
Riko dan David sudah berada di depan sebuah rumah yang sesuai informasi katanya ada Rika disana.
Situasi di dalam sana tidak diketahui pasti karena itu David menyarankan Riko untuk memantau keadaan dari dalam mobil
dulu.
Tidak boleh sembarangan masuk karena jika ada orang yang tahu hal ini akan
mempengaruhi reputasi Riko sebagai
manusia yang bahkan tidak pernah
memasuki gang yang kadar kebersihannya tidak lolos standar kebersihan
versi Tuan Riko Maha sterill.
Tapi Beruntung mobil kelas elitnya muat di gang ini.
" Selain Rika ada seorang gadis disana. Ini hari kerja, gadis itu akan berangkat kerja. Jadi kita tunggu gadis itu keluar dari rumah baru kakak masuk ke dalam!! "
Usul David.
Rasanya bumi akan terbelah dua jika ada orang yang samapi tahu dan menyebarkan kedatangan Riko ke rumah
kecil hanya untuk mencari seorang gadis.
" Lalu bagaimana kalau temannya tidak keluar?? "
Kemungkinan ini juga harus difikirkan jalan keluarnya.
" Kita pulang!! "
Apabila teman Rika tidak keluar maka jalan keluar versi David adalah pulang saja!!
Dia tidak mau menjadi intel dadakan yang rela mengintai rumah berjam-jam hingga rasanya pantat tumbuh akar.
" Tanpa Rika?? "
Riko mengangkat alisnya seakan rencana untuk pulang tanpa Rika adalah rencana yang tidak
bisa diterimanya.
_- Huftt,,,,!! Astaga,,,, Yang ada di otaknya hanya membawa Rika pulang.
Dia tidak memikirkan harga dirinya. Astaga,,,,!!
Setidaknya jika ingin membawa Rika pulang lakukan tanpa melukai harga diri!! _-
Yang bisa dilakukan David hanya bisa menghela nafas berat.
Memikirkan saat Rika melihat Riko disini, gadis itu pasti akan besar kepala nantinya.
" Terserah kakak!! "
Tahu percuma menjelaskan. Hanya akan membuang-buang tenaga, waktu, emosi dan berujung sia-sia.
Mereka berdua memperhatikan rumah itu seksama. Kurang lebih 20 menit sudah berlalu terlihat seorang gadis keluar namun tidak mengenakan pakaian kerja.
Hanya mengenakan baju santai.
" Sepertinya itu teman Rika. Tapi mau kemana dia? "
Tas belanjaan yang dibawa Mira sangat menggambarkan aktivitas yang jauh dari kata kantoran.
" Apa itu penting? Kemana dia itu tidak penting!! Yang jelas dia sudah keluar. Aku harus segera masuk.
Tugas mu sekarang memastikan gadis itu tidak masuk ke dalam rumah!!
Kau mengert?!! "
Riko turun dari mobil tanpa melakukan diskusi ataupun pertimbangan. Kesempatan ini tidak bisa ia lewatkan begitu saja.
" Kakak tunggu!!! " David menurunkan kaca mobilnya.
" Apalagi?? "
Dengan raut wajah dan nada suara sedikit kesal Riko bertanya.
Seperti tidak suka David menghentikannya.
" Dengar!! Saat kau bertemu Rika tetaplah bersikap dingin, tatap dia dengan tatapan tajam dan membunuh!! Pertahankan aura berwibawa mu!! Itu akan mempertahankan harga diri mu.
Dan sekalipun jangan tersenyum seolah-olah kau senang bertemu dengannya!! Ini demi kebaikam mu kak!! "
Bukan maksud David menghalangi atau memprofokasi Riko untuk mengekspresikan kebahagiannya hanya saja ini adalah bentuk kecil untuk melindungi harga diri
seorang Riko.
" Kau tidak perlu mengajari ku!!
Aku ini bukan suami yang sedang menjemput istrinya yang kabur lalu menangis dan memohon agar istrinya mau pulang.
Tapi aku ini adalah raja dan dia adalah pelayan. Tanamkan itu di dalam otak mu dan berhentilah berfikiran yang macam-macam!! Aku tidak segila itu. "
Riko jadi kesal. Dia merasa David berfikir terlalu berlebihan dan meremehkan
kharismanya.
" Benarkah? Tapi aku merasa dia seperti seorang suami yang akan menjemput
__ADS_1
istrinya."
David jadi bergulat dengan fikirannya sendiri hingga tidak sadar Riko telah pergi.
