
Semua telah berlatih dengan giat. Mereka semua akan bertempur melawan bangsa Orx. Sungguh saat menegangkan itu tinggal menghitung beberapa hari lagi.
Karena waktu peperangan sudah berada di depan mata, pangeran Syam pun memutuskan untuk menginap di istana raja Agung.
Airin terus saja melihat para pasukan nya yang tengah sibuk berlatih itu.
"Ya Tuhan, andai saja aku mempunyai cara untuk membuat mereka tidak terlibat dalam peperangan ini. Aku tidak bisa membiarkan terkorban" Batin Airin.
***
"Biduri" Tegur raja Agung kepada putri nya. Lelaki separuh baya itu mengunjungi putri semata wayangnya di kamar sang putri.
"Ayahanda" Jawab Airin memberi hormat kepada ayah kandungnya itu.
Raja Agung mendekati putrinya penduduk di samping Airin yang sedang duduk di tempat tidurnya.
"Maaf kan ayahanda mu ini nak" Ujar raja Agung setelah cukup lama ia terdiam.
"Maaf? Maaf untuk apa ayahanda?"
"Ayahanda sudah gagal menjadi seorang ayah untukmu. Ayah harus melibatkan kamu dalam peperangan ini. Seharus nya ayahanda lah yang harus bertarung melawan musuh kita itu. Bukan kamu" Ujar lelaki paruh baya itu merasa tidak enak hati nya.
"Ayahanda, jangan di pikirkan tentang itu. Airin tidak mempermasalahkan semua ini. Bahkan Airin akan berusaha berjuang melawan mereka dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan negeri ini dari teror yang selalu membuat para penduduk ketakutan" Ucap Airin penuh keyakinan.
"Biduri, berjanji lah kepada ayahanda untuk kembali dengan selamat"
"Iya Ayahanda. Airin akan berusaha untuk kembali dengan selamat"
Raja Agung memeluk putri semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang. Tampa terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi yang sudah terlihat kerutannya itu. Raja Agung menangis memikirkan jika nanti putrinya tidak kembali dengan selamat. Baru saja Ia bertemu dengan putri yang telah lama ia tunggu-tunggu kedatangannya, kini putri nya itu harus ikut berperang untuk menyelamatkan negeri mereka.
"Ayahanda akan ikut bersama mu dalam peperangan ini. Ayahanda akan mendampingi mu nak. Ayahanda akan berusaha untuk melindungi mu"
Airin tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. Sungguh ia merasa beruntung karena dilindungi oleh tiga laki-laki sekaligus yang mencintai dirinya yaitu Damar, pangeran Syam dan raja Agung ayah nya.
"Terima kasih ayahanda" Ujar Airin membalas pelukan dari sang raja.
"Ayahanda akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan kamu anak ku"
***
Pagi yang sangat sudah sepi di negeri Bunian. Yah malam besok akan terjadi gerhana bulan yang sangat di tunggu-tunggu oleh bangsa Orx untuk menyerang dan menambah kekuatan mereka.
Airin berdiri di danau tak jauh dari istana nya. Kali ini ia pergi sendirian tanpa di temani Damar seperti biasa nya.
Untuk beberapa kali gadis itu menarik dan menghembus nafasnya kuat-kuat.
"Aku tidak mau membuat pasukanku menjadi korban nanti nya. Apa yang harus aku lakukan tanpa harus melakukan peperangan ini untuk menyelamatkan mereka?" Batin Airin terus bergemuruh tidak tega melihat mereka semua nanti nya terluka bahkan mati di medan perang.
Secara tiba-tiba dari dalam air danau muncul sesosok wanita yang tidak di kenali oleh Airin. Dia memang belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Wanita itu berambut panjang dengan pakaian serba putih serta di sekelilingnya dipenuhi dengan asap putih.
"Biduri" Tegur nya.
Airin kaget melihat wanita tadi dan Ia bingung dari mana wanita yang tidak ia kenal itu mengetahui namanya.
