
Poppy menyimpan rasa kesal pada Arshaka. Ia membanting keras pintu saat masuk ke mobil Hafez. Sementara itu, Hafez diam tidak menegur lalu mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang keluar dari areal rumah sakit.
"Kamu harus gerak cepat menikahi Badrina, Hafez."
Kalimat desakan itu menandakan sikap emosional Poppy. Pria itu melirik sejenak pada raut wajah Poppy yang menatap lurus jalanan, menguar rasa benci dari Poppy pada Arshaka.
"Arshaka mulai berani menentang dan menghina saya. Dulu, ia datang ke saya minta dinikahi dengan Badrina." Poppy terus-terusan membicarakan rencana yang dilandasi emosi negatifnya.
"Kamu dengar tidak!?" hardik Poppy lantas menoleh pada Hafez. Hafez menjadi sasaran kemarahan Poppy sebab pria itu diam tidak memberi tanggapan.
"Aku dengar, Tante...," sahut Hafez sembari menggenggam tangan kanan Poppy. "Tante tidak masalah aku menikahi Badrina?" tanya Hafez ringan.
Perempuan akhir empat puluh tahun itu menarik tangannya cepat. "Jangan mulai cari alasan kamu. Ingat saya sudah keluar uang banyak untuk memenuhi gaya hidup kamu," ujar Poppy setengah mengancam.
"Oke... oke... Tante," respon Hafez sembari mengangkat tangan kirinya.
Selanjutnya, Hafez mencolek dagu Poppy yang lancip. "Jangan suka marah-marah." Berakhir tangannya menggenggam kemudi.
Kehidupan Hafez begitu bebas semenjak ditinggal pergi orang tuanya. Kebebasan itu seperti tidak ada batas, tetapi tersembunyi. Sampai-sampai ada janin terlahir dari hubungan tanpa ikatan perkawinan.
Namun demikian, ia tetap bertanggungjawab terhadap empat orang anaknya dari perempuan yang berbeda. Sampai ia bertemu Poppy yang kesepian, pria itu menawarkan percintaan yang panas, sebagai gantinya Poppy ingin Hafez melakukan sesuatu untuknya yakni menikahi keponakannya.
Ada apa di balik permintaan Poppy, Hafez pun belum mengerti hingga ke akar. Motivasi Poppy bukanlah urusannya. Hal penting bagi Hafez adalah dirinya mendapat balas budi berupa uang sebagai ganti dari pekerjaan yang telah dilakukannya.
Bagi dirinya, tidak sulit untuk mendapatkan Badrina sebab ia mengamati bagaimana ucapan Poppy dituruti oleh ibu satu anak itu. Untuk cinta adalah urusan belakangan.
Saat ini, Hafez belum merasa mencintai Badrina.
Sifat Poppy yang garang begitu menantang jiwa kelelakian Hafez. Meskipun dengan usia yang terpaut jauh, Hafez merasa Poppy mampu untuk memuaskannya dari segi apapun, terutama soal kemewahan dan sentuhan fisik.
Hafez tersenyum hingga terlontar kekehan dari mulutnya mengingat bagaimana ia menjadi orang yang patuh akan perintah Poppy pula.
__ADS_1
"Mengapa kamu senyum-senyum?" tanya Poppy begitu menoleh.
Hafez menggeleng. "Aku sedang mengingat bagaimana perjumpaan pertama kita," ujarnya melirik singkat. "Tapi sekarang, Tante memintaku menikahi perempuan lain. Tidak lain keponakan Tante. Tante tidak takut aku jatuh cinta padanya?" tanya Hafez dengan nada menggoda.
Poppy terbahak mendengar penuturan Hafez. "Apa yang saya takuti? Takut kamu berpaling dari saya? Ya sudah, pria tidak hanya kamu," timpal Poppy begitu percaya diri.
"Dan satu lagi, Badrina itu bukan keponakan kandung saya," bisiknya meskipun mereka di mobil hanya berdua.
Hafez terkejut mendengarnya, terbanting stir ke kiri akhirnya mengerem kendaraannya secara mendadak. Teriakan Poppy menggelegar saat ban kendaraan roda empat milik Hafez menanjaki pembatas jalan.
Keduanya terengah dan terdiam seribu bahasa dengan keringat membanjiri pelipis keduanya. Syukur saja mereka menggunakan sabuk pengamanan sehingga tidak ada akibat yang fatal.
Poppy menutup kedua matanya dengan posisi tangan di dada. Ia bisa merasakan detak jantungnya berdegup kencang menandakan ia masih dalam keadaan hidup.
Tidak ada orang yang menghampiri mereka. Lokasi yang mereka lalui sekarang cukup lengang dengan manusia dan kendaraan.
"Kamu bisa menyetir dengan baik, tidak!? Keselamatan saya jadi terancam!" hardik Poppy pada Hafez sembari melepas sabuk pengamannya.
Poppy membuka pintu mobil Hafez, perempuan itu ingin menggunakan kendaraan lain saja. Menumpang di mobil Hafez, Poppy merasa tidak aman.
Melihat gelagat itu, Hafez menahan Poppy untuk keluar dari mobilnya. "Tante mau ke mana?" tanyanya.
"Saya mau naik kendaraan lain saja," jawab Poppy sembari mendorong pintu mobil yang mulai terbuka.
"Di sini sepi, Tante. Lebih tidak aman buat Tante menunggu sampai taksi datang," lontar Hafez melihat keadaan sekeliling. "Yang ada Tante malahan dijahati oleh orang lain. Penampilan Tante yang mewah dan cantik akan menimbulkan keinginan untuk menguasai harta benda, Tante. Bisa jadi Tante juga diculik --"
"Stop bicara!" Hafez dengan segala mitosnya membuat Poppy ketakutan, tidak mampu membayangkan kejahatan yang bisa menimpa dirinya.
Poppy masih ingin hidup panjang, berakhir di tangan perampok bukanlah ide cemerlang.
Poppy menyapu pandangan ke sekeliling, benar saja baru dua kendaraan pribadi yang melewati jalan itu. Bersamaan dengan itu, genggaman di tangan Poppy mengendur, seakan-akan Hafez rela melepaskan kepergian Poppy.
__ADS_1
Pintu mobil dibanting Poppy, ia tidak jadi keluar. "Menyetirlah dengan baik," perintahnya datar suara rendah, maniknya menatap Hafez yang sedang tersenyum samar.
Hafez meluruskan duduknya kembali lalu menurunkan ban mobilnya sesuai jalur.
Setelah dirasa dalam posisi yang tepat, barulah pria itu mengendarai mobilnya dengan hati-hati.
Ungkapan-ungkapan detail dari Hafez seringkali mengikat Poppy untuk terus berurusan dengan pria muda itu.
Sosok itu lihai merangkai kata, seringkali berhasil mempengaruhi lawan bicaranya. Poppy salah satu orang yang tergoyahkan setiap kali Hafez melontarkan gagasan.
Sekalipun sebelumnya perempuan itu sesumbar mengatakan bisa mencari pria lain untuk mendampinginya, ujungnya ia kembali mencari Hafez yang dapat diandalkan.
"Kejutan yang Tante katakan kalau Rina bukan keponakan kandung, Tante, membuat aku kehilangan kendali. Maaf, Tante," lontar Hafez begitu kendaraan telah melaju beberapa saat di jalanan.
Poppy diam saja, tidak menanggapi apa yang disampaikan oleh Hafez. Dirinya khawatir akan mengalami peristiwa lebih parah dari yang barusan terjadi bila salah merespon ucapan Hafez.
Hafez melepaskan tangan kirinya dari kemudi, berusaha meraih jemari Poppy yang gegas ditautkan Poppy di dada. Perempuan itu tidak mau saja, Hafez kehilangan konsentrasi lagi.
Alhasil, telapak tangan Hafez menyentuh kaki bagian atas Poppy.
Pria itu meremas dan sesekali membelai lembut. Hafez berusaha menggoda Poppy yang kesepian baik jiwa dan raganya.
Keduanya begitu menikmati perjalanan waktu. Poppy terbawa alunan rasa yang meliliti tubuhnya.
Poppy menjadi lupa dengan rasa kesal dan amarah, serta insiden yang hampir mencelakakan mereka berdua tadi. Otaknya melepas hormon oksitosin yang diproduksi oleh hipotalamusnya.
"Aku menginginkan, Tante," ujar Hafez dengan suara rendah dan berat. Ia menoleh sebentar ke arah Poppy yang sepertinya menikmati apa yang dilakukan oleh Hafez.
Pria itu juga mengalami hal yang sama dengan Poppy.
Tidak mendengar sanggahan apapun dari Poppy, Hafez segera mulai mencari lokasi penginapan untuk menuntaskan rasa terlarang sejoli beda usia itu.
__ADS_1