
Airin bermimpi momen di mana saat ia dilahirkan di goa Bagiri itu. Sedikit banyaknya garis itu telah mengetahui bahwa ibunya telah meninggal saat ia dilahirkan. Dimana saat itu ibunya telah berhasil melarikan diri dari bangsa Orx.
Saat selesai membersihkan diri Airin digigit oleh ular berbisa. Untung saja Damar bisa mengeluarkan kembali racun yang masuk ke dalam tubuh gadis itu. Sehingga membuat wajah gadis itu yang tadinya pucat kini merah kembali.
Damar menggendong Airin dan membaringkan nya kembali ke tenda. Yah Damar membiarkan Airin beristirahat untuk memulihkan tenaga nya. Laki-laki itu pun meninggalkan Airin yang kembali terlelap di dalam tenda. Ia mencoba untuk mencari buah kelapa untuk menambah tenaga gadis itu agar kembali pulih.
Tak lama ia pergi, ia pun kembali dengan sebutir buah kepala di tangan nya. Ia pun langsung membuka buah kelapa itu dan meminta Airin untuk meminumnya hingga habis. Airin pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Damar. Setelah selesai menghadapi kelapa tersebut Airin kembali terlelap.. Yah perjalanan yang mereka rencana kan kini tertunda untuk sesaat karena keadaan Airin yang masih lemah itu.
Damar menghaluskan beberapa daun-daun tradisional untuk mengobati luka bekas gigitan ular tadi di pergelangan kaki Airin.
Matahari sudah mulai naik ke atas kepala. Yah hari sudah menunjukkan siang hari. Airin terbangun dari tidur lelap nya. Saat ini ia merasa sedikit lebih merasa baikan dan enakan. Airin mencoba untuk berdiri. Meski luka di pergelangan kaki nya merasa sedikit nyeri, ia bisa menahan nya dan berusaha untuk keluar dari tenda itu.
"Damar" Tegur nya melihat laki-laki itu sendang menyiapkan makan siang mereka.
"Airin, apa kamu sudah merasa baikan saat ini?" Tanya Damar kepada gadis itu.
"Iya. Aku sudah merasa baikan kok. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita"
"Tapi kamu baru saja pulih"
"Gak apa-apa, aku sudah baikan kok. Kita harus melanjutkan perjalanan kita agar kita bisa tiba ke tempat tujuan kita dengan cepat" Pinta Airin.
"Kamu yakin?".Tanya Damar meminta. Kepastian.
__ADS_1
"Yakin kok. Aku sudah mendingan. Aku bisa melakukan perjalanan ini" Jelas Airin lagi dengan mantap.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, aku akan menuruti nya. Kita akan melanjutkan perjalanan kita setelah kita selesai makan siang. Ayo silahkan di makan" Ujar Damar kepada Airin.
Yah nama nya di hutan jadi mereka hanya memakan makanan dari hewan yang di bakar. Seperti ikan, burung dan ayam hutan. Itu lah makanan pengganjal perut mereka yang lapar saat ini.
Airin dan Damar melanjutkan perjalanan mereka dengan kereta kuda nya. Airin menatap Damar dengan perasaan yang penuh kekaguman. Gadis itu semakin terpesona dengan kehadiran laki-laki itu. Di mana laki-laki itu selalu menjadi pahlawan di dalam hidup nya. Terlebih saat ia berusaha mengeluarkan racun ular yang masuk ke dalam tubuh Airin tadi. Yah membayangkan hal itu membuat jantung Airin kembali berdetak begitu cepat. Gadis itu semakin jatuh hati kepada laki-laki yang sedang bersamanya saat ini.
***
Bangsa Orx tiba di tempat istirahat Damar dan Airin tadi. Mereka mengamati bekas api unggun yang dibuat oleh Damar untuk menerangi mereka di malam hari dan juga sebagai tempat membakar hewan yang diburunya tadi.
