Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 29


__ADS_3

Airin saat bersemangat saat Damar mau mengajak nya untuk pergi melihat wayang di desa. Yah gadis itu benar-benar merasa suntuk di istana yang megah itu ia ingin sekali keluar sekedar refreshing untuk menghilangkan kesuntuk kan nya.


Secara reflek Airin menarik tangan Damar pergi menghadap raja Agung untuk meminta izin kepadanya bahwa ia ingin pergi melihat wayang di desa bersama Damar.


Sontak Damar tersentak saat tangan nya di sentuh oleh Airin. Baru kali ini tangan nya di sentuh oleh gadis yang membuat hati nya tidak karuan itu. Sungguh getaran aneh kini muncul di hati kedua nya lagi.


"Maaf" Ucap Airin melepaskan tangan Damar. Gadis itu tersipu malu karena telah lancang memegang tangan Damar.


"Gak apa-apa kok. Ayo kita pergi menghadap raja" Ujar Damar mencoba bersikap biasa saja agar perasaan yang bergejolak di hati nya tidak terlihat oleh gadis impian nya itu.


Airin dan Damar masuk ke istana untuk bertemu dengan raja Agung meminta izin kepada nya.


***


"Ampun ayahanda, boleh kah Airin pergi keluar istana bersama Damar? Airin ingin melihat-lihat keadaan desa. Terlebih saat ini di desa sedang ada pertunjukkan wayang. Airin ingin melihat nya untuk menghilangkan kesuntukkan. Apa boleh?" Ucap gadis itu meminta izin kepada ayah kandung nya yang saat itu sedang duduk di kursi kebesaran nya.


Raja Agung menatap Airin dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Kini tatapan itu beralih ke Damar. Mendapati ia di tatap oleh sang Raja, Damar menunduk tidak berani beradu pandang dengan raja nya itu.


Raja Agung menghela napas berat nya. Sungguh ia tidak tega jika melarang putri semata wayang nya itu untuk keluar. Terlebih ia perlu beradaptasi di negeri ini.


"Baik lah, kamu boleh pergi bersama Damar" Ujar sang raja memberi izin kepada Airin.


Mendengar hal itu Airin yang tersenyum senang. Ia bisa pergi keluar istana untuk menghilangkan kesuntuk kan nya saat ini bersama laki-laki yang ia cintai itu.


Yah meski pun cinta keduanya hanya bisa di pendam dan belum terungkap satu sama yang lain. Tapi, kedua nya kini memang saling sayang dan mencintai.


"Benar ayahanda?"


"Iya. Kamu boleh untuk pergi bersama Damar menyaksikan pertunjukkan wayang di desa. Tapi ingat, jangan pulang terlalu larut" Ujar sang raja lagi.


"Baik ayahanda. Terima kasih karena telah memberikan ku izin" Ujar Airin langsung memeluk laki-laki paruh baya itu.


Sontak hal itu membuat sang raja kaget. baru kali ini ia merasakan di peluk oleh putri nya sendiri. Makhluk yang tidak kasat mata itu merasa sangat tersentuh. Ia membalas pelukkan Airin dengan penuh kasih sayang.


"Ya ampun, baru kali ini aku di peluk oleh putri ku sendiri. Ternyata begini lah rasa nya di peluk sama darah daging kita sendiri" Batin sang raja semakin erat memeluk putri nya sambil memejamkan mata nya.


"Terima kasih ya ayahanda" Ujar Airin melepaskan peluk kan nya.


"Iya sayang sama-sama. Kalian hati-hati di jalan ya. Aku kan meminta beberapa pengawal untuk menemani kalian di sana"


"Maaf ayahanda, Airin rasa tidak perlu jika harus di temani oleh pengawal. Karena Airin pergi bersama prajurit yang handal dan terbaik di negeri ini. Hanya dia sendiri saja bisa menjaga Airin dengan baik" Ujar Airin.


Sang raja tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh putri nya itu.


"Ya sudah jika itu keputusan kamu, ayahanda akan mengizinkan nya" Ujar sang raja pada akhir nya.


Airin dan Damar tersenyum senang mendengar nya.


"Damar, tolong kamu jaga putri ku dengan baik" Titah sang raja.


