
Belum gelap tapi tidak terang. Ini disebut sore menjelang malam.
Dimana pencahayaan bumi mulai remang-remang karena
matahari perlahan mulai menarik sinarnya.
Membiarkan bumi perlahan diselimuti kegelapan.
Inilah saatnya dunia dan seisinya beristirahat.
Begitulah seharusnya!!
Namun terkadang manusia lebih senang menentang hukum alam.
" Dav, Aku memintamu untuk mencetak video Rika menjadi CD, mana itu?? "
Walau hari ini hari yang melelahkan tapi Riko masih saja ingat.
Apapun yang menyangkut tentang Rika selalu diingatnya dengan baik.
" CD?? "
David seperti terkejut Riko meminta
CDnya.
Seperti ia tidak siap atau video itu belum dicetaknya.
Melihat respon David Riko langsung
melempar pandangan tajam.
Awas kau sampai lupa, begitu artinya
mengancam.
" Cihhhh,,,,!!! "
Singkat dan padat David menunjukan respon berdecih.
Tangan kirinya beralih merogoh saku jas.
mengeluarkan benda dari sana dan memberikannya pada yang meminta.
" Santai saja!! Aku tidak lupa. "
Tadi David berpura-pura lupa hanya
ingin melihat reaksi Riko.
Seperti yang David pikirkan, Riko marah seperti itu adalah barang berharganya saja.
Tentu!! CD itu adalah senjata pamungkas Riko untuk nantinya bisa mengerjai Rika.
" Baru saja aku ingin melempar mu dari
jendela. "
Katanya sambil mengamankan CD itu di dalam saku jas
_- Memangnya aku sampah kulit permen yang segampang itu bisa di lempar dari jendela. _-
" Sebaiknya jangan pernah lakukan
itu!! Jalanan raya akan hancur, akan terjadi keributan yang besar. " Setelah bergumam
David menyambung.
" Kenapa? "
Peringatan itu sukses membuat Riko penasaran.
Fikirnya, apa hubungan David di lepar keluar dengan jalanan hancur dan keributan?
Saking seriusnya Riko ingin tahu ia menatap David, tepatnya kepala David nampak dari belakang sambil menunggu jawaban.
" Jika kakak melempar aku keluar, pengendara lain akan histeris melihat arjuna tampan yang jatuh ke jalanan.
Mereka akan memperebutkan ku. Itu bisa memicu keributan dan kehancuran."
Dengan kepercayaan diri tingkat internasional David mengarang certitanya sendiri.
Riko yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala.
Dalam hati ia mengasihani sikap adiknya itu.
Untuk hari ini David terlihat seperti orang bodoh dengan kehaluannya.
" Bagus jika itu benar terjadi. Tapi buruk jika kau malah terlindas truk pertamina."
Riko menjulurkan tangannya. Meraih pundak
David dan menepuknya dengan rasa iba.
Seraya menyadarkan David akan keberadaan truk pertamina yang ada di belakangnya.
Bukan kalimat Riko yang menjadi titik fokus David tapi tangan yang menepuk-nepuk di pundaknya. David
melihat dari kaca depan.
" Kakak tangan mu belum di obati? Kita ke RS terlebih dahulu."
Tanpa menunggu jawaban David langsung saja membanting stir.
Mengira Riko akan menyetujuinya dan juga
karena David sedikit khawatir.
Luka ditangan Riko membengkak.
" Tidak!! Tidak!! Langsung saja ke club!! Aku tidak perlu ke dokter. Putar balik mobilnya!! "
Katanya menolak untuk mendapat pengobatan.
" Jika tidak di obati nanti infeksi. Itu sudah membengkak."
David dengan sikap bersikerasnya tetap
menginjak pedal gas.
Ucapan David seketika membuat Riko menatap lekat tangannya. Riko
menatap dalam tangan itu.
Benar!! Sudah membengkak dan sangat merah. Tapi anehnya Riko tidak merasakan sakit atau tidak bisa merasakan sakit.
__ADS_1
Seperti rasa sakit itu sudah biasa
baginya.
" Biarkan saja membengkak!!
Nanti akan sembuh sendiri. "
Jangan khawatir!! Putar balik mobilnya!!
Kita langsung ke klub!! "
Pelan Riko berbicara sebari melempar pandangannya ke jendela.
Tidak ingin David membaca matanya yang
menyedihkan.
_- Ahhh,,, dasar hati payah!! Bagaimana bisa aku selemah ini? _-
Dalam pandangannya pada pohon di luar sana Riko bergumam.
" Kakak, aku tidak bermaksud~~ "
Apa lagi yang bisa David katakan selain ingin mengklarifikasai ucapannya setelah
melihat raut wajah Riko dan perubahan suasana
yang secara tiba-tiba?
Tidak sedikit pun ia bermaksud mengingatkan
Riko akan lukanya dulu.
Luka yang tak terlihat namun terasa menyakitkan.
" Tidak apa!! Putar balik saja mobilnya!! "
Mengulang perintah yang terabaikan.
" Baiklah. "
Kejam rasanya David tidak menuruti setelah tadi membuat Riko teringat bayangan
masa lalunya.
_- Huh,,,,!! Aku tidak tahu kapan dia akan sadar bahwa hidup dengan bayangan itu hanya akan menyakitinya.
Kakak takut ternyata dunia luar lebih menyeramkan dan kejam bukan?
Karena itu kakak tidak pernah mau mencoba untuk keluar dari masa lalu.
Kakak takut terluka lebih parah lagi.
Aku bisa mengerti bagaimana perasaan mu.
Aku tahu kau sangat menderita.
