
_- Bisa-bisanya aku pingsan di depan Tuan Iblis. Memalukan sekali!!
Aku pasti ditertawai habis-habisan. Aku yakin
itu. Memangnya hal apa lagi yang bisa dilakukan pria itu selain menertawai ku?
Dia bisanyakan cuma itu. Cihh,,,!! _-
Dalam fikiran Rika ia memustahilkan Riko tidak menertawainya.
Fikir Rika itu pasti.
Padahal tanpa Rika ketahui saat tubuhnya tergulai Rikolah yang membopong ke sofa dan memanggilkan dokter.
Dia hanya mendapat prasangka buruk.
Gadis itu sudah berdiri di depan rumah menenteng sebuah tas.
Seraya menunggu Riko keluar ia mencoba memikirkan kejadian kemarin. Tapi tidak banyak yang bisa ia fikirkan. Hanya memikirkan bagaimana sekarang caranya menghadapi Riko?
Cara agar tidak terlihat canggung karena sebenarnya Rika malu. Riko pasti mengira dirinya lemah.
" Tuan, apa anda akan pulang hari ini?"
Rika menoleh kebelakang setelah mendengar langkah kaki diikuti dengan suara Bi Gina yang mengekori Riko.
Mereka sudah keluar dari rumah.
_- Ah itu dia. Ehemmm!!! Aku harus bersikap seperti biasa. _-
Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Rika menyeka rambutnya kebelakang telinga lalu menegakan tubuhnya.
" Tidak. Aku akan menginap di Villa. Besok aku akan kembali. "
Katanya terus berjalan. Hari ini Riko terlihat sangat maskulin dengan model hairupnya.
" Selamat pagi Tuan."
Rika menyapa ramah dengan senyum cerah mengalahkan mentari pagi yang masih bersembunyi malu-malu di balik daun pepohonan.
Dia tidak berharap lebih hanya berharap Riko membalas sapaannya.
Tapi kini Rika tahu bukan cinta saja yang bisa bertepuk sebelah tangan. Sapa'an pun ternyata juga bisa bertepuk sebelah tangan.
Riko dengan sombongnya melongos masuk ke dalam mobil.
Tidak melirik, tidak membalas apalagi berhenti.
_- Apa-apa'an ini?? Wahhh,,,, ini namanya malu-maluin diri sendiri.
Seorang Rika dikacangin? Kacang mahal woyyyy!!!! Sekilo 1 juta.
Mahal!! Mahal!! Mahal!!
Gak ganteng-ganteng juga itu muka jangan sok ngartis deh!! Huhfff!!! Pagi-pagi sudah pengen nyentil ginjal. _-
Pagi ini masih dingin namun suhu tubuh Rika naik drastis. Dia jadi gerah body gerah hati akan sikap Riko yang sombong.
Ceklek,,,,!!!
Suara pintu dibuka. Rika masuk kedalam mobil.
Gledeg,,,,!!!
Pintunya ditutup keras.
Riko melirik dari kaca depan. Ia tersenyum melihat pagi-pagi begini wajah Rika merah seperti tomat.
" Apa aku ini sopir mu? "
Riko bertanya dari bangku kemudi. Tatapannya berkata seakan posisi Rika sekarang adalah masalah baginya.
" Apa Tuan? "
" Aku tanya apa aku ini sopir mu ha? Kenapa duduk disana? Cepat duduk di depan!!
Cihh,,,,"
Telinga Rika yang tidak tanggap membuat Riko jadi kesal.
Ia selalu mengulang perkataanya agar Rika bisa mendengar dengan benar.
_- Santai dong!! _-
" Ah iya Tuan. Saya pindah sekarang."
Seperti yang diperintahkan Riko, Rika segera pindah.
Awalnya Riko mengira gadis ini akan turun dari mobil dan masuk lagi lewat pintu
depan. Tapi ternyata Rika malah langsung ke depan.
Itu membuatnya terlihat seperti monyet. Tidak ada anggun-anggunnya.
Riko hanya bisa menghela nafas kemudian
mobil Riko melaju membelah
keramaian.
Di dalam perjalanan,
Sudah sejak lama Rika tidak keluar kota. Terakhir kali dia ke Jogja saat tur kampusnya sekitar 4 tahun yang lalu.
Rasanya senang sekali saat keluar dari area pandat penduduk itu.
Keluar dari hiruk pikuk kota jakarta adalah salah satu keinginannya.
Dimana ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat di jakarta.
Dimana ia bisa menghirup udara tanpa polusi yang tak kasat mata.
Diamana penglihatannya tidak terbatasi di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Dan benar Rika bisa menikmati semua itu saat ini. Dia kira akan menikmati perjalanannya tapi lupakan!!
Rika bahkan tidak bisa berteriak senang saat melihat sawah. Tidak bisa berdecak kagum pada laut yang ia lihat sepanjang jalan.
