Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 38


__ADS_3

Airin membuang apel yang diberikan oleh nenek tua itu karena Damar menceritakan apa yang terjadi kepada ibunya di masa silam. Apel yang tadi dibuang oleh Airin tergeletak di belakang halaman istana. Seorang pelayan istana yang bertugas untuk memelihara kuda istana pun menemukan apel tersebut dan mengambilnya. Pelayan tersebut memberikan apel itu kepada salah satu kuda yang ada di kandangnya saat ia sedang memberi makan kuda-kuda tersebut.


Kuda yang mau makan apel tadi pun secara tiba-tiba mengeluarkan buih di mulutnya hingga membuat kuda tersebut meregang nyawa karena keracunan. Hal itu disebabkan karena apel itu telah diberi racun oleh penyihir yang bertemu dengan Airin tadi dan menyamar menjadi nenek tua.


"Ya ampun kenapa dengan kuda ini? Apa yang terjadi sebenar nya" Ujar pelayan tadi panik melihat kuda nya tergeletak tak bernyawa.


"Dayang, dayang tolong" Ujar pelayan tadi.


"Ada apa?" Seorang dayang yang kebetulan lewat di kandang kuda itu pun berhenti dan bertanya dengan pelayan tersebut.


"Ini kenapa dengan kuda ini? Secara tiba-tiba dia bertingkah aneh dan pada akhir nya seperti ini. Tolong panggilkan pelayan istana yang lain membantu memeriksa nya" Ujar pelayan tadi lagi.


Tanpa diminta untuk yang kedua kalinya ada yang tadi pun langsung pergi memanggil pelayan istana lainnya untuk melihat keadaan kuda tersebut.


"Ada apa?" Tanya Damar kepada salah satu pelayan istana yang tampak berlari menuju kandang kuda. Di mana saat itu Airin dan Damar sedang duduk di taman istana.


"Salah satu kuda yang ada di kandang sedang mengalami masalah secara tiba-tiba mulutnya mengeluarkan buih" Jelas pelayan itu lagi meninggalkan Damar dan juga Airin dan kembali pergi ke kandang kuda.


Mendengar hal itu Airin dan Damar pun ikut pelayan tersebut menuju kandang kuda untuk melihat keadaan kuda tersebut.


"Ada apa ini" Tanya Damar kepada pelayan yang tadi memberikan apel kepada kuda itu.


"Saya juga tidak tahu tuan. Secara tiba-tiba kuda nya bertingkah aneh dan seperti ini keadaan nya" Jelas pelayan tadi lagi.


Damar mendekati kuda yang sudah tidak bernyawa itu yang tergelempang di tanah. Laki-laki itu memperhatikan kuda tersebut dengan teliti.


"Seperti nya kuda ini keracunan. Apa yang kamu berikan kepada kuda ini hingga dia mengalami keracunan seperti ini?"


"Aku hanya memberikan apel yang tadi kutemui di halaman belakang istana kepada kuda ini. Setelah kuda ini mau makan apel tersebut ia langsung bertingkah aneh dan seperti inilah kejadiannya" Jelas pelayan tadi.


Deg...


Airin kaget mendengar penjelasan dari pelayan tersebut. Gadis itu merasa bersyukur karena dia tidak memakan apel yang diberikan oleh nenek tua itu dan mendengar apa yang dikatakan oleh Damar. Jika saja dia memakan apel itu mungkin nasibnya sama seperti kuda ini.


***


"Terima kasih ya Damar" Ujar Airin saat mereka melanjutkan latihan di halaman belakang istana.


"Terima kasih untuk apa?"


"Karena kamu telah menolong ku"


Damar menatap Airin dengan heran karena ia sama sekali tidak melakukan apapun kepada gadis itu. Namun gadis itu mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa Damar telah menolongnya.


"Menolong? Menolong apa?"

