
Di malam yang sepi Damar masih setia berjaga di luar tenda. Sungguh laki-laki itu sangat siaga jikalau bangsa Orx datang secara tiba-tiba menyerang mereka. Entah lah mungkin karena dia dari bangsa lain laki-laki tidak merasakan lelah atau ngantuk sama sekali. Yah mungkin itu lah mengapa dia adalah seorang kesatria yang paling di percaya di bangsa nya.
***
"Anak ku...." Terdengar suara yang tidak di kenal oleh Airin. Saat ini gadis yang memilik darah campuran itu sedang berada di sebuah goa yang ia pun tidak pernah datang ke sana. Ia tampak kebingungan di sana. Ia pun tidak mengerti kenapa dia berada di sana.
"Anak ku... " Kembali suara itu terdengar bergema di dalam goa. Airin mencoba menyelusuri setiap celah dan ruangan yang ads di goa itu. Namun, tidak menemukan siapa-siapa di sana. Gadis itu kembali merasa takut dan heran siapa yang memanggil anak nya itu.
"Biduri, putri ku... " Suara itu bergema lagi. Yah suara seorang perempuan itu kembali di dengar oleh gadis itu.
Kini suara itu berasal dari lorong goa. Dengan rasa penasaran, ia pun melangkah pelan menyelusuri masuk ke dalam goa untuk melihat siapa yang memanggil nya. Meski rasa takut menyelimuti hati gadis itu. Namun rasa penasaran di hati nya semakin besar hingga ia berani masuk semakin dalam di goa itu.
Airin membulat kan mata nya saat melihat seorang wanita yang terlihat seperti baru saja melahirkan sedang menggendong bayi nya.
"Anak ku Biduri, maaf kan ibu sayang. Ibu tidak bisa merawat dan menjaga mu. Ibu sudah tidak kuat lagi nak. Semoga saja ada orang yang datang ke goa ini untuk menyelamatkan mu" Ujar wanita tadi dengan lirih nya. Bayi tadi menangis mungkin ia pun merasakan kesedihan di hati ibu nya.
Airin melangkah untuk mendekati wanita itu. Sontak langkah nya terhenti saat melihat Raksi ayah nya berada di sana.
"Kak, apa kakak tidak apa-apa" Tanya Raksi kepada wanita tadi.
"Tolong, tolong selamatkan anak saya. Tolong jaga dia seperti anak kamu sendiri. Sayangi dia dan cintai dia sepenuh hati mu" Pinta wanita tadi menyerahkan bayi Biduri kepada Raksi.
"Biduri, itu nama nya" Tambah nya lagi.
"Tapi kakak gimana?"
"Jangan khawatir kan aku. Tolong bawa bayi ini pergi jauh. Nyawa nya sedang terancam" Jelas wanita tadi.
__ADS_1
"Cepat pergi" Perintah nya lagi dengan membentak Raksi.
Raski bergegas membawa Airin pergi menjauhi goa itu. Tak begitu lama Raksi pergi, ibu kandungnya Airin mengembuskan napas terakhir nya. Bangsa Orx pun datang Melihat ibu kandung Airin tidak bernyawa, penguasa tertinggi mereka pun merasa murka. Yah ia mengaung sekuat-kuat nya karena kesal telah kehilangan darah campuran untuk menjadi makhluk terkuat di alam nya itu.
Yah saat itu Airin bermimpi tentang asal usul diri nya. Di hadapan gadis itu seperti ada layar besar yang memutar momen saat ia di lahir kan hingga bertemu dengan Raksi bapak angkat nya itu.
"Kurang ajar siapa yang telah berani mengambil bayi itu? Kemana bayi itu pergi?" Ujar si penguasa tertinggi. Yah bayangan itu tampak seperti memakai mahkota di kepala nya dan juga ada tongkat seperti tongkat penyihir. Berbeda dengan makhluk yang lain nya yang hanya memegang pedang di tangan mereka dan tidak memiliki mahkota.
"Kalian semua cari bayi itu. Entah seberapa lama kalian mencari nya dan seberapa lama aku menunggu aku tidak peduli. Yang jelas bayi itu harus kalian temukan meski dia sudah besar sekali pun" Titah si penguasa kepada para prajurit nya.
"Baik yang mulia. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan bayi itu kembali" Ujar salah satu prajurit yang merupakan pemimpin para prajurit itu.
"Ayo kita pergi" Tambah nya lagi.
Para prajurit bangsa Orx itu pun pergi menyusul Raksi yang membawa Airin.
***
Airin duduk di dalam tenda. Ia memeluk lutut nya sambil menangis mengingat kembali kejadian yang ada di dalam mimpi nya tadi. Sungguh ia tidak menyangka bahwa ibu nya meninggal dengan cara yang tragis seperti itu.
"Airin, apa kamu sudah bangun? Ayo kita sarapan setelah itu kita lanjutkan perjalanan" Teriak Damar dari luar tenda.
Yah ternyata hari sudah pagi. Suara burung berkicauan terdengar begitu merdu menyambut datang nya sang mentari yang memancarkan sinar kehangatan di pagi yang dingin ini.
Airin menghapus air mata nya agar Damar tidak mengetahui bahwa dia baru saja menangis.
"Iya sebentar" Jawab Airin. Gadis itu pun keluar dari tenda dan duduk di hadapan Damar yang sedang sibuk membakar ikan yang sempat di tangkap nya tadi.
__ADS_1
"Ini makan lah, dan ini ada beberapa buah segar untuk mu" Ujar Damar memberikan semua itu kepada Airin.
"Buah? Dari mana kamu mendapatkan buah ini?" Tanya Airin heran.
"Di sana ada pohon pisang dan mangga yang tumbuh. Saat sendang mencari ikan aku melihat nya. Jadi aku ambil saja buah ini untuk sarapan kita. Karena selama beberapa hari ini kita hanya memakan protein dari hewani saja" Jelas Damar lagi.
Airin mengangguk mengerti. Ia langsung menyantap makanan yang telah di sediakan oleh Damar tadi.
"Setelah ini aku mau mandi dulu ya Damar" Ujar Airin.
"Iya aku akan mengantarmu dan menemanimu ke sungai yang ada di sebelah sana"
Airin mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Damar.
***
Selesai mandi, Airin pun keluar dari sungai itu. Ia berjalan menuju ke arah Damar yang setia menunggunya di tepi sungai.
Saat sedang melangkah tiba-tiba ia merasa kesakitan di pergelangan kakinya.
"Aduh" Ucap nya merintih kesakitan lalu terduduk di tanah.
Biasa Airin lihat ada seekor ular yang berlalu di hadapan nya. Dan ada tanda bekas gigitan ular itu di kaki nya.
"Airin... " Teriak Damar dengan panik berlari mendekati gadis itu.
Napas Airin terhengah-hengah seperti nya racun ular itu mulai bereaksi di tubuh nya.
__ADS_1
"Ya ampu, kamu di gigit ular Airin. Tolong tahan ya" Ujar Damar dengan sigap langsung menghisap bekas gigitan ular yang ada di pergelangan kaki Airin tadi agar racunnya bisa keluar. Berkali-kali Damar mencoba menghisap racun itu. Dan sedikit demi sedikit racunnya mulai keluar dari tubuh Airin hingga wajah yang pucat tadi kembali memerah seperti sebelumnya.