
Badrina agak terhuyung sampai ke kamarnya. Ia masih terisak kecil. Cerdasi sendiri, kata itu menggema di telinganya. Badrina belum menemukan maksud dari ucapan mantan suaminya.
Tuduhan Arshaka yang menyebutnya kebelet kawin juga tidaklah benar bagi Badrina. Dirinya hanya ingin berbakti pada Poppy dan berusaha membuat tantenya senang karena dulu pernikahannya bersama Arshaka sempat ditentang oleh Poppy. Perceraian mungkinkah karma bagi dirinya? pikir Badrina.
Kini, Badrina berusaha menerima sosok yang dikenalkan padanya oleh perempuan yang dulu mengasuhnya sedari kecil hingga melepas masa lajang. Apakah ada yang salah bila Badrina memilih jalan seperti ini?
Badrina merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia lelah, tenaganya terasa terkuras habis. Sedari dulu batinnya kerap diserang oleh pihak dari luar dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya Badrina merasa tidak boleh menyalahkan Arshaka, tetapi ia dulu memang jarang mendapat dukungan emosional dari mantan suaminya.
Momen paling mengharukan bagi Badrina ialah saat ia melahirkan Cantara melalui persalinan spontan ditemani oleh Arshaka. Pria itu setia berada di sampingnya, menggenggam tangannya sewaktu Cantara dilahirkan. Mengusap peluhnya. Rasa sakit melahirkan berganti dengan ucapan syukur sebab ada suami dan anak yang menyempurnakan jalan hidupnya. Malangnya, hanya itu saja momen yang sulit dilupakan.
Sebelum dan sesudah kelahiran Cantara, banyak peristiwa dalam Badrina di mana dirinya memutuskan sesuatu sendiri, walaupun menyandang status bersuami.
Saat ini, bukannya mendapat ketenangan setelah perceraian, Badrina malahan semakin dekat dengan Arshaka melalui jalur konflik berkepanjangan. Pria itu seolah-olah tidak bersedia melepas Badrina untuk hidup tenang di muka bumi ini. Bagi Badrina, Arshaka seperti ingin terus membayangi hidupnya.
Tangisan Badrina melelahkan dirinya sendiri, perlahan ia terlelap dalam cengkraman kesedihan dan kesendiriannya. Bila tidak ada Cantara, mungkin ia akan pergi jauh tinggalkan mereka yang menyakiti Badrina.
Arshaka membanting pintu mobilnya dengan kencang lalu masuk ke rumah. Hatinya terus-terusan mengumpati keadaan yang bukannya kunjung membaik.
"Shaka, suara pintu mobil kamu kencang sekali. Sampai terdengar ke rumah," keluh Nuraini yang tengah duduk membaca majalah wanita.
Arshaka tidak merespon ucapan Nuraini, hanya berlalu dengan cepat menuju kamarnya, mengabaikan perkataan Nuraini. Perempuan yang melahirkan Arshaka hanya bisa mengelus dada dan menggeleng.
Nuraini menebak bukanlah pekerjaan kantor yang membuat anaknya sampai sedemikian dongkol, ini pasti tentang mantan istrinya. Sebagai seorang ibu, Nuraini mampu merasakan apa yang tengah dialami putranya.
Nuraini tidak membenarkan Arshaka yang menurutnya gegabah bersikap dengan menalak istrinya. Sayangnya, nasi telah menjadi bubur. Buburnya pun harus bisa dinikmati, sekalipun sangat tidak berselera.
Di dalam kamarnya, Arshaka membuka dan melempar kasar jas kerja dan dasinya ke ranjang. Ia menggeram marah, beralih ke dinding lalu melampiaskan kesalnya dengan meninju hingga tangannya memerah.
Dalam pikirannya berkelebat bayangan Badrina dan Cantara bersama Hafez. Bagaimana mereka bertiga hidup bersama-sama, tertawa bersama dan bahagia. Di sisi lain, muncul bayangan bagaimana Cantara dan Badrina menderita dikarenakan Hafez.
__ADS_1
Kedua bayangan yang menyesakkan saluran pernafasan Arshaka.
Arshaka meraup udara sebanyak-banyaknya. Ia menggeleng untuk menolak rasa cemburu yang bangkit dalam dirinya. Rasa yang delapan tahun ini tidak pernah ia rasakan seperti apa wujudnya.
Malahan setelah bercerai barulah dirinya digiring pada fakta kalau hatinya berat melihat Badrina bersanding dengan orang lain selain dirinya. Arshaka merasa tidak rela Badrina menghabiskan sisa umur dengan pria lain.
Arshaka merasa hanya dirinya yang pantas berdampingan dengan Badrina.
Arshaka mengumpati dirinya sendiri. Ia menyadari kebodohannya karena tidak sadar bersemi rasa asing yang telah bertumbuh dalam hatinya. Arshaka masih berupaya menolak rasa sesal yang menggerogoti akibat menceraikan Badrina.
Delapan tahun ini, Arshaka bersikap seadanya pada Badrina, sementara perempuan itu bukanlah perempuan lembut seperti yang Arshaka idamkan. Namun, bagaimana kini ia cemburu bila perempuan itu dekat dengan pria lain?
"Tidak, tidak mungkin." Arshaka menggeleng keras. "Ini pasti karena aku tidak terima Canta punya papa sambung seperti Hafez si predator wanita itu," ujarnya pada diri sendiri.
Arshaka berjalan mondar-mandir sambil menolak perasaannya sendiri. Ada kegelisahan dalam dirinya, masakan ia takluk oleh karena rasa cemburu.
Tunggu... tunggu dulu. Cinta??
Selang beberapa waktu, ponsel Arshaka berdering. Ada panggilan dari Maulidya.
"Halo," sapanya.
"Halo Mas Shaka, tadi sore aku telepon Mas, mungkin sedang sibuk. Mas tidak apa-apa?" tanya Maulidya dari seberang.
Arshaka diam.
"Aku khawatir saat Mas tiba-tiba pergi dari apartemen," lirih Maulidya terang-terangan menunjukkan perasaan gundah.
"Mas," panggil Maulidya cemas, tidak mendapat respon dari Arshaka.
__ADS_1
"Ah, aku tidak apa-apa Lidya. Tadi aku buru-buru untuk bertemu Canta," cerita Arshaka sembari memijit pelipisnya. Kepalanya pusing.
"Mas bertemu Badrina juga? Em... bagaimana sekolah Canta, Mas?" tanya Lidya dalam rasa ingin tahu yang besar.
"Ee... Canta dipindahkan Badrinq ke TK Tunas Bangsa," sesal Arshaka.
"Oh... itu sekolah kecil, Mas. Kenapa jadi di sana, Mas?" lanjut Maulidya bertanya dengan memberi penilaian.
Arshaka malas untuk meneruskan topik yang membuatnya berang pada Badrina tadi. "Panjang ceritanya. Aku baru sampai di rumah. Ingin basuh diri dulu," pamit Arshaka tidak langsung.
"Oh, ya Mas. Aku tutup teleponnya ya, Mas." Percakapan mereka terputus. Arshaka duduk di bangku kamarnya. Ia menghela nafas panjang.
Kenangan bersama Maulidya sebelum mengenal Badrina menari-nari di alam pikirannya. Maulidya, perempuan yang dulu dekat dengan Arshaka. Ia pergi meninggalkan Arshaka karena Maulidya memilih pria lain yang lebih mapan secara finansial darinya.
Itu pulalah yang menjadi pendorong Arshaka bersedia bekerja sama dengan Poppy untuk menghasilkan uang dengan cepat. Meskipun pada kenyataannya, jalan hidup Arshaka mujur dengan pekerjaan yang baik.
Hingga suatu malam, sepulang Arshaka kerja, ia menemukan Maulidya dalam kondisi hamil meringkuk di dekat pagar rumahnya dalam linangan air mata di bawah hujan lebat. Ia memasukkan Maulidya ke mobilnya lalu membawa ke rumah sakit.
Semenjak Maulidya boleh pulang dari rumah sakit, Arshaka meminjamkan apartemennya untuk tempat berteduh bagi Maulidya dan anaknya. Tidak mungkin ia membawa Maulidya yang tengah hamil ke rumahnya bersama Badrina yang juga tengah hamil.
Bila Badrina salah paham, bisa berimbas pada janin yang dikandung sehingga Arshaka tidak pernah mengenalkan kedua perempuan itu satu sama lain. Hubungan cinta keduanya putus, tetapi mereka tetap saling berkomunikasi erat dan bagaimana sebenarnya perasaan satu dengan lainnya selama bertahun-tahun dulu mereka simpan rapat-rapat.
Arshaka tahu siapa suami Maulidya. Dirinya bahkan menemui pria yang juga adalah temannya semasa kuliah untuk meminta pertanggungjawaban. Sampai satu fakta baru terkuak, dari situ mulailah ikatan Arshaka terikat pada Maulidya dan anak yang dikandungnya.
Arshaka membiayai hidup keduanya atas nama kemanusiaan dan hubungan masa lalu. Lima tahun terakhir pernikahan Arshaka dan Badrina tidak lagi seharmonis sebelumnya, ditambah keberadaan Maulidya, pria itu kerap pulang malam dan semakin jarang memperhatikan istri dan putrinya.
Ada keasyikan tersendiri bagi Arshaka saat mengurus Maulidya dan Ameera yang nasibnya memilukan. Tanpa pria itu sadar, kehidupan istrinya justru terabaikan dan semakin jauh dari dirinya.
Namun saat ini, ia seakan ingin merengkuh mantan istrinya yang kian enggan dengan kehadirannya. Arshaka bimbang dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1