"Biduri kamu jangan takut dan jangan bingung untuk menghadapi bangsa Orx. Kamu bisa menyelamatkan pasukan mu tanpa harus terjadi nya peperangan"
"Maksud nya bagaimana?" Tanya Airin masih tidak mengerti.
"Yah kamu bisa berduel dengan pemimpin bangsa Orx itu saja. Kamu dan pemimpin itu saja yang berperang. Kamu bisa menyelamatkan pasukan dan juga rakyat mu" Jelas wanita tadi lagi.
"Apa itu akan berhasil?"
__ADS_1
"Tentu saja itu akan berhasil. Ini, gunakan pedang ini untuk melawan pemimpin bangsa Orx itu" Ujar nya lagi sambil mendekati Airin dan menyerahkan pedang berwarna perak kepada gadis itu.
Wanita tadi itu pun menatap Airin penuh dengan rasa rindu di hati nya. Ia pun memegang pipi mulus gadis itu yang membuat Airin kaget.
Airin kembali merasakan perasaan yang berbeda saat disentuh oleh wanita itu. Yah kembali ia merasakan sentuhan dari seorang ibu seperti Aisyah menyentuhnya.
"Biduri, anak ku" Ucap wanita itu.
Airin menatap dengan penuh tanda tanya kepada wanita tadi.
"Apa anda ibu ku?"
"Iya nak, aku adalah ibu kandung mu yang telah melahirkan kamu. Selama ini aku tidak pernah pergi. Roh ku selalu bersama mu untuk menjaga mu dan juga melindungi kamu" Jelas wanita itu lagi.
Mendengar penjelasan dari wanita tadi membuat Airin terharu dan menitipkan air matanya. Selama ini Iya sama sekali tidak kenal dengan ibu kandungnya karena pada masa itu masih tidak ada foto. Jadi Airin tidak bisa melihat wajah ibunya meskipun melalui foto.
"Aku bunda mu nak"
Mendengar hal itu Airin langsung memeluk tubuh wanita itu.
"Bunda" Ujar nya.
"Akhir nya Airin bisa bertemu dengan bunda. Selama ini Airin sama sekali tidak kenal dan mengetahui wajah bunda" Jelas gadis yang memiliki darah campuran itu.
"Sekarang kamu sudah bertemu dengan Bundamu. Bunda juga merasa bahagia bisa bertemu dengan kamu di sini. Bunda sangat merindukan kamu" Wanita itu menancapkan beberapa kali ciuman hangat di puncak kepala gadis itu.
***
Matahari telah bersembunyi di balik awan dari ufuk barat. di mana siang hari kini berganti menjadi malam. Semua pasukan Airin telah bersiap menunggu kedatangan pasukan bangsa Orx.
Mereka berdiri di perbatasan daerah untuk bertempur di sana. Tak lama mereka semua menunggu, datang lah bangsa Orx. Mereka terlihat sangat banyak melebihi pasukan Airin.
"Aku yakin pasukan mereka tidak akan pintar dalam berperang" Ujar pangeran Syam yang berdiri di sisi kiri Airin.
"Iya mungkin kamu benar pangeran meskipun pasukan mereka banyak tapi belum tentu mereka pintar dalam berperang. Tapi pasukan yang banyak itu bisa membantu mereka dalam peperangan" Ujar Airin.
Sorak sorai dari bangsa Orx bergemuruh memecahkan kesunyian. Sungguh siapapun yang mendengar suara sorak sorai itu akan merasa ketakutan dan kehilangan nyali karena penampilan mereka yang sangat mengerikan.
Dengan kereta yang di tunggangi oleh mantan penyihir negeri Bunian, yang di tarik oleh beruang besar berwarna hitam, Penyihir itu pun masuk ke barisan pasukannya.
"Mira" Ucap raja Agung kaget melihat kehadiran wanita itu di hadapan.
Airin menatap ayahnya yang menyebut nama penyihir itu.
"Apa ayahanda mengenali wanita itu?" Bisik Airin kepada Damar.
