
Satu Episode dulu buat ngobatin Rindu.
Monmaap nih ya author belum bisa namatin novel author yang di sebelah dalam waktu satu minggu. Tapi itu tinggal beberapa chapter udah tmat kok.
Jan di hujat ya!! Kan kalian baca novel di MT gak bayar kan. Gratis,,tis,,tis,,Wkwk,,,
Komen !! Berkomentar yang santun ya beby!!!
Like!!
Vote!!
Ok, Selamt membaca!!
*
*
Sekarang adalah hari yang melelahkan bagi seorang gadis kecil setelah berkelana mencari secercah bukti untuk menyelamatkan kaumnya.
Selama tiga hari yang belum genap ini Rika hampir di buat stress.
Semangat membuat daftar orang yang di duga adalah tersangka dengan segala tuduhan dan kecurigaan yang dikarang sendiri kemudian dicoret frustasi.
Nihil.
Sudah hampir menyerah. Termenung di bawah pohon.
Memang yang katanya penyesalan datang di akhir benar adanya.
Rika masih dengan tatapannya yang tidak bernyawa seperti dihisap oleh kata-katanya sendiri.
" Akan aku buktikan siapa disini yang pantas untuk di hukum."
Aaaaaaaa!!!! Bodoh!! Bodoh!! Bodoh!! Hanya bisa berteriak seperti itu saat ucapannya sendiri sudah tercap sebagai Senjata makan Tuan.
Malu sendiri dengan senyum yakinnya akan menang saat itu.
Bagiaman nanti memasang wajahnya di depan Riko? Dibalik juga tidak mungkin.
_- Nasib oh nasib mengapa engkau buruk? Tentu saja nasib ku selalu buruk.
Lihat, nama ku saja sudah mengandung unsur kutukan. DeniSIAL.
Sekalian saja beri nama aku DeniAPES!! atau DeniKURANGBERUNTUNG!! Huaaa,,, Oh Tuhan.
Apa yang harus hamba lakukan sekarang?? Nanti malam Tuan Iblis akan menghancurkan ku. Dia tidak akan melewatkan kesempatan menghukum ku.
Penderitaan ku kan ke bahagiaannya. _-
Perkataan Riko saat itu terus bersliweran di kepalanya.
Rika semakin lemas, untuk malam ini saja ia ingin menyusul ayahnya.
Tapi takut tidak bisa kembali lagi ke bumi pertiwi.
Hari ini Rika usai melakukan perjalanan menguntit dua gadis penghuni rumah besar. Ya sekaligus sebagai tersangka terakhir dan harapan terakhirnya.
Dela dan Mesya, dua gadis itu tercatat sebagai tersangka terpanas sepanjang dektetif Rika menyeledikinya.
Sekaligus tersangka yang membuat mata Rika hampir meloncat dari tempatnya.
Sampai sekarang Rika masih berpeluh matah memikirkannya.
Bagaimana ya kalau sampai Tuan Riko tahu kelakuan dua sepupunya??
Ihhh,,,ngeri!!
Rika dengan segala imajinasinya tidak bisa membayangkan lagi.
Dunia ini akan terguncang hebat oleh kemarahan pria itu nanti.
Awalnya mereka meminta izin keluar katanya ingin shoping shoping. Menghabiskan uang puluhan juta yang sudah tertumpuk direkeningnya.
Nyonya besar mengijinkan saja.
Sampai alat transportasi tersangka berhenti di tepi jalan.
Mesya keluar dari mobil, melambaikan tangannya ke sebrang.
Heiii,,, aku disini!!! berteriak cukup kencang hingga dektetif Rika yang masih menggunakan helm itu bisa mendengarnya.
Dibalas dengan lambaian tangan lengkap dengan senyum rindu dari pria di sebrang jalan.
Mesya berhamburan lari ke arah pria itu seperti seorang anak setelah sekian lama akhirnya bertemu ayahnya pulang dengan selamat dari
peperangan.
Muahhh,,Muahh,,Muahh,,Muahh,,Muahh,,!!
Wajah Mesya di banjiri panah cinta ciuman mesra.
__ADS_1
Tidak tanggung-tanggung gadis yang masih duduk di bangku kuliah semester 2 itu ikut membalas ciuam kekasihnya.
Jiwa kejonesan Rika seketika menjerit. Berteriak meminta itu dua orang yang tidak tahu malu berciuman ditepi jalan dilempari dengan kaleng bekas.
