Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 10


__ADS_3

Aisyah tampak kebingungan dengan apa yang di ceritakan oleh Airin tadi sewaktu di pasar. Yah secara wanita paruh baya itu tidak melihat siapa-siapa bersama putri nya waktu itu. Namun putri nya mengatakan bahwa dia bertemu dengan seorang pemuda.


Takut jika putri nya akan berpikir yang bukan-bukan, maka Aisyah pun akhir nya mengangguk membenarkan apa yang Airin ceritakan itu.


***


"Pak, ibu jadi bingung sama Airin deh pak" Ujar Aisyah kepada suami nya saat suami nya sedang duduk bersantai di depan teras rumah tok Wan.


"Bingung kenapa buk?"


"Itu lo Airin, sepulang dari pasar tingkah nya semakin aneh saja"


"Aneh gimana maksud ibu?"


"Ya aneh pak. Masa ia dia bilang ketemu dengan seorang pemuda yang wajah nya gak asing bagi nya. Seperti pernah bertemu dengan pemuda itu. Tapi sayang nya dia lupa di mana" Jelas Aisyah lagi.


Raksi tampak berpikir mendengar cerita dari istri nya itu. Yah lelaki paruh baya itu pun tampak heran dan bingung.


"Tuh bapak lihat anak kita. Sekarang melamun dan tersenyum sendiri seperti itu" Ujar Aisyah menunjuk ke arah Airin yang duduk melamun tak jauh dari mereka.


Raksi melihat ke arah putri nya. Tampak Airin memegang dada nya yang kini kembali terasa getaran halus saat membayang kan wajah pemuda tadi. Airin tersenyum memikirkan wajah pemuda itu.


Seketika ketakutan yang ia rasakan selama ini kini telah sirna dengan membayangkan wajah pemuda tadi.


***


Pagi itu Airin terbangun dari tidur nya. Sudah beberapa hari gadis itu tidur dengan nyenyak. Yah semenjak ia berada di negeri Kuda Emas ia tidak lagi mengalami mimpi buruk seperti biasa nya.


"Sayang, pagi ini ibu mau ke pasar. Apakah kamu mau ikut juga?" Tanya Aisyah kepada putri nya itu.


"Iya buk, Airin ikut" Ujar nya dengan senyuman gembira. Wajah yang tadi pucat karena kurang tidur pun kini perlahan terlihat membaik.


Yah Airin bersemangat kembali seperti dulu sewaktu ia belum pernah mendapatkan mimpi-mimpi buruk itu.


"Sebenar ya buk Airin mau ganti baju dulu" Ujar nya lagi dengan penuh semangat.

__ADS_1


Aisyah mengerutkan kening nya melihat tingkah putri nya itu. Sejujurnya ia juga merasa gembira melihat putri semata wayang nya itu terlihat ceria kembali.


"Siapa tahu nanti aku akan bertemu dengan pemuda itu lagi" Batin Airin penuh dengan harapan.


"Ayo buk kita berangkat" Ujar nya setelah selesai berganti pakaian.


***


Airin kembali mendatangi tempat dimana ia bertemu dengan pemuda itu. Ia pun memperhatikan sekeliling nya. Yah sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan pemuda itu.


Rasa semangat di hati nya tadi kini telah hilang seketika ketika mendapati pemuda yang ia ingin temui tidak ada di tempat itu. Ia hanya ingin berkenalan dengan pemuda itu. Jujur saja gadis itu sangat penasaran dengan sosok pemuda tampan itu. Pemuda yang membuat nya kembali bersemangat saat ini.


"Kemana ya dia? Apa dia tidak datang ke sini lagi ya?" Batin Airin mulai bertanya-tanya.


"Mencari siapa?" Tegur seseorang dari belakang.


Airin kaget dan berbalik melihat siapa yang menegur nya tadi.


"Eh, kamu" Ujar Airin dengan malu-malu.


"Gak hanya mau lihat-lihat tempat ini saja" Bohong Airin.


"Oh ya kemarin kita belum sempat kenalan. Aku Damar" Ujar pemuda tadi memperkenalkan diri nya.


"Airin" Jawab Airin tersipu malu.


"Seperti nya kamu bukan asli dari negeri ini. Aku baru melihat mu"


"Oh iya, aku berasal dari negeri Bunga Tanjung"


"Oh negeri yang jauh. Terus ke sini ngapain?"


"Hanya jalan-jalan saja mengunjungi rekan" Bohon Airin.


Damar memperhatikan wajah Airin dari ujung kaki hingga ujung rambut nya. Sungguh gadis di hadapan nya itu sangat cantik. Dan wajah nya memang tidak asing bagi nya. Kini ia telah menemui gadis itu. Gadis yang ia tunggu selama puluhan tahun itu.

__ADS_1


"Hmm, aku merasa wajah mu tidak asing bagi ku. Seperti nya kita pernah bertemu sebelum nya. Tapi di mana ya?" Tanya Airin mencoba mengingat di mana ia bertemu dengan pemuda yang bernama Damar itu.


"Kemarin"


"Gak sebelum itu" Ujar Airin.


"Yah, memang kita pernah bertemu. Aku sering mendatangi mu melalui mimpi-mimpi mu" Batin Damar. Yah, setiap kali Airin mengalami mimpi buruk di mana ia selalu diganggu oleh bayangan-bayangan hitam maka Damar lah yang datang menolongnya dari gangguan bayangan-bayangan itu yang ingin menyakiti gadis cantik itu.


Namun ketika Airin sudah terbangun dari mimpi buruk tersebut, ia seketika lupa dengan siapa yang menolongnya itu. Ia sama sekali tidak bisa mengingat orang yang telah menolongnya di dalam mimpi itu. Yang ia bisa ingat hanyalah bayangan-bayangan hitam yang selalu menghantuinya.


"Aduh, aku sama sekali tidak bisa mengingat nya" Ucap Airin tidak bisa mengingat tentang pertemuan mereka.


"Sudah, jangan di paksakan. Kita memang baru bertemu kok" Ujar Damar tersenyum melihat perangai gadis yang ada di hadapan nya itu.


Damar dan Airin pun memutuskan untuk ngobrol ringan sambil berkeliling mengitari pasar tradisional itu. Dalam sekejap mereka terlihat sudah akrab satu sama lain nya. Mereka pun duduk di tepi sungai yang tak jauh dari pasar itu.


"Ya Ampun, aku harus kembali. Ibu pasti mencari ku" Ujar Airin sadar bahwa ia sudah lama meninggalkan ibu nya yang sedang berbelanja di pasar itu.


Damar hanya mengangguk mengizinkan bahwa gadis itu pergi meninggalkan nya.


Airin bangun dari duduk nya dan bergegas mencari ibu nya di pasar itu.


"Ternyata kamu di sini nak. Dari tadi ibu cariin ternyata di sini" Ujar wanita paruh baya itu melihat putri nya kembali menghampiri nya.


"Maaf buk, Airin lagi duduk di sungai yang ada di ujung sana"


"Iya gak apa-apa sayang. Ayo kita pulang nak. Kasihan bapak dan bu Suri menunggu kita di rumah"


Airin mengangguk setuju. Mereka pun kembali menuju ke rumah tok Wan.


"Buk, tadi Airin bertemu dengan pemuda yang kemarin itu. Ternyata nama nya Damar" Ujar Airin kepada ibu nya saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Tadi dia bersama ku lo buk. Kami duduk di tepi sungai itu dan saling ngobrol" Cerita Airin lagi.


Aisyah kembali mengerutkan kening nya. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak bisa melihat pemuda yang bernama Damar itu seperti apa yang dikatakan oleh putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2