Beauty Inside

Beauty Inside
Kedatangan Amella.


__ADS_3

Jangan lupa like + comentnya di kencengin ya para readers!!


Kalau vote seiklasnya aja!!


Selamat membaca!!


*


Riko menghentikan aktivitas menulisnya karena terganggu akan suara


ribut-ribut di luar.


Entah siapa itu tapi itu adalah suara 2 perempuan.


Sepertinya staff di depan dan suara


yang satu Riko rada-rada kenal tapi


tidak yakin.


" Siapa itu berani sekali mengganggu konsentrasi ku. "


Kesal Riko sudah bad mood


menulis akhirnya berkasnya ia


kesampingkan beralih membuka


laptop.


BRAKKKK,,,,!!!!


Suara pintu di buka keras.


Refleks Riko melihat ke sumber suara.


Dari balik pintu itu menampakan sesosok


wanita cantik nan seksi body aduhai gitar spanyol membawa


sebuah buket.


Sudah seperti acara wisuda saja bawa-bawa


buket.


Bukanya terpesona, terhipnotis, terkagum-kagum dan terklepek-klepek akan kemolekan, kecantikan, keseksian wanita itu tapi Riko


malah berdecih.


Seperti bisa melihat ada yang cacat di balik


kesempurnaan fisik itu.


Hatinya!! itu yang cacat tak tertolong!!


Amella itulah dia. Calon menantu Nyonya Santi ibu Riko.


Tapi perlu di garis bawahi, Amella itu hanya calon menantu Nyonya Santi bukan


calon istri Tuan Riko.


Sekaligus wanita yang sok memiliki kuasa untuk masuk ke ruangan Riko


tanpa ijin atau permisi seperti sekarang ini.


Berselang 30 detik diikuti staff yang juga ikut masuk.


Staff itu menunduk, meminta maaf atas ketidakmampuannya untuk mencegah


Amella.


Riko memberikan kode lewat matanya.


Kau boleh pergi!! begitu artinya kepada


staff itu.


" Riko,,,,,,,, "


Setelah staff itu pergi, Amella langsung memeluk Riko sangat erat.


Seperti menuangkan kerinduannya lewat pelukan itu.


Padahal Riko sama sekali tidak menyambut kedatangan Amella. Bahkan Riko tidak


berdiri dan tetap di posisi


duduknya.


Menggambarkan betapa malasnya


Riko dengan wanita ini.


" Ella lepaskan!! Kau membuat ku


pengap."


Sedikit memaksa tubuh Amella menjauh


karena jika tidak di paksa


wanita ini akan terus memeluk.


Dan pelukan Amella terasa


seperti seekor ular berbisa yang melilit di tubuhnya.


Bukannya malu karena terang-terangan di tolak, Amella malah tersenyum, menggeser laptop Riko dan duduk di sana.


Di atas meja Riko dengan posisi kaki menyilang sengaja memperlihatkan


paha putihnya.


Beginilah kelakuan wanita yang minim


harga diri.


" Aku sengaja memberi mu kejutan.


Dari Amerika aku langsung menemui mu.


Tapi Riko kamu membuat ku sedih.


Apa kamu tidak senang dengan


kedatangan ku?? "


Amella menyentuh bibir seksi Riko yang


sedari tadi tidak menunjukan senyum


bahagia atas kedatangan


Amella.


_- Haha,,, Lucu sekali pertanyaan mu itu.


Memangnya sejak kapan aku terlihat bahagia


saat kamu menemui ku??


Aku selalu mual dengan kelakuan menjijikan mu ini.


Mencoba menarik perhatian ku dengan cara murahan. Cuihh,,!!! _-


Batin Riko dilanjutkan


dengan tepisan tangan sedikit kasar.


" Riko kenapa sikap mu selalu dingin seperti ini?? Kenapa kamu selalu jahat padaku?


Ayolah Riko,,,!! Aku merindukan mu."


Amella mulai menggoda Riko.


Jarinya yang di tepis Riko sekarang


sudah beralih bermain-main di atas dada Riko.


Menyibak jas pria itu agar leluasa memainkan jarinya di sana.


Bermaksud memancing gairah Riko namun


Riko sama sekali tidak menunjukan


ketertarikan.


Malah rasanya ingin mematahkan


jari murahan itu.


_- Apa ibu yang sudah mengajari mu Ella?


Apa wanita itu mengajari mu bagaimana cara merayu pria?? _-


Tingkah Amella yang seperti ulat bulu ini


mengingatkan Riko akan


sebuah penghianatan besar yang

__ADS_1


terjadi di keluarganya.


" Hentikan Ella!! Jaga sikap mu!!


Wanita baik-baik tidak akan bersikap liar seperti ini."


Sembari menghentikan tangan Amella yang sudah ingin membuka kancing


kemaja Riko.


Menyindir secara gamblang mungkin akan memunculkan rasa malu pada wanita ini, fikir Riko seperti itu.


" Hei Riko kau menafik sekali.


Ayolah!! Bagaimana aku menjaga sikap?