"Masih hangat. Seperti nya mereka belum lama meninggalkan tempat ini. Itu arti nya mereka belum terlalu jauh" Ujar pemimpin pasukan itu.
"Iya, tanah yang mereka lalui ini juga masih basah" Jawab salah satu pasukan nya.
Tanpa diperintahkan untuk yang kedua kali Mereka pun langsung pergi menelusuri jejak yang ditinggalkan oleh Damar dan juga Airin. Jejak yang berupa roda dan juga kaki kuda.
***
"Tok Wan, apa tok bisa melihat keadaan Airin dan Damar saat ini? Saya benar-benar cemas tok dengan keselamatan mereka" Tanya Aisyah kepada orang pintar itu.
"Kamu tenang saja Aisyah. Damar dan juga Airin baik-baik saja. Mereka sedang melanjutkan perjalanan mereka. Dan sebentar lagi mereka akan tiba di tempat tujuan nya" Jelas tok Wan lagi.
__ADS_1
"Kamu jangan cemas Aisyah, setiap malam aku selalu bertapa untuk melihat keadaan Damar dan juga Airin. Meski mereka tidak terlihat di mata kita, tapi aku bisa merasakan bahwa keadaan mereka baik-baik" Jelas tok Wan lagi.
"Syukur lah jika begitu tok. Aku merasa lega mendengar nya. Semoga saja mereka akan kembali secepat nya"
"Iya Aisyah. aku akan selalu memantau keadaan mereka dari sini dan juga selalu melindungi mereka dari jauh agar terhindar dari marabahaya yang akan mengancam nyawa mereka" Ujar tok Wan.
Aisyah tersenyum kecut mendengarkan penjelasan dari tok Wan tadi. Wanita paruh baya itu masih merasa bimbang meskipun tok Wan telah menjamin keselamatan Airin putri mereka satu-satunya itu. Tetap saja ia merasa cemas dengan keberadaan putri nya itu. Secara ibu yang mana tidak cemas jika anak satu-satu nya jauh dari nya. Apa lagi Airin adalah seorang gadis. Jelas rasa cemas itu akan berlipat kali ganda nya.
"Sudah lah buk, kita doakan saja keselamatan Airin dan juga Damar di sana. Semoga saja mereka selalu di lindungi dari sang pencipta" Ujar Raksi menenangkan hati istri nya itu.
"Iya pak"
***
Burung-burung berkicauan dengan riuh di atas kepala Damar dan Airin. Para kumpulan burung itu mengitari mereka seolah-olah ingin mengatakan sesuatu kepada insan yang berlainan jenis kelamin itu. Hari itu memang terasa agak aneh seperti akan terjadi sesuatu diantara mereka. Damar melihat gerombolan burung yang terbang di atas kepala mereka itu.
"Seperti nya ada yang tidak beres ini" Ujar Damar.
"Ha? Hal yang tidak beres? Emang ada apa?" Tanya Airin tidak mengerti.
"Seperti nya bangsa Orx telah menuju ke arah kita. Mereka seperti nya sudah dekat" Jelas Damar dengan sikap dingin nya.
"Ha? Yang benar kamu Damar? Terus kita harus bagaimana? Aku takut Damar" Ujar Airin ketakutan mendengar apa yang di katakan oleh Damar tadi. Yah gadis itu benar-benar takut dengan bangsa Orx. Bayangan hitam itu memang sangat mengerikan dan juga ganas. Ia tidak bisa melupakan sosok itu yang selalu mengganggu di setiap tidurnya.
__ADS_1
Di alam mimpinya saja bangsa itu sangat ganas dan siap memangsa dirinya kapan saja. Apa lagi jika berada di dunia nyata pasti keganasan mereka akan bertambah-tambah kali lipat nya.
Damar tampak berpikir untuk mencari rencana bagaimana cara mengelabuhi mereka agar bangsa itu tidak mengikuti mereka lagi.