Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 36


__ADS_3

Pangeran Syam datang berkunjung ke istana nya raja Agung. Kedatangan nya hanya semata-mata karena ingin bertemu dengan Airin gadis yang telah membuat nya klepek-klepek itu.


"Ya ayahanda, apa ayahanda memanggil Airin?" Tanya Airin datang menghadap ayah nya di ruang penghadapan.


"Iya, ada seseorang yang mau bertemu dengan mu"


"Siapa?"


Pangeran Syam pun datang menghampiri kedua ayah dan anak itu.


"Pangeran Syam?" Airin kaget.


"Aduh, ngapain pangeran Syam datang lagi ke sini? Bisa terjadi perang dunia ketiga lagi nanti nya" Batin Airin merasa cemas bila nanti Damar melihat keberadaan pangeran Syam bersama nya.


"Pangeran Syam mau mengajak mu jalan-jalan keluar istana. Untuk melihat keadaan di desa. Yah sekalian mau melihat kehidupan rakyat kita di desa" Jelas raja Agung.


"Aduh, pakai acara minta di temani lagi. Bisa-bisa Damar kebakaran jenggot lagi" Batin gadis itu.


"Maaf ayahanda, saya mempunyai janji sama Damar untuk menambah jadwal latihan sebentar lagi" Airin mengelak. Padahal ia tidak ada jadwal latihan tambahan dari Damar. Itu semua hanya alasan nya saja agar bisa mengelak dari laki-laki itu.


"Tidak apa, kamu pergi saja bersama pangeran Syam. Nanti biar ayahanda mengatakan kepada Damar kamu sedang pergi bersama pangeran Syam. Ayo silahkan kalian pergi" Ujar raja Agung itu lagi.


"Tapi ayahanda... "


"Sudah, tidak apa Biduri. Pasti Damar tidak akan marah kepada mu. Kalian pergi saja"


Airin hanya bisa menghela napas berat nya. Ia tidak bisa menolak permintaan ayah nya itu. Airin melangkah dengan berat mengikuti pangeran Syam karena menang ia tidak mau pergi bersama laki-laki itu.


"Maaf kan aku Damar sejujurnya aku tidak bisa menolak permintaan ayahanda" Batin Airin sedih dan merasa bersalah kepada kekasih nya itu.


Airin dan pangeran Syam pergi keliling desa untuk melihat-lihat suasana desa di kerajaan nya.


"Coba lihat itu Airin bukan kah cantik taman bunga itu?" Tanya pangeran Syam menunjuk ke arah taman bunga yang berada di desa itu. Di mana taman bunga itu di tumbuhi bunga warna warni.


"Iya cantik" Jawab Airin memalas. Meski pun saat ini ia bersama pangeran Syam, tapi hati dan pikiran nya berada bersama Damar. Yah gadis itu terus memikirkan kekasih nya itu.


***


Damar tampak berada sendirian di belakang halaman istana. Memang laki-laki itu terlihat sedang memegang anak panah, yah laki-laki itu sedang berlatih memanah sendirian untuk mengasah kembali kemampuan nya karena telah lama beristirahat akibat sakit yang di alami oleh nya tempo hari.


Raja Agung datang mendekati prajurit kebanggaan nya itu. Laki-laki paruh baya itu berpikir bahwa memang Damar dan juga Airin akan kembali berlatih.


"Damar" Tegur nya.


Damar yang tadi nya sibuk membidik sasaran yang ada di seberang sana pun menghentikan kegiatan nya.


"Yang mulai" Jawab nya dengan memberi hormat.


"Sedang berlatih?" Tanya sang raja dengan basa basi. Padahal ia bisa melihat sendiri bahwa prajurit nya itu memang sedang berlatih saat itu.


"Iya yang mulia"


"Airin tidak bisa ikut berlatih bersama mu"


Damar menatap raja Agung dengan heran. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari raja nya itu. Apakah Airin tidak akan melakukan latihan lagi bersama nya untuk selamanya atau bagaimana. Damar terlihat cemas kalau-kalau Airin di larang untuk berlatih bersama nya lagi.


