
Di bawah gedung yang menjulang tinggi berdiri seorang gadis di bawahnya. Dengan perasaan yang kagum ia mendongak ke atas.
Inilah perusahaan StarLight.
Baru pertama kali Rika datang kemari.
Beberapa menit ia terdiam di sana,
Rika pun memutuskan untuk masuk. Kata orang sangat sulit untuk bisa masuk ke gedung StarLight.
Ternyata itu hanya hoax. Tinggal buka saja pintunya lalu masuk!! segampang itu di bilang susah, begitu fikir Rika.
_- Wahhh,,,,!! Jadi ini toh perusahaan StarLight.
Pantesan namanya ada light lightnya ternyata tempatnya kinclong gini.
Kalau ada gangguan mata mana bisa ini bedain mana kaca mana bukan.
Yang jadi tukang bersihin gedung ini julukannya pasti master CS Indonesia.
Hihihihi,,,,,!! _-
Kalau urusan nama menamai Rika juaranya.
Sebenarnya dia adalah anak yang jahil.
Selain tempatnya yang bersih, karyawan disini juga bukan kelas remehan kripik tempe.
80% adalah orang luar negeri. Mereka semua terlihat seperti profesor.
Rika merasa sedang berada di tempat penelitian.
Berada di sekeliling orang-orang berkarisma membuat kepercayaan diri Rika menyusut
secara drastis.
Rasanya ia seperti batu krikil di kelilingi batu-batu permata. Auara mereka juga begitu kuat ketimbang Rika yang hanya memancarkan aura gadis pengangguran.
Jadi cepat-cepat ia ke lift menuju lantai paling atas.
_- Tuh kan akunya jadi minder!! Mereka makan apa ya kok bisa berwibawa seperti itu?
Melihat mereka berjalan saja sudah seperti melihat utusan presiden.
Lagi pula kenapa aku harus ada di sini sih?
Kenapa Tuan David memintaku datang kemari coba?
Ada urusan apa ya kira-kira??
Entah apa itu tapi aku merasa ini bukan hal yang baik untuk ku.
Hahahaha,,,, Andai si brengsek itu tidak mengancam aku tidak akan mau datang kemari. Sialan!!! Aku jadi semakin merasa kecil di sini hiks,,,,!! _-
Saat Rika keluar dari lift, ia seperti sudah dituntun.
Hanya ada satu jalan di sini jadi ia hanya mengikuti jalan itu dan jalan itu berakhir di sebuah ruangan yang bertuliskan
" Ruang CEO "
Sekujur tubuh Rika seketika langsung merinding.
Bulu-bulunya menjerit meminta Rika untuk tidak masuk ke sana.
Tentu Rika tidak sepolos itu untuk tidak mengetahui ruangan siapa ini.
Pintunya saja terlihat seperti gerbang neraka.
Jangan tanya penghuninya!! Sudah pasti iblis ada di dalamnya.
_- Oke,, tenang bulu-bulu ku!! Jangan takut!!
Kita sebagai manusia tidak boleh
takut pada iblis!!
Posisi kita itu lebih tinggi. Jadi jangan takut bulu-bulu ku!!
Tidurlah kembali!! Jangan berdiri lagi! Kalau berdiri lagi aku cukur kalian nanti.
Biarlah aku tidak punya bulu.
Huft!! Aku pasti sudah gila. _-
Merasa dirinya sudah gila mengoceh dengan bulu-bulu yang merinding.
Kali ini tanpa pertimbangan Rika memutuskan untuk masuk.
Setelah mengetuk pintu terdengar suara Riko mempersilakannya.
Ruangan yang sangat luas. Di sisi-sisi penuh dengan rak buku, lebih tepatnya berkas-berkas.
Meski terlihat mewah, rungan ini sepertinya ruangan yang membosankan.
Sama membosankannya dengan pria yang duduk di ujung sana.
Terlihat amat serius dengan pekerjaannya.
Bahkan tidak melirik siapa yang datang. Rasanya saat ada gempa pun tidak dihiraukannya.
" Permisi Tuan."
Dari radius 5 meter Rika berdiri. Ia tidak mau berada dekat dengan Riko.
" Ya. Ada apa?? "
Tanpa melirik. Tetap fokus dengan pekerjaannya.
_- Ada apa katanya?? Haha,,, Seharusnya aku yang bertanya ada apa di memanggilku kesini.
Itu juga sok sibuk sekali.
Sudah seperti memeriksa keuangan negara saja. _-
" Saya diminta Tuan David untuk datang kemari. Seharusnya saya yang bertanya ada apa ya Tuan memanggil saya?? "
Rika berusaha bersikap sopan.
Layaknya seperti karyawan perusahaan dengan atasannya.
Padahal ini bukan stylenya.
Terlalu fokus dengan pekerjaannya membuat Riko tidak mengenali suara Rika.
Riko langsung menghentikan pekerjaannya.
Menatap ke sumber suara sambil berkerut kening.
Dari atas sampai bawah Riko menatap lekat gadis itu. Tatapan
Riko seperti sedang melihat makhluk aneh masuk ke perusahaanya.