__ADS_1


"Menolong ku dari apel yang beracun itu. Jika kamu tidak menyuruhku untuk membuangnya mungkin aku sudah memakan apel tersebut dan nasibku akan sama seperti kuda tadi. Karena itu Aku mengucapkan terima kasih kepada kamu yang telah menolongku" Jelas Airin.


"Sudah sepantas nya aku melindungi gadis yang ku cintai" Ujar Damar tersenyum senang.


***


Airin menghela napas berat nya saat ia berdiri di balkon kamar nya. Ia kembali merasa bimbang malam itu. Yah di mana gerhana bulan akan terjadi tinggal menghitung hari saja lagi. Hati nya kini merasa berdebar takut ia tidak bisa mengalahkan pemimpin banga Orx itu. Yah pasti setiap orang merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Airin saat itu. Meski telah berlatih setengah mati, tetap saja tidak merasa yakin bahwa kita akan menang. Contoh nya saat bertanding puisi atau nyanyi. Kita sudah berlatih setengah mati untuk mempersiapkan pertandingan tersebut agar bisa menang. Namun, semakin mendekati acara kita akan semakin merasa deg-degan takut Tidak bisa menampilkan yang terbaik. Itulah yang dirasakan oleh Airin saat itu.


Apa lagi gadis itu akan berperang melawan pemimpin bangsa Orx. dan sewaktu-waktu nyawanya bisa saja melayang akibat peperangan tersebut. Tentu saja perasaan lebih banyak berkali-kali lipat yang ia rasakan saat ini.


"Ya Tuhan, semoga aku bisa mengalahkan pemimpin Orx. Semoga aku bisa menyelamatkan negeri ini dari teror yang selalu terjadi di negeri ini. Semoga aku tidak mengecewakan rakyatku yang sudah mengharapkan aku untuk menang dalam pertarungan ini" Doa nya dalam hati sambil memejamkan mata dan menghadap ke langit yang di taburi oleh bintang-bintang.


Yah malam itu tidak terlalu cerah, bintang-bintang yang muncul pun tidaklah terlalu banyak. Sama seperti hati Airin saat ini yang sedang gundah gelana dan bimbang untuk menghadapi peperangan yang hanya menghitung hari saja lagi. Memang Airin dan juga para pasukannya telah mempersiapkan segala sesuatunya secara matang. Tapi tetap saja rasa itu tidak bisa hilang dari hatinya.


"Damar, apa kah kita akan berhasil mengalahkan mereka dan memenangkan peperangan ini?" Tanya Airin lagi seolah-olah ada Damar bersamanya saat itu padahal Ia sedang sendirian di sana.


Meski nantinya mereka menang dalam melawan bangsa Orx, tapi mereka akan kembali berjuang untuk memenangkan hati sang raja Agung agar bisa memberikan restu terhadap hubungan mereka. Meski mereka tahu tidaklah mudah untuk mendapatkan restu dari raja itu. Tapi mereka siap berusaha dan tidak mau menyerah begitu saja hingga restu itu di dapatkan.


Yah apa pun halangan yang ada di hadapan mereka atas hubungan mereka saat ini, mereka siap menghadapinya. Seperti janji yang pernah mereka ucapkan yaitu sehidup semati.


"Tetap lah bersama ku Damar, tetap lah berada di sampingku kemanapun aku berada. Hanya kamu yang bisa memberikan semangat di dalam hidup ini. Dan hanya kamu yang membuat aku yakin bisa memenangkan peperangan ini" Batin Airin lagi.


***


Mata-mata dari bangsa Orx yang diutus oleh penyihir tadi untuk memantau keadaan Airin apakah sudah memakan apel yang ia berikan tadi atau tidak kembali lagi ke markas mereka.