Sayangnya baru-baru ini penduduk kota utama sudah mulai menunjukan kemajuan terutama di bidang kebersihan.
Mereka sudah tahu tempat sampah di tepi jalan itu ada fungsinya.
Hebat ya,,!!
_- Lihat kelakuan sepupu mu yang tidak senonoh itu!! Urus dulu mereka!! Ajari dia berpacaran yang sehat!! Tanamkan jarak 1 meter sebelum naik kepelaminan!! Malah sibuk ngerusuh di kehidupan ku. Cihhh,,,,..
Apa sih maksudnya? Mau pamer?
Biar orang-orang pada tahu kamu punya pacar ganteng gitu??
Iyuhhh,,, Yang jomblo kasihan tahu!!
Aku. Hiks!!! _-
Setelah puas pamer kemesraan di tepi jalan Mesya memberi kode pada Dela.
Sepertinya kode untuk silakan pergi!! Karena setelahnya mobil Dela melaju meninggalkan mereka.
Mesya masuk ke dalam mobil kekasihnya lalu juga ikut pergi.
_- Ehhh,,, kok pencar si?? Ini aku mau ngikutin siapa? Dela atau Mesya? Ihhh,,, ngerepotin deh ini dua orang. _-
Detektif Rika jadi bingung. Yang satu ke kanan yang satu ke kiri. Mau ngikutin yang mana hatinya jadi bercabang.
Akhirnya setelah beberapa pertimbangan Rika memilih Dela.
Bukan tanpa alasan.
Berlandaskan dengan kalimat diam-diam merayap atau diam-diam mematikan atau diam-diam yang lainnyalah!!
Intinya yang pendiam itu tidak selamanya sepolos yang terlihat.
Ya, di antara ke 4 sepupu Riko, Delalah yang paling pendiam. Jiwanya tidak sesombong dan seangkuh ketiga sepupunya.
Biasanya orang pendiam itu punya banyak rahasia.
Siapa tahu ada kejutan besar yang menyelamatkan hidup Rika dari siksaan Iblis.
Mobil Dela memasuki sebuah area apartemen.
Orang kaya biasanya main ke hotel atau apartemen mewah. Tapi apa ini? Rika berputar-putar namun tidak mengubah posisi kakinya dalam skala luas. Menatap aneh sekaligus prihatian atas bangunan yang kumuh.
Jemuran di pamerkan di garda depan lengkap dengan bra dan celana dalam.
Mana celana dalamnya jamuran lagih, Rika berkedik jijik melihat benda itu menggelantung di atas kepalanya.
Membayangkan Kolor itu jatuh ke atas kepalanya, Kaburrr!!!!
Rika tancap gas, memasuki gedung kumuh berkedok apartemen.
Dela sudah lebih dulu masuk tapi Rika berhasil menyusulnya.
Apa yang dilakukan Dela di tempat seperti ini? Muncul sebuah pertanyaan di dalam benak Rika.
Gadis keturunan kelas elit itu berjalan layaknya berjalan di rumah sendiri.
Tidak jijik sama sekali saat melewati lantai yang bahkan sudah tidak jelas warnanya. Seperti sudah terbiasa dengan tempat ini.
Kebenaran ini rumah manusia atau bukan mulai dipertanyaakan Rika.
_- Ehhh curut lewat curut lewat!!! Eh beneran itu curut. Ibuu,,Huaaa,,, ada curut.
Meletot lagih itu matanya. Gimana ini aku lewatnya?? _-
" Husss,,,!! husss,,,!! Sana pergi!! Little Mose go away plisss!! Aku mau lewat. Kenapa sih ini?? "
Anehnya anak tikus itu tidak bergeming sedikit pun. Jika tikus lainnya akan takut melihat manusia tapi sepertinya
tidak dengan tikus yang satu ini. Berhenti di tengah jalan. Diam disana menatap Rika.
Takutnya itu anak tikus mengira Rika emaknya lagih.
Ibu kenapa aku dibuang? Apa karena aku berbeda?? Seperti itu tatapan anak tikus ini pada Rika.
Sial!! Itu kata yang pas untuk situasi saat ini. Dela sudah tak terlihat saat Rika berhasil mengusir anak tikus itu.
Rika menggeram kesal. Andai tikus itu bukan tikus tapi manusia sudah sedari tadi ia adu tinju.
