Beauty Inside

Beauty Inside
Melihat Rika.


__ADS_3

Musik di lantai 1 lebih mendominasi.


Suara jedub jedub di ruangan ini mampu menggetarkan semua yang ada disini bahkan hati, lambung, empedu, jantung, ginjal, paru-paru dll seperti ikut bergetar saking


kerasnya suara musik.


Semua organ di dalam tubuh ikut merasakan efeknya.


100% orang yang mempunyai riwayat jantung


tidak akan bisa bertahan lama disini.


Dan malam semakin merangsuki bumi, yah inilah waktu yang tepat untuk wanita-wanita minim kain memulai aksinya.


Dari kejauhan Riko melihat bagaimana wanita-wanita itu merayu korban dengan dadanya.


Bukannya munafik tapi Riko cukup kuat iman melihat ada banyak belahan dada bersliweran di depannya. Hmmm!!


Lagi pula ia juga harus tetap menjaga harga dirinya.


Ingat!!! Wanita disini bukan level ku, begitu ia memperkuat benteng terdepannya.


_- Apa dadanya harus digoyang-goyangkan seperti itu untuk menarik perhatian??


Ahhh,,, pantas saja pria di sini oleng


semua. Paha mulus, body seksi, wajah cantik, mereka punya point kemenangan


secara fisik.


Cihhh,,,, tapi sory aku tidak tergoda. _-


Riko memperhatian setiap wanita yang ada di sana.


Tidak 1 pun ia melihat wanita berpakaian di bawah lutut.


Di atas lutut semua.


Hingga sebuah penampakan nyata menyita pandangannya.


Seperti rada-rada kenal dengan wanita yang duduk di depan meja bar.


Riko menetapkan pandangannya cukup lama ke arah itu.


Mencoba mengenali.


" Kakak kau mau satu? Aku akan mengurusnya. Pilih yang mana??


Katakanlah!! "


Sembari mengedipkan mata David menggoda.


Merebut tatapan Riko yang seperti terlena


ke suatu arah.


" Kau cari mati hah?? " Tangan Riko sudah melayang di udara namun terhenti.


Tidak tega.


" Cihh,,,,!!! Jangan sok polos seperti itu di depan ku!! Air liur mu menetes saat melihat mereka.


Aku melihatnya loh!! Hahaha,,,,"


" Aishhhh,,,,!!! Jaga mulut mu!! Aku hanya melihat apa yang ada di depan ku apa itu salah hah?? "


Tentu tidak!! Apa yang salah dengan itu?


Lagi pula Riko hanya melihat-lihat saja.


Tidak sekalipun berniat untuk memiliki.


" Hahaha,,,, Jangan marah!!


Aku tahu kakak hanya senang melihat-lihat saja.


Siapa yang menolak pemandangan gratis kan? Aku pun tidak menolak. Hahaha!!


Lagi pula mereka tidak sebanding dengan kakak."


David pun tahu Riko hanya senang melihat saja.


Tidak mungkin dan sangat mustahil Riko menginginkan salah satu di antara wanita


kupu-kupu malam itu.


" Ada kalanya kau itu pintar ya.


Aku hanya senang melihat. Benar!! Mereka tidak sebanding dengan ku."


Aku inikan raja sedangkan mereka rakyat jelata, begitu arti senyumnya.


" Ngomong-ngomong Dav, coba kau perhatikan wanita disebelah sana!! Sepertinya tidak asing."


Tidak bisa mengetahui siapa wanita itu Riko pun berbagi pada David. Ia menunjuk ke arah yang sedari tadi ia lihat.


Kondisi pencahayaan di sini sangat


minim.


Jadinya remang-remang tidak jelas.


Tentu saja minim ini adalah klub bukan


indomart yang lampunya jrenggg,,,,!!!


" Yang mana kak? Aku tidak melihatnya."


Clingak-clinguk David tidak dapat menyalin


arah jari Riko dengan baik.


" Bulatkan mata mu!!! Yang itu!! Yang duduk di depan meja bar bersama dua orang


pria. Kau lihat?? "


" Ahhh,,, yan itu. Wanita dengan gaun merah itu ya?? "


Akhirnya David bisa melihat sosok yang ditunjuk Riko.


Otomatis matanya semakin di sempitkan mencoba mengidentifikasi.

__ADS_1


Setelah memperhatikan dengan kurun waktu yang tak lama David berfikir sebentar.


" Hmmmm,,,, entahlah!! Seperti kenal tapi aku tidak yakin. Sepertinya dia wanita


yang sangat familiar. "


David merasakan sosok wanita berambut panjang lurus dengan gaun merah duduk di meja sana tidaklah asing.


