
Malam ini adalah malam yang di nanti-nantikan oleh Riko dan malam yang tak pernah di harapkan oleh Rika.
Kekontrasan itu semakin mencekam ketika hujan turun dengan
suara gemuruhnya menggelegar di setiap ujung kota tak luput dengan kilat petir
yang menampakan
sekilas bagaimama gelapnya langit
saat ini.
Seperti memiliki semangat yang berkobar dengan bara api yang menyala-nyala di malam ini, Riko sudah mengeluarkan perintah kepada seisi rumah untuk standby di ruang tamu.
Tidak boleh ada satu orang pun yang tidak terlihat batang hidungnya.
Ya, tentu itu sangat berlaku untuk Rika.
Target utamanya.
" Kakak, apa yang kau sembunyikan dari
ku?
Setidaknya jika ada sesuatu yang menggembirakan bagilah pada ku jangan
menikmatinya sendiri!! Huhh,,,,"
Akhirnya David
menyuarakan isi hatinya setelah sedari tadi pagi mencoba menjabarkan apa isi kepala Riko yang
membuatnya terus tersenyum-senyum
tidak jelas.
Dan sekarang David menyerah.
David melihat dari spion depan bagaimana respon Riko terhadap
ucapannya.
Direspon, ya untung!! Tidak di respon, ya sudahlah!! benaknya.
Karena sepertinya Riko memang ingin menikmati kebahagian yang tak jelas itu sendirian.
Riko mencopot sebuah boneka hias yang terletak di dekat jendela mobil.
Boneka itu dimainkannya dengan senyum
licik.
Seolah sedang melewati kuburan, David merinding melihat Riko.
" Dav,!!"
Panggil Riko tak sedikit pun berpaling dari boneka malang itu.
Boneka yang jika hidup mungkin sudah menangis darah karena
ketakutan ada di genggaman Riko.
" Iya, kak!!"
David dalam hati semangat karena mendapat respon.
Menerka-nerka juga apa arti atau maksud
dari misteri yang dilakukan Riko dengan boneka itu.
" Satu kelinci malang telah masuk ke dalam kandang singa."
Riko mematahkan tangan boneka itu.
Iya menyukai boneka tanpa tangan itu, terlihat jelas dari senyum liciknya yang
semakin menjadi-jadi. " Menurut mu kematian macam apa yang lebih pantas untuk kelinci itu?? di koyak-koyak?? Di cabik-cabik? "
Tidak ada yang terdengar lembut.
Semuanya kematian yang menyakitkan.
Jadilah bulu kalung David seperti di sambar petir, berdiri semua.
Mulai tahu siapa kelinci malang yang dimaksud.
Tapi tidak tahu kenapa Riko bisa seyakin itu.
Seperti kemenangan sudah ia genggam.
David yang sudah tahu maksud Riko itu tidak lagi membahas tentang Singa dan kelinci.
Tapi langsung kepada
pemain utamanya.
" Meski Rika hanyalah anak dari seorang pembantu tapi dia adalah anak
yang pintar dan cerdas."
Berani memuji Rika karena memang itu benar adanya. " Lupakan jika kakak menang!! Tapi apa yang akan kakak lakukan jika dialah yang menang? Bagaimana jika dia sudah
menemukan siapa pencuri yang
sebenarnya?"
Itu yang lupa difikirkan
Riko, fikir David. Segala aspek harus diperhitungkan.
__ADS_1
Baik menang maupun kalah.
Ucapan David ternyata tidak menancap di telinga Riko.
Riko malah menertawainya.
Fikir David apa ini waktu yang tepat
untuk bercanda?
" Hahahha,,, David, David!! Apa kau pernah mendengar seorang Riko Natarahara
kalah? " Sudah menyebut
nama kebesarannya.
Tentu tidak!!
Riko selalu menang dalam segala hal.
Selalu di depan seperti yamaha.
Baik harta maupun ketampanan.
" Hm!!" Membenarkan ucapan Riko. Memang dia tidak pernah kalah. " Tapi bagaimana jika dia menang?"
Menegaskan lagi. Karena ini hal penting.
David tidak ingin nantinya
Riko dipermalukan.
" Jika dia menang aku akan berlutut di bawah kakinya."
CKHITTTTttttttt,,,,,,!!!!!
Brukkk,,,,!!!
Riko menendang jok belakang David setelah tadi setengah terjungkir
karena David mengerem
mendadak.
" Kau ingin membunuh ku ya??"
" Maaf kak!! Lampunya tiba-tiba merah. "
Dengan ekspresi masih terkejut David menunjuk lampu merah yang memang sangat pas muncul dengan keadaan.
" Aishhhh,,,, "
Mendengus sambil merapikan jasnya yang sedikit berantakan.
" Kakak, kau sedang bercanda kan?? Haha,,, lelucon mu itu terdengar menyeramkan.
Berhenti membuat lelucon seperti
Tidak percaya dengan yang ia dengar.
Jika sampai itu terjadi maka heboh seisi
dunia.
" Kau fikir aku akan membiarkan diri ku berlutut? Jikapun itu terjadi, kaulah
yang harus menggantikan ku!!"
Mendengar itu David langsung berangsur tenang. Ternyata Riko masih waras.
Dia kira tadi Riko kerangsukan saat mengatakan itu.
Fikirnya juga lebih baik dirinya
yang berlutut.