"Ampun tuan ku. Menjunjung perintah yang tuan ku" Ujar Damar dengan penuh hormat.


Mereka pun pergi meninggalkan istana itu.


***


Tampak pemandangan di desa yang asri dan sunyi di sana. Semua orang pada berkumpul di sebuah pentas seni yang di adakan oleh desa itu.


"Sunyi sekali desa ini ya Damar" Ucap Airin ketika mereka baru masuk di desa.


"Iya mereka semua pergi berkumpul di pentas seni untuk menyaksikan pertunjukan wayang di sana" Jelas Damar lagi.


"Oh pantas saja di sini sangat sepi"


"Iya Airin, di sini tidak ada hiburan lain selain pertunjukan wayang atau hiburan berupa tarian di sini. Itu pun hanya ada seminggu sekali di sini" Jelas Damar lagi.


"Oh begitu ya" Ujar Airin. Yah di desa asli nya itu memang masih sangat jadul. Di mana hanya ada hiburan berupa tarian ataupun wayang kulit di sini. Berbeda di negeri manusia yang sudah ada televisi berukuran kecil hitam putih yang dapat menyiarkan siaran berbagai daerah di sana. Yah maklum di negeri dunia manusia itu terdapat bangsa Belanda yang baru masuk dan mempromosikan teknologi-teknologi mereka sehingga dunia manusia saat itu mulai berkembang.


"Di dunia manusia sudah terdapat televisi dan juga radio sebagai hiburan" Ujar Airin lagi.


"Dunia manusia dan Bunia berbeda Airin"


Airin hanya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Damar. Airin kembali menikmati pemandangan malam di desa itu. Terdapat penerangan seadanya di setiap rumah yang tersusun rapi di pinggir jalan yang mereka lalui. Rumah-rumah panggung sederhana berwarna putih di sana dengan memiliki teras di depan nya. Dan berbagai bunga warna warni pun turut menghiasi halaman rumah itu.


Kunang-kunang pun ikut berterbangan mengitari Airin dan juga Damar yang menyelusuri jalan setapak itu. Sungguh pemandangan yang sangat langka di mana baru kali ini Airin melihat nya.


"Wah indah sekali" Puji Airin dengan tersenyum senang.

__ADS_1


"Baru kali ini aku melihat pemandangan malam yang begitu indah ini" Tambah nya lagi. Yah gadis itu tidak pernah menikmati pemandangan seperti ini. Selama di dunia manusia gadis itu hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Bisa di bilang dia anak rumahan. Apa lagi di saat ia mengalami teror mimpi buruk yang selalu di hadapi nya setiap malam. Hal itu semakin membuat gadis itu ketakutan untuk keluar rumah dan takut bertemu dengan orang-orang jika tidak di dampingi oleh kedua orang tua angkat nya. Namun berbeda hal nya saat ia bertemu dengan Damar pertama kalinya di negeri Kuda Emas.


Justru perasaan berbeda yang ia dapatkan dari laki-laki itu. Di mana timbul rasa penasaran, kagum bahkan rasa nyaman itu secara cepat muncul di hati gadis itu dan rasa percaya kepada laki-laki yang baru ia temui saat itu membuatnya semakin yakin bahwa Damar adalah sosok laki-laki yang bisa melindunginya. hal itu terbukti di mana Damar saat ini melindungi gadis itu hingga tiba di negeri Bunian dengan selamat.


"Tuan putri Biduri" Tegur salah satu rakyat nya yang berjenis kelamin perempuan dengan memberi hormat. Dimana wanita paruh baya itu baru saja tiba bersamaan dengan Damar dan Airin di pentas seni itu.


"Eh ibu, jangan memberi hormat seperti itu kepasa Airin. Tidak pantas kira nya Airin di perlakukan seperti itu. Di sini status kita sama" Jelas Airin.


"Tapi tuan putri adalah putri nya raja"


"Tidak apa-apa buk. Jika di sini saya hanyalah orang biasa" Ujar nya lagi tersenyum senang.


"Ayo kita menyaksikan wayang bersama-sama" Ajak Airin kepada wanita paruh baya itu tadi.


Mereka pun masuk ke pentas seni itu yang di adakan di lