
Nuraini masih berada di rumah Badrina hingga malam tiba. Menemani cucunya melewati hari yang berat menjadi penting begi dirinya. Badrina meminta pendapat pada mantan ibu mertuanya itu terkait keinginan Cantara untuk meliburkan diri besok hari dari sekolah.
"Kalau itu baik untuk Cantara, mama setuju saja Rina." Nuraini selalu merasa menjadi ibu bagi Badrina, meskipun Badrina dan putranya telah bercerai. "Perundungan sekarang bukan masalah sepele, kalau dulu masa kanak-kanak, hal biasa ada yang seperti Parama. Idealnya, Cantara melewati masa TK-nya ini dengan bahagia," sambung Nuraini.
Badrina tersenyum senang mendengar pendapat Nuraini yang terdengar bijaksana di pendengarannya.
"Terima kasih, Ma. Semua demi kebaikan Cantara," ungkapnya.
Pada Arshaka, Badrina memberitahukan rencana itu melalui pesan singkat. Badrina sekalian menanyakan, apakah Arshaka akan datang ke rumahnya atau tidak. Namun, sampai sore, balasan pesannya dan panggilannya belum dijawab Arshaka.
Di sebuah apartemen dengan tiga kamar tidur dan ruang tanu yang cukup besar, Arshaka tengah duduk menyender di sofa besar sambil memejamkan mata.
Saat ini, Badrinalsh yang menjadi pikiran utamanya karena menyangkut putrinya, Cantara. Sedari tadi Arshaka mematikan ponselnya, sebab ia terganggu dengan penawaran kartu kredit berkali-kali, entah dari mana mereka mendapat nomor Arshaka.
"Mas Shaka, tehnya diminum dulu," ujar seorang perempuan, setelah menaruh secangkir teh lalu duduk bersebelahan. Arshaka masih tenggelam dengan pemikirannya sampai tidak mendengar suara lembut perempuan yang lima tahun ini kerap ia sambangi.
"Mas... Mas tidur?" Lengan Arshaka diguncang perlahan.
Arshaka membuka sembari mengucek matanya, "Eh, ini sudah jam berapa?" tanya Arshaka.
"Jam 7, Mas. Aku lihat Mas begitu lelah. Apa... apa Mas mau menginap di sini?" tanya perempuan itu malu-malu.
"Ah, tidak! Seharusnya aku ke rumah Badrina lagi sekarang melihat Canta. Tadi di sekolah Canta dibuli teman sekelasnya," terang Arshaka sambil menegakkan tubuhnya.
"Oh, kasihan sekali putrimu, Mas. Aku bisa merasakannya, itu pasti berat bagi anak usia lima tahun," respon perempuan itu.
"Papa, coba lihat Pa. Gambar aku bagus tidak?" Seorang anak perempuan usia lima tahun dengan antusias berlarian menuju sofa, ia memutus percakapan. Selembar kertas berisi gambar warna-warni ditunjukkan pada Arshaka.
Arshaka memangkunya, "Gambar apa ini? Kalau Papa tebak gambar pemandangan laut ya." Arshaka menyambutnya dengan antusias pula.
__ADS_1
"Betul sekali, Pa. Ini kita bertiga, jalan-jalan ke pantai. Ini aku, Mami dan Papa." Terbit senyum indah di wajah anak kecil itu sewaktu memandang Arshaka.
Arshaka turut tersenyum dan mencium puncak kepala anak yang bernama Ameera Narasya. Ameera anak yang mudah dekat dengan siapa saja. Mudah bergaul dan disenangi banyak orang.
Berbeda dengan putrinya dari Badrina, bukanlah tipe anak yang mudah tersenyum dan tertawa. Ia akan menunjukkan rasa girang pada orang yang dikenal saja.
Arshaka kagum pada perempuan di sampingnya yang begitu lembut mengasuh Ameera.
"Kita kapan lagi jalan-jalan, Pa? Sudah lama tidak ke pantai," tanya Ameera dengan wajah ceria.
"Em... kapan ya... nanti kalau Papa tidak sibuk, ya. Tapi kalau mau, berdua Mami saja dulu jangan menunggu Papa. Pekerjaan Papa menumpuk," Arshaka mengangkat tangannya menunjukkan tanda tumpukan yang tinggi.
"Oke deh, Pa. Aku ke kamar lagi ya, Pa. Masih ada tugas sekolah, besok dikumpulkan." Ameera turun dari pangkuan Arshaka.
"Nanti Papa pulang ya Meera. Baik-baik sekolah," pesan Arshaka sewaktu Ameera akan melangkah menuju kamarnya kembali.
"Siap Papa!" Ameera memberi tanda hormat pada Arshaka. Bocah kecil itu berlari menuju ke kamarnya. Ia menutup pintu lalu mengerjakan kembali tugas sekolahnya.
Arshaka menyesap teh yang disajikan, "Semakin sehat. Alhamdulillah. Tapi, kami masih belum menceritakan tentang perceraian, lebih pada Badrina yang belum berani," terang Arshaka lalu kembali menaruh cangkir ke atas meja.
"Mengapa Badrina belum berani, Mas?"
Ada begitu banyak pertimbangan Badrina. Arshaka tahu itu, tetapi ia tidak bisa menceritakan detailnya pada siapapun.
"Karena kasihan," singkat Arshaka.
"Kabar kamu bagaimana? Apa ada kebutuhan Ameera yang belum terpenuhi?" Arshaka menatap perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu nenjadi tersipu sebab pria di hadapannya ini begitu peduli pada Ameera.
"Mas begitu perhatian. Aku baik-baik saja, Mas, kata dokter semakin menunjukkan kemajuan. Aku perlu terus rajin terapi. Saat Ameera bersekolah, dua kali seminggu aku pergi terapi," bebernya.
__ADS_1
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Apa kamu masih diganggu oleh orang tidak dikenal itu?" selidik Arshaka.
Wajah perempuan itu menghangat, Arshaka begitu perhatian padanya, "Tidak lagi, Mas. Nomor ponsel lama aku buang dan ganti baru. Aku ketik ke ponsel kamu ya, Mas."
Arshaka mengangguk, memberikan ponselnya pada perempuan itu untuk mengetik nomor baru. Sewaktu Arshaka mengaktifkan mobile data ponselnya, masuk notifikasi pesan dan panggilan. Beberapa dari penawar kartu kredit, Nuraini, dan Badrina.
"Aku harus pulang. Canta mencariku. Jaga diri dan Ameera ya," pesan Arshaka setelah membaca rentetan pesan simgkat dari Badrina, sembari memakai outernya kembali.
Wajah yang semula tersipu berubah menjadi datar. Ia mengangguk dan mengantarkan Arshaka sampai di depan pintu ruang apartemennya.
Arshaka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan cukup lengang, sehingga tidak sampai 40 menit ia telah sampai di rumah Badrina.
Nuraini telah kembali duluan ke rumah. Dirinya tadi menyampaikannya melalui pesan singkat pada Arshaka.
"Bagaimana, Canta?" tanya Arshaka begitu bertemu Badrina.
"Baru saja tidur," jawab Badrina dengan ekspresi sedikit sewot.
"Menyangkut sekolahnya, aku ingin memindahkannya ke sekolah yang lain. Bagaimana menurut kamu?" Badrina menanyakan langsung ke topik, saat ini mereka duduk di ruang tamu.
"Mengapa dipindahkan?" tanya Arshaka.
"Teman-temannya tidak akan berhenti untuk menceritakan tentang perceraian kita. Itu tidak baik bagi Canta," jelas Badrina. Baginya, apakah Arshaka setuju atau tidak, ia akan tetap memindahkan putrinya itu.
"Hanya saja, kita perlu berkonsultasi dulu dengan pihak sekolah karena syarat pindah memerlukan surat dari mereka. Juga Canta perlu kita tanya, jangan mengambil keputusan sendiri padahal Canta tidak mau pindah." Arshaka mengingatkan Badrina.
"Ya, pasti. Lusa aku akan ke sekolah lagi. Aku bertanya karena kamu papanya. Lagian datang ke sini sudah jam delapan, jam tidur Canta. Bekerja sampai sesibuk itu?" tanya Badrina sembari mendorong segelas teh kesukaan Arshaka saat menjadi suaminya. Teh aroma melati. Badrina telah menyiapkannya sewaktu Arshaka membalas pesan akan segera datang ke rumahnya.
"Em, aku sudah minum teh," tolak Arshaka teringat teh yang disuguhkan padanya tadi.
__ADS_1
Tangan Badrina terhenti, " Ohhh, ya sudah tidak usah diminum." Badrina kembali menarik cangkir berisi teh melati ke arahnya.
Tiba-tiba, Arshaka buru-buru menarik cangkirnya kembali, "Tidak, biar aku minum saja, sudah dibuatkan, sayang tidak diminum." Sekali nafas Arshaka berhasil meneguk teh melati itu. Badrina melihatnya tanpa berkedip, Arshaka terlihat seperti orang yang sangat kehausan, padahal ia mengatakan telah minum.