"Iya dulu nya dia adalah seorang penyihir terkenal di negeri ini. Dia lah penyihir yang menyukai raja. Namun raja memilih ibu. Hingga membuat nya sakit hati dan berusaha untuk meracuni ibu mu. Hingga kejahatannya diketahui dan mengakibatkan ia diusir dari istana"
"Hahaha... Agung kita bertemu lagi setelah sekian lama kita tidak bertemu" Ujar Mira si penyihir.
"Mira, kenapa kamu menjadi seperti ini? Kenapa kamu bergabung bersama bangsa Orx ini?" Tanya raja Agung.
"Hahaha.... Aku tidak pernah bergabung dengan mereka. Tapi mereka ini adalah pasukan yang ku buat sendiri untuk melawan kamu dan juga pasukanmu" Jelas Mira lagi.
"Apa? Jadi kamulah yang jadi pemimpin dari bangsa mereka?"
"Iya benar, aku lah pemimpin mereka. Aku yang menciptakan mereka, dan akulah yang merencanakan semua ini untuk membalas dendam"
"Membalas dendam? Apa yang membuat kamu menjadi membenci negerimu sendiri"
"Apa negeri ku? Bangsa ku? Tidak Agung, ini bukan negeriku dan bukan bangsaku. Apa kamu lupa, kamulah yang telah mengusir aku dari istana. Membuat aku terluntang lantung tempat-tempat tujuan"
__ADS_1
"Aku melakukan nya karena ulah mu sendiri yang telah berusaha meracuni sang ratu"
"Aku melakukan semua itu Karena aku mencintai kamu dan kamu sama sekali tidak pernah membalas cintaku ini. Aku sudah melakukan apapun untuk negeri ini. Aku sudah berkorban banyak untuk kemajuan negeri ini agar kamu sebagai raja dipandang hebat oleh rakyat. Namun, apa yang aku dapat dan apa yang kamu balas dari apa yang aku lakukan terhadap semua itu? Kamu menyia-nyiakan cinta ku. Kamu melihatku dengan sebelah mata. Bahkan dengan bangganya kamu memperkenalkan orang yang baru kamu kenal sebagai calon istrimu. Kamu lah yang telah membuat aku menjadi seperti ini Agung" Ujar Mira dengan sangat marah.
"Maaf kan aku Mira. Aku mohon hentikan saja peperangan ini. Jangan membuat banyak yang terkorban"
"Hahaha.... Kenapa aku harus memikirkan bangsamu yang tidak pernah memikirkan aku selama ini? Bangsa ku sudah tidak sabar untuk melakukan peperangan ini kelihatannya mereka sudah sangat lapar dan ingin menyantap daging segar yang ada pada tubuh kalian semua. Hahaha..." Ujar Mira tertawa lepas penuh dengan kemenangan di hadapan mereka semua.
"Mira, aku mohon, lupakan lah yang telah lalu, mari kita buka lembaran baru dan memulai semuanya dari awal" Ujar raja Agung mencoba untuk merayu Mira.
"Hahaha.... Sekarang kamu baru memohon dan mengemis kepadaku? Terus waktu itu, ketika aku memohon dan mengemis kepadamu agar tidak mengusirku dari negeri ini kenapa kamu tidak memaafkan ku waktu itu? Hati dan matamu telah tertutup oleh cinta dari istri sehingga kamu sama sekali tidak mau mendengar dan memberikan aku kesempatan waktu itu. Terus untuk apa aku mendengar permintaan kamu yang konyol ini"
"Aku tidak mau menuruti kemauan kamu. Aku akan tetap melakukan peperangan ini. karena aku tidak mau melihat kamu dan putrimu hidup bahagia di atas penderitaanku selama ini" Tambah nya lagi.
"Mira, coba lah buka hati mu dan coba lah memulai hidup kita yang baru. Aku akan menerima mu kembali di istana"
"Hahaha... Sudah terlambat Agung. Sudah terlambat. Hati ku telah terluka dan hancur karena sikapmu yang begitu angkuh waktu itu. Baru sekarang kamu ingin mengajak ku kembali? Cuh... " Mira meludah karena rasa kesal nya yang tidak bisa ditahan terhadap raja Agung itu.
