu dengan banyak pertanyaan," ungkap Arshaka menyesali sikapnya.


"Aku hanya --"


Tidak disangka-sangka, Badrina melempar dirinya ke dalam pelukan Arshaka sembari terisak kencang. Badrina mencengkram erat pakaian kerja Arshaka, seolah melampiaskan rasa marahnya atas kejadian mengejutkan tadi di hotel.


Perlakuan Badrina membuat tangan Arshaka terangkat ke udara, Arshaka tercenung membeku.

__ADS_1


"Tante Poppy, Shaka... tante Poppy berbuat tidak pantas bersama pria lain," ucap Badrina dibarengi tangisan sehingga tidak terdengar jelas, tetapi maknanya dapat ditangkap oleh Arshaka.


Arshaka mencerna ucapan Badrina dengan posisi masih sama seperti awal.


"Tante Poppy... punya pacar berondong. Dia bermesraan di sebuah restoran hingga lobi hotel. Itu 'kan ruang publik. Rasanya aku mau muntah melihat sikapnya," adu Badrina dalam suasana sedih dan kecewa.


Arshaka mendengkus kencang usai mendengar penuturan Badrina. Arshaka turunkan tangannya menyentuh punggung Badrina lalu mengusapnya perlahan. Arshaka cukup mengetahui orientasi hidup Poppy.


"Dia sama Hafez?" tebak Arshaka berusaha menunjukkan sikap empati.


Badrina terdiam dari tangisnya lalu mengurai pelukan. Dengan bersimbah air mata Badrina melontarkan pertanyaan pada Arshaka. "Kok Hafez?"


Arshaka mengerjap, menduga tebakannya salah sasaran. Dia menduga sosok lain yang menemani Poppy. "Hanya bertanya, soalnya mereka dekat. Bisa saja salah," koreksi Arshaka memandang Badrina yang heran mendengar ucapannya.


"Bukan Hafez. Namanya tadi... kalau tidak salah... Ahmed Sabri," ujar Badrina sambil mengingat-ingat.


Arshaka tidak tahan mendengar nama baru terlontar dari Badrina. Arshaka tertawa kencang mendengarnya sampai memegang perut.


Wajah Badrina melongo dengan kening mengerut, ia sedang tidak menyampaikan lelucon, tetapi mengapa Arshaka menertawakannya.


Tawa Arshaka mendadak berhenti, wajahnya berubah datar. Arshaka lupa kalau mantan istri sedang serius menangisi perbuatan tante kesayanganya.


"Maaf... maaf," ucap Arshaka mengatupkan kedua tangan di depan dadanya. "Kamu sepertinya belum siap menerima kenyataan mengenai tante Poppy," nilai Arshaka menyikapi kesedihan Badrina.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu tentang tante Poppy?" Badrina melontarkan tebakan. "Kamu seperti mengenal baik tanteku. Apa ada yang kamu ketahui, tetapi aku tidak tahu?"


Arshaka termegap, tidak menyangka Badrina akan menodongnya saat ini juga mengenai Poppy. Arshaka menimbang-nimbang apakah harus memberitahu kebenaran? Atau membiarkan Badrina mengetahui dari orang lain.


Arshaka bimbang dengan pilihan menceritakan atau tidak. Setelah Badrina mengetahui bagaimana keaslian Poppy, mau tidak mau masa lalu Arshaka pun pasti akan terbongkar. Arshaka berada diambang dilema.


Kebenaran akan masa lalu diduga Arshaka akan berdampak pada relasi mereka sebagai dua insan yang sedang memperbaiki diri.

__ADS_1


"Shaka," tegur Badrina mengawai tangan di depan wajah Arshaka. Beberapa kali Badrina memanggil Arshaka hingga ia sadar sedang melamun.


Arshaka kembali fokus pada mantan istrinya. "Ceritakan apa yang kamu ketahui tentang tanteku," pinta Badrina dengan serius.


"Aku... em... akan membawa kamu kepada orang yang tepat. Orang ini yang mengetahui tante Poppy dengan detail," beber Arshaka. Arshaka tidak memiliki keberanian untuk menceritakan keaslian Poppy pada Badrina.


"Aku harus pergi dulu, tas ku tadi tertinggal di kantor," elak Arshaka berniat mengakhiri pembicaraan dengan Badrina.


Bola mata Badrina melirik cepat ke jam dinding. "Ini sudah lewat jam empat, kamu masih mau ke kantor?," tanyanya. "Bukannya kamu bilang 'sudah izin' dan jam kerja juga hampir berakhir," lanjut Badrina menatap curiga. Badrina merasa Arshaka hanya membuat alasan agar tidak berbincang bersamanya.


Arshaka bergerak salah tingkah, diusapnya tengkuk dengan tangan kanan. "Kamu tidak ingin aku pergi?" goda Arshaka. Ide jahil melintasi pikirannya.


Badrina memutus tatapan pada Arshaka. "Hanya bertanya," ucap Badrina menoleh ke arah lain. Kini Badrina yang jadi salah tingkah.


"Mungkin... kamu masih ingin memelukku, barangkali tadi belum tuntas." Arshaka melebarkan lengannya, tersimpul senyum di paras tampannya.


Arshaka mulai menggunakan kalimat rayuan pada Badrina. Rasa gugup melanda Badrina, dulu Arshaka tidak bercanda seluwes saat ini.


Badrina merasakan kehangatan menjalari wajahnya, ia mengurungkan keinginan untuk balas tersenyum. Badrina malu Arshaka akan menertawakan.


"Aku... ke kamar mama dulu," ucap Badrina lalu berdiri.


Badrina perlu menetralkan detak jantung yang berdegup tidak karuan. Sikap Arshaka mampu membuat hati Badrina penuh bunga-bunga mekar.


"Ee... eh... tunggu dulu. Kamu tidak mengantarkan aku ke pintu?" pinta Arshaka. Gerak langkah Badrina terhenti, ia menoleh pada Arshaka.


"Yaa... kita perlu berlatih saling peduli satu sama lain. Tidak ada yang salah, 'kan?" tanya Arshaka turut berdiri, bahkan menyoroti wajah Badrina yang telah matang akibat rasa malu.


Badrina benar-benar hilang muka, Arshaka memajukan wajahnya dekat dengan Badrina.


"Ya, sudah," ucap Badrina pendek, berlalu ke arah teras masih disertai degupan jantung yang mengencang.

__ADS_1


Arshaka terkekeh sendiri menyaksikan sikap mantan istrinya yang jauh dari kata marah-marah dan mengomel. Dia tidak menyangka Badrina ternyata sangat cantik bila tersipu malu, menggemaskan.


Arshaka menggeleng-geleng, tidak mampu menahan senyum sepanjang mengingat rupa ibu dari putrinya.


__ADS_2