Ada banyak sekali apartemen disini. Bingung Rika menerka-nerka kiranya Dela masuk di pintu yang mana?
Kalau main masuk bagaimana nanti kalau ternyata itu adalah markas preman?
Habislah dirinya di tempat ini.
Alternatif yang digunakan Rika adalah meraba dengan telinga yang ditempelkan di pintu.
__ADS_1
Mencari suara Dela di dalam sana.
Satu pintu yang mencurigakan, terdengar suara menggelikan dari sana.
Perpaduan antara suara laki dan perempuan yang sangat khas.
Suara yang keluar dengan sendirinya saat melakukan sebuah aktivitas.
Gemetar-gemetar Rika masih memegang pegangan pintu.
Antara buka atau tidak ya, fikirnya bimbang.
" Buka saja pintunya!! Kamu harus tahu apa yang sedang terjadi di sana!! "
Tiba-tiba peri merah berwujudkan dirinya berbisik di telinga kiri.
" Hei Rika. Aku sarankan jangan membuka pintunya!! Jangan dengarkan peri merah!! Dia hanya akan menjerumuskan mu."
Bisik lagi dari Peri putih di telinga Kanan.
" Tutup mulut mu peri putih!! Aku ini lebih populer dari mu. Manusia lebih sering mempergunakan ku. "
" Karena kamu semua manusia di bumi ini kehilangan jalan mereka. Jalan yang seharusnya ke kanan kamu belokan ke kiri. Huh,,,, Dasar peri merugikan."
" Apa kamu bilang?? Ayo kita bergulat disini!!
Yang kalah tutup mulut selama sebulan!!"
" Ayo siapa takut."
_- Sialan!! Kenapa kalian bertengkar hah?? Kalian itu sama-sama dari dalam tubuh ku. Baik putih sama merah itu sama-sama diperlukan tahu. Sudah!! Sudah!! Pergi sana!! Aku tidak butuh kalian. Huh,,, _-
Kesal Rika mengusir fikirannya sendiri.
Sudah seperti orang berotak miring.
Semakin lama suara itu semakin menjadi-jadi. Merinding Rika mendengarnya.
Seperti sudah tahu apa yang terjadi disana entah kenapa ia masih penasaran.
Akhirnya si peri merahlah yang menang.
Rika membuka perlahan pintu yang tidak dikunci.
Apartemen yang kecil. Baru dibuka mata sudah tertuju pada sebuah ranjang.
Dua manusia sedang bercinta di sana.
_- Hah?!!!! Yatuhan mataku mataku perih. Sialan kau merah. _-
Gledukkk,,,,!!!
" Aghhhhh,,,!!!"
_- Adohhh,,, Ini siapa sih yang nendang bola sembarangan?? Aowww,,, kepala ku muter-muter. _-
Sontak Rika mengerjap tersadar dari lamunan panjangnya setelah sebuah bola membentur kepalanya keras.
Rika mengambil bola itu kemudian berdiri.
Mencari-cari siapa pelakunya ke segala arah.
3 anak kecil berdiri di ujung sana menatapnya, lebih tepat menatap bola di tangan Rika.
Seperti sedih benda berharga mereka terambil.
" Heiii,,,, bocah nakal. Kalian ya yang menendang bola ini? Kena kepala ku tahu. Sakit ini jidat !! Kemari kalian!! Akan aku jitak kalian satu persatu."
Berteriak marah. Sudah menjengking seperti ibu kos-kosan yang memarahi
orang yang tidak membayar kontrakan.
Sambil menuding-nuding juga.
" Gawat,,, Ayo kita kabur!!! KABURrrrrr,,,,,!!!"
Ketiga anak itu kabur secepat mata
berkedip.
Hilang dalam hitungan detik. Tidak terlihat lagi seujung kukunya.
" Ehh,, jangan kabur kalian!! Woeeee,,,, Ini bola tidak mau diambil? "
Terlambat. Anak-anak itu sudah
lari ketakutan. Bagaimana tidak jika Rika ingin menjitak mereka.
_- Tadinya kan aku mau ngembaliin bola ini, eh malah kabur. Awas ya sampai di rumah nangis-nangis minta uang buat beli bola baru. Nyusahin emak tau nggak?! Emang gampang apa cari uang. Huft,,,,!!! _-
Rika mendesah lemas kemudian kembali lagi duduk di bawah pohon. Bagaimana nasibnya sesial ini.
__ADS_1