Beauty Inside

Beauty Inside
Antara Dua saudara tiri.


__ADS_3

Belum gelap tapi tidak terang. Ini disebut sore menjelang malam.


Dimana pencahayaan bumi mulai remang-remang karena


matahari perlahan mulai menarik sinarnya.


Membiarkan bumi perlahan diselimuti kegelapan.


Inilah saatnya dunia dan seisinya beristirahat.


Begitulah seharusnya!!


Namun terkadang manusia lebih senang menentang hukum alam.


" Dav, Aku memintamu untuk mencetak video Rika menjadi CD, mana itu?? "


Walau hari ini hari yang melelahkan tapi Riko masih saja ingat.


Apapun yang menyangkut tentang Rika selalu diingatnya dengan baik.


" CD?? "


David seperti terkejut Riko meminta


CDnya.


Seperti ia tidak siap atau video itu belum dicetaknya.


Melihat respon David Riko langsung


melempar pandangan tajam.


Awas kau sampai lupa, begitu artinya


mengancam.


" Cihhhh,,,,!!! "


Singkat dan padat David menunjukan respon berdecih.


Tangan kirinya beralih merogoh saku jas.


mengeluarkan benda dari sana dan memberikannya pada yang meminta.


" Santai saja!! Aku tidak lupa. "


Tadi David berpura-pura lupa hanya


ingin melihat reaksi Riko.


Seperti yang David pikirkan, Riko marah seperti itu adalah barang berharganya saja.


Tentu!! CD itu adalah senjata pamungkas Riko untuk nantinya bisa mengerjai Rika.


" Baru saja aku ingin melempar mu dari


jendela. "


Katanya sambil mengamankan CD itu di dalam saku jas


_- Memangnya aku sampah kulit permen yang segampang itu bisa di lempar dari jendela. _-


" Sebaiknya jangan pernah lakukan


itu!! Jalanan raya akan hancur, akan terjadi keributan yang besar. " Setelah bergumam


David menyambung.


" Kenapa? "


Peringatan itu sukses membuat Riko penasaran.


Fikirnya, apa hubungan David di lepar keluar dengan jalanan hancur dan keributan?


Saking seriusnya Riko ingin tahu ia menatap David, tepatnya kepala David nampak dari belakang sambil menunggu jawaban.


" Jika kakak melempar aku keluar, pengendara lain akan histeris melihat arjuna tampan yang jatuh ke jalanan.


Mereka akan memperebutkan ku. Itu bisa memicu keributan dan kehancuran."


Dengan kepercayaan diri tingkat internasional David mengarang certitanya sendiri.


Riko yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala.


Dalam hati ia mengasihani sikap adiknya itu.


Untuk hari ini David terlihat seperti orang bodoh dengan kehaluannya.


" Bagus jika itu benar terjadi. Tapi buruk jika kau malah terlindas truk pertamina."


Riko menjulurkan tangannya. Meraih pundak


David dan menepuknya dengan rasa iba.


Seraya menyadarkan David akan keberadaan truk pertamina yang ada di belakangnya.


Bukan kalimat Riko yang menjadi titik fokus David tapi tangan yang menepuk-nepuk di pundaknya. David


melihat dari kaca depan.


" Kakak tangan mu belum di obati? Kita ke RS terlebih dahulu."


Tanpa menunggu jawaban David langsung saja membanting stir.


Mengira Riko akan menyetujuinya dan juga


karena David sedikit khawatir.


Luka ditangan Riko membengkak.


" Tidak!! Tidak!! Langsung saja ke club!! Aku tidak perlu ke dokter. Putar balik mobilnya!! "


Katanya menolak untuk mendapat pengobatan.


" Jika tidak di obati nanti infeksi. Itu sudah membengkak."


David dengan sikap bersikerasnya tetap


menginjak pedal gas.


Ucapan David seketika membuat Riko menatap lekat tangannya. Riko


menatap dalam tangan itu.


Benar!! Sudah membengkak dan sangat merah. Tapi anehnya Riko tidak merasakan sakit atau tidak bisa merasakan sakit.

__ADS_1


Seperti rasa sakit itu sudah biasa


baginya.


" Biarkan saja membengkak!!


Nanti akan sembuh sendiri. "


Jangan khawatir!! Putar balik mobilnya!!


Kita langsung ke klub!! "


Pelan Riko berbicara sebari melempar pandangannya ke jendela.


Tidak ingin David membaca matanya yang


menyedihkan.


_- Ahhh,,, dasar hati payah!! Bagaimana bisa aku selemah ini? _-


Dalam pandangannya pada pohon di luar sana Riko bergumam.


" Kakak, aku tidak bermaksud~~ "


Apa lagi yang bisa David katakan selain ingin mengklarifikasai ucapannya setelah


melihat raut wajah Riko dan perubahan suasana


yang secara tiba-tiba?


Tidak sedikit pun ia bermaksud mengingatkan


Riko akan lukanya dulu.


Luka yang tak terlihat namun terasa menyakitkan.


" Tidak apa!! Putar balik saja mobilnya!! "


Mengulang perintah yang terabaikan.


" Baiklah. "


Kejam rasanya David tidak menuruti setelah tadi membuat Riko teringat bayangan


masa lalunya.


_- Huh,,,,!! Aku tidak tahu kapan dia akan sadar bahwa hidup dengan bayangan itu hanya akan menyakitinya.


Kakak takut ternyata dunia luar lebih menyeramkan dan kejam bukan?


Karena itu kakak tidak pernah mau mencoba untuk keluar dari masa lalu.


Kakak takut terluka lebih parah lagi.


Aku bisa mengerti bagaimana perasaan mu.


Aku tahu kau sangat menderita.