" Ada apa dengan pakaian mu itu? Kenapa memakai pakaian santai? Apa kau mau bertamasya ha?? "
Refleks Rika langsung melihat dirinya sendiri.
__ADS_1
Mencari apa yang salah dari pakaiannya.
_- Memangnya ada apa dengan pakaian ku? Kenapa dia marah? Aku terlihat sopan.
Bukan pakaian ku yang salah tapi matanya
yang bermasalah. _-
Rika merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya.
Seperti biasa, celana jeans dengan baju kaos.
Tapi tetap terlihat sopan.
" Saya tidak bawa ransel Tuan. Kalau saya bawa ransel baru namanya mau tamasya.
Dan pakaian saya terlihat normal."
Katanya dengan senyum khasnya.
" Apa David tidak memberi tahu mu? "
" Tuan David hanya meminta saya untuk datang kemari. Memangnya ada apa Tuan??"
Riko menutup berkasnya. Kemudian fokus pada Rika.
" Kau akan menjadi serkertaris ku selama 3 hari. "
" Whatttt????!!!! "
Terkejut Rika sudah memakai bahasa internasional bukan bahasa kebangsaan lagi.
Karena tidak pernah terbesit dalam otaknya hal semacam ini.
Menjadi serkertaris Riko? Ini sudah terdengar seperti menjadi kacung Riko.
" Ada apa? Kau mengecewakan ku dengan ekspresi mu itu. Apa kau tidak mau
menjadi serkertaris ku? "
Riko merasa tersinggung. Bisa dilihat dengan mata telanjang sepertinya Rika tidak mau.
" Tentu tidak!! "
Jawabnya tegas.
Riko semakin menatap Rika tajam.
_- Astaga aku pasti sudah gila._-
" Maksud saya bukannya menolak Tuan. Hanya saja ini,,, ini di luar kemapuan saya.
Saya tidak bisa menjadi serkertaris anda.
Maaf Tuan. Saya permisi. "
_- 3 hari? Bahkan semenit pun aku tidak
mau._-
Gumam Rika sudah berbalik.
" Berhenti!!! "
_- Tidak!! Jangan berhenti Rika. Aku tahu ini hanya akal-akalan Tuan iblis untuk menyiksa ku. Aku tahu itu. _-
Rika tidak menghiraukan perintah Riko.
Yang ada di otaknya hanya
" Berhenti atau aku akan menembak kaki mu."
Ckhittt,,,,!!! Deg,,,,!!!
_- Menembak kaki ku? Tidak!! Aku tidak mau menjadi manusia lumpuh.
Aku tidak punya kaki cadangan lagi.
Sialan!! Iblis kejam!! Dia ingin menembak kaki ku. _-
Setelah bergumam Rika berbalik. Seharusnya ia tidak setakut ini.
Kemarin malam juga ia bersama Riko tapi tidak merasa takut. Bersama David juga.
Tidak takut karena situasinya berbeda.
_- Sial!! Aku harus mengancamnya agar dia mau berhenti. _-
" Kemari!! "
Perintah Riko. Tentu memerintah bukan dengan suara yang lembut.
Tapi dengan suara yang keras dan tegas.
Merasa dirinya terancam, Rika memilih tidak bergerak.
Ia diam di tempat. Perkataan Riko yang akan menembaki kakinya membuat Rika tidak
berani bergeming.
" Aku bilang kemari!! "
Nada suara Riko naik level.
Gertakannya menggetarkan bumi dan langit.
Jika Rika tidak mengikuti
perintahnya makan akan di pastikan langit akan runtuh dibuatnya.
Jadi dengan terpaksa Rika maju tapi hanya
3 langkah.
Berhenti tepat di depan sofa dengan jari saling meremas.
" Berani sekali kau membuat ku tersinggung."
Riko sudah maju menghampiri Rika.
Percuma Rika tadi maju jika akhirnya Riko membuatnya mundur pelan-pelan. " Berani sekali kau membuat ku mengulang perintah.
Berani sekali kau membuat ku berteriak.
Berani sekali kau membuat ku marah."
_- Berhenti aku mohon berhenti!! Kenapa kau terus maju!! Cukup di sana saja!! Ini sudah mentok.
Huaaa,,, di belakangku ada sofa lagi.
Bagaimana aku mau mundur. Aku mohon berhenti!! _-
Tidak ada lagi kaki untuk berpijak mundur.
Rika jatuh diatas sofa.
__ADS_1
Riko semakin mendekat. Dan dalam sepersekian detik, saat Rika belum siap untuk kabur, Riko sudah ada di atas tubuhnya.
" Tu, tuan. Saya tidak bermaksud membuat anda tersinggung. Saya mohon menyingkirlah dari tubuh saya!!
Seseorang bisa saja masuk ke sini."
Sebagai seorang gadis yang selama ini menjaga kesucian diri tentu Rika merasa takut.
Situasi ini bukanlah lelucon.
Di saat seorang pria berada di atas tubuhnya dengan kondisi si pria sedang emosi.
Hal yang tidak pernah Rika inginkan bisa saja terjadi.
Takut Riko khilaf dan berbuat yang bukan-bukan padanya.
