
Malamnya, Danish membesuk Badrina ke rumah sakit.
Siang tadi, setelah Arshaka berganti pakaian yang ternoda darah, sempat ia kembali ke ruang rawat untuk menyampaikan keinginannya menginap di rumah Badrina karena Cantara tidak bersedia pergi ke mana-mana termasuk rumah omanya. Arshaka bermaksud menemani putrinya yang sedang bersedih.
Badrina tidak mempersoalkan keinginan Arshaka. Ia malah bersyukur sebab Arshaka memberi perhatian pada putri semata wayang mereka. Bukan hanya Arshaka, Nuraini juga bersedia menginap di rumah Badrina sebagai bentuk dukungan pada cucunya.
Saat ini, pikiran Badrina melayang pada insiden tadi, dapat dirasakannya perbedaan respon tantenya, Poppy, sebagai keluarga terdekat dengan Arshaka sebagai mantan suami, lebih tanggap Arshaka. Poppy sama sekali tidak berniat menyambangi rumah Badrina untuk melihat Cantara.
Badrina mendengkus keras. Hal itu tidak luput dari perhatian Danish yang sedang duduk santai di bangku penunggu pasien.
"Kenapa, Aini? Sepertinya sedang berpikir berat?" tanya Danish membuyarkan lamunan Badrina.
Badrina mengerjap, ia lupa kalau Danish saat ini sedang bersama dirinya. Alam pikirnya yang sibuk membawa ketidaksadaran akan kondisi sekelilingnya.
"Ah, tidak... tidak ada apa-apa," ujarnya gelagapan. Badrina belum yakin untuk mencurahkan beban batinnya pada siapapun.
"Mikirin mantan?" tebak Danish.
Badrina melirik Danish sekilas, kemudian terdiam.
"Dia serius mau rujuk."
Ucapan Danish yang singkat membuat Badrina tercenung. "Ka... kamu... dapat isu dari mana?" tanya Badrina mencoba menormalkan gesturnya.
"Dia curhat. Kamu dipindah ke VIP ini motivasinya apa coba?" tanya Danish mencoba mengajak Badrina berpikir dalam.
"Karena Cantara, katanya," sahut Badrina pendek.
"Ck... itu jawaban si Shaka?" tanya Danish.
__ADS_1
Badrina menganggukkan kepalanya sembari mengangkat alisnya tinggi-tinggi dengan bibir mencebik.
"Emanglah si Bangor... terlalu tinggi gengsi," gumam Danish dengan nada bisikan. Badrina tidak mendengar kalimat itu, ia sibuk berpikir.
"Kamu tidak merasa paska bercerai, Shaka berubah?" tanya Danish, menatap paras perempuan ibu satu anak itu untuk memastikan perasaannya pada mantan suaminya.
"Ada... Shaka berubah," timpal Badrina. Danish tertarik dengan pengakuan Badrina, lantas ia menegakkan tubuhnya memberi perhatian lebih saat ini.
"Teruskan... berubah gimana?" gali Danish dengan binar penasaran.
"Paska bercerai, kami malah lebih sering bertengkar bila bertemu," keluh Badrina mengenang kekonyolan perdebatan mereka. "Sampai tadi pagi besuk aku, masih saja mode Tom and Jerry. Capek," imbuhnya dengan kernyitan kening menandakan ketidaknyamanan.
Danish menggeleng-gelengkan kepala mendengar penuturan Badrina, bahkan sampai menepik keningnya sendiri. Ia merasa seakan-akan ada kabut konflik yang menyelimuti pasangan mantan suami istri itu.
"Kamu dan Arshaka dari awal pernikahan kerap bertengkar? Bagaimana sih kalian bisa bertemu dan jadi suami istri?" selidik Danish dengan antusias.
Badrina menyipit menatap Danish. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. "A... aku bertanya untuk menerawang kenapa kalian bisa seperti Tom dan Jerry," kilah Danish.
Tercipta keheningan di antara mereka. Danish masih mengamati Badrina, kalau-kalau perempuan itu masih ingin melanjutkan perkataannya.
