BAYANGAN MANTAN

BAYANGAN MANTAN
21. Mengurus Kepindahan


__ADS_3

Hari Jumat pagi yang cerah terlihat Cantara tengah asyik bermain sendirian di teras rumah ditemani pengasuhnya, setelah sarapan selesai.


Badrina tidak tampak, saat ini ia berada di sekolah Cantara untuk mengurus kepindahan putrinya ke sekolah lain. Sekolah tujuan sudah ditentukan oleh Badrina, akan tetapi belum didiskusikan dengan Arshaka.


Duduk di ruang khusus sendirian menunggu kepala sekolah yang tadi keluar memanggil seorang guru, Badrina menyapu pandangan ke sekeliling. Ruangan khusus ini penuh warna pastel yang lembut. Disebut khusus karena ruangan ini dimanfaatkan untuk pertemuan pribadi baik oleh murid maupun orang tua.


Terdapat sofa besar mengelilingi sebuah meja kecil dengan sebotol vas bunga kecil di atasnya. Badrina duduk di situ saat ini. Di empat sisi ruangan terdapat gambar animasi anak ukuran sedang. Ruangan ini nyaman dengan desain minimalis.


Bunyi pintu digeser mengalihkan fokus Badrina, masuk seorang perempuan tambun dengan kacamata beserta rantainya yang bertengger di telinga.


Di belakangnya menyusul seorang perempuan muda yang memakai penutup kepala. Mereka berdua memakai seragam yang sama. Badrina tahu yang masuk pertama adalah kepala sekolah dan lainnya guru Cantara yang tidak diketahui namanya oleh Badrina, sepertinya guru baru.


"Selamat pagi Bu Badrina, maaf menunggu lama," sapa kepala sekolah dengan suara khas seraknya.


Badrina hanya mengangguk dan tersenyum.


"Saya memanggil guru yang saat itu bersama anak-anak dalam jam makan bersama." Kepala sekolah sedikit menunduk melirik Badrina dari sudut atas kacamata bulatnya.


Badrina membiarkan kepala sekolah menyampaikan maksudnya, meskipun tujuan datang ke sekolah bukanlah untuk membahas kejadian yang lalu. Rasanya sudah usang, bahkan pihak sekolah tidak melakukan apapun paska kejadian itu hingga Badrina kini duduk di hadapan mereka.


Perempuan muda itu tersenyum, lalu menceritakan bagaimana kejadian sampai-sampai Cantara menangis. Badrina mendengarkan dengan seksama penuturannya hingga selesai.


"Terima kasih penjelasan pihak sekolah. Sudah terjadi, apa boleh buat. Meski menurut Cantara hal itu bukan kali pertama Parama menjahili Canta. Mungkin saja itu puncak kekesalan Canta." Badrina menghela nafas panjang agar tidak mengikuti bisikan emosi negatifnya yang mulai bergemuruh.


"Saya tetap akan memindahkan sekolah Canta, Bu. Saya ke sini ingin mengurus surat keterangan pindah sekolah," sambung Badrina memandang kepala sekolah.


"Apa tidak bisa dipikirkan kembali, Bu Badrina. Kami akan mengevaluasi sistem yang diterapkan sekolah agar tidak ada lagi kesempatan bagi anak untuk menjahili temannya," bujuk kepala sekolah, tidak ingin kehilangan siswa.


Badrina tersenyum samar, hatinya merasa miris karena kepala sekolah mengatakan "akan mengevaluasi" berarti belum, padahal sudah dua hari kejadian perundungan pada putrinya berlalu.


Badrina menjadi berpikiran kurang baik seperti menduga sekolah memandang peristiwa itu adalah hal biasa, padahal bisa merusak kepercayaan diri seorang anak.

__ADS_1


Cantara bukan sekali dua kali mendapat lontaran kata negatif dari Parama. Badrina tidak merasa yakin mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah ini.


"Setelah kejadian itu saya memeluk Cantara, Bu. Untuk menguatkannya dan mengajaknya ke ruang guru," sela si guru muda. Mereka berdua terlihat kurang merestui langkah Badrina menarik anaknya dari sekolah.


Badrina menoleh padanya, "Terima kasih telah memperhatikan Cantara, Bu guru. Pada Parama tindakan sekolah apa, Bu?" tanya Badrina.


Keduanya terdiam.


Bola mata guru muda bergerak-gerak, seolah-olah ingin membuat sebuah cerita.


"Ibu tahu Canta kerap dibuli oleh Parama, bukan fisik melainkan ucapan?" tanya Badrina tegas menyorot ke arah guru muda.


Kini bukan hanya bola mata, tetapi juga kepala dan tubuh guru itu mulai bergerak tidak tenang. Kepala sekolah menatap guru muda itu. Badrina menebak kepala sekolah pun baru tahu fakta ini.


"Saya menyekolahkan anak saya bukan hanya untuk menjadi pintar, Bu. Lebih agar ia bisa merasakan kasih sayang melalui relasinya di sekolah dan memberi kasih sayang juga pada orang lain. Kepintaran bukan hal utama bagi saya," cetus Badrina. "Saya merasa prinsip saya ini belum bisa dicapai di sekolah ini. Oleh karena itu saya tetap memindahkan anak saya," lanjut Badrina dengan yakin.


Kepala sekolah tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain menugaskan bagian tata usaha untuk membuat surat keterangan yang dibutuhkan Badrina.


Bagaimana nasib guru muda itu, Badrina tidak terlalu peduli.


Badrina belum bisa menyampaikan pesan seperti yang ia sampaikan saat ini sewaktu dulu dirinya kecil, meskipun ia membutuhkan, tetapi tidak pernah mendapatkan pembelaan dari siapapun.


Badrina pulang dengan membawa dokumen yang dibutuhkannya. Saat membuka pintu gerbang rumah, ia melihat terparkir sebuah mobil hitam milik Arshaka.


"Mama, sudah pulang?" Cantara menyambutnya sewaktu masuk ke dalam rumah.


"Iya. Anak mama sudah makan siang?" tanya Badrina memperhatikan Cantara.


"Sudah Ma, tadi sama ibuk," jawabnya.


"Di luar ada mobil papa, ke mana papa?" Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Papa lagi Jum'at'an, Ma," jawab Cantara meninggalkan Badrina yang berdiri di depan pintu kamarnya. Cantara melanjutkan aktivitas bermainnya. Tidak pernah sebelumnya Arshaka menunaikan sholat ke mesjid dekat rumah, mungkin ada kerinduan, batin Badrina.


Badrina mencuci tangan di wastafel kamar kecil di ruang pribadinya, mengganti pakaian dengan daster biasa. Pencernaannya kosong, ia melangkah ke dapur untuk makan siang, "Ibuk sama mbak sudah makan?" tanya Badrina pada mbak yang tengah sibuk membersihkan kitchen set.


"Sudah, Bu," jawabnya sopan.


Saat dirinya akan menyendokkan makanan ke piring, Arshaka tiba dan masuk ke daput "Tadi kata Canta kamu ke sekolah mengurus kepindahan? Bagaimana hasilnya?" tanya Arshaka mengambil posisi duduk berhadapan dengan Badrina.


"Hasilnya baik. Dokumen surat keterangan pindah, aku sudah dapat," jelas Badrina.


"Tidak terjadi apa-apa 'kan?" selidik Arshaka.


Badrina mengerti arah pertanyaan Arshaka, "Kamu berharap sesuatu yang buruk menimpaku?" tanya Badrina sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, sedikit melirik ke arah Arshaka.


"Ck... selalu saja berpikiran buruk pada pertanyaanku," tuduh Arshaka.


Badrina terkekeh.


"Tolong, sajikan makananku," perintah Arshaka yang sedang menunduk memeriksa ponselnya. Sendok yang hampir mengenai mulut Badrina kembali ditaruh ke piring.


Badrina memenuhi permintaan Arshaka, "Kalau minta tolong itu dengan sopan, bukan sibuk sama ponsel sendiri. Ada etika di meja makan," sindir Badrina menyerahkan piring yang telah berisi makanan.


Arshaka menyimpan ponselnya ke bangku di sebelahnya, "Siap, Nyonya. Tadi pesan penting dari kantor," terang Arshaka sambil senyum.


Mereka makan berdua dengan tenang, sesekali obrolan ringan keluar.


Selesai itu, Badrina membereskan perlengkapan makan, sementara Arshaka masih duduk memerhatikan punggung Badrina, "Sudah ada calon sekolah baru buat Cantara?" tanya Arshaka, "jangan terlalu lama libur, nanti keasyikan di rumah jadi sulit lagi Canta diminta pergi sekolah," duga Arshaka.


"Aman. Sudah. Semalam aku hubungi sekolahnya. Aku belum cerita aja ke kamu," jawab Badrina tanpa melihat kawan bicaranya, ia sibuk mencuci piring bekas makan.


"Oh, sekolahan mana? Kalau bisa sesekali aku anter jemput Canta," tawar Arshaka.

__ADS_1


"Sekolahnya bagus. TK. Pelita Kasih Bunda," jawab Badrina berbalik mengelap tangannya.


Arshaka terbatuk-batuk terselak minuman setelah mendengar nama sekolah baru anaknya.


__ADS_2