Beauty Inside

Beauty Inside
H-2 part 2. Paman.


__ADS_3

Memang pesona of roti sobek tidak bisa di pungkiri keindahan dan keseksiannya.


Walau sudah berlalu


benda padat kotak-kotak itu masih melayang-layang di kepala Rika. Bagaimana otot perut Riko semakin perfect saat basah.


Bisa dikatakan Rika saat ini sungguh tidak tahu malu!


Membayangkan hal yang sepantasnya dijauhkan dari otaknya.


Memang apa yang Rika bayangkan dengan otot perut Riko?


Dia membayangkan dirinya menjadi manusia kecil seukuran celebo lalu bermain papan seluncur di atas perut Riko yang basah itu.


Fikirnya pasti seru ada gelombang-gelombangnya.


Sungguh bayangan yang sangat memprihatinkan.


Jedugggg,,,,!!!


" Aduhh,,,,!!!! Aowww,,,!! "


Suara itu memaksa Riko untuk menoleh seketika itu juga.


" Buahaha,,,,!!! Mata mu kau kemanakan? Itu kaca!! Kau merasa punya kekuatan untuk menembus kaca? Haha,,,!! "


Menertawai adalah hal yang tidak boleh dilewatkan Riko saat melihat Rika meringis mengusap jidatnya.


Baru saja Rika menabrak kaca.


Terlihat jelas Rika kesal pada Riko dan pada kaca.


Riko yang menertawainya sangat menjengkelkan tapi kaca yang tidak ada tulisan awas kacanya lebih menjengkelkan.


_- Aihhhh,,,,!! Kaca sialan!! Siapa pemilik gedung ini? Kenapa menaruh kaca disini sih?


Lihat, Tuan Iblis jadi menertawai ku.


Aowwww!!! Untung tidak benjol. _-


Gumam Rika pada kaca yang tak bersalah.


Rasanya dia ingin memecahkan kaca penipu ini dengan tangannya.


_- Aihhhh,,,, tidak lucu!!! Apanya yang lucu coba? Aishhhh,,,,!!! _-


Rika melongos masam saat melihat Riko masih menertawainya.


Baru 10 langkah ia berjalan tapi berhenti lagi.


Berhenti untuk menunggu Riko karena bingung lewat jalan mana.


Pukul 6 sore kurang 15 menit mereka telah sampai di gedung XX.


Riko tiba lebih awal ditempat yang dijanjikan Tuan Lee.


" Tuan, Kenapa tidak ada orang disini? "


Rika menarik kursi meja kemudian duduk disebelah Riko.


Bertanya karena salah mengira bahwa setelah sampai disana akan disambut oleh rekan bisnis Riko.


Memang tadi ada yang menyambut.


Pelayan!!


" Masih ada waktu 15 menit. Kita tunggu


saja!! "


Sebenarnya Riko tidak pernah menunggu. Biasanya dia yang ditunggu.


Kini situasinya sedikit berbeda. Itu membuatnya terlihat sedikit kesal.


Melihat raut wajah Riko yang sepertinya akan melempari Rika dengan petasan jika Rika bicara lagi membuat Rika memilih mengangguk


dan diam.


Drettttt,,,,,!!! Drettttt,,,,!! Dreeettt,,,,!!!


Ponsel yang disenyapkan bergetar keras di atas meja. Siapa pun pasti menyadarinya. Itu ponsel Riko.


David menelpon.


" Tuan, Tuan David menelpon."


Bermaksud baik hati memberi tahu.


" Sudah tahu!! "


Riko menjawab dengan ketus kemudian pergi ke dekat jendela untuk menerima


panggilan.


_- Ihh sensi amat sih makhluk yang satu ini. Aku jorokin dari belakang baru tau rasa.


Orang cuma ngasih tahu kok sinis


gitu sih? Nyebelin deh!! Isss,,,!! Ngomong trimakasih kek!! _-


Menatap kesal melalui sudut mata pria yang berdiri di dekat jendela itu.


Setelahnya beralih ke pemandangan di luar karena melihat Riko terlalu lama hanya akan memicu penyakit darah tinggi.


" Apa!!! "


Rika yang tadinya tidak berminat melihat Riko kini refleks matanya terarah pada Riko saat mendengar nada suara Riko yang sepertinya


terkejut.


Pasti ada yang tidak beres atau ada hal yang telah teejadi, begitu fikir Rika.


" Kirimkan semua berkas-berkasnya!! "


Perintah Riko. Rika hanya bisa mendengar Riko tapi tidak dengan David.


" ...... David ...... "


" Aku harus mengeceknya sendiri. "


" ...... David ...... "


" Baiklah."


Panggilan berakhir. Setelahnya Riko kembali ke meja dengan wajah merah.


Rika artikan saja wajah merah itu bahwa saat ini Riko sedang marah.


