
Sementara Riko masih mengganti pakaiannya di ruang ganti Rika memilih menunggu di luar.
Alasannya yaitu dia hanya asisten! bukan istri yang bisa melihat suaminya saat berganti pakaian.
Jadi setelah pakaian Riko ia siapkan, Rika segera out.
" Pasangkan aku dasi!! Tangan ku terlalu kaku. "
Baru keluar sudah memberi perintah. Rika yang sedang duduk di sofa langsung terperanjak.
Berdiri menghadap Riko dengan raut wajah yang sontak menjadi gugup. Memasangkannya dasi?
Itu berarti Rika harus berdiri didepan Riko dengan jarak yang dekat dan wajah mereka akan bersitatap.
Begitu yang Rika tonton di drakor.
Dalam benak berdoa semoga saja tidak ada yang berdebar.
_- Tidak usah gugup Rika!! Hanya memasangkan dasi tidak akan sedramatis di drama. Lakukan dengan cepat lalu selesai!! _-
" Ba-baik Tuan."
Maju dengan berusaha bersikap tenang. Walau seperti itu ya tetap saja berada di dekat Riko membuat jantung Rika berdebar lagi hingga membuatnya gemetar saat mengalungkan dasi ke kerah kemeja Riko.
Ditambah lagi Riko tidak memalingkan wajahnya dan terus menatap Rika.
Jadilah gadis ini gugup dan kaku.
Beruntung dia masih ingat cara membuat dasi jadi bisa selesai cepat.
" Ambilkan aku minyak rambut!! "
Perintah berikutnya.
" Baik Tuan."
Hanya ada 1 minyak rambut di meja jadi Rika ambil yang itu saja.
" Ini Tuan!! "
Menyerahkan minyak rambut semprot yang mereknya, ah sudahlah!!
Jangan ditanyakan lagi!! Yang pasti bukan produk kaleng-kaleng.
" Berikan pada rambut ku!! Tolong kau tata rambut ku!! Model hairup!! "
Model rambut killer sehari-hari. Yang mampu membuat remaja, dewasa, tua, muda mabuk kepayan.
_- Ih kok manja sih? Memangnya tugasnya bi Gina ada nyisir rambut? Itu tangan yang satunyakan masih bisa dipakai. _-
Terdiam karena ragu. Berfikir juga sepertinya ini Tuan Riko sengaja pasti nih nambah-nambahin tugas.
" Apa perlu aku ikatkan rantai dileher mu? "
Biar kalau disuruh tinggal tarik langsung datang, tidak diam seperti sekarang ini.
" Maaf Tuan. "
Rika mendekat. Takut dirantai Riko.
Sialnya Riko terlalu tinggi untuk digapainya. Kesalnya lagi Riko seperti sengaja mempermainkan dirinya.
Dia lihat Rika berusaha keras menjinjit seharusnya Riko duduk agar gadis kecil itu tidak kesusahan.
Tapi disitulah letak kesengan Riko. Wajah Rika sangat lucu saat berusaha menggapai rambut Riko.
Dilihat semakin dekat semakin lucu.
" Tuan anda bisa duduk tidak sebentar?? Saya tidak bisa menjangkau rambut anda. Kalau seperti ini nanti hasilnya jelek."
Kalau sudah jelek siapa yang rugi? Ya si pemilik rambut yang jahil itu, Riko!!
" Dasar pendek."
Tidak lupa mengatai sebelum duduk di sisi ranjang.
Rasanya kesenangan tidak lengkap jika wajah Rika belum memerah karena kesal.
_- Aku dibilang pendek? Situ yang kayak tiang listrik. _-
Benar saja kulit pipi Rika berubah jadi warna pantat bayi, merah.
Meski dikatai pendek, Rika tetap menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Terbukti dengan tatanan rambut yang tak kalah perfect dengan gaya salon.
Riko tidak mengkritik artinya dia puas. Tapi dia juga tidak memuji.
Pria tanpa reaksi itu hanya berdiri di depan cermin seraya mengecek apa sudah rapi atau belum.
Rika yang tadinya ingin membanggakan diri atas hasil karya hairupnya jadi mengurungkan niat.
" Tuan, perban di tangan anda akan saya ganti. Kemarilah!! "
Menepuk-nepuk sofa, duduk disini!! artinya begitu. Menepuk-nepuk sofa dalam artian meminta seseorang duduk disana sebenarnya itu tidak sopan apalagi pada atasan.
Tapi Riko seperti tidak masalah dengan itu, dia duduk disebelah Rika dan menyerahkan tangannya.