Siapa wanita itu? Baru pertama kali Riko sangat sangat sangat terganggu fikirannya akan wanita bergaun merah diujung sana.


Biasanya Riko selalu masa bodoh dengan wanita mana pun.


Baginya itu tidak menarik dan tidak penting.


Tapi sepertinya sekarang sedikit berbeda.


" Coba kau lihat baik-baik, rambutnya itu seperti,,,,,,,,,,,,,,,,, Mmmmm,,,, "


Berfikir keras.


Sangat keras hingga dahinya mengkerut.


" Rika."


Jawab David.


" Ah iya benar sekali. Tapi tidak mungkin dia di sini. "


Menolak untuk percaya itu Rika.


Fikirnya tidak mungkin kan Rika mampu


masuk ke tempat semahal ini.


Dan itu juga dia bersama dua orang pria.


Hahahha,,,, pria mana yang mau bersama wanita seperti Rika? Begitu Riko meremehkan.


Belum tahu the power of Rika.


" Coba perhatikan bodynya!! Itu seperti body,,,,,,,,,,,, "


Berfikir lagi. Padahal sudah punya jawabannya. Body yang tidak terlalu menonjol, sedikit datar mana mungkin


Riko lupa siapa pemilik body langsing singset seperti itu.


" Rika."


" Ahh,,, kau benar lagi. "


" Tapi coba lihat wajahnya. Walaupun remang-remang masih terlihatkan? "


Dua pria ini sudah terlihat seperti


detektif konan yang sedang melakukan penyelidikan.


Mereka sangat serius menatap ke


arah sana.


" Masih."


Turun ke hidung Rika yang mancung. Pandangan fokus mengidentifikasi pemilik hidung itu. Tidak lupa lubang hidung pun


tidak lepas dari pengamatan.


" Sekarang bibirnya!!! "


Riko menurunkan jarinya mengikuti arah bibir wanita itu.


" Yang terakhir mari kita lihat dalam skala keseluruhan wajahnya!! "


Rasa ingin tahu Riko sangat besar. Dia memandu dengan sangat baik.


" Apa kau sudah punya jawabannya?? "


Jujur saja Riko pun sudah punya jawaban.


Dia tahu siapa wanita itu.


Sayangnya iya seperti tidak percaya.


" Sudah kak."


David yakin.


" Siapa dia? Siapa wanita itu? "


" Rika. "


Rambut, rambut Rika. Body, body Rika. Mata, mata Rika. Hidung, hidung Rika. Bibir, bibir Rik. Ya sudah pastilah itu Rika.


Tidak mungkin Selana Gomez!!


" Pintar!! Hahaha,,,, itu Rika. Wanita menyebalkan itu ada di sini hahaha,,,,!!! "


Keberadaan Rika dijadikannya sebuah lelucon.


Riko tertawa dengan ringannya.


" Hahahaha,,,,,!!! Iya kak. Rika ada di sini.


Hahaha,,,,!!! "


David ikut tertawa melihat Riko tertawa padahal iya tahu ucapan Riko tidak ada unsur lawakannya.


Hingga berselang 0,5 detik kemudian, di saat nafas belum sepenuhnya terhembuskan.


" APA?!!!! Rika ada di sini??"


Dalam sepersekian detik tiba-tiba saja Riko terkejut.


Menatap David tidak percaya. Seperti tersadarkan oleh ucapan David bahwa wanita si MPT


ada di tempat yang sama dengannya.


Padahal sudah dari tadi dikatakan itu benar Rika. Bahkan Riko sendiri sempat membenarkannya.


Lucunya terkejutnya telat. Malah tertawa dulu baru terkejut.


" Ekspresi macam apa itu?? "

__ADS_1


David mengernyit.


Riko berekspresi seakan sedang melihat guru BK di sekolah.


" Bodoh!!! "


Tanpa alasan yang jelas Riko mengatai David bodoh. Tekanan udara dari mulut Riko cukup tinggi hingga mampu membuat David terdorong sedikit kebelakang.


" Bodoh?? Hah!!! Kenapa jadi aku yang bodoh??"


Tidak percaya David dikatai bodoh.


Ini penghinaan tak beralasan yang tak bisa di terima dengan lapang dada.


" Kenapa kau tertawa hah? Katakan!! Kenapa?? Wanita itu ada di sini lalu kenapa malah tertawa hah?? "


Bagaikan mengendarai motor, Riko ngegas.