"Bagaimana? Apa kah gadis berdarah campuran itu sudah meregang nyawa?" Tanya nya. Yah meskipun ia sangat mengharapkan gadis itu ia tangkap secara hidup-hidup agar bisa dijadikan tumbal untuk menjadinya lebih kuat, Namun untuk saat ini hal itu sudah tidak dimungkinkan lagi karena Airin sudah ahli dalam membela diri. Hingga penyihir itu pun memutuskan untuk membunuh Airin saja dengan cara memberikan apel yang telah diracuni oleh penyihir itu.


Yah itu lah satu-satunya cara agar ia bisa mematahkan ramalan yang telah diramalkan di mana ia bisa dikalahkan oleh Airin gadis yang memiliki darah campuran itu.


"Ampun yang mulia, tadi gadis itu sama sekali tidak mau makan apel yang diberikan oleh anda yang mulia. Damar telah memerintahkan kepadanya untuk membuang apel tersebut. Namun apel itu lagi makan oleh salah satu kuda istana dan membuat kuda tersebut meregang nyawa" Jelas mata-mata tadi lagi.


"Kurang ajar, kenapa bisa hal itu terjadi?"


"Damar mengetahui bahwa apel yang dibawa oleh gadis itu mengandung racun. Karena itulah Damar meminta gadis itu untuk membuang apel tersebut"


"Kurang ajar. Ternyata prajurit itu memang sangat hebat. Dia bisa mengetahui apel tersebut meski sudah ku membuat apel itu seperti apel pada umumnya. Tapi ternyata dia masih bisa mengenali apel tersebut" Ujar penyihir tadi merasa geram dengan kegagalannya.


"Punya berapa nyawa sih gadis berdarah campuran itu? Kenapa dia begitu beruntung dan terus saja terhindar dari kematian nya" Tambah penyihir itu lagi.


"Jika begini, aku pasti akan tetap berhadapan dengan nya. Dan bisa jadi ramalan itu akan terjadi secara nyata" Batin nya merasa gelisah.


"Aku harus mencari cara lain untuk mengakhiri hidup gadis itu sebelum gerhana bulan itu terjadi. Aku harus mematahkan ramalan itu" Batin nya lagi.


***

__ADS_1


Para pasukan baik dari kerajaan raja Agung maupun dari kerajaan raja Sulaiman telah bersiap-siap untuk latihan di pagi ini. Mereka semua berbaris di halaman belakang istana untuk latihan di mana Damar lah sebagai pelatih mereka semua.


Mereka tidak hanya dilatih untuk bermain pedang tetapi juga dilatih untuk memanah. Mereka harus bisa memakai peralatan tempur semuanya.


Airin pun seperti biasanya berlatih bersama mereka. Yah pagi ini terlihat berbeda karena Airin berlatih bersama pasukan-pasukan lainnya yang siap bertempur melawan bangsa Orx. Mereka siap mengorbankan nyawa mereka untuk memenangkan peperangan ini.


Airin menatap para pasukan nya itu dengan rasa sedih di hati nya. Yah ia tidak bisa melihat mereka terkorban atas peperangan ini. Jika bisa, ia saja yang bertempur melawan pemimpin bangsa Orx itu tampa harus melibatkan para pasukan nya agar tidak banyak yang menjadi korban nanti nya.


"Andai saja aku mempunyai cara agar mereka semua tidak ikut dalam pertempuran ini" Batin Airin.


"Biduri, kenapa melamun?" Tanya pangeran Syam menegur gadis itu.


"Pangeran Syam. Kamu di sini?"


"Iya, aku di sini dan aku akan menginap di sini juga. Aku juga akan ikut bersama kalian semua untuk berperang melawan musuh. Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita cantik seperti kamu bertempur sendirian" Ujar pangeran Syam sedikit menggoda.


"Aku tidak sendirian pangeran. Ada mereka yang ikut bersamaku dalam peperangan ini" Ujar Airin.