Itu karena Riko si wajah dingin yang sepertinya akan menendang Rika jika Rika berani berisik di dalam mobil.
Sekarang Rika hanya bisa diam tidak berani bergeming.
Bernafas pun ia berusaha tidak mengeluarkan suara.
_- Kenapa ada makhluk sekaku dia sih? Dari tadi dia tidak bicara sepatah kata pun.
Hmmm!! Aku tidak nyaman dengan situasi ini.
Situasi macam apa ini? Hening seperti sedang mengheningkan cipta saat upacara bendera.
Bicara sedikit saja kenapa sih?! Tuan Iblis tidak merasa canggung apa?! Cih,,, dikasih normal malah milih bisu _-
Rika tidak berani memulai pembicaraan.
Jika berani pun ia ragu karena takut dikacangi lagi.
Meski kesal tapi ia tunggu saja sampai
Riko yang memulai pembicaraan.
2 jam kemudian,
_- Aku menyerah!! Aku tidak kuat lagi mengikuti gaya bisunya itu.
Aku manusia normal. Aku tidak bisa menahan mulut ini untuk tetap bungkam.
Aku harus memulai duluan. Masa bodoh jika dikacangi. _-
Rika mengibarkan bendera putih. Ia tidak habis fikir Riko bisa menutup mulutnya selama ini.
Rika merasa jika terus mengikuti permainan Riko maka mulutnya akan jamuran.
" O, Tuan, lihat itu!! Bukankah tempat itu indah? Sangat sempurna untuk melihat matahari tenggelam."
Awal yang semangat. Rika menunjuk sebuah tempat tinggi seperti bukit dimana jika kita berdiri disana dan menghadap ke barat maka akan menjadi tempat yang strategis untuk melihat surya yang tenggelam.
" Cih,,,,!! "
Hanya respon meremehkan itu yang Rika dapat. Riko seperti mengejek Rika yang seperti tawanan baru dilepaskan.
Rika terlihat seperti manusia yang baru pertama kali melihat dunia luar.
Padahal di jakarta juga banyak sport untuk melihat matahari tenggelam.
_- Oke, tidak masalah!! Aku tidak akan bicara lagi. Sudah cukup aku mempermalukan diri sendiri. Kenapa juga harus aku yang berjuang.
Biar saja hening dan canggung seperti ini.
Lagi pula aku dan Tuan Iblis tidak sedekat itu untuk saling berbincang.
Bodoh!! Kita lihat saja seberapa kuat dia tidak bicara. Huft!!! _-
Gumam Rika memutuskan membuang muka keluar jendela.
Rika sudah bad mood dikacangi 2 kali.
Seharusnya ia tidak kesal karena sudah tahu inalah Riko.
Tahu Riko tidak akan mendukung usaha Rika yang mencoba mengubah suasana.
_- Kenapa dia tidak bicara lagi? Sepertinya dia kesal, hahaha,,,!!
Wajahnya terlihat lucu jika dia kesal. Aku suka!! Apalagi kalau merah seperti ingin meledak.
Hei,,, Ayo perlihatkan wajah mu itu pada ku!! Kenapa kau membuang wajah mu keluar? Hahaha,,,!!! _-
" Ehemmm,,,,!! "
Riko berdehem.
_- Ehemm?? Dia berdehem? Tuan Iblis mulai mengeluarkan suara.
Sudah ku duga dia tidak akan tahan terus-terusan diam. _-
Riko hanya berdehem tapi itu membuat Rika senang.
Ini seperti pertanda kebisuan akan segera berakhir. Tinggal tunggu Riko mengeluarkan suara yang bisa di artikan selain Ehemmmm,,,!! Sungguh itu tidak bisa Rika artikan.
1 jam kemudian,
Krik,,Krik,,Krik,,,Krik!!!
_- Apa-apa'an ini? 3 jam lebih sudah berlalu dia hanya berdehem?
Apa pita suaranya putus? Atau jangan-jangan dia lagi sariawan? Atau sakit gigi?
Tidak mungkin!! Iblis tidak mengalami hal semacam itu. _-
Rika benar-benar frustasi dengan keheningan ini. Suasana ini jauh dari kehidupan Rika yang penuh kebisingan.
Andai dia bisa tidur maka sudah dari tadi dia tidur dari pada terjebak dalam suasana ini.
" Ambilkan aku air!! "
_- Dia bicara!! Dia mulai bicara. _-
Rika yang tadinya bersandar lemas di kaca mobil kini dengan sigap menegakan tubuhnya saat mendengar Riko bicara.
Mendengar Riko bicara sudah seperti mendapat hal yang luar biasa.
" Iya Tuan."
Rika dengan semangat mengambil botol air yang tersedia kemudian memeberikannya pada Riko.
Terilhat gadis ini sangat antusias.
