Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 6


__ADS_3

Malam itu seperti biasa Airin masih mengalami mimpi buruk nya. Untung saja Raksi dan Aisyah selalu membawa air obat yang telah di jampi-jampi untuk menyadarkan Airin dari mimpi buruk nya. Meski air itu hanya di gunakan untuk menyadarkan Airin dari tidur nya. Tapi setidak nya Airin bisa terpisahkan dari teror mimpi buruk itu.


"Sudah banyak orang pintar yang kami datangi untuk mengobati Airin agar ia sembuh dari teror mimpi buruk nya itu" Cerita Raksi pada Pandu teman nya sekaligus pemilik kapal tersebut.


"Aku doa kan semoga putri mu itu bisa cepat sembuh ya"


"Aamiin. Terima kasih Pandu. Sungguh aku dan Aisyah tidak tega melihat putri ku itu. Dia sudah seperti mayat hidup karena sakit nya saat ini"


***


Selama tiga hari tiga malam mereka melakukan perjalanan menuju negeri Kuda Emas. Hingga pada akhir nya kapal kapal yang mereka tumpangi berlabuh di sebuah dermaga yang ada di negeri itu.


"Sekarang kita sudah tiba di negeri Kuda Emas. Ayo kita turun" Ujar Raksi.


Aisyah dan Airin membereskan barang-barang yang di bawa nya. Dan keluar dari kapal tersebut. Tak ketinggalan buk Minah pun ikut turun bersama mereka.


"Apa rumah tok Wan itu masih jauh buk?" Tanya Aisyah saat mereka sudah berada di luar kapal.


"Lumayan jauh juga sih buk Aisyah. Di depan sana ada kereta kencana yang bisa kita gunakan untuk transportasi" Jelas buk Minah lagi.


"Mari buk kita mencari kereta nya di depan sana" Tambah wanita paruh baya itu lagi.


"Iya buk. Ayo sayang" Ujar Aisyah.


"Pak, ayo" Ucap Aisyah lagi kepada suami nya yang sedari tadi ngobrol bersama Pandu teman nya.

__ADS_1


"Iya buk, Pan, terima kasih atas tumpangan nya. Aku permisi dulu" Ujar Raksi berpamitan.


"Iya sama-sama semoga usaha kalian membuah kan hasil ya"


"Iya terima kasih doa nya"


***


"Pak tolong antarkan kami ke desa Mundam ya" Ujar Aisyah kepada salah satu pemilik kereta kencana itu.


"Baik buk, silah kan naik" Jawab orang tadi. kereta kencana yang ditumpangi oleh Airin dan juga keluarganya itu pun berangkat menuju desa Mundam tempat di mana tok Wan itu berada.


Kurang lebih dua setengah jam mereka menempuh perjalanan menuju desa tersebut. Melewati hutan yang cukup lebat juga di sana. Yah harap maklum ya mak nama juga peradaban baru. Belum terlalu ramai penghuni nya. Alam nya masih segar tampa polusi saat itu. Karena pada masa itu Belanda baru saja masuk dan baru mengenal kan alat-alat canggih mereka. Seperti pada hal nya mesin yang ada di kapal Pandu saat ini.


"Buk lihat deh bunga itu indah ya" Ujar Airin saat melihat beberapa kumpulan bunga yang tumbuh liar di pinggir jalan yang mereka lalui.


"Iya sayang" Jawab Aisyah.


Yah bunga berwarna kuning itu memang sangat indah jika di pandang oleh mata. Tidak salah jika Airin pun melihat hal yang sama pada bunga itu. Hari sudah mulai gelap waktu itu. Matahari mulai masuk ke dalam perut bumi. Kini hanya tinggal samar-samar cahaya yang tersisa. Yah mereka tiba di desa Kuda Emas itu saat sore hari. Jika di perkirakan pukul lima sore. Maklum lah mak, mesin kapal nya belum terlalu canggih waktu itu. Jadi memakan waktu yang lama saat itu.


Kereta kencana terus saja bergerak menyelusuri jalan setapak untuk menuju rumah tok Wan. Meski hari sudah mulai gelap mereka harus tetap melanjutkan perjalanan mereka agar lebih cepat tiba di rumah orang pintar itu.


"Buk Minah, apa masih jauh desa Mundam nya?" Tanya Aisyah gelisah dan penuh ketakutan. Secara mereka melewati hutan belantara yang sepi dan tidak ada penghuni nya saat ini. Tidak hanya hewan buas yang ia takuti ketika melewati hutan itu. Tapi ia juga takut kalau-kalau ada orang jahat yang ingin merampok mereka. Secara jalan yang mereka lalui sangat sepi.


"Sebentar lagi kok buk Aisyah. Paling satu jam lagi kita tiba di rumah tok Wan" Ujar buk Minah.

__ADS_1


"Satu jam lagi ya? Aduh lama juga itu" Batin Aisyah terus saja memperhatikan sekeliling jalan yang sudah gelap itu.


"Ya Allah lindungi kami dari mara bahaya" Doa wanita paruh baya itu lagi.


Airin kaget saat ia tiba-tiba melihat ada segelibatan bayangan hitam lewat di balik-balik pohon yang ada di samping nya. Yah meski di sana gelap, tapi samar-samar cahaya yang berasal dari lentera kereta kencana yang mereka tumpangi cukup membuat gadis itu bisa melihat bayangan tersebut meski jarak nya beberapa meter dari jalan setapak itu.


"Astaga apa itu? Apa bayangan hitam itu masih mengikuti ku hingga ke sini?" Batin Airin dengan napas yang terhengah-hengah seperti baru selesai berlari beberapa kilo meter. Yah gadis berkulit putih itu sangat ketakutan melihat bayangan yang baru saja melintas di samping nya tadi.


Gadis itu memperhatikan dengan seksama keadaan di sekililing nya. Sungguh ia cemas kalau-kalau bayangan itu tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Sayang kenapa?" Tanya Aisyah melihat putri nya itu berkeringat dingin.


"Gak ada apa-apa kok buk" Bohong Airin. Yah gadis itu sengaja tidak memberitahu ibu nya apa yang ia lihat. Secara gadis itu pun tahu bahwa saat ini ibu nya juga ketakutan. Jika ia mengatakan apa yang ia lihat, pasti ibu nya akan semakin ketakutan.


Kembali Airin memperhatikan sekitar mereka. Dan kembali juga Airin di kaget kan dengan bayang hitam yang kembali segelimbatan lewat di balik pohon-pohon dari ekor mata nya.


Airin melihat ke arah bayangan itu. Dengan napas yang masih terhengah-hengah ia pun memberanikan diri untuk melihat dengan seksama di balik pohon tadi.


Gadis itu pun mengecilkan bola mata nya untuk melihat sosok itu. Semakin dekat kereta kencana melewati pohon tersebut, semakin terang lah keadaan di pohon itu.


Airin menghela napas lega saat ia tidak melihat ada apa pun di pohon tersebut.


"Mungkin itu hanya imajinasi ku saja. Aku terlalu banyak memikirkan bayangan-banyangan yang ada di mimpi ku sehingga di dunia nyata pun aku jadi kebawa-bawa" Batin Airin merasa lega karena tidak melihat apapun di sana.


"Ah.... " Teriak Airin secara tiba-tiba membuat kereta kencana yang mereka tumpangi terhenti karena mendengar jeritan dari gadis itu dan membuat mereka semua kaget.

__ADS_1


__ADS_2