"Apakah raja tahu akan hubungan ku dan Airin? Apa dia marah kepada ku karena menjalin hubungan dengan putri mahkota?" Batin laki-laki itu terus bertanya-tanya dengan hati yang penuh kebimbangan.

__ADS_1


"Kenapa yang mulia?" Damar memberanikan diri untuk bertanya kepada raja nya. Yah Damar berusaha bersikap biasa saja agar raja Agung tidak menyadari perubahan raut wajahnya yang tampak gelisah itu.


"Tadi Biduri bilang kalian akan mengadakan latihan tambahan. Dan karena pangeran Syam datang ke istana ini dan juga ingin mengajak Biduri keliling desa, karena itu lah Biduri tidak bisa ikut berlatih bersama mu saat ini" Jelas raja Agung.


Damar menghela napas lega nya mendengar penjelasan dari rajanya itu. Itu berarti hubungan mereka belum di ketahui sang raja. Tapi di sisi lain, hati Damar merasa terbakar karena mendengar pangeran Syam dan Airin gadis yang ia cintai itu sedang berduaan.


"Oh jadi Airin pergi bersama pangeran Syam?"


"Iya, yah apa salah nya mereka pergi bersama. Biarkan mereka saling mengenal satu sama lain" Ujar raja lagi.


Bisa Damar tangkap dari arah perkataan sang raja bahwa ia sangat mengharapkan agar Airin dan juga pangeran Syam bisa bersatu. Hal ini semakin membuat Damar frustasi. Karena raja sangat menginginkan Biduri bersama pangeran Syam. Dan bisa di pastikan hubungan mereka tidak akan mendapatkan restu dari sang raja.


"Damar? Kenapa kamu melamun?"


"Oh, bukan apa-apa yang mulia" Jawab Damar dengan senyuman yang tampak di paksakan.


***


"Tolong.... Tolong... " Terdengar suara orang meminta tolong dari arah ujung desa. Suara orang itu serak basah sambil sesekali terdengar batuk.


"Pangeran Syam, apa pangeran mendengar suara orang yang meminta tolong?" Tanya Airin.


Pangeran Syam memasang pendengarannya baik-baik untuk mendengar apa yang didengar oleh gadis yang bersamanya itu.


"Iya seperti nya suara itu berasal dari arah ujung desa"


"Iya pangeran. Benar sekali. Ayo kita lihat" Ucap Airin langsung menuju ke arah sumber suara yang meminta tolong tadi.


Sesampai nya di sana, terlihat seorang nenek tua yang kaki nya terhimpit oleh dahan pohon yang cukup besar. Nenek tadi terus saja merintih kesakitan dan berusaha untuk melepaskan diri. Namun usaha nya sia-sia.


"Tapi Biduri.... "


"Ayo, bantu aku mengangkat dahan ini" Ucap gadis itu lagi tampa menghiraukan pangeran Syam tampak keberatan untuk menolong nenek tadi.


Melihat Airin berusaha untuk mengangkat dahan pohon tersebut akhirnya pangeran Syam pun ikut membantu gadis itu. Hingga pada akhir nya dahan itu pun berhasil di alihkan dan membuat nenek tua tadi pun terbebas. Nenek yang memakai topi hitam dan jubah berwarna senanda dengan membawa sapu lidi dan ada sebakul kecil buah apel di tangan nya pun kembali berdiri. Kaki nenek itu terlihat memar akibat di timpa dahan tadi.


"Ya ampun nek, nenek baik-baik saja. Kaki nenek kelihatan memar" Ujar Airin melihat ke arah kaki yang sakit.


"Tidak apa-apa nak. Terima kasih telah menolong nenek tadi. Jika tidak ada kalian, pasti nenek tidak tahu nasib nenek" Ujar nenek tadi lagi.


"Ayo nek duduk dulu. Biar aku obati luka memar di kaki nya" Airin mengajak nenek tua itu duduk di bawah pohon untuk bisa mengobati kaki nenek tersebut.


Gadis itu mencari beberapa daun ramuan yang biasa ia gunakan ketika sedang terluka ringan. Seperti daun senduduk atau sering di sebut daun perdu (Tumbuhan ini mempunyai bunga berwarna ungu cerah dengan batang kemerahan yang berbulu, biasanya tumbuh di padang rumput terbuka atau hutan. Tumbuhan ini berasal dari Melanesia, Jepang, Australia dan menyebar luas ke seluruh daerah tropis, juga dapat ditemukan di Indonesia. Salah satu tempat persebarannya di kecamatan Ndoso, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur) dimana daun nya bisa di manfaatkan sebagai obat luka ringan.


Airin mengambil beberapa lembar daun senduduk itu dan menghaluskan nya dengan cara mengunyah nya hingga halus. Kemudian gadis itu mengoles kan daun yang halus tadi ke luka yang ada di kaki nenek tua itu. Kemudian gadis itu menyobek sedikit baju nya untuk membalut luka nenek itu yang telah ia obati tadi.


"Sudah nek, semoga kaki nenek tidak mengalami luka yang parah ya. Daun ini hanya sebagai obat luka ringan saja" Jelas Airin lagi.


"Iya nak. Terima kasih karena sekali lagi telah membantu nenek"


Pangeran Syam yang melihat sikap Airin barusan semakin terpukau dan terpesona terhadap gadis yang memiliki darah campuran itu. Yah sungguh sikap Airin yang suka menolong itu membuatnya semakin jatuh cinta.


"Biduri, kamu memang gadis luar biasa. Kamu memiliki hati yang lembut dan suka menolong ini lah yang membuat aku semakin jatuh hati kepada mu" Batin pangeran Syam menatap gadis itu penuh kekaguman.


"Sekali lagi terima kasih telah membantu nenek, nenek permisi dulu. Oh ya ini ada sebuah apel yang spesial untuk mu" Nenek tadi memberikan apel yang ada di bakul kecil yang ia bawa tadi.


"Gak perlu nek, saya menolong nenek dengan ikhlas"

__ADS_1


"Jangan menolak pemberian ku anak cantik" Ujar nenek tadi memaksa Airin untuk menerima apel pemberian nya.


"Anggap saja ini ucapan terima kasih dari ku. Jika kamu tidak menerima nya, maka nenek akan merasa sangat sedih" Tambah nenek tua itu lagi.


Karena sedikit di paksa, akhir nya Airin menerima apel pemberian dari nenek tua itu tadi.


"Baik lah nek, saya menerima pemberian dari nenek. Terima kasih untuk apel nya" Ucap Airin.


"Iya sama-sama. Ini apel spesial untuk gadis spesial untuk mu" Ucap nenek tadi langsung memberikan sebuah apel berwarna merah darah kepada Airin. Apel itu terlihat sangat menggiurkan sekali bagi yang melihat nya.


"Saya terima ya nek. Terima kasih" Ucap Airin tadi lagi. Nenek tua itu pun pergi meninggalkan Airin dan juga pangeran Syam.


"Wah Biduri, kamu memang gadis yang luar biasa. Hati mu begitu baik dan tulus sekali membantu orang" Ujar pangeran Syam memuji gadis itu.


"Aku hanya membantu sesama makhluk hidup" Balas Airin.


"Tetap saja, terkadang ada juga makhluk yang tidak peduli kepada sesama. Tapi kamu berbeda. Kamu memang gadis yang istimewa" Ucap pangeran Syam lagi.


Airin hanya tersenyum mendengar pangeran Syam terus saja memuji nya. Meski terus saja memuji, dan pangeran Syam berusaha mencuri hati gadis itu, tetap saja Airin tidak terpengaruh. Hati nya hanya milik laki-laki bernama Damar.