Penghianatan ibu, keluarga yang hancur, Ayah dan adik kakak yang sangat kakak sayangi menginggalkan kakak lalu kekasih
yang sangat kakak cintai juga pergi
tanpa alasan.
David Natarahara.
_- Aku tidak tahu kapan luka ini akan
sembuh.
Jikalau pun sembuh pasti akan membekas.
Jadi untuk apa mengobati? Tidak ada gunanya!!
Sudah terlambat!! Semua sudah hancur. _-
Riko Natarahara.
Kejadian tadi membawa keheningan panjang di dalam mobil antara mereka
berdua.
Perjalanan menuju klub
hanya diselimuti kebisuan.
Sekejap terlintas untuk mengubah suasan tapi David menghentikan niatnya
saat melihat Riko diam dengan tatapan kosong seraya mengelus cincin di jarinya.
Itu adalah cincin mendiang ayahnya.
David telah memasuki area klub. Berhenti tepat di depan pintu masuk.
Ia melihat ponselnya sebelum turun.
Ada 3 panggilan dan 1 pesan masuk dari ibunya.
Ibu : Bawa Riko pulang sekarang!! Amella menunggu di rumah untuk makan malam.
Begitu isi pesan teksnya.
" Ada apa?? Apa ada masalah?? "
David langsung mematikan ponselnya.
Meninggalkannya di jok samping.
" Tidak kak. Ayo kita turun!! "
David tidak memberitahu Riko apalagi membawanya pulang.
Tahu Riko akan semakin berantakan suasana hatinya jika pulang ke rumah.
Setidaknya hanya ini yang bisa dilakukan David untuk Riko.
2 pria yang menyandang sebagai petugas keamanan di pintu masuk langsung
membungkuk memberi hormat.
Mereka cukup tahu siapa itu Riko Natarahara.
Dan seorang manager perempuan langsung
turun tangan menghampiri Riko
__ADS_1
dan David.
Menuntun Riko dan David ke tempat yang sudah
disediakan.
Klub ini terdiri atas tiga lantai.
Lantai 1 adalah tempat umum.
Tempat ini bisa dipakai untuk semua pengunjung untuk berdanska, minum, dll.
Jika ingin memperbanyak teman lantai 1 adalah pilihan yang tepat. Jadi lantai satu adalah tempat yang paling ramai.
Lantai 2 merupakan lantai yang di huni sikitar 30 unit
FamilyRoom. Jadi jika pengunjung datang bersama kelompok atau keluarga atau teman dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun bisa pergi ke lantai 2.
Lantai 3 hampir sama seperti lantai 2 tapi fasilitasnya lebih mewah dan keamanan
bisa di jamin.
Seperti kelas VIP.
Biasanya lantai 3 menjadi langganan para konglomerat besar.
Seperti Riko misalnya namun Riko
secara mengejutkan lebih memilih
lantai 1.
Sekarang pria itu sedang duduk di sofa di sudut ruangan sedikit jauh
dari keramaian dengan pelayanan mewah
tanpa wanita berrok mini hanya
bertemankan pria berjas rapi
yaitu David.
Jangan harap Riko mau satu sofa dengan wanita-wanita penghuni club!!
Wanita-wanita disini bukan levelnya.
" Kakak suka ini?? "
Menyodorkan gelas berisi wine pada baginda
raja.
Nampaknya Riko terlihat puas karena David benar tidak memboking 1 tempat ini.
Riko meraih dengan senang hati gelas dari tangan David. Meminumnya sedikit demi sedikit, merasakan kenikmatan wine yang
berumur 20 tahun itu.
" Sekali-kali bersikaplah layaknya seperti seorang adik!! Jangan memperlakukan ku
seperti tahanan dengan seribu
pengawasan!! "
Riko sudah melihat isi ruangan ini dan tidak
menemukan anak buah David.
Itu membuatnya senang. David selalu mengawasi Riko.
Bahkan Riko sampai hafal wajah-wajah anak buah David.
" Cihhh,,,,!! Memangnya memberi mu
pengawasan ketat adalah sebuah dosa?
Apa sikap ku ini tidak seperti seorang adik
bagimu?? "
Santai David menanggapi.
Dia tidak menganggap ucapan Riko itu serius.
" Tidak!! Sikap
mu terlalu berlebihan."
Melirik David dari pantulan gelas dan pria itu berekspresi seakan tidak setuju dikatai seperti itu. " Ahhhh,,,!!! " Riko menyandarkan punggungnya setelah mendesah. Terdengar desahannya seperti keluhan atas kehidupannya. " Terkadang aku merasa orang yang duduk bersama ku saat ini, dia hanya
sebuah boneka yang merasa berhutang
budi pada keluarga ku. Tidak!! Lebih tepatnya pada ibu ku. Benar bukan?? "
Meski tersenyum Riko bertanya tapi
ia merasa sakit dan takut jika itu
benar.
" Kakak apa yang kau katakan?
Hati ku terluka jika kau meragukan ku seperti ini.
Aku melakukan semua ini murni karena aku menyayangi mu sebagai seorang adik.
Bukan karena rasa hutang budi ataupun janji pada ibu. "
Terdengar begitu drmatis.
Suasana yang tiba-tiba berubah semakin
memperkuat aura tatapan satu sama lain.
Riko tersenyum tipis mendengar David yang berusaha meyakinkannya.
Ada rasa ragu yang Riko rasakan.
" Aku hanya punya diri mu. Aku harap kau tidak berbohong!! "
Tatapan Riko mengandung harapan yang sangat besar.
Matanya berkata tidak ingin dikecewakan.
Indah memang saat ada orang yang menyayangi kita. Tapi akan lebih indah rasa kasih sayang itu tulus bukan karena janji atau rasa hutang budi.
__ADS_1