Penghianatan ibu, keluarga yang hancur, Ayah dan adik kakak yang sangat kakak sayangi menginggalkan kakak lalu kekasih


yang sangat kakak cintai juga pergi


tanpa alasan.


David Natarahara.


_- Aku tidak tahu kapan luka ini akan


sembuh.


Jikalau pun sembuh pasti akan membekas.


Jadi untuk apa mengobati? Tidak ada gunanya!!


Sudah terlambat!! Semua sudah hancur. _-


Riko Natarahara.


Kejadian tadi membawa keheningan panjang di dalam mobil antara mereka


berdua.


Perjalanan menuju klub


hanya diselimuti kebisuan.


Sekejap terlintas untuk mengubah suasan tapi David menghentikan niatnya


saat melihat Riko diam dengan tatapan kosong seraya mengelus cincin di jarinya.


Itu adalah cincin mendiang ayahnya.


David telah memasuki area klub. Berhenti tepat di depan pintu masuk.


Ia melihat ponselnya sebelum turun.


Ada 3 panggilan dan 1 pesan masuk dari ibunya.


Ibu : Bawa Riko pulang sekarang!! Amella menunggu di rumah untuk makan malam.


Begitu isi pesan teksnya.


" Ada apa?? Apa ada masalah?? "


David langsung mematikan ponselnya.


Meninggalkannya di jok samping.


" Tidak kak. Ayo kita turun!! "


David tidak memberitahu Riko apalagi membawanya pulang.


Tahu Riko akan semakin berantakan suasana hatinya jika pulang ke rumah.


Setidaknya hanya ini yang bisa dilakukan David untuk Riko.


2 pria yang menyandang sebagai petugas keamanan di pintu masuk langsung


membungkuk memberi hormat.


Mereka cukup tahu siapa itu Riko Natarahara.


Dan seorang manager perempuan langsung


turun tangan menghampiri Riko

__ADS_1


dan David.


Menuntun Riko dan David ke tempat yang sudah


disediakan.


Klub ini terdiri atas tiga lantai.


Lantai 1 adalah tempat umum.


Tempat ini bisa dipakai untuk semua pengunjung untuk berdanska, minum, dll.


Jika ingin memperbanyak teman lantai 1 adalah pilihan yang tepat. Jadi lantai satu adalah tempat yang paling ramai.


Lantai 2 merupakan lantai yang di huni sikitar 30 unit


FamilyRoom. Jadi jika pengunjung datang bersama kelompok atau keluarga atau teman dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun bisa pergi ke lantai 2.


Lantai 3 hampir sama seperti lantai 2 tapi fasilitasnya lebih mewah dan keamanan


bisa di jamin.


Seperti kelas VIP.


Biasanya lantai 3 menjadi langganan para konglomerat besar.


Seperti Riko misalnya namun Riko


secara mengejutkan lebih memilih


lantai 1.


Sekarang pria itu sedang duduk di sofa di sudut ruangan sedikit jauh


dari keramaian dengan pelayanan mewah


tanpa wanita berrok mini hanya


bertemankan pria berjas rapi


yaitu David.


Jangan harap Riko mau satu sofa dengan wanita-wanita penghuni club!!


Wanita-wanita disini bukan levelnya.


" Kakak suka ini?? "


Menyodorkan gelas berisi wine pada baginda


raja.


Nampaknya Riko terlihat puas karena David benar tidak memboking 1 tempat ini.


Riko meraih dengan senang hati gelas dari tangan David. Meminumnya sedikit demi sedikit, merasakan kenikmatan wine yang


berumur 20 tahun itu.


" Sekali-kali bersikaplah layaknya seperti seorang adik!! Jangan memperlakukan ku


seperti tahanan dengan seribu


pengawasan!! "


Riko sudah melihat isi ruangan ini dan tidak


menemukan anak buah David.


Itu membuatnya senang. David selalu mengawasi Riko.


Bahkan Riko sampai hafal wajah-wajah anak buah David.


" Cihhh,,,,!! Memangnya memberi mu


pengawasan ketat adalah sebuah dosa?


Apa sikap ku ini tidak seperti seorang adik


bagimu?? "


Santai David menanggapi.


Dia tidak menganggap ucapan Riko itu serius.


" Tidak!! Sikap


mu terlalu berlebihan."


Melirik David dari pantulan gelas dan pria itu berekspresi seakan tidak setuju dikatai seperti itu. " Ahhhh,,,!!! " Riko menyandarkan punggungnya setelah mendesah. Terdengar desahannya seperti keluhan atas kehidupannya. " Terkadang aku merasa orang yang duduk bersama ku saat ini, dia hanya


sebuah boneka yang merasa berhutang


budi pada keluarga ku. Tidak!! Lebih tepatnya pada ibu ku. Benar bukan?? "


Meski tersenyum Riko bertanya tapi


ia merasa sakit dan takut jika itu


benar.


" Kakak apa yang kau katakan?


Hati ku terluka jika kau meragukan ku seperti ini.


Aku melakukan semua ini murni karena aku menyayangi mu sebagai seorang adik.


Bukan karena rasa hutang budi ataupun janji pada ibu. "


Terdengar begitu drmatis.


Suasana yang tiba-tiba berubah semakin


memperkuat aura tatapan satu sama lain.


Riko tersenyum tipis mendengar David yang berusaha meyakinkannya.


Ada rasa ragu yang Riko rasakan.


" Aku hanya punya diri mu. Aku harap kau tidak berbohong!! "


Tatapan Riko mengandung harapan yang sangat besar.


Matanya berkata tidak ingin dikecewakan.


Indah memang saat ada orang yang menyayangi kita. Tapi akan lebih indah rasa kasih sayang itu tulus bukan karena janji atau rasa hutang budi.

__ADS_1


__ADS_2