
Sore ini Badrina memiliki janji bertemu dengan Danish. Setelah semalam perjumpaan dengan mantan suaminya yang menyebalkan itu menyisakan rasa sedih di hati. Badrina ingin berkonsultasi dengan teman masa kecil yang memberi perhatian pada dirinya.
Badrina belum yakin untuk mengunjungi ahli seperti psikiater maupun psikolog dewasa, Badrina sosok yang sulit untuk bisa terbuka pada pihak lain.
Tadi pagi, dengan mata membengkak karena menangis semalaman, Badrina harus mengerjakan tugas hariannya untuk mengantar Cantara ke sekolah serta menunggui putrinya itu. Ia mengenakan kaca mata hitam untuk menyamarkan mata bengkaknya.
Namun, tidaklah mungkin menggunakannya sepanjang jam di sekolah anaknya sebab Badrina juga harus sesekali berinteraksi dengan orang tua murid lain.
Saat Cantara telah masuk kelas, Badrina memutuskan tidak lagi menunggu di dekat kelas, melainkan mengambil jarak lebih jauh agar tidak dekat dengan para ibu lainnya. Dirinya tidak mau ditanya lebih lanjut tentang mata bengkaknya.
Badrina duduk termenung, ingatan akan ucapan mantan suaminya melekat di pikirannya. Tuduhan yang dilayangkan padanya membuat Badrina ingin sendiri saja saat ini.
Badrina memperhatikan kalau Cantara memang semakin nyaman di sekolah, baik bersama guru maupun teman di kelasnya.
Saat Badrina masih di areal sekolah, Danish dihubunginya untuk bertemu dalam rangka mendiskusikan buku yang pernah diberikan pria itu saat liburan beberapa bulan lalu.
Danish langsung menerima tawaran itu. Berkaitan pula dengan permintaan Arshaka agar dirinya mendekati Badrina.
Aktivitas yang cukup padat sebagai ibu tunggal membuat Badrina belum bisa menyelesaikan bacaan yang diberikan oleh Danish. Meskipun demikian, Badrina menyukai topik tentang mengasuh ulang diri sendiri dengan mengingat kembali masa kecilnya yang pahit.
Entahlah, apakah sebenarnya baik untuk dirinya sendiri saat ini atau malahan membuatnya semakin sulit dan tersiksa dalam menerima fakta bahwa secara emosional ia ditolak semenjak kecil dari orang-orang dekat yang seharusnya memberi dukungan.
Sore menjelang, Danish menepati janji dengan berkunjung ke rumah Badrina. "Halo cantik... lagi apa?" sapa Danish, bergabung duduk di sebelah Cantara dalam ruang tamu.
Asisten rumah tangga yang tadi menyambut Danish, meninggalkannya bersama Cantara untuk membuatkan minuman ke dapur.
Cantara menoleh dan menyunggingkan senyum. "Hai, Om Danish," sahut Cantara melambaikan tangannya. Ia sedang duduk memasang lego barunya.
__ADS_1
"Lagi main, Om. Aku punya lego baru," tunjuknya mengangkat karya yang hampir jadi.
"Wah, hampir selesai ya, mau bikin rumah-rumahan?" tanya Danish melihat bentuk karya Cantara.
"Iya, Om. Rumah buat Mama, Canta, sama Papa tinggal," ujarnya polos dengan suara yang ceria.
Danish memandang gadis kecil itu lekat-lekat, pikirannya terbang ke arah Arshaka dan Badrina yang ia tahu tidak lagi memiliki hubungan apa-apa saat ini. Danish merasa kasihan pada Cantara yang memiliki pemikiran murni, lantas Danish mengusap kepala Cantara untuk memberi kekuatan pada bocah itu.
"Mama kamu ada?" tanya Danish kembali pada maksud kedatangannya.
"Mama ada, Om. Canta panggil dulu ya, Om." Danish mengangguk. Gadis kecil itu segera berlari ke kamar mamanya.
Cantara mengetuk beberapa kali pintu kamar Badrina. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Dengan menjinjit, Cantara membuka hendel pintu lalu masuk mencari mamanya ke dalam.
"Mama," panggilnya beberapa kali, tetap tidak ada sahutan. Kàmar Badrina sepi.
Cantara heran mengapa mamanya tidak seperti biasanya yang cepat menanggapi bila dipanggil olehnya.
Cantara pergi membuka pintu kamar mandi, di situ Cantara heran melihat Badrina dalam kondisi tergeletak.
"Mama..." panggil Cantara. Badrina diam saja tak bergerak. Anak itu mengguncang-guncang tubuh mamanya sembari memanggilnya.
Suara Cantara meninggi memanggil Badrina, Cantara menjerit-jerit panik. Badrina tidak bergerak dan tetap tanpa suara.
Danish yang berada di ruang tamu dan asisten rumah tangga mendengar jeritan Cantara. Asisten dari dapur gegas berlari menuju arah suara Cantara.
Bersamaan dengan Danish tiba, mereka melihat Badrina tergeletak tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Aini, aini," panggil Danish menepuk-nepuk pipinya. Ia memeriksa nadi Badrina yang masih berdenyut.
Cantara menangis melihat mamanya tidak berdaya. "Tenang ya Canta, kita bawa Mama kamu ke rumah sakit untuk pertolongan," ujar Danish pada Cantara. Gadis kecil itu masih terus menangis, ia dilanda rasa takut dengan apa yang disaksikannya barusan.
"Bibi, tolong segera buka pintu mobil saya. Kita harus ke rumah sakit," titahnya pada asisten rumah tangga paruh baya bernama Muryati.
Muryati segera melaksanakan perintah Danish. Tergopoh-gopoh ia ke halaman rumah membuka pintu mobil sedan bagian penumpang. Pria itu membopong tubuh Badrina menuju ke mobil.
"Bibi sama Cantara juga ikut ya. Canta duduk sebelah om di bangku depan, biar Bibi yang jaga Mama," aturnya. Dengan derai air mata, Cantara menuruti apa yang dikatakan oleh Danish.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Cantara melirik terus ke belakang dengan tangis sesenggukan. Danish berusaha konsentrasi mengendarai mobil. Sesekali ia mengusap kepala dan punggung Cantara yang terlihat begitu sedih dengan kondisi Badrina yang hanya menutup mata tidak berdaya.
Sampai di instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit, Danish segera melapor kalau dirinya membawa seorang pasien. Petugas bergerak cepat dengan membawa brankar melihat kondisi pasien mengalami kegawatdaruratan.
Mereka membawa ke dalam ruangan dan melakukan tindakan pertolongan pertama. Cantara yang masih dibawah umur, tidak diperkenankan masuk karena ada beberapa pasien dalam kondisi berat, dikhawatirkan bisa menyebabkan trauma bila dilihat oleh anak-anak.
Muryatilah kini yang bertugas untuk mendampingi Cantara, "Tenang ya Non, mama sudah diurus sama perawat dan dokter. Non Cantara berdoa yang terbaik ya buat Mama," ujarnya mengusap-usap punggung Cantara. "Kita berdua di sini dulu, tidak boleh masuk. Om Danish yang temani mamanya Non," terang Muryati pada Cantara.
Bocah itu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia mengangguk sembari sesekali terisak. Ia rapalkan doa dalam hati untuk keselamatan mamanya.
Setelah Badrina diberi pertolongan pertama, Danish menyelesaikan administrasi. Dokter jaga menyampaikan bahwa Badrina perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Badrina mengalami tekanan darah mendadak turun dan dehidrasi.
Danish telah memiliki dugaan sendiri penyebab pingsannya Badrina. Sewaktu Danish tadi dihubungi oleh Badrina, kentara terdengar suara yang serak seperti orang habis menangis. Hanya saja, Danish sungkan untuk menanyakan lebih lanjut.
Danish keluar dari ruang instalasi gawat darurat. Ia melihat Cantara telah tertidur di pelukan Muryati. "Bibi, tolong jaga Canta sebentar ya. Saya mau beli minum dan menelepon," ujarnya. Muryati mengangguk menyetujui perkataan Danish.
Danish pergi ke tempat sepi sejenak, ia harus mengabarkan seseorang. Danish mengambil ponselnya menghubungi orang yang menurutnya harus bertanggung jawab atas peristiwa ini.
__ADS_1
"Ya, Dan --"
"Heh, bangor! Mantan lo lagi dirawat di rumah sakit. Sini lo, bader!" sembur Danish dibarengi cacian pada Arshaka.