Rika pun jadi penasaran apa yang Riko dan David bicarakan di telfon.


Ingin bertanya namun tidak berani. Riko terlihat sangat serius mengecek sesuatu di ponselnya.


Matanya seakan mau keluar saat membaca file yang tidak bisa Rika baca.


Rika sudah merasakan tanda-tanda ponsel itu akan dibanting.


Brakkk,,,,!!!


Dan benar saja Riko membanting, bukan membanting tapi meletakan ponselnya dengan sangat kasar.


Ponsel yang harganya puluhan juta itu harus menjadi pelampiasan Riko.


" Sial!! Berani sekali dia menipu ku. "


Riko menggeram dengan wajahnya yang nampak menahan kesal.

__ADS_1


_- Siapa yang sudah berani menipunya? Apa orang itu cari mati? Apa ini bersangkutan dengan bisnisnya? Spertinya iya!!


Aku jadi ingin tahu siapa orang itu? Sepertinya dia punya nyali dan nyawa


ganda. _-


Gumam Rika sudah memasang kewaspadaan dengan mode mulut sailent. Takut kalau tiba-tiba Riko menerkamnya, menjadikan Rika pelampiasannya.


Tidak ada yang tahu pasti cara orang melampiasakan kemarahannya.


" Tuan Riko anda sudah ada di sini. Maaf sudah membuat anda menunggu. Apa saya terlambat? "


Seorang pria tiba-tiba masuk, menyapa ramah pada pria yang masih terlihat marah.


Rika menoleh untuk melihat siapa itu. Dan saat ia melihatnya Rika terkejut bukan main. Mata yang menegang mewakili bagaimana keterkejutan Rika saat ini.


_- Paman?? _-


Apa dunia sesempit ini? tanyanya dengan kaki dan tangan yang sudah gemetar.


17 tahun Rika bersembunyi dari orang ini dan kini pria berusia 50 tahunan itu tepat berdiri didepannya.


Wajah pria itu seketika membuka pintu lorong waktu menuju masa lalu.


Rika semakin gemetar. Mengingat bagaimana moncong pistol diarahkan kepelipisnya.


Hanya untuk mendapat satu tanda tangannya yang bisa mengubah segalanya pria ini tidak segan-segan mengancam akan membunuh keponakannya sendiri.


Rika masih ingat jelas. Ingatan itu tidak pernah memudar. Sedikit pun tidak pernah!!


" 1 menit."


Artinya terlambat 1 menit. Tuan Lee tentu tahu Riko bukanlah orang yang suka keterlambatan. Jadi dia bisa menerima tatapan dingin Riko sebagai balasan sapaan ramahnya tadi.


" Maafkan saya Tuan. Ada sedikit kendala saat perjalanan kemari.


Saya harap Tuan masih mau mempersilakan saya untuk duduk."


Lama Tuan Lee dan sekertarisnya berdiri dan Riko belum mempersilakannya duduk.


_- Cihhh,,,,!! _-


Riko berdecih. Saat ini dia sedang mengontrol emosinya.


Dia tidak menyangka akan ditipu oleh orang yang sekarang berdiri di depannya.


Merasa bodoh untuk 5 tahun menjalani kerja sama dengan penipu.


" Duduklah!! "


Tuan Lee dan serkertarisnya pun duduk.


2 pemilik perusahaan besar sedang berhadapan.


_- Bagaimana ini? Bagaimana kalau Paman mengenali ku? Apa aku permisi saja?


Itu akan lebih mencurigakan.


Tuhan tolong aku hari ini saja!! Aku mohon!!


Setidaknya kasihani aku!! Hidup ku akan berakhir jika paman mengenali ku.


Bukan hanya aku tapi ibu juga.


Aku mohon, aku mohon!! Lindungi aku dari pria kejam ini!! _-


" Oh Tuan siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya. Apa dia serkertaris baru mu?? "


Deg,,,,!!!


_- Oh tidak!! _-


Rika semakin menunduk saat dirinya menjadi bagian topik pembicaraan basa basi. Menghindari bersitatap muka adalah hal yang bisa dilakukan saat ini.


Riko tidak melirik Rika. Dia tidak tahu gadis disampingnya sedang gemetar.


Berjuang untuk tidak dikenali.


" Sepertinya serkertaris anda sangat


pemalu."


Melihat Rika yang menunduk dalam.


Tuan Lee tidak pernah tertarik dengan hal yang dianggapnya tidak penting. Tapi baru kali ini dia tertarik pada gadis disebelah Riko.


Ia merasakan sesuatu pada gadis itu,


Rika!!


" Apa kita saling mengenal Nona? "


Tanyanya seraya mencari sedikit celah untuk bisa melihat wajah Rika.