Ya, itu lebih baik, meyakinkan diri.
" Kau membuat ku hampir terkena serangan jantung. Huft,,,!!!"
Melajukan mobil kembali.
Di dalam perjalanan. Tidak lama juga setelah David memacu mobilnya tiba-tiba,,,,
" Sebenarnya, gadis itu sudah mencari barang yang sebenarnya tidak pernah hilang. " Menyeringai.
" APA?!!!!! "
CKHITTTtttt,,,,,!!!
Sialnya lagi kenapa ada lampu merah yang jaraknya sangat berdekatan.
" Hahahahaha,,,,!!! akulah pencurinya. Hahaha,,,,,,Bodoh sekali dia mau mengorbankan dirinya.
Malam ini aku yang menang.
Dav!! Ayo kita berpesta!! Malam ini aku sudah menyiapkan hukuman untuknya,
Hahaha,,,,!!!! "
Riko dengan kebahagian dan tawa tanpa
batasnya mengalahkan suara
gemuruh hujan.
Sedangkan David hanya terdiam karena butuh banyak penjelasan dari semua ini
untuk mengerti semuanya. Dengan begitu barulah dia bisa bereaksi.
__ADS_1
Di tengah perjalanan Riko pun menjelaskan secara mendetail dengan semangat.
Riko menjelaskan bagaimana sebenarnya sertifikat itu tidak hilang. Tapi dirinyalah
yang memindahkan ke ruang kerja.
Lalu kenapa waktu itu ia marah dan ingin menghukum semua pelayan?
Karena saat itu ia juga lupa bahwa sertifikatnya di pindahkan. lucu sekali kepikunan Riko yang hampir menyiksa
orang yang tak bersalah.
Saat Rika datang sebagai pahlawan saat itu juga Riko baru ingat.
Karena itu juga Riko berani menantang Rika.
Tahu dirinya akan menang.
Pantas saja selama 3 hari ini Riko duduk dengan tenang. Tidak khawatir.
Tidak juga meminta David untuk mengawasi
perjalanan Rika mencari bukti.
Oh, jadi ini alasannya.
" Wahhh,,, kakak kau perfect!! Kau benar-benar licik. Hebat!!! "
Jika tidak mengendalikan stir sudah tepuk tangan David.
Jika perlu tepuk kaki juga.
Sekalin tepuk jidat karena kebodohannya yang sudah khawatir terhadap Riko.
Riko melipat kedua tangan di atas perut.
Bangga dengan dirinya sendiri.
1 KM dari rumah, David memberi pesan pada Bi Gina. Seperti biasa Baginda Raja akan segera sampai. Itu berarti perintah untuk memberikan penyambutan.
Tidak kurang dari 10 menit mobil Riko pun masuk ke area rumah.
Gerbang terbuka secara otomatis jadi scurity hanya perlu berdiri untuk memberi hormat.
Setelahnya giliran Bi Gina menyambut kedatangan Riko.
Bi Gina berlari sigap membawakan payung untuk melindungi kulit Riko dari percikan air hujan.
Riko tidak suka air hujan, ia khawatir jika kulitnya nanti akan iritasi terkena air hujan.
Padahal itu sangat berlebihan.
Dasarla Tuan Maha Sterill.
Sedangkan David sigap di datangi pengawal di depan rumah. Sama membawakan
payung
juga.
Biasanya Riko akan memberikan jasnya pada Bi Gina baru masuk ke dalam.
Tapi sekarang tidak.
Sudah tidak sabar dengan permainan yang
akan ia lakukan.
Suara langkah kakinya saja mampu menggetarkan jantung-jantung yang berdengup di setiap raga yang ada di ruang tamu.
Dan saat Riko menampakkan wujudnya, disanalah wajah dari kubu pelayan
berubah pias.
Riko duduk di sofa tunggal dengan kewibawaan yang begitu luar biasa.
Rika yang berdiri di paling sudut itu seketika langsung mendapat banyak perhatian.
Tatapan mereka seperti mengatakan, goodbye Rika.
Ibu Ratna sendiri sedari tadi sudah menahan air matanya karena
Rika memintanya untuk tidak menangis.
_- Huh,,,,!!! Rika kau harus tenang!! Tarik nafas mu dalam-dalam!! Ingat keluarkan!! Biarkan udara keluar masuk secara normal!!
Baiklah, setidaknya aku berhasil menyelamatkan kaum ku. Walaupun aku sekarang yang akan menanggung hukumannya. Tidak apa!!
Haha,,, !!Tuhan kau lihat aku kan? Kau lihat betapa baik dan muliyanya aku? Kau pasti melihatnya.
Jangan pura-pura tidak melihat!!
Sekarang ayo lindungi aku!! Kau tidak
akan berkeji hati dengan membiarkan aku mati di tangan iblis ini kan?!
Lihat itu Tuhan!! Lihat senyumnya itu!! Mengerikan sekali. TUHAN KAU DENGAR AKU?! TOLONG BERKATI AKU PERISAI PELINDUNG!!
AKU MOHON!! HIDUPKU MASIH
PANJANG!! _-
Melihat senyum tipis Riko
sudah seperti melihat belati tajam yang siap
menikam tubuh Rika yang dipaksa
untuk tidak gemetar. Meski
__ADS_1
Dalam hati Rika sudah menjerit-jerit meminta
pertolongan dari Tuhan.