***


Nenek tua yang tadi di tolong oleh Airin dan pangeran Syam pada akhir nya berubah menjadi seorang wanita paruh baya. Di mana wanita itu merupakan mantap penyihir di negeri Bunian dulu nya yang telah di usir dari negeri itu karena kedapatan ingin membunuh ibu nya Airin waktu itu.


Penyihir itu tertawa lepas karena Airin telah masuk ke dalam perangkapnya. Yah dia sengaja menyamar menjadi nenek tua yang terjebak dengan dahan pohon. Di mana dahan pohon itu sengaja di taruh pada kaki nya seolah-olah ia sedang tertimpa oleh dahan tersebut.


Ia sengaja meminta tolong kepada Airin dan setelah ditolong, ia akan memberikan apel yang ia bawa. Dimana apel itu sudah diisi racun di tengahnya dan ketika Airin memakannya, maka gadis itu akan mati.


"Dasar gadis lugu dan bodoh, dia percaya bahwa aku adalah nenek tua yang sedang membutuhkan bantuan dari nya. Mereka sama sekali tidak curiga sedikit pun kepada ku. Hahahaha" Ujar penyihir tadi dengan tertawa lepas.


"Rencana ku berjalan dengan lancar. Saat gadis yang memiliki darah campuran itu memakan apel maka dia akan tidak bernyawa dan hanya tinggal nama saja. Dengan begitu, aku akan mendapatkan dirinya sehingga membuat aku menjadi penguasa terkuat di negeri ini. Dan ku pastikan Agung akan bertekuk lutut di hadapanku hahaha" Tambah nya lagi merasa senang.


"Kamu, tolong awasi gadis itu. Pastikan ia akan memakan apel yang ku berikan tadi" Titah penyihir tadi kepada mata-mata yang merupakan bangsa Orx itu yang memang mengikuti dirinya sedari tadi.


"Baik yang mulia. Akan aku mengawasi mereka" Ucap mata-mata tadi langsung pergi mengawasi Airin dan juga pangeran Syam.


***


Airin melihat apel yang diberikan oleh nenek tua tadi kepadanya. Entah mengapa gadis itu merasa ada yang aneh pada apel yang diberikan oleh nenek itu. Yah memang aneh karena apel itu berwarna merah darah. Apel tadi tidak terlihat segar seperti pada apel-apel umumnya.


"Kenapa Biduri?" Tanya pangeran Syam yang melihat Airin yang terus melihat apel tersebut.


"Aku juga gak tahu, tapi entah mengapa aku merasa ada yang aneh pada apel ini. Aku merasa ada yang tidak beres" Ujar Airin.


Pangeran Syam mengambil apa yang ada di tangan Airin dan mengamatinya.


"Ini sama saja dengan apel pada umum nya. Apa yang salah dengan apel ini?" Tanya laki-laki itu.


"Entah lah aku juga tidak tahu. Tapi hati ku menentukan ada yang tidak beres kepada apel ini"


"Maksud mu apa? Apa apel ini ada racun nya?"


"Aku juga tidak tahu pasti, tapi aku merasa ada yang aneh" Ujar Airin tadi lagi. Gadis itu terus saja memegang apel tersebut tampa ada niat untuk memakan nya.


"Pangeran Syam, kita sudah lama keluar dari istana. Lebih baik kita pulang sekarang. Karena aku masih mempunyai jadwal untuk latihan bersama Damar. Mungkin saat ini dia sudah menunggu ku" Ujar Airin kepada pangeran Syam.


"Ya sudah jika itu mau mu. Ayo kita kembali ke istana" Pangeran Syam pun setuju. Padahal laki-laki itu masih ingin mengelilingi desa itu bersama gadis yang ia cintai. Tapi Airin sudah meminta pulang kepada nya. Dengan terpaksa ia pun menuruti kemauan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2