Aku sangat merindukan mu.


Sudah bertahun-tahun kita tidak


bertemu."


Namun telinga wanita ini sepertinya sudah mampet. Mungkin jarang di bersihkan sehingga kotorannya


berjumbel-jumbel.


Karena dengan tidak tahu malunya Amella menarik


tengkuk Riko.


Memaksa menyatukan bibirnya.


Namun Riko yang bersikeras untuk


menolak ciuman menjijikan itu membuat Amella kesusahan


dan akhirnya berhenti.


" Aku tidak munafik. Hanya saja mulut ku terlalu sensitif untuk bersentuhan


dengan bibir murahan."


Kali ini menghina secara gamblang lagi.


Bedanya Riko menatap Amella tajam.


Menunjukan betapa risihnya ia dengan


tingkah tidak tahu diri Amella.


_- Sialan!! Kenapa susah sekali untuk mendapatkan Riko.


Sabar Amella!! Jangan marah saat dia menghina mu!! Kamu harus bersabar apa pun


yang dikatakan pria ini!! Semua ini demi


masa depan mu. _-


" Ah,, Riko kamu sensi sekali.


Baiklah maafkan aku!! Aku hanya mencoba menyalurkan rindu ku."


Bersikap sok tidak bersalah.


Sadar dengan situasi yang memburuk, Amella


akhirnya menghentikan sikap liarnya.


Sikap liar seperti kucing garong.


Amella mengambil buket yang sempat di letakannya di samping.


Ini mungkin sedikit bisa mengubah suasana hati Riko, begitu fikirnya.


" Lihat ini Riko!! Aku membawakan bunga dandelion kesukaan mu."


Menunjukan bunga mawar yang diselipi


bunga dandelion. " Kau menyukainya?? Butuh perjuangan untuk ku mendapatkan


bunga ini. Coba kau cium baunya!! Harum bukan?? "


Amella menyodorkan bunga itu ke hidung Riko.


Memaksa Riko untuk menghirup aroma bunga itu.


Namun Riko menepis tidak ingin menciumnya.


Bunganya saja enggan di cium apalagi orangnya yakan??


Bunga mawar di selipi bunga dandelion memang kesukaan Riko.


Ada cerita bersejarah di balik bunga dandelion. Tapi karena yang membawa bunga itu Amella, Riko yakin bunga itu berubah baunya busuk.


_- Kasihan sekali kamu dandelion harus


jatuh kepada wanita ini. _-


Karena Riko juga menolak bunganya, Amella pun jadi kesal.


Susah sekali menebak maunya Riko.


Sesusah menebak moodnya gadis labil


yang lagi PMS.


" Riko, lihat aku!! "


Memegang sisi pipi Riko.


Memaksanya untuk membalas tatapannya


yang bertepuk sebelah tangan.


Sepertinya suasana mulai serius. Amella tidak lagi gliat-gliat kayak cacing


kepanasan.


" Riko, tidak bisakah kamu melihat cinta di mataku?? "


Dengan percaya dirinya memperlihatkan bola mata penuh cinta rekayasa.


_- Huekkkk,,,!! Aku mual melihat mata mu.


Ahh,, mata ku juga sakit sepertinya akan buta jika berlama-lama bersitatap


dengan wanita ini. _-


" Aku mencintai mu lebih dari Dinda.


Kenapa selama ini kamu mengabaikan ku dan lebih memilih wanita itu?? Dinda adalah wanita jahat. Dia tidak tulus


mencintai mu karena itu dia pergi tanpa sebab dan alasan.


Sekarang aku ada di sini, lupakan dinda!! "


Dengan acting sedihnya yang paten ditambah


rayuan mautnya.


Dikira itu bisa mencairkan hati Riko?


Malahan seisi perut Riko ingin


keluar dari wadahnya saat mendengar


ucapan dari mulut Amella.


_- Ella kamu tidak pernah berubah sampai sekarang. Selalu saja menjelekan Dinda


di setiap kesempatan.


Tapi, hari ini aku tidak akan marah.


Karena yang kau katakan itu benar. _-


Tapi bukan berarti Riko mau membuka


hatinya untuk Amella.


Dari awal mereka bertemu, Riko tidak


pernah merasakan kenyamanan pada Amella.


Seperti tidak ada srekk-srekknya gitu.


" Riko, lagi pula ibu sudah merestui kita kan.


Aku adalah wanita yang di pilihkan ibu mu


untuk mendampingi mu Riko."


Salah strategi Amella menyebut ibu Riko.


Yang ada wajah Riko tiba-tiba


memerah ketika Amella menyebut ibunya.


Kala ingatan dimana saat keluarganya hancur, ayahnya dan adik kandung Riko meninggal


karena ibunya sendiri.

__ADS_1


Kata ibu bagaikan duri yang enggan untuk ia simpan di hati karena hanya


akan menyakiti.


_- Karena kamu adalah wanita pilihan ibu ku, aku enggan bersama mu.


Rasanya kamu dengan wanita itu sama saja.