"Tidak perlu kamu sok berbaik hati kepada ku" Ujar Mira lagi.
"Sudah lah jangan kamu banyak bicara lagi. Pasukan ayo serang... " Perintah dari Mira kepada pasukan nya.
"Tunggu... " Ujar Airin membuat pasukan dari Mira berhenti.
"Aku tidak mau peperangan ini terjadi gimana akan banyak korban yang berjatuhan. Aku dan kamu yang akan bertempur cara satu lawan satu" Ujar Airin.
"Hahaha.... Apa ini adalah negosiasi yang kamu rencanakan"
"Aku hanya tidak ingin korban berjatuhan karena peperangan ini"
"Baik lah, aku akan menuruti permintaan terakhir. Hanya kamu dan aku saja yang bertarung" Ujar Mira.
"Airin apa kamu serius untuk melawan Mira sendirian?" Damar merasa cemas atas keputusan dari kekasihnya itu.
"Ya aku yakin. Aku tidak mau mereka terkorbankan aku harus melindungi mereka sebagai rakyat. Meskipun aku yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan mereka aku rela melakukannya" Ujar Airin.
Airin dan juga Mira maju dari pasukan mereka. Dalam sekejap, Mira yang tadinya berbentuk seperti manusia kini berubah menjadi seekor naga besar. mantan penyihir di negeri Bunian itu telah bertapa berbulan-bulan untuk menambah kekuatannya. Hingga ia mendapatkan kekuatan langka ini dari pertapaannya.
Airin pun mengeluarkan pedang yang berwarna perak di mana terdapat gambar Elang bermata merah di pangkal pedang tersebut. Pedang itulah yang diberikan oleh ibu kandungnya Airin saat mereka bertemu di danau tempo hari.
Tampa menunggu lama lagi, Mira langsung dengan cara mencoba menggigit gadis itu namun Airin mengelak. Kemudian Mira menyembuhkan api berwarna biru dari mulutnya kepada Airin, Airin pun menepisnya dengan menggunakan pedang yang ia pegang tadi. Tapi ia tidak menyadari bahwa ekor naga tersebut menepis tubuhnya sehingga membuat gadis yang memiliki darah campuran itu terhempas jatuh ke tanah.
"Airin" Ujar Damar melihat kekasih nya tersungkur ke tanah.
"Biduri" Ucap raja Agung dan pangeran Syam secara serentak.
Damar tidak bisa tinggal diam melihat kekasihnya yang sudah terlihat lelah bertarung melawan naga itu. Saat naga itu lengah dan tidak menyadari keberadaan Damar, ia pun langsung menancapkan pedang pada ekor tenaga tersebut hingga membuat naga itu menjadi kesakitan.
Damar mendekati Airin dan menolong di atas itu untuk berdiri.
"Damar apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak mungkin ambilkan kamu bertarung sendirian seperti ini"
"Ini satu-satu nya cara agar tidak terjadi korban di pasukan kita"
Melihat pemimpin mereka telah diserang oleh Damar, bangsa Orx pun kembali bersorak-sorai tanda penyerangan akan mereka lakukan. Yah harapan Airin agar tidak terjadi korban di peperangan tersebut telah gagal. Karena peperangan itu tetap terjadi di antara kedua belah pihak. Namun, Airin tetap melawan Mira yang berwujud seekor naga itu.
Beberapa serangan dari Mira berhasil di elak oleh Airin hingga Airin melakukan penyerangan balasan menebas pedang nya di wajah sang naga hingga membuat wajahnya terluka.
Airin kembali di cambuk menggunakan naga tersebut hingga membuat Airin kembali jatuh tersungkur ke tanah. Airin menaiki tangga bangunan tua yang tampak terbengkalai di daerah tersebut untuk menghindari serangan demi serangan dari sang naga hingga pada hasilnya gadis itu sampai pada puncak bangunan. Naga itu terus saja mengejar Airin tanpa henti.
__ADS_1