Dan jika difikir semakin dalam tidak ada seorang raja yang mau menjemput seorang pelayan secara langsung.
Sebelum mengetuk pintu alangkah baiknya merapikan pakaian dan mengatur ekspresi terlebih dahulu.
Itu yang dilakukan Riko, merapikan jas dan mengatur ekspresinya ke dalam mode iblis.
Tok,,,Tok,,,Tok,,,!!!
Mengetuk pintu tiga kali. Diam sebentar!! Tidak ada rerspon.
Tok,,,Tok,,,Tok,,,!!
Pintu diketuk lagi.
Di dalam rumah,
Hari ini Mira mendapat cuti dari bosnya. Hari kebebasan ini akan diisinya dengan melakukan piknik. Mira sedang berbelanja kebutuhan piknik sedangkan Rika menyiapkan perlengkapan piknik.
Tok,,,Tok,,,Tok,,,!!
Suara itu tidak begitu jelas di dengar Rika karena saat ini ia berada dibelakang rumah.
_- Apa tadi ada yang mengetuk pintu? Sepagi ini siapa yang bertamu?
Coba aku lihat dulu._- Rika meninggalkan tempatnya menuju ruang tengah.
Tok,,,Tok,,,Tok,,,!! Dan suara ketukan ke dua itu jelas ia dengar saat memasuki ruang tamu.
" Sebentar!!! "
Bergegas menuju pintu.
_- Aduhhh siapa sih yang bertamu di pagi begini? _-
Dalam hati berharap ini bukan tamu yang akan mengganggu rencana piknik.
Ceklek,,,!!
Pintu dibuka Rika.
Doengggg!!!!!!
_- Astaga iblis!!! _-
Rika terkejut sontak kakinya mundur kebelakang.
Pria tanpa ekspresi menyejukan itu berada di depan matanya.
Tanpa fikir panjang Rika menutup kembali pintu dengan keras hingga membuat Riko mengerjap terkejut mendapat
perlakuan tidak menyenangkan seperti ini.
David yang melihat hanya bisa mengasihani
kakaknya.
_- Tidak mungkin!! Ini mustahilkan? Tuan Iblis tidak mungkin ada di sini.
Ini pasti hanya halusinasi bodoh. Otak ku ini sudah kebanyakan sampah hingga tidak bekerja dengan optimal.
Huh!! Aku harus lebih fokus. Pria tadi pasti terkejut dan tersinggung aku membanting pintunya. _-
Rika tahu tadi ia tidak sopan membanting pintu. Dia mengira bayangan yang dilihat hanya sebuah halusinasi.
Ceklek,,,,!!!
Pintu dibuka kembali. Rika berencana bersikap ramah kemudian meminta maaf atas ketidak sopanannya tadi namun apa daya
saat lagi-lagi bayangan yang dilihatnya
masih sama, Riko.
_- Aku pasti sudah gila!! aku sudah gila.
Ini tidak nyata. Aku yang sudah tidak waras. _-
Rika masih dengan tatapan tidak
percayanya hendak membantin pintu lagi namun tertahan saat Riko menahan ganggang pintunya dengan tatapan kesal lalu mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.
Gledeggg,,,,!! Kemudian menutup pintu keras sama seperti yang Rika lakukan tadi.
" Berani sekali kau membanting pintu tepat di depan mata ku."
Ini bukan rumahnya namun Riko masih saja bersikap menakutkan di rumah orang lain.
Sekarang pria itu sudah berjalan mendekati Rika seakan ingin menerkamnya
tanpa ampun.
_- Itu salah mu!! Aku terkejut tahu kamu tiba-tiba ada di depan rumah.
Lagi pula siapa yang tidak terkejut sepagi ini mendapat tamu iblis? _-
" Ma, maaf Tuan!! Saya kira anda hanya halusinasi saya." Berjalan mundur perlahan.
__ADS_1
" Saya tidak menyangka ini benar anda."
Fikir Rika ini seharusnya bisa merendam sedikit kemarahan Riko.
" Halusinasi? Seseorang bisa berhalusinasi jika terlalu memikirkan hal yang ia bayangkan.
Apa itu artinya selema ini kau memikirkan ku?? "
Ada hati yang tersenyum di balik wajah pria yang mengintimidasi.