Cihhhh,,,,!!! _-


Geram Riko menahan emosi.


Muak dengan wajah wanita ini, Riko


memencet sebuah bel yang langsung tertuju pada


ruangan David.


Kode agar adiknya itu segera kemari.


Riko bisa saja mengusir Amella tapi ia


tidak mau mengotori tangannya.


Seperti pesawat jet, baru 2 menit yang lalu sejak bel di pencet, David langsung


muncul.


Ia cukup terkejut akan keberadaan Amella.


Melihat wanita itu disini, David langsung


tahu apa tugasnya sekarang.


" Hmmmmm,,,,"


Suara deheman yang sengaja di buat-buat.


Memancing seorang wanita


yang sibuk merayu untuk menoleh ke belakang.


_- Sial!! Kenapa anak angkat ini selalu ada di antara aku dan Riko??


Dari dulu wajahnya tidak berubah. Selalu saja


memasang tatapan sinis tidak suka


pada ku. _-


" Ah David, kau masuk tanpa mengetok pintu.


Dari dulu kau memang tidak bisa bersikap


sopan ya,,, haha,,,!! "


Amella turun dari meja Riko.


Pasang tawa jenaka agar terlihat santai.


Padahal di dalam hati sudah mengutuk


David dengan 1001 sumpah serapah.


" Amella sepertinya dari dulu kau tidak pernah paham dengan hubungan ku dengan kak Riko ya??


Aku bukan orang asing yang harus mengetuk pintu."


David tahu kata mana yang akan


membuat wanita ini semakin kesal.


Terlihat Amella geram mengepalkan tangan.


Tersindir akan ucapan David.


Karena selama ini dirinya dianggap David dan Riko hanyalah orang asing.


" Kamu datang tiba-tiba sekali. Jujur aku terkejut.


Seharusnya kamu beritahu kami dengan begitu aku bisa menyiapkan penyambutan untuk mu."


David dengan actingnya.


_- Berhenti sok bersikap baik pada ku dasar anak angkat!! Aku tahu disini kau yang


paling tidak suka dengan kedatangan ku kan.


Dasar brengsek!! _-


" Trimakasih atas perhatian mu Dav!! Tapi


aku sengaja ingin memberi kejutan


pada Riko."


Kejutan yang tidak pernah di harapkan oleh Riko.


" Wahhh,,, sepertinya kamu sangat merindukan kakak Riko ya?? "


" Tentu saja."


Menjawab dengan senyum.


Aku merindukan Riko bukan kamu sialan!!


Begitu arti senyumnya.


" Amella kau pilih kasih sekali.


Apa kamu tidak merindukan ku? Kenapa hanya merindukan kakak ku saja sedangkan adiknya tidak??


Padahal aku sudah lama loh merindukan


mu "


Tersirat wajah sedih yang di modif sedemikian rupa.


Hanya untuk totalitas acting.


" Jangan seperti itu Dav!! Tentu aku merindukan mu. Percayalah!! "


_- Jika tidak ada Riko sudah ku gampar mulut palsu mu itu. Cihhh,,, _-


Riko hanya menyimak percakapan antara Amella dan David.


Tidak mau ambil alih.


Fikirnya cukup!! Sudah tidak mau berurusan dengan Amella.


Ia juga sudah tahu kata-kata dari mereka berdua berbeda dengan rialita.


Riko tersenyum karena yakin jika di luar sana dua manusia ini akan menjelma menjadi kucing dan anjing.


Si kucing siap menyergap, si anjing siap mengoyak.


Membayangkan mereka berdua membuat Riko tertawa pelan.


Untuk sesaat terbesit menjodohkan mereka berdua.


Yakin hari ini menikah besoknya cerai.


" Bernarkah?? "


_- Bohong aku bohong!! Amit-amit aku merindukan parasit seperti dirimu. _-


" Tentu saja!! "


David tersenyum simpul.


Kata Amella seperti tali yang terikat di tubuhnya. Tinggal di tarik Amella pun ikut tertarik.


" Kalau begitu ayo kita habiskan waktu bersama!! "


David langsung menarik tangan Amella.


Semangat membawa wanita pengganggu itu keluar dari ruangan Riko.


_- Ehh sialan!! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!! Aku ingin bersama Riko.


Bukan bersama mu brengsek!!


Heii lepaskan!! David!!!!! Dasar pria sialan!!


Selalu saja memisahkan ku dengan Riko.


Aaaaaaa,,,,!! seharusnya aku


tidak mengatakan aku merindukannya.


Ini adalah jebakan pria busuk ini!!! _-


Selesai sudah perjuangan Amella merayu Riko gegara si pengacau David


tiba-tiba muncul.


" Huftt,,,!!! "


Riko membuang nafas kasar setelah Amella berhasil di bawa pergi David.


Rasanya udara di ruangan ini kembali segar.

__ADS_1


Riko melihat ke dadanya, Aishhh,,,!! Mendengus kesal.


Dengan cepat ia merapikan pakaiannya yang kacau.


__ADS_2