Bahkan memukul-mukul David meski pukulannya tak berarti.


David sampai meringkuk dibuatnya.


" Aishhhh,,,,!! Hentikan!! Kenapa sikap kakak aneh seperti ini?? Tadi kakak juga tertawa.


Apa tidak sadar hah?? "


Perlawanan David sukses menghentikan tangan Riko.


Kesal ia merapikan pakaian dan posisinya.


Dasar gila!! Itu kalimat yang keluar dari dalam hatinya untuk Riko yang sikapnya


tidak jelas ini.


" Aku tertawa kau ikut tertawa. Besok aku makan batu apa kau akan ikut makan batu?? "


" Tidak!! Aku masih waras. "


Tidak tahu kapan ini bermulai tapi dua sejoli ini malah bertengkar untuk hal yang


tidak penting.


" Astaga,,,,!!! " Mata Riko kembali membulat.


Fikirannya mulai berimajinasi. " Apa jangan-jangan di jatuh cinta padaku? "


Bertanya pada David yang membalas dengan senyum miring berdecih.


" Atas dasar apa kakak berfikiran seperti itu? Dan apa hubungannya dengan keberadaan Rika di sini?? "


Yang pertama, untuk saat ini tidak mungkin Rika jatuh cinta pada Riko.


Berlandaskan atas sikap Riko yang kejam kepada Rika.


Itu satu alasan yang cukup untuk membuat David bertanya pada Riko.


" Aishhh,,, Sejak kapan otak mu kaku seperti ini hah?? Seharusnya aku tidak mengijinkan mu loncat kelas.


Dengar!! Aku menyelamatkannya saat di restoran. Aku yakin Rika jatuh cinta karena alasan itu. Dan sekarang karena cinta dia mengikuti ku sampai kesini.


Lihat itu!! Dia bahkan berdandan untuk memikat ku. Aku yakin itu.


Wahhh,,, Sungguh!! Aku tidak habis fikir dia akan terpikat secepat ini pada ku.


Dia pasti sadar aku pria tampan dan baik.


Wahhhh,,,,Wahhhh,,,,!!! "


Riko berbicara tanpa spasi.


Untuk ucapan terakhirnya ia melempar pandangan ke arah David.


Krik,,,Krik,,,Krik,,Krik,,!!


Dan melihat David dengan bola matanya yang berkedip berulang kali dengan tubuh kaku seperti kanebo kering.


Kepercayaan Riko membuat David bungkam tak berkutik meski ia ingin berlari ke toilet untuk muntah setelah


mendengar deretan ucapan Riko.


Bagaimana bisa seorang pria memiliki kepercayaan diri seperti ini?


" Kakak!!" Panggil David. " Bagaimana mungkin seorang wanita jatuh cinta pada pria yang menganggapnya sebagai boneka mainan?? Aku tidak tahu kau lupa


atau apa. Tapi kakak bahkan mengatakan dengan jelas pada Rika untuk tidak mengangis karena hanya kau yang boleh membuatnya menangis."


Perlahan David mengingatkan.


Tidak ingin Riko mempermalukan harga dirinya sendiri nanti di depan Rika.


Doeng!!!!


" Ehemmmm,,,,!!! "


Riko menarik sisi jasnya, merapatkan jas itu sedikit canggung lalu membenahi posisi duduknya.


Dengan wajah coolnya ia meraih wine dengan tangan lalu meneguknya perlahan seperti tidak terjadi apa-apa.


Dia malu kepada adiknya sendiri.


Sedangkan David tepuk jidat untuk sikap aneh Riko.


2 pria ini memutuskan untuk bersikap tidak perduli atas keberadaan Rika.


Fikir Riko dan David itu bukan urusan mereka.


Entah Rika ada di sini, ada di neptunus, ada di bikinibootem, ada di kampung durian runtuh, ada dimana pun mereka tidak


perduli untuk hari ini.


Yang jelas Riko dan David ingin menikmati malam ini dengan damai.


Mereka kembali menikmati wine.


Berhasil bagi David untuk bersikap acuh pada Rika namun gagal untuk Riko. Sesekali Riko mencuri-curi pandang pada gadis bergaun merah itu.


Melihat tingkah kakaknya, David hanya bisa menghela nafas panjang dan dalam.


_- Apa pun itu, bagaimana pun itu, kapan pun itu Rika selalu sukses menarik perhatian Kak Riko. Aku jadi iri padanya. _-


Gumam David yang keberadaannya terabaikan seraya mengetuk-ngetuk gelas ditangannya mengikuti alunan musik.

__ADS_1


__ADS_2