" Tidak!! "


Rika langsung mengecutkan wajahnya. Tidak seharusnya dia bicara dengan nada tinggi. Itu bisa membuat pamannya mencurigainya.


Dan benar nada itu terdengar sedikit aneh.


Riko yang merasakannya langsung menoleh pada Rika.


Merasa semakin ada yang aneh pada gadis ini saat melihat Rika meremas roknya sendiri di bawah meja.


" Maksud saya, saya baru pertema kali bertemu anda Tuan. Tidak mungkin kita saling kenanl."


Katanya membenahi.


" Sepertinya kita memang tidak saling kenal. "


Tuan Lee mensetujui ucapan Rika. Mungkin ini hanya perasaannya saja, fikirnya.


" Aku tidak punya banyak waktu."


Tiba-tiba Riko menyela.


Sebuah kode untuk berhenti basa basi. Padahal Riko tidak punya jadwal lain selain pertemuan


ini.


Tuan Lee tidak menyangka Riko akan bersikap sedingin ini. Tidak tahu apa yang membuat tatapan Riko sekaku itu.


Yang jelas ia hanya bisa tersenyum saat usahanya untuk menetralkan suasana ditolak terang-terangan.


" Baiklah, mari kita langsung mulai ke intinya."


Fikir Tuan Lee ini yang diinginkan Riko.


Serkertarisnya mengeluarkan berkas kemudian memberikannya pada Tuan Lee lalu Tuan Lee sendiri yang menyodorkannya pada Riko.


" Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja kita selesai menandatangani kontrak kerja sama dan sekarang sudah membicarakan perpanjangan kontrak lagi."


Waktu memang seperti itu.


Terkadang terasa berlalu secepat mata berkedip.


Tuan Lee kira Riko akan langsung mengambil berkasnya untuk ditinjau langsung.


Ternyata tidak.


Hanya ditatap dengan sorot mata aneh.


Setiap pembaruan kontrak akan ada saja perjanjian yang berubah entah itu ditambahkan atau dikurangi dari masing-masing pihak.


" Saya sedikit menambahkan perjanjian disana.

__ADS_1


Tuan bisa pertimbangkan untuk kelanjutan apakah Tuan setuju atau tidak dengan perjanjian yang saya tambahkan."


Hal semacam ini sebenarnya tidak perlu dijelaskan kepada rajanya pembisnis.


Tapi melihat Riko yang tidak menyentuh berkas itu membuat Tuan Lee merasa harus sedikit menjelaskannya.


" Tuan apa ada masalah?? "


Tidak tahan lagi akan sikap Riko yang aneh ini, Tuan Lee to the point.


Tidak sedikit pun Riko mengubris ucapan ataupun tindakannya.


Hanya menatap dengan penuh hina, itu yang dirasakan Tuan Lee saat ini.


" Apa kau tidak malu menjalankan perusahaan orang lain? "


Deg,,,,!!! Jantung milik Tuan Lee.


Deg,,,,!!! Jantung milik Rika.


Sontak dua pasang mata itu langsung menatap Riko.


Terkejut akan ucapan Riko.


Bagaimana bisa Riko bisa tahu hal itu? Rika dan Tuan Lee saling bertanya pada dirinya sendiri.


_- Tuan Riko tahu perusahaan itu bukan milik paman. Apa Tuan Riko juga tahu siapa pemilik perusahaan itu?


Apa Tuan Riko tahu siapa aku yang sebenarnya? _-


" A~apa maksud Tuan? Apa yang tuan bicarakan ini? "


Jelas sekali terdengar suara Tuan Lee terbata, dan matanya panik.


Menggambarkan pria ini sedang gugup.


Cihhh!! Begitu bibir Riko tersungging pada pria yang pura-pura tidak mengerti.


Padahal hanya dia yang tahu dengan jelas apa yang dikatakan Riko.


Ponsel yang terbalik di atas meja diambil kembali kemudian Riko dengan tangannya membuka file yang dikirimkan David.


" Seharusnya aku yang bertanya apa maksud semua ini? Bisa kau menjelaskan


semuanya? Baru saja David mengirimkannya padaku. "


Menjentik ponselnya hingga terdorong ke arah Tuan Lee.


Meminta Tuan Lee melihat sendiri apa yang baru Riko lihat.


Tuan Lee mengambil ponsel Riko kemudian membaca file yang terdiri dari 2 halaman itu.


Setelah membaca Tuan Lee terlihat semakin


gugup.


Dia tidak percaya Riko adalah orang pertama yang tahu tentang rahasianya.


_- Apa yang sedang dibaca paman? Apa isinya hingga membuatnya seperti terkejut? _-


Rika penasaran.


Sepertinya Tuan Lee tidak akan mampu menjelaskan kepemilikan perusahaan QiQi.


" Berani sekali kau menipu ku!! Kau fikir aku orang bodoh yang tidak akan tahu semua ini? Salah jika kau berfikir seperti itu!! "


Sebenarnya Tuan Lee termasuk orang yang hebat karena mampu mengelabuhi Riko selama 5 tahun.


" Anda salah paham Tuan. Perusahaan ini adalah milik saya bukan milik orang lain."


Berusaha menjelaskan.


Takut kehilangan kerja sama dengan perusahaan StarLight karena StarLight adalah sungai rupiah yang mengalir untuk perusahaan QiQi selama ini.


" Perusahaan mu? Haha,,,!! Lalu bisakah kau jelaskan bagaimana bisa disana tertulis seluruh saham perusahaan QiQi atas nama


Nana Herlambang bukan nama mu!! "


Skak Mat!! Riko melempar satu anak panah yang mampu membuat bungkam Tuan Lee untuk sesaat.


Sedangkan Rika jantungnya semakin berdengup kencang saat namanya disebut.


Dia gugup dan takut.


Menyedihkan sekali saat dirinya dijadikan topik permasalahan namun Rika tidak bisa berbuat apa-apa.


Dia mengasihani dirinya sendiri.


" Baiklah saya akui perusahaan QiQi memang milik orang lain. "


Tuan Lee mengaku. Tidak ada gunanya mengelak. Dia menarik nafas dalam untuk menjelaskan kepada Riko. " Tapi perusahaan ini sudah lama bangkrut. Sekarang perusahaan QiQi ada dibawah kendali saya. Saat ini saya sedang berusaha mencari pemilik perusahaan agar bisa mengalihkan seluruh saham atas nama saya, Tuan.


Mohon Tuan jangan marah. Saya tidak bermaksud menipu anda."


_- Bohong!!! Tua bangka sialan ini berbohong!! Perusahaan ayah bangkrut karena permainnannya. Aku tidak sudi menyerahkan perusahaan ayah ku.


Walau saat ini perusahaan ayah ada dibawah kendalinya tapi dia tidak bisa berbuat banyak saat perusahaan ayah masih atas namaku.


Aku tidak akan membiarkan semua ini


terjadi. _-


Jika Rika berani sudah disiramnya pria di depan dengan air minum di atas meja.


" Kau sedang mencari pemilik perusahaan QiQi? Apa pemiliknya kabur dan


menghilang? "


Riko ingin memastikan sesuatu.


Baik Riko dan Tuan Lee sama-sama tidak tahu gadis yang tertunduk itu adalah orang yang sedang dibicarakan.


" Iya Tuan. Saya akan secepatnya menemukannya. Walaupun perusahaan QiQi atas nama orang lain tapi percayalah saya memegang penuh kendali atas perusahaan ini. Tuan jangan khawatir!! "


Riko tersenyum miring lagi. Sepertinya dia tahu ada skandal yang dilakukan Tuan Lee pada keluarga herlambang.


Bagaimana bisa anak yang bernama Nana itu kabur meninggalkan aset kekayaan yang sangat besar.


Pasti ada yang tidak beres di dalamnya, begitu otak Riko menyimpulkan.


" Kenapa kau terus berkata pemilik perusahaan QiQi adalah orang lain?? Perusahaan QiQi bukan milik orang lain!! Perusahaan itu milik kakak ipar mu dengan atas nama putrinya dimana dia adalah keponakan mu, dia bukan orang lain!! " Riko menegaskan. " Aku tidak tahu dan tidak tertarik dengan skandal yang terjadi di keluarga kalian tapi aku tidak ingin perusahaan ku mendapat masalah di masa depan. "


Riko tidak mau ambil resiko. Bisa saja pemilik sah perusahaan QiQi muncul dan menuntut Tuan Lee dan itu bisa berimbas pada perusahaannya sebagai rekan bisnis.


" Jadi temui aku lagi saat perusahaan itu sah atas nama mu!! Saat ini hubungan kita berhenti sampai disini!!


Permisi dan selamat tinggal."


Riko beranjak tanpa mau mendengar apa pun penjelasan dari Tuan Lee.


Ia pergi layaknya raja, pergi begitu saja.


Kesempatan ini tidak di buang Rika. Ia langsung berdiri dan keluar mengikuti Riko.


Brakkkkk,,,,,!!!!


Geram Tuan Lee menggebrak meja dengan tangan terkepal.


_- Sialan!!! Gara-gara anak dan ibu itu aku jadi menghadapi situasi seperti ini.


Awas saja jika aku menemukan mereka dan setelah aku berhasil mengalihkan seluruh saham atas nama ku akan aku bunuh mereka berdua.


Aku akan menembaki mereka agar tidak ada lagi penghalang jalan ku.


Aghhhh,,,,!!! Tapi dimana dia? Dimana Nana? Mereka sangat pintar bersembunyi._-

__ADS_1


__ADS_2