Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 9


__ADS_3

Airin meminta izin kepada ibunya untuk berjalan-jalan sendirian di pasar sambil menikmati suasana pasar di negeri itu. Tanpa sengaja gadis itu bertemu dengan salah satu pengemis yang sekitar berusia tujuh tahun. Bocah itu meminta makanan kepada Airin karena ia sudah dua hari tidak makan.


Airin menatap dengan tersenyum ramah kepada bocah itu. Ia pun memberi beberapa lembar uang kepada bocah tersebut agar bocah itu bisa membeli makanannya.


"Ini ada sedikit rezeki untuk kamu, kamu gunakan sebaik-baiknya ya untuk keperluan kamu" Ujar Airin.


"Terima kasih ya kak" Ujar bocah tadi sambil tersenyum dengan gembira menyambut uang yang diberikan oleh Airin kepadanya.


Bocah itu pun berlari meninggalkan Airin di sana yang menetap kepergiannya dengan senyum kebahagiaan karena ia bisa membantu orang yang sedang kesusahan saat ini.


"Ternyata gadis itu baik hati nya ya. Sudah cantik, baik hati, ramah pula" Ujar salah satu pemuda kepada teman nya yang sedari tadi memperhatikan Airin.


"Iya, aku menjadi semakin jatuh hati kepada gadis itu" Jawab teman pemuda itu pula.


Airin melanjutkan perjalanan nya. Sakin senang nya gadis itu tidak memperhatikan jalan nya hingga dia pun menabrak sorang pemuda yang sedang memilih belanjaan nya.


"Maaf, saya gak sengaja" Ujar Airin merasa bersalah pada pemuda yang ditabraknya tadi.


"Ya gak apa-apa" Jawab pemuda yang memakai caping tadi atau topi petani.


Sontak kedua mata mereka saling beradu pandang. Ada perasaan aneh yang timbul di hati keduanya. Meski mereka baru saja bertemu dan belum mengenal satu sama lain, tapi entah mengapa perasaan keduanya seperti sudah mengenal lama.


Lama mereka saling pandang, hingga getaran-getaran halus itu semakin terasa kuat. Pemuda ya memakai caping tadi yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas, bola matanya yang coklat, bulu matanya yang lentik dan hidung mancung serta memiliki kulit sawo matang menambah kesan ketampanan si pemuda itu.


"Airin" Teriak Aisyah memanggil putri nya.


Airin dan pemuda tadi pun sadar dari lamunan mereka masing-masing.


"Iya buk" Ujar Airin.

__ADS_1


"Ayo sayang kita pulang" Ujar Aisyah lagi.


"Baik buk"


"Sekali lagi saya minta maaf ya bang. Saya benar-benar tidak sengaja" Ujar Airin.


"Iya gak apa-apa" Jawab pemuda tadi tersenyum ramah.


"Saya permisi dulu"


Pemuda tadi hanya menjawab dengan senyuman.


Airin berlari kecil menuju ibu nya dan juga buk Suri yang sudah menunggu nya si seberang jalan.


"Ayo buk kita pulang" Ujar Airin setelah tiba di hadapan kedua wanita paruh baya itu. Airin kembali berbalik dan melihat keberadaan pemuda tadi yang telah berhasil membuat hati nya bergetar hebat. Baru kali ini ia merasakan getaran alus di hati nya yang membuat nya tidak karuan seperti ini. Airin tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan saat ini.


Melihat Airin menoleh ke arah nya, pemuda tadi pun tersenyum ramah. Airin pun membalas nya dengan senyuman pula.


"Siapa pemuda tadi? Dan perasaan apa ini? Kenapa jantung ini tidak karuan ketika bertemu pandang dengan nya?" Batin Airin memegang dada nya yang kembali merasakan getaran aneh saat membayangkan wajah tampan pemuda tadi.


"Dan kenapa aku merasa wajah nya tidak asing bagi ku. Aku seperti pernah bertemu dengan nya sebelum ini. Tapi di mana dan kapan? Batin nya lagi mencoba untuk mengingat di mana ia pernah bertemu dengan pemuda itu sebelumnya.


Aisyah yang sudah tadi memperhatikan tingkah laku putrinya itu merasa heran karena putrinya dari tadi hanya diam tidak berbicara sepatah kata pun. Yah tentu saja ia cemas dengan keadaan putrinya itu. Karena bisa jadi putrinya telah mengalami atau melihat sesuatu seperti hari-hari sebelumnya.


"Sayang, kamu kenapa? Dari tadi ibu perhatikan kamu hanya diam dan seperti ada yang kamu pikirkan. Ada apa sayang, apa kamu di teror lagi? Apa kamu melihat sesuatu lagi nak?" Bisik Aisyah kepada putri nya itu.


"Gak ada apa-apa kok buk?"


"Benar gak ada apa-apa? Ibu hanya khawatir kamu melihat sesuatu di pasar tadi" Ujar Aisyah.

__ADS_1


"Buk, ibu lihat kan tadi Airin bertemu dengan seorang pemuda di pasar tadi bu"


"Seorang pemuda?"


"Iya buk, dia memakai caping (topi petani)"


Aisyah tanpa berpikir keras dengan ucapan putrinya itu di mana ia tidak melihat siapapun bersama putrinya tadi.


"Caping?"


"Iya buk. Tadi saat ibu memanggil Airin dia berdiri di hadapan Airin buk. Seperti nya Airin pernah bertemu dengan nya. Wajah nya sungguh tidak asing bagi Airin buk" Jelas Airin kepada ibu nya.


Kembali Aisyah berpikir keras. Sungguh ia tidak melihat siapa pun saat itu bersama dengan putri nya.


"Ibu melihat pemuda itu kan buk?" Tanya nya lagi.


Karena ia tidak mau putri semata wayang nya kembali merasa ketakutan, Aisyah pun mengangguk membenar kan apa yang di katakan putri nya itu.


"Iya sayang. Emang nya kenapa?" Tanya Aisyah.


"Seperti nya wajah itu gak asing buk. Entah mengapa Airin merasa sesuatu yang aneh di hati ini bu. Perasaan yang belum pernah Airin rasakan sebelum nya. Airin bingung ini perasaan apa buk" Jelas putri nya itu.


Aisyah mengerutkan kening nya. Sungguh ia tidak mengerti ucapan dari putri nya itu. Karena sedari tadi ia tidak melihat siapa pun bersama putri nya.


"Apa tukang jual pakaian tadi ya yang di maksud Airin? Tapi bukan kah si tukang jual pakaian tadi sudah terlihat tua? Sedangkan Airin bilang dia seorang pemuda. Apa pemuda itu makhluk mistis yang selama ini mengikuti Airin" Batin Aisyah bertanya-tanya.


"Buk, buk. Kok ibu diam aja sih" Tegur Airin menyadarkan ibu nya yang sedang melamun memikirkan apa yang di katakan Airin itu.


"Eh iya nak. Ibu juga gak ngerti nak. Ibu juga kurang paham perasaan apa itu"

__ADS_1


"Siapa sebenar nya kamu? Kenapa kamu bisa membuat ku kepikiran seperti ini? Ada apa sebenar nya ini" Batin Airin kembali memikirkan pemuda tadi.


Selama perjalanan mereka hanya diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Airin yang sibuk memikirkan pemuda yang ia temui tadi di pasar. Sedangkan Aisyah sibuk memikirkan siapa sebenarnya yang Airin temui saat itu. Karena ia tidak melihat siapapun di sana.


__ADS_2