" Bagaimana aku bisa membuka tutup botolnya? Kau tidak lihat aku sedang menyetir? Cihh,,, "
Sekalinya bicara tetap saja Riko sinis pada Rika. Namun Rika tidak masalah dengan itu yang penting Riko bicara, begitu fikirnya.
__ADS_1
Ini kunci untuk membuka pintu keheningan.
" Ah maaf Tuan. Saya lupa. "
Katanya lalu segera membuka tutup botol dan menyerahkannya kembali.
_- Minum ayo minum dan habiskan!! Uhhh,,, akhirnya dia mau bicara._-
Gumam Rika menatap Riko yang sedang meneguk air dari botolnya.
Setelahnya Rika kembali menatap ke depan.
Saat ia meluruskan pandangannya betapa terkejutnya Rika melihat mobil di depan berhenti secara mendadak.
" Tuan awassss!!!!! "
Teriak Rika dengan mata menegang. Jika mobil Riko menghantam mobil itu akan terjadi kecelakaan beruntun karena mobil Riko melaju cukup kencang.
Teriakan itu seperti perintah untuk Riko secepat mungkin menginjak rem.
Ckhitt,,,,!!!
Mobil Riko berhenti tepat di jarak kurang 1 meter dari mobil di depan.
Jantung Rika yang tadinya terasa beku kini berdetak kembali. Mobil Riko tidak menabrak.
Rika tidak berlari tapi jantungnya memompa dengan cepat.
Ia masih terkejut.
" Sialan!! Siapa itu?? Jika tidak bisa mengemudi sebaikannya jangan mengemudi!!
Aishh,,, kemejaku jadi basah. "
Karena mengerem mendadak kemeja Riko jadi ketumpahan air.
Ia kesal.
" Hei,,, Sadarlah!! Kita masih hidup. Cepat bantu aku melepas jas dan kemeja ku!! "
Perintah Riko saat melihat Rika masih terkurung dalam keterkejutannya.
" Apa Tuan? Kenapa harus saya?? Tuan bisa menepi sebentar untuk mengganti pakaian anda."
Kata Rika mengelak untuk membantu Riko.
Membuka pakaian seorang lelaki di dalam mobil? Dan ini hanya ada mereka berdua.
Tentu Rika tidak mau.
" Kau tidak mau ya? Kalau kau tidak mau aku akan menabrakan mobil ini ke truk itu."
Ini adalah contoh ancaman yang bodoh.
" Tabrakan saja!! Kita berdua yang akan
mati. "
Rika menantang. Dia mengira Riko tidak akan berani.
" Benar. Kita berdua yang akan mati. Kau lihat ini!! Bersiaplah!! "
Diluar duga'an Riko menambah kecepatannya. Dia tidak main-main.
" Berhenti!!! Baikalah-baiklah!! Saya akan membantu Tuan."
Rika tidak punya pilihan saat mobil Riko melaju semakin kencang.
_- Dia sudah tidak waras!! Sungguh pria ini sudah gila. Hanya karena aku menolak dia jadi senekat ini ingin menabrakan mobilnya.
Dia fikir nyawa bisa dibeli di pasar minggu apa?
Lagi pula aku tidak punya ansuransi jiwa. Aku tidak mau mati. _-
Dan Riko langsung dengan senyum menyeringainya perlahan menurunkan kecepatan mobil.
Senang sekali rasanya bisa memperdayai Rika.
Lagi pula dia tidak benar-benar ingin menabrakan mobilnya.
Siapa yang mau mati konyol?
" Cepat!! Aku tidak suka tubuhku basah."
_- Lelaki murahan. Cihh!! Dulu saja bilangnya tidak sudi disentuh oleh orang seperti diriku tapi lihat sekarang dengan tidak tahu malunya dia meminta aku membantu membuka pakaiannya.
Ucapan pria ini tidak bisa dipegang. _-
Rika terpaksa mengiyakan perintah Riko.
Ini terlihat tindakan yang tak berbobot.
Entah apa yang orang-orang fikirkan saat melihat wanita di dalam mobil sedang membuka satu persatu kancing kemeja seorang pria.
Untungnya kaca mobil tidak bisa ditembus dari luar.
Untung juga bukan celana Riko yang basah.
Bayangkan Rika juga harus membuka celana pria ini.
ini sungguh memalukan. Rika berusaha membuka kemeja Riko tanpa melihat tubuh Riko.
Bukannya munafik tapi dia tidak mau terlena dan akhirnya membuat malu sendiri.
Karena jujur Rika sangat suka dengan tubuh pria yang ada roti sobeknya.
" Lihatlah sepuasmu!! Anggap saja ini hadiah. Tidak banyak orang yang beruntung bisa melihat tubuh seksi ini. "
Kata Riko tidak tahu Rika sedang menjaga imannya agar tidak goyah.
Eh malah Riko sendiri yang menawarkan diri.
Jadinya dengan senang hati Rika menerima hadiah itu.
Rika jadi sama tidak tahu malunya seperti Riko.
__ADS_1