" Tuan bagaimana bisa anda mendapat luka ini? "
Pura-pura tidak tahu. Hanya ingin tahu apakah Riko mau jujur atau tidak.
__ADS_1
" Ada perkelahian di Klub. Banyak gelas yang jatuh dan pecah dan tangan ku terkena pecahannya."
Rika sudah menafsirkan Riko tidak akan jujur. Jadi ia ikuti alurnya agar tidak
malu itu si Riko.
" Seharusnya anda lebih berhati-hati Tuan!! Lukanya cukup dalam dan banyak. Apa sudah anda bawa kedokter?? "
Khawatir tanpa sadar tanpa direncanakan.
" Nanti akan sembuh sendiri. Kenapa? Kau mencemaskan ku? "
Tidak melewatkan kesempatan untuk memojokan Rika.
Seperti yang di duga pipi gadis ini semakin merah seperti
Saos tomat.
" Tentu saja saya khawatir!! Sayakan asisten anda. "
Memberi alasan dengan raut wajah yang canggung.
Itu terlalu terlihat jelas untuk disembunyikan.
_- Kau memang harus khawatir!! Aku seperti ini karena dirimu!! _-
" Aowwww!! Hati-hati!! "
Riko sedikit menarik tangannya. Pria kejam ini tiba-tiba meringis.
Artinya dia masih ada darah manusianya.
_- Jangan lebay deh!! Belum juga diolesin obatnya!! Baru cuma dipegang doang.
Nanti aku bejek nih tangannya biar sakit beneran. Emangnya kemarin-kemarin gak sakit apa?
Ada-ada aja kelakuan aneh Tuan Iblis. Heran akutuh!!_-
" Iya ini sudah hati-hati Tuan."
Rikonya saja yang berlebihan.
" Aowww,,,!! Sudah aku bilang hati-hati!! Jangan terlalu mengoleskan banyak obat!! "
Yang ini baru sakitnya bukan lebay.
Masalahnya disini lukanya bukan satu tapi lebih.
Lebih banyak luka lebih banyak pula rasa sakit yang harus ditahan.
Rika juga bisa merasakan pasti rasanya sangat perih.
_- Lain kali jangan kebanyakan gaya itu kaca pecah malah diremas. Udah sakit baru tahu rasakan!!
Besok-besok kalau marah sekalian aja tusukin paku ke tangannya!! Jangan tanggung-tanggung!! _-
Mengoceh dalam gumam.
" Sudah selesai Tuan. Tinggal di perban."
Mengambil perban yang sudah disiapkan lalu mulai meperban.
" Aku sudah memikirkannya."
Tiba-tiba saja memulai pembicaraan ke arah entah kemana.
" Memikirian apa Tuan?? "
Yang jelas bukan memikirkan masa depan.
" Kau tidak perlu melayaniku seumur hidupmu atau sampai kau bisa membayar hutang mu. "
Riko mengatakan hal yang mengejutkan sukses membuat Rika menatap setelah selesai memasang perban.
" Maksud Tuan?? "
Ini baru pertama kali Rika merasakan aura positif.
Riko nampak serius tanpa bayangan ekspresinya yang licik.
" Hanya 2 minggu!! Layani aku dengan baik lalu kau bisa pergi sesuka hati mu!!
Aku akan membebaskan mu setelah itu. Kau tidak usah khawatir!! Aku tidak akan mengganggu mu lagi. "
Berkata tanpa senyum seolah tidak bahagia dengan apa yang baru dikatakannya.
Riko memalingkan wajahnya. Dia bermain dengan ponselnya.
Menyamarkan suasana hati yang tiba-tiba memburuk.
Mengingat bumi sudah gonjang ganjing dimana setiap siang dan malam bergantian begitu cepat jadi 2 minggu akan menjadi waktu yang singkat.
Suasana berbanding terbalik terjadi pada Rika. Wajahnya berseri penuh kebahagiaan dan rasa terimakasih.
Matanya berbinar menatap Riko.
2 meliar bisa lunas dalam 2 minggu? Hanya melayani Riko? Ini adalah anugrah.
Mimpinya untuk bebas dari Riko akhirnya terwujud
" Tuan apa benar ini anda?? Apa ini Tuan Riko yang saya kenal?? "
__ADS_1
Katanya penuh semangat mengecek saku jas Riko takutnya ada peri yang bersembunyi disana yang menuntun Riko untuk berkata seperti itu tapi tidak ada.
Cek di belakang jas juga tidak ada. Cek di samping juga tidak ada.
Yang ada malah berantakan pakain Riko diuatnya.