"Yah tetap saja kamu harus ada yang mendampingin"


"Damar ada kok mendampingi ku"


"Satu orang saja tidak cukup untuk mendampingi kamu di sana. Harus ada pahlawan sesungguhnya yang menemani kamu untuk berperang di sana" Ujar pangeran Syam terdengar memuji dirinya sendiri.


Airin hanya menjawab perkataan dari pangeran Syam dengan senyuman kecutnya. Yah sejujurnya gadis itu kembali merasa risih saat bersama pangeran Syam. Terlebih ia tidak mau nantinya Damar akan cemburu lagi kepada mereka berdua. Bagaimana pun iya harus menjaga perasaan laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya itu.


Damar yang tadi nya sibuk melatih pasukan-pasukan yang ikut berperang itu mengali pandangannya ke Airin dan juga Damar yang terlihat sudah ngobrol tak jauh dari tempatnya berlatih.


Meski saat ini hatinya sedang terasa sakit melihat kedekatan mereka, tapi Damar berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terbakar oleh api kecemburuannya. Yah ia percaya bahwa Airin bisa menjaga hati dan matanya hanya untuk dirinya. Yah ia percaya gadis yang memiliki darah campuran itu mencintai dirinya sepenuh hati. Hal itu terlihat saat ia sekarang tempo hari dimana ia terkena anak panah yang tertancap di bahunya waktu itu. Airin dengan setia menunggu dirinya dan merawatnya dengan baik. Gadis itu pun menangis penuh dengan kesedihan melihat laki-laki yang ia cintai itu tidak berdaya.


"Aku akan berada di samping mu Biduri. Kamu jangan takut dan jangan bimbang. Aku akan berusaha untuk menjagamu sebisaku" Ujar pangeran Syam dengan mantap nya.


"Iya terima kasih" Jawab Airin.


Jika bisa, ingin rasa nya gadis itu mengatakan bahwa diri nya sudah mempunyai kekasih yaitu Damar kepada pangeran Syam agar pangeran Syam tidak mengganggunya lagi. Tapi Damar melarangnya untuk melakukan hal itu, karena tidak mau membuat raja Agung kecewa dan marah kepada nya. Apa lagi peperangan akan terjadi di depan mata. Mereka harus tetap fokus untuk menghadapi peperangan itu tanpa harus terjadinya pecah belah diantara mereka. Yah jika saja Airin mengatakan hal yang sejujurnya, pasti pangeran Syam tidak akan memutuskan pasukan-pasukannya untuk membantu mereka dalam peperangan ini. Jadi mereka memutuskan untuk mengatakan hal yang sejujurnya setelah peperangan ini selesai.


Sebenar nya Airin tidak mau melakukan hal tersebut karena itu artinya gadis itu memberikan harapan palsu kepada pangeran Syam. Yah sebenar nya ia tidak memberikan harapan palsu juga karena Airin selalu mengelak dan menolak jika diajak jalan-jalan oleh pangeran Syam atau bahkan ia selalu bersikap dingin terhadap putra mahkota itu. Ia bertingkah seperti itu ada pangeran Syam tahu bahwa ia tidak mau memberikan harapan palsu kepada putra mahkota itu. Namun, pangeran Syam tidak menyadari hal itu. Ia berpikir bahwa Airin memang memiliki sifat yang seperti itu dan sifat seperti itulah yang membuatnya semakin penasaran dan membuatnya menjadi tantang untuk mendapatkan hati gadis yang memiliki darah campuran itu.


Airin melangkah mendekati Damar.


"Mau kemana Biduri?" Tanya pangeran Syam melihat Airin meninggalkan dirinya.


"Berlatih, apa kamu tidak ikut berlatih juga?"


"Oh, baiklah aku akan ikut berlatih bersama kalian" Ujar pangeran Syam pada akhirnya ikut berlatih bersama mereka semua di halaman belakang istana.

__ADS_1


Mereka semua berlatih dengan giat agar bisa memenangkan peperangan yang akan terjadi dalam waktu dekat.


__ADS_2