Beauty Inside

Beauty Inside
Dinda Maharani.


__ADS_3

Warnning!!


Part ini tidak mengandung unsur komedi.


Tidak ada lelucon. Hari ini bawa'an author lagi serius.


Mohon dinikmati saja alur ceritanya tanpa banyak bacot!!


Jika tidak suka monggo get out!!


Kalau suka tolong buka pintu mata hatinya untuk like, komen and vote!!


Tolong jempol merahnya diratakan dari ep 1 sampai ep terkahir!!


Dari 800 yang memfavkan cuma like paling gede 300an, itupun cuma di ep 1.


Entah kemana perginya yang lain.


Huft,,,,!! Mungkin keasikan baca jadi lupa tekan jempol.


Tapi gapapalah!! Yang namanya manusia kadang gitukan.


Baiklah selamat membaca!!


*


Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan datang untuk menyapa.


Kapan malaikat akan membawa kita bersamanya terbang.


Tapi yang pasti kematian itu pasti.


Mungkin sekarang? Besok? 2 hari lagi? atau Tuhan akan memberi umur panjang untuk umatnya?


Dinda tersenyum ke arah jendela.


Tidak percaya bahwa hidupnya akan sesingkat ini.


Rasanya baru kemarin ia terlahir tapi kini tinggal menghitung waktu.


Terkadang Dinda menangis mengingat waktu yang ia habiskan selama ini.


Canda, tawa, kebahagian bersama orang-orang yang dicintainya, semua itu hanya akan menjadi kenangan yang takkan pernah bisa diulang lagi.


Tapi belakangan ini Dinda lebih sering tersenyum. Informannya di indonesia sering mengirimkan potret kekasihnya bersama seorang gadis.


Dinda bahagai karena akhirnya ada yang mengisi kehampaan hati kekasihnya karena Dinda sadar dirinya tidak mampu untuk itu.


Kini gadis berwajah pucat dengan tubuh penuh alat penunjang hidup itu hanya bisa mengiklaskan sepenuh hati dan berdoa untuk kebahagian semua orang terdekatnya.


Termasuk Riko, kekasihnya.


Hanya itu yang bisa Dinda lakukan.


" Kakak ku terlihat cantik hari ini. Ada apa? Apa ada yang membuat kakak bahagia? "


Dandi, dialah satu-satu keluarga yang dimiliki Dinda.


Remaja berusia 19 tahun itu datang kerumah sakit dengan pakaian kuliahnya.


Bukannya senang, Dinda malah menghela nafas akan kedatangan adiknya itu.


Tahu pasti Dandi bolos kuliah lagi.


" Kau memuji kakak hanya agar kakak tidak mengusirmu kan?


Kenapa kau tumbuh menjadi anak nakal seperti ini ha?


Astaga, aku ragu kau adik ku. "


Sudah wanti-wanti Dinda menuturi adiknya bahwa pendidikan sangatlah


penting untuk masa depan. Tapi ceramah Dinda selalu saja masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Dandi sama sekali tidak menghiraukan ocehan Dinda. Dia sudah terbiasa dengan itu.


" Kampus sangat membosankan. "


Katanya langsung memeluk Dinda dengan manja namun penuh cinta


dan kasih sayang.


" Lalu apa tempat ini menyenangkan? "


Tempat yang memiliki aroma obat ini bukanlah tempat yang menyenangkan bagi seorang remaja yang seharusnya menghabiskan waktu di luar sana, begitu fikir Dinda.


Hanya Dandi yang menjadikan rumah sakit seperti tempat ternyamannya.


" Tentu!!. "


Melepas pelukannya beralih menggenggam tangan Dinda. Menatap Dinda seakan tatapan Dandi berbicara semua ini akan


baik-baik saja dan berlalu.


" Disini aku bisa melihat wajah cantik


kakak ku. Astaga,,, aku benar-benar beruntung mempunyai kakak secantik ini."


Dinda tidak ingin terlihat lemah di depan adiknya.


Segera ia mengontrol emosi ddan membalas pujian Dandi dengan senyum hangat seakan dia senang dengan pujian itu.


Walaupun Dinda tahu pujian itu semata hanya untuk menghibur hatinya.


Bagaimana mungkin wanita yang sudah seperti mayat hidup dengan rambut yang hampir semua rontok bisa terlihat tetap cantik.


" Dengar anak nakal!! Kelak kau tidak boleh memuji wanita lain di depan istrimu!!

__ADS_1


Kau akan disuruh tidur di kandang anjing nantinya."


Dinda memperingati setelahnya mendapat senyum leber dari Dandi.


" Jangan khawatir!! Tidur di kandang anjing tidaklah buruk."


" Aishh,,,,!! Dasar anak keras kepala."


Cetakk,,,,!!!


" Aowww,,,!! Kakak,,,, berhenti menyentil dahi ku!! Ini akan menonjol jika kakak sering meyentilnya. Aihh,,, sakit sekali."


Dandi mengusap-ngusap dahinya yang berdenyut-denyut.


Sentilan itu cukup keras untuk seukuran wanita yang selama ini berbaring


di ranjang rumah sakit. Dandi merasa kesal namun melihat kakaknya yang menertawai dirinya membuat hati Dandi luluh lagi.


Dua kakak beradik itu bercengkrama cukup lama. Tertawa mulai dari hal kecil.


Merencanakan hal apa yang akan mereka lakukan di masa depan.


Membuat gambaran tentang kehidupan yang akan mereka jalani.


Dandi masih muda, banyak yang ingin ia pelajari. Dia bilang ingin bekerja di perusahaan Riko suatu hari nanti.


Setelah mendapat pengalaman ia ingin membangun usahanya sendiri. Hari ini Dandi sangat cerewet.


Ingin ini ingin itu dan terus mengoceh tanpa memberi selah Dinda untuk menyela.


Dinda hanya tersenyum mendengarkannya.


Tahu adiknya itu sebenarnya punya semangat yang sangat besar.


Jika diberi kesempatan, Dinda ingin melihat adiknya sukses, meraih cita-citanya.


Namun lupakan!! Bahkan Dinda belum tentu bisa melihat adiknya yang tampan


dan cerewet ini 2 minggu kedepan.


" Kakak cepatlah sembuh!! Aku berjanji akan membawakan ransel mu saat mendaki gunung. Aku tidak akan mengeluh. Kakak bisa mendaki gunung sebanyak yang


kakak mau. "


Itu adalah kalimat permintaan yang terucap setelah banyak mengoceh tentang dirinya.


Menyesal kenapa selama ini ia selalu menolak membawakan ransel Dinda saat mendaki.


Riko dan David yang akan membawakan ransel Dinda secara bergantian.


Dandi dengan mata berkaca-kacanya meminta penuh harap agar kakaknya mau bersemangat melawan penyakitnya.


Tapi Kanker Serviks stadium akhir bukanlah penyakit ringan yang bisa diobati hanya dengan


obat warung.


Dia akan mengejek ku juga.


Dia akan bilang, Sayang kenapa adik mu lembek seperti ini? "


Dinda menertawai dirinya sendiri setelah tadi mengikuti gaya Riko bicara.


Namun tidak dengan Dandi. Dia malah menatap kakaknya penuh iba. Dinda langsung terdiam saat melihat Dandi yang tidak mengubris leluconnya. Dia juga sadar baru saja menyebut nama Riko setelah sekian lamanya nama itu terlupakan.


" Kakak merindukan kak Riko bukan? "


Hanya pertanyaan itu yang menghuni kepala Dandi.


Seketika pertanyaan itu pula yang menghujam di dada Dinda.


Dia ingin bilang iya tapi ia tak mampu.


" Dandi pergilah ke kampus mu!! Ayo jangan buang-buang waktu mu disini!! Kakak baik-baik saja."


Dinda sudah menepis tangan Dandi. Mendorong tubuh adiknya untuk segera pergi.


Namun sikapnya yang menghindari pertanyaan Dandi semakin membuat Dandi yakin selama ini kakaknya merindukan kekasihnya.


" Jangan mengalihkan pembicaraan!! "


Fikir Dandi hal semacam ini tidak perlu dirahasiakan jika hanya membuat kakaknya semakin tersiksa.


" Dandi,, "


Dinda melempar sorot mata penuh harap adiknya itu mau mengerti dirinya yang tak mau membicarakan hal ini.


Meski sebenarnya tadi Dindalah yang secara tidak sadar membuat pembicaraan lari


ke arah sana.


Dandi tidak menghiraukan kakaknya. Ia melempar pandangan ke arah lain.


Merasa muak karena Dinda terus melawan perasaannya sendiri.


Dandi ingin Dinda mempercayainya dan mau membagi keluh kesal yang dipendam kakanya itu sendirian.


" Apa ini? Kakak melihat mereka lagi? "


Saat menoleh Dandi melihat ipad yang seharusnya berada di laci sekarang berada di atas meja.


Itu berarti baru saja ipad itu dimainkan.


Dan yang memainkannya pasti Dinda. Dandi tahu Dinda baru saja melihat info kegiatan Riko yang dikirim informannya dari


indonesia.


" Kakak hanya sekedar melihat. "

__ADS_1


Beralasan. Mata Dinda panik.


Dandi menyadari kakaknya itu tidak benar-benar sekedar melihat.


" Kenapa kakak tidak katakan kalau kakak merindukan Kak Riko? Aku akan pulang ke Indonesia sekarang dan mengatakan yang sebenarnya pada Kak Riko."


Dandi sudah berdiri. Dia tidak tahan lagi akan kekonyolan kakaknya ini.


" Dandi jangan!! Kakak mohon!! Jangan!! "


Namun dengan cepat Dinda menahan tangan Dandi.


Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.


" Kenapa? Kenapa Kakak menyiksa diri sendiri? Kak Riko sekarang membenci mu karena Kakak meninggalkannya tanpa alasan.


Apa Kakak senang akan hal itu? Apa itu membuat kakak merasa lebih baik? Apa lari bisa mengubah semuanya? "


Suasana di ruang VIP itu berubah begitu cepat. Secepat angin yang berhembus melalui jendela.


Yang tadinya berhiaskan kehangatan sekarang berubah menegangkan.


" Memang itu tujuan ku!! "


Dinda bicara tidak kalah keras dari Dandi.


Ia ingin Dandi mendengarkannya. " Riko adalah pria yang sangat baik. Aku ingin Riko bahagia karena aku tidak bisa membahagiakannya.


Aku tidak bisa hiks,,,!! Bagaimana bisa aku membahagiakannya jika untuk hidup saja


aku bergantung pada waktu?


Kakak mohon jangan lakukan itu! Birkan saja Riko membenci ku!! Dengan begitu Riko bisa melupakan kakak dengan mudah.


Mengertilah Dandi!! Ini bukan waktu yang tepat. "


Air mata Dinda menggambarkan betapa beratnya ia ingin Riko melupakan dirinya.


Melihat kakaknya menangis seperti ini membuat Dandi sadar betapa menderitanya Dinda. Ia duduk kembali dengan tubuh terasa lemas. Tidak bisa berbuat apa-apa.


Menyesal juga seharusnya ia mengontrol emosi dan tidak bicara dengan nada tinggi seperti tadi.


Itu keterlaluan.


" Lalu kapan waktu yang tepat? "


Fikir Dandi apa saat kakaknya pulang hanya tinggal nama? ".Kenapa kakak berusaha membuat orang yang kakak cintai melupakan kakak? Itu pasti sangat menyakitkan."


Tanpa berada di posisi Dinda pun Dandi bisa merasakan.


Selama ini Dinda melawan perasaannya sendiri. Selain melelahkan itu juga menyakitkan.


Melihat Dandi sudah tenang, Dinda cepat-cepat menyeka air matanya kemudian beralih menggenggam tangan Dandi sebelum


anak ini kehilangan kendali lagi.


" Dengar Dandi!! Percayalah, kakak bahagia, senang dan bangga melakukan ini.


Tidak apa Riko membenci ku, sungguh!!


Riko berhak mendapat kebahagiaannya. Berhak mendapat wanita yang bisa mendampinginya sepanjang hidup. Untuk itu Riko harus melupakan ku! Dan satu-satunya cara hanyalah membuat Riko membenci ku dengan begitu perlahan dia akan


melupakan kakak.


Saat ini ada satu gadis yang mulai memasuki kehidupan Riko. Gadis itu sudah mengisi hari-hari Riko. Biarkan Riko perlahan membuka hatinya!!


Jika kau mengatakan semua ini sekarang maka semua yang kakak lakukan selama 2 tahun akan sia-sia.


Kakak mohon pada mu!! Jangan katakan pada Riko!! "


Genggaman tangan Dinda semakin erat. Artinya ia memohon dengan amat sangat pada adiknya.


" Baiklah!! Lakukan saja apa yang kakak ingin lakukan!!


Lakukan semua yang anggap kakak benar!!


Aku tidak akan ikut campur lagi.


Aku pergi sekarang. "


" Dandi,,,!! "


Panggil Dinda pada adiknya yang sudah pergi.


Namun Dandi enggan berhenti apalagi menoleh.


Terlihat jelas Dandi kecewa.


_- Dia belum mengerti. Bocah ini belum bisa menerima kalau hidup kakaknya tidak akan


lama lagi.


Jika aku sudah bisa menerima takdir ku maka Dandi harus bisa menerima kenyataan ini.


Aku bahkan siap jika mati hari ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar Dandi mau mengerti. _-


Jika kesempatan untuk hidup ada maka Dinda tidak akan pernah melakukan hal ini.


Tidak akan lari dari Riko dan membuat dirinya sendiri dibenci.


Namun kenyataan bahwa dirinya tidak bisa mendampingi Riko mengharuskannya mengambil jalan yang tidak disukai adiknya.


Bagaimana pun Riko harus melupakannya!!


Fikir Dinda itu jalan satu-satunya agar


Riko bisa bahagia mengingat bagaimana Riko mencintainya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2