" Tidak ada yang bisa masuk tanpa seijin ku.
Kenapa kau tidak mau menjadi serkertaris ku? Kenapa? Itu menyakiti perasaan ku."
Riko berbicara dengan giginya yang digertakan.
Pria ini sangat marah.
_- Ada apa dengannya? Sejak kapan dia melibatkan perasaan?
Kita itu musuh, jelas aku menolak menjadi serkertaris mu.
Kenapa itu bisa menyakiti perasaannya?
Aku jadi merinding memikirkan ucapan pria ini.
Sampai di rumah aku akan benar-benar mencukur bulu sialan ini agar tidak merinding lagi. _-
" Saya mau Tuan. Saya mau menjadi serkertaris anda. Sumpah!!
Saya tidak menolak. Walaupun hanya tiga hari tidak apa-apa. Tadi saya hanya terkejut.
Maafkan saya Tuan "
Seharuanya ini berhasil meredakan amarah Riko, fikir Rika.
_- Cihhh,,, Dia mau hanya karena dia takut dengan ku. _-
" Dengar!! Aku tidak pernah di tolak oleh siapa pun.
Dan kau berani-beraninya menolak secara terang-terangan. Kenapa? katakan!! "
Naik 1 level lagi. Tadi Riko marah hanya menggunakan kata-katanya tapi sekarang sudah bermain fisik.
Ia mencengkram pipi Rika.
_- Aku menolak menjadi serkertaris mu karena aku kira itu hanya akal-akalan mu untuk menindas ku tahu!!
Coba sekali saja kau berada di posisi ku pasti kamu juga melakukan hal yang sama seperti ku.
Aku ini hanya ingin cari aman.
Aku lelah selalu bersikap sok kuat saat kamu menindas ku, hiks,,!!
Bukan kamu saja!! Tapi aku lelah sok kuat sok hebat saat musuh-musuh ku menindasku!! Aku lelah terus bersembunyi seperti tikus dari dunia. Aku ini juga manusia tahu!! Aku ingin hidup damai seperti mu, seperti kalian, seperti mereka, seperti dia, seperti semua orang.
Hiks,,,!! Aku benci hidup ku,,!! Aku benci dunia!! Aku benci semuanya!! _-
Tidak sadar Rika sudah menitikan air matanya.
Situasi ini mengingatkannya pada kehidupan keras yang ia jalani selama ini dengan senyum.
Rika merasa muak dengan kehidupan menyedihkannya.
Percuma bersikap kuat dan tegar jika pada akhirnya dia tetap saja seorang gadis lemah yang bisa menangis kapan pun itu.
Tanpa bisa ia tahan.
_- Dia menangis lagi? Ada apa dengan anak ini? Belakangan ini dia menjadi anak yang cengeng.
Mulut prosotan TKnya sudah tidak selicin belut sawah.
Apa aku sudah keterlaluan ya?
Hmmm,,,!! Aku inikan hanya sedikit menakut-nakutinya. Berlebihan sekali jika dia sampai menangis karena takut. _-
Riko bisa merasakan Rika menangis bukan karena ketakutan.
Tapi ada hal yang lain. Tapi juga Riko jadi merasa bersalah. Dia langsung melepaskan cengkramannya.
" Hmmm,,," Berdehem canggung seraya merapikan jasnya.
" Aku belum memulai kenapa kau sudah menangis? Cihhh,,, dasar cengeng. "
Riko mengejek tapi ejekannya seperti sebuah pancingan agar Rika berhenti bersikap
lemah seperti ini.
Seharusnya Riko senang melihat Rika menangis. Dulu itu adalah tujuannya.
Tapi sekarang? Dia tidak nyaman melihat gadis ini menangis.
Tapi walaupun seperti itu ya tetap saja Riko senang bermain-main dengan hidup Rika.
Huft...!!
Segera Rika menghapus air matanya. Ucapan Riko tidak membuatnya terpancing tapi Rika malah tersenyum.
Seperti sedang menertawai dirinya sendiri.
" Saya juga tidak menginginkannya Tuan." Rika berdiri, ia kembali dengan senyumnya.
" Baiklah, katakan apa tugas saya sekarang? Apa yang biasanya seorang serkertaris lakukan?? "
Mendengar pertanyaan Rika membuat pria yang sedang berjengking itu langsung menatapnya.
Riko fikir Rika akan keluar dengan membanting pintu keras karena marah dan kesal.
Marah akan dirinya yang sudah membuatnya menangis.
Tapi ekspetasinya sedikit keliru.
Entah kenapa juga Riko jadi senang.
Meski gengsi menunjukan rasa senangnya itu dan tetap memperlihatkan wajah dinginnya
tapi ada yang tersenyum lebar dibaliknya.
_- Kenapa aku jadi senang dia mau tinggal di sini??
Tentu aku senang.
Aku senang karena aku bisa mengerjainya.
Kalau dia pergi aku jadi tidak bisa bermain-main dengannya.
Itu adalah alasannya. Memangnya alasannya apa lagi?
Haha,,, konyol sekali otakku yang sudah mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. _-
__ADS_1