_- Memikirkan mu? Gila!!! Yang benar saja!! Untuk apa aku memikirkan mu? Kenapa
ada manusia yang sepercaya diri
seperti dia sih? _-
" Tidak Tuan!! Selama ini saya hanya memikirkan kenapa saya selalu bernasib sial seperti sekarang ini? Haha,,, benar-benar nasib kurang ajar. "
Karena sejauh apa pun Rika berlari tetap saja ia akan berhenti di tempat yang sama.
Brak,,,,,!!! Riko menggebrak tembok, mengunci Rika dari sisi kanan dengan tangannya.
_- YaTuhan Yang Maha Agung lindungi aku!! Aku mohon kendalikan iblis yang satu ini!!
Aishhh,,, dasar mulut tidak bisa dikontrol!! Dia jadi semakin marah karena ulah mu mulut sialan. _-
" Jadi maksud mu bertemu dengan ku adalah sebuah kesialan? "
Riko melonggarkan dasinnya kemudian membuka satu kancing baju paling atas karena merasa gerah.
Tidak ada niat lain sama sekali namun tetap saja sebagai salah satu kaum hawa Rika merasa ketakutan.
" Bukan itu maksud saya Tuan."
Hendak kabur dari sisi kiri namun, Brakkk!!! Riko menutupnya dengan tangan.
Jadilah Rika terkunci di dalamnya dengan tangan dan kaki sudah gemetar, mata panik, pipi merah, jantun dag dug dag dug.
" Lalu apa maksud mu?? "
Deru nafas Riko yang panas seperti menahan kesal yang teramat menerpa wajah Rika.
" Tuan bisakah anda melepaskan saya dulu!! Saya merasa pengap."
Hingga akan mati jika anda terus mendekatkan wajah anda seperti ini, begitu katanya memalingkan wajah.
" Jawab dulu!! Kenapa bertemu dengan ku adalah sebuah kesialan?? "
Ucapan itu masih tidak bisa dilepas Riko karena dia merasa tersinggung.
_- Pria sialan ini apa dia tidak sadar bahwa setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu menindas ku. Apa itu bisa disebut keberuntungan? Dia sadar itu tapi kenapa dia bersikap berlebihan seperti ini
sih? Memangnya ucapanku membuat hatinya yang terbuat dari batu itu merasa sakit apa?!! _-
" Itu karena,,, " Rika merosot ke bawah niatnya kabur dari bawah tapi sialnya Riko ikut-ikutan merosot ke bawah dan tetap menguncinya.
" Karena,,,,?? "
" Karena anda selalu mengusik hidup saya. "
Jujur tidaklah begitu buruk.
" Karena itu adalah kesenangkan ku. Seharusnya kau menganggapnya keberuntungan bukan kesialan karena telah menjadi kesenangan seorang Riko Natarahara."
Katanya namun tanpa senyum menyeringai.
Dia masih merasa kesal.
Rika yang saat ini masih merasa takut tidak bisa mengartikan ucapan Riko yang terselipkan makna yang begitu berarti.
" Ah iya Tuan." Tersenyum namun dibuat-buat. " Haha,,, seharusnya saya menganggapnya sebuah keberuntungan. Mulai sekarang saya akan menganggap pertemuan kita adalah sebuah keberuntungan jadi bisa anda lepaskan saya sekarang?? "
Rika benar-benar tidak peka. Dia tidak tahu mana hal serius dan mana hal yang bisa dijadikan lelucon.
" Kau tidak tulus."
Kata Riko semakin menggertakan giginya.
_- Memangnya sejak kapan kita bermain tulus? Kita tidak sedekat itu untuk menyelipkan ketulusan. Dasar pria aneh!!! Dia aneh sekali hari ini._-
" Saya tulus tuan. Saya benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam."
Rika menatap Riko. Seharusnya dia tidak memperlihatkan bola mata penuh kebohongan itu.
Riko melihatnya, dia jadi semakin marah.
" Dasar wanita kurang ajar!!! Berani sekali kau membodohi ku!! "
Riko dengan darahnya yang mendidih sepertinya akan segera menerkam Rika.
Cup,,,,,!!!
Dan Riko sudah menerkam bibir Rika yang sontak membuat mata Rika terbelalak tak percaya.
Terkaman itu begitu polos tanpa mengoyak dan mencabik-cabik namun terasa mematikan untuk seukuran mulut Rika yang belum siap.
Dalam waktu persekian detik Rika kaku dan dia diam saja dengan mata membulat saat Riko menciumnya tanpa gerakan.
Hanya kecupan polos yang tertempel lama.
__ADS_1