"Kerap ribut paska Canta lahir. Tapi, aku tidak bilang karena Canta memicu keributan ya. Aku capek dan lelah menjalani hidup pernikahan dengannya... Shaka semakin tidak perhatian, pulang kantor suka-suka... kadang pulang kadang tidak, menginap di apartemen atau di rumah mama. Seringkali menyalahkan aku kalau kami bertengkar. Emosiku jadi terpengaruh, tidak stabil dan ya... mudah marah," ujar Badrina berat, mengingat masa lalunya. Sesekali Badrina terkekeh, menertawakan dirinya sendiri yang sumbu pendek.
"Shaka tidak sepenuhnya salah, Dan. Akulah yang tidak mampu menjadi pribadi lebih kuat," sesalnya dengan urai air mata di ujung mata. Ia mengusapnya dengan kasar. Namun, bukannya berhenti, air mata malah membanjiri pipinya.
Badrina duduk dengan posisi menunduk sesenggukan, jari-jemarinya saling menekan bergantian menunjukkan dalamnya kegelisahan hati. Udara terasa semakin dingin menusuk kulit, Badrina sesekali menarik selimut hingga ke bahunya, padahal suhu tidak ditambah.
Danish mengulurkan plastik berisi tisu kering. Perempuan itu cepat meraihnya, diusap air mata di pipi yang berderai tak tertahankan.
Danish yang duduk di samping ranjang, berdiri menyentuh dan mengusap bahu Badrina.
__ADS_1
"Menangislah," lirih Danish pelan hampir tidak terdengar.
Badrina mendongak menatap Danish yang menaruh rasa kasihan terhadapnya. Ia menumpahkan tangisan kencang, setelah sekian lama selalu mengafirmasi diri sebagai perempuan harus tampil kuat.
Danish menarik Badrina ke dalam dekapannya. Syukur saja ruangan rawat Badrina VIP sehingga tidak terdengar suara tangisan sampai keluar ruangan.
"Aku capek Danish. Shaka tidak pernah peduli padaku, Tante Poppy, dan juga sepupuku... tidak ada yang benar-benar peduli. Aku sendirian. Hanya Cantara yang menjadi temanku, tapi ia masih begitu kecil untuk tahu ini semua," ucapnya tidak begitu jelas sambil terisak.
Danish mengusap punggung teman kecilnya itu. Ia memang tahu bagaimana sikap Poppy dan sepupu Badrina.
"Ungkapkanlah," ucapnya lagi.
"Sekarang Tanteku ingin aku dekat dengan Hafez. Shaka bilang 'pria itu punya banyak anak tanpa ikatan perkawinan', Tante bilang 'ia duda yang ditinggal mati istrinya, tanpa anak'. Aku tidak tahu mana yang bisa aku percaya," tangisnya lagi Badrina merasa bimbang.
"Aku ingin mati saja, Danish." Usapan di punggung Badrina terhenti. Danish tercenung, tubuhnya merinding mendengar penuturan Badrina.
"Tapi aku ingat putriku, Cantara. Siapa yang akan mengasihinya bila aku tidak lagi hidup? Ibuku meninggalkanku dalam kondisi depresi, aku tidak tahu kondisi mental Canta, apakah juga akan mengalami kesendirian seperti aku kelak?" ucap Badrina menerawang masa depan. Tangisannya perlahan berhenti, lelah Badrina berharap dikasihi.
Danish mengurai pelukannya. Ia kembali duduk, tangan kanannya menggenggam jemari Badrina.
"Kamu... perempuan yang kuat," puji Danish sembari tersenyum kecut mengingat hidup pilu Badrina, tidak dicintai oleh orang-orang terdekatnya.
Badrina tertawa masam. "Kalau boleh memilih, lebih baik aku jadi pribadi yang lemah dan tidak merasakan semua kepahitan ini sedari kecil, Danish."
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya dicintai. Sampai-sampai aku bingung untuk mengungkapkan rasa sayang pada putriku. Ia kerap menjadi samsak emosiku, aku telah menyesalinya...." Badrina kembali terisak mengingat Cantara.
Danish menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan keras.
"Aini... bila Arshaka... em...." Danish terbata-bata melontarkan katanya. Ia meragu, menelan ludah lalu bertanya, "Bila Arshaka meminta rujuk bukan karena Canta... melainkan perasaan cinta pada kamu... apakah kamu akan percaya?"
__ADS_1
Lontaran kalimat itu membuat keduanya diselimuti keheningan dan saling bersitatap. Bukan hanya Badrina dan Danish saja, ada seseorang yang dari tadi terhenyak mendengar percakapan mereka.