
Arshaka telah menyiapkan dana yang diminta oleh para penculik dalam bentuk dolar. Dia sedang mencari sebuah mobil box untuk membawa uang sebesar 4 milyar rupiah yang dimintakan.
Tengah malam sebelumnya, Badrina kembali dihubungi. Skenario penyerahan dana berubah menjadi seluruhnya tunai.
"Kamu menjual seluruh asetmu?" tanya Badrina resah saat Arshaka memberitahu bahwa ia akan menyerahkan dana itu sesuai permintaan penculik.
"Aku masih punya pekerjaan, masih bisa mencari penghidupan, aku masih sehat," sahut Arshaka dengan nada optimis.
Nuraini menatap kasihan pada putranya yang akan bangkrut bila ia menyerahkan dana tebusan itu pada penculik putrinya.
"Mengapa tidak membiarkanku juga ikut membantu?" tanya Badrina lirih. Matanya memanas turut bersedih dengan kondisi yang menyerang mereka saat ini.
"Kalau aku bilang 'karena sayang kamu...' kamu tidak percaya 'kan?" tukas Arshaka sambil mengendik bahu, menatap Badrina. "Aku sayang Canta, nanti kalau aku tidak punya apa-apa lagi, tugas kamu yang menanggungjawabi Canta," sambungnya.
Ucapan Arshaka itu seakan-akan menjadi satu kesepakatan tidak tertulis di antara mereka.
Sebentar saja Badrina merasa prihatin mendengarnya, kemudian salah tingkah mendengar pengakuan spontan Arshaka, diliriknya mantan ibu mertuanya.
Nuraini yang tadinya sedih sedikit terhibur dengan percakapan kedua anak muda itu.
"Kamu di rumah mama saja dulu, kalau kembali ke rumah papa Wriatmaja, khawatir ada yang berniat tidak baik padamu," tutur Arshaka sembari mengotak-atik ponselnya.
Lagi-lagi hati Badrina bagai terbang melayang dan wajah menghangat. Perkataan Arshaka seolah-olah menyiratkan kekhawatiran pada mantan istrinya.
"Aku akan ke kantor pagi ini. Siang saat jam istirahat, dana ini akan diserahkan di lokasi yang mereka minta." Arshaka melanjutkan ucapannya.
"Apa aku boleh ikut nanti siang?" tanya Badrina, tatapannya penuh harap.
Arshaka menoleh. "Tidak perlu. Yang ada kamu nanti terbawa perasaan saat melihat Canta dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," tolak Arshaka.
Mendengar nama putrinya, manik Badrina berkaca-kaca. Ia membayangkan apakah putrinya diperlakukan baik atau tidak oleh penculiknya.
Badrina takut kalau Cantara menjadi korban pelecehan sebab akan membekas seumur hidup.
__ADS_1
Tidak kuasa Badrina menahan air matanya. Mata bengkaknya akan semakin bengkak bila menangis terus. Tidurnya pun kurang, terlihat dari lingkar mata yang menghitam.
Arshaka begitu kasihan pada mantan istrinya itu. Betapa banyak kesakitan bertubi-tubi yang ia alami.
Arshaka mendekati tempat Badrina duduk. Ia menepuk-nepuk punggung tangan mantan istrinya.
"Berdoalah agar Canta kembali dengan selamat." Arshaka meneguhkan Badrina.
Perempuan itu sesenggukan berusaha menahan tangis yang keluar dengan tidak tahu malu. Suara tersedu terdengar begitu memilukan.
Arshaka bergerak melebarkan lengann lalu mendekap Badrina di dadanya. Tidak tahan rasanya Arshaka, dia mengusap lengan Badrina, bahkan dengan berani mengecup puncak kepala Badrina.
Kata maaf tidak pernah terlontar dari bibir Badrina, tetapi Arshaka seolah yakin kalau mantan istrinya bukanlah seorang pendendam yang penuh kebencian dalam hati. Namun, untuk menerima Arshaka kembali bukanlah perkara mudah mengingat perbuatan masa lalu yang sangat melukai hati Badrina.
Air mata pun tumpah di pipi Badrina. Mereka merasa sangat takut kehilangan Cantara.
Menyaksikan pasangan mantan suami istri itu, membuat Nuraini turut bersedih, dia pun turut larut dalam tangisan. Tidak lama kemudian, Nuraini beranjak menjauh, dia memberi waktu pada mereka berdua.
"Kamu... juga... pulang dengan selamat...," isak Badrina. Ia genggam kemeja Arshaka kuat-kuat seperti takut kehilangan Arshaka.
Badrina yang semula hanya didekap, sekarang melingkarkan lengannya ke tubuh Arshaka. "Aku... takut..." lanjutnya lirih, ia menggeleng-geleng. Wajahnya dibenamkan di dada Arshaka. Dua orang yang pernah hadir menghangatkan hari-harinya sedang dalam kondisi terancam, Badrina menyesal tidak mampu berbuat banyak.
Badrina tersedu mengingat keadaan hidup yang selalu diuji oleh pencobaan demi pencobaan, seakan-akan dia tidak berhak untuk merasakan normalnya menjadi manusia dalam sentuhan ketenangan.
Walaupun suara Badrina tidak jelas dan kecil, Arshaka masih mampu untuk menangkap isi perkataan ibu dari putrinya itu.
Usapannya terhenti di lengan Badrina. Bola matanya menatap ke sembarang arah, berpikir dalam tentang makna perkataan Badrina 'takut'.
"Kamu takut apa?"
"Takut kehilangan Cantara dan... juga kamu."
Arshaka tersentuh mendengarnya, baginya kalimat Badrina menjadi penyemangat untuk membebaskan Cantara. Arshaka tidak ingin berpikir berlebihan saat ini.
__ADS_1
"Kamu tidak akan kehilangan Cantara. Juga tidak akan kehilangan aku, selama kamu menyimpan di dalam hati," ucap Arshaka, memberi dorongan semangat pada Badrina.
Arshaka tidak serta-merta menarik kesimpulan atas ucapan Badrina yang dapat berujung kesalahpahaman di antara mereka.
Badrina menarik diri dari dekapan Arshaka. Ia mengangkat kepalanya, tatapan mereka bersirobok. "Berjanjilah kamu juga akan pulang dengan selamat," pohon Badrina. Tangannya bertumpu di lengan Arshaka.
Rasa takut yang mengancam membuat Badrina lupa akan masalahnya dengan Arshaka yang sebelumnya melilit kencang.
Arshaka tenggelam di manik teduh milik Badrina. Bibirnya kelu, sekedar menjawab 'ya' pun tidak mampu lagi.
"Shaka... berjanji --"
Ucapan Badrina terpotong tatkala Arshaka tiba-tiba menarik wajah Badrina penuh minat untuk menyatu. Ia melakukannya pada Badrina perlahan dengan sepenuh hati.
Kerinduan pada Badrina seakan-akan minta dituntaskan. Hasrat Arshaka membubung di saat yang tidak tepat.
Nafas keduanya saling bersahutan menikmati alunan hati yang mendamba.
Kesadaran Arshaka menghampiri otaknya yang hampir tertutup gairah. "Maaf... maaf...." Arshaka melepas Badrina, dia tersentak sendiri hingga termundur ke belakang.
Arshaka merasa telah lancang berlaku pada Badrina.
Sementara itu, Badrina hanya diam membeku di tempat. Rasa manis yang dulu pernah singgah masih sama. Aroma Arshaka juga kuat dalam ingatan Badrina.
"Aku tidak bermaksud....." Arshaka gelagapan menjelaskan kesalahannya. Tangannya bergerak panik, khawatir Badrina tersinggung dan marah.
"Aku refleks...," terangnya lagi. "Maafkan aku," Arshaka merasa bersalah telah berbuat terlalu jauh dan tidak pantas pada mantan istrinya.
"Ya... tidak masalah. Terima kasih telah menghiburku," ucap Badrina, bertolak belakang dengan segala dugaan Arshaka.
Badrina mengulas senyum. Arshaka khawatir dengan rasa yang membuncah di dalam dirinya. Tidak baik bila ia berlama-lama dengan Badrina berdua saja. Ia bisa saja memangsa mantan istrinya itu.
"Ba... baiklah... aku pergi ke kantor dulu. Tinggallah dengan mama sementara waktu," pesan Arshaka. Ia meninggalkan Badrina yang terbengong sendiri di kursinya.
__ADS_1
Arshaka melangkah keluar menuju kendaraan roda empatnya. Pakaiannya yang telah kusam dan basah akibat air mata Badrina tidak lagi dihiraukannya.
Arshaka melaju tanpa berpamitan lagi dengan Nuraini. Dia berpikir harus menjaga jarak dengan Badrina setelah ini sebab sisi nafsunya malah menggeliat sewaktu berdekatan dengan mantan istrinya itu.