" Aihhh hentikan!! Hentikan!! Kau merusak pakaianku."
Merasa terusik Riko menahan tangan Rika dengan raut wajah kesal.
Rika bukannya meminta maaf dan merapikan lagi pakaian Riko malah menatap Riko seraya tersenyum haru lalu secara mengejutkan gadis itu memeluk Riko hingga raut wajah kesal Riko berubah menjadi raut wajah terkejut.
" Terimakasih Tuan termikasih!! "
Jika pelukan itu hanya sebuah rasa untuk mengungkapkan rasa terimakasih seharusnya itu adalah pelukan yang singkat tapi nyatanya tidak!!
Riko membranikan diri membalas pelukan Rika. Satu tangannya berada di punggung dan satunya lagi membelai rambut lurus Rika yang terurai.
" Kau senang??"
Katanya, jujur dirinya sedikit tidak senang.
Ada rasa tidak rela.
" Iya Tuan. Terimakasih!! Saya selalu ingin menjalani hidup susuai keinginan saya."
Apalagi hal yang lebih indah selain menjalani hidup sesuai yang kita inginkan.
_- Kenapa aku merasa berat dengan apa yang sudah aku katakan?? Apa keputusan ku untuk melepaskannya salah?
Aku hanya ingin dia tidak memandangku sebagai iblis lagi. _-
Gumamnya beralih menepuk-nepuk bahu Rika dengan berat hati dia tersenyum mencoba terlihat bahagia dengan keputusannya itu.
" Aku akan terlambat ke kantor jika kau terus memeluk ku. "
Doeng!!!
Sontak Rika melepas pelukannya. Dia panik lalu tertunduk. Merasa malu akan kelakuannya yang sebenarnya diluar kesadaran. Jadi memeluk Riko adalah sebuah gerakan refleks karena saking senangnya.
" Ma-maaf Tuan. Saya hanya ingin berterimakasih. "
_- Astaga!!! Gila!! Gila!! Gila!! Aku pasti sudah Gila!! Bisa-bisanya aku memeluk Tuan Riko. Dasar tangan bikin malu saja.
Aishhh,,, aku tidak berani menatap matanya. Aku malu sekali!! _-
" Aku tahu itu hanya akal-akalan mu saja agar bisa memeluk ku kan? Kau sengaja ambil kesempatan, iya kan?? "
Riko menggoda Rika denga cara memojokannya yang mana gadis itu semakin tertunduk dalam.
" Ti-tidak Tuan."
Sudah berpeluh dingin. Tanda-tanda mau pingsan karena gugup dan juga malu.
" Lain kali jangan sembarangan memeluk pria!! Kau tidak tahu bisa saja pria yang kau peluk tidak pandai menahan diri lalu menerkam mu habis.
Kau mau diterkam?? "
" Tidak Tuan!! "
Menambahkan gelengan cepat.
" Bagus!! "
Riko berdiri. Dia mengacak puncuk kepala Rika. " Jaga tangan mu itu kalau tidak mau diterkam!! "
Sebuah peringatan yang harus digaris bawahi setelahnya Riko berjalan ke arah cermin.
Melihat bagian pakaian yang kacau lalu membetulkannya.
Padahal Rika yang ngacakin.
" Tuan anda tidak sarapan? Saya akan segera turun dan membawakan sarapan anda. Tunggu sebentar ya!! "
Melihat Riko yang sudah siap akan segera berangkat kerja, Rika bergeges bergerak.
" Aku akan sarapan di kantor saja."
Memilih melewatkan sarapan paginya di rumah karena sudah terlambat.
" Anda yakin Tuan? "
Bertanya sekali lagi pada pria yang sudah keluar kamar.
Rika mengikuti dari belakang.
Tugasnya sekarang mengantar Riko sampai ke depen seperti yang sering Bi Gina lakukan.
" Iya."
Berhenti saat tidak sengaja bertemu David yang juga baru keluar dari kamarnya.
David menatap Rika dan Riko bingung.
O, kalian? Berdua? Kenapa bisa keluar dari kamar yang sama? Bukannya kalian itu masih bertengkar sejak kemarin?
Apa yang sudah terjadi? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan? begitu wajahnya penuh akan pertanyaan.
Karena jika dijelaskan akan malah jadi panjang, Riko menarik tangan David dan membawa tubuh adiknya pergi beserta rasa penasarannya tentang apa yang
sudah terjadi.
__ADS_1
Nanti saja aku jelaskan di kantor!! Sekarang ayo kita pergi dulu!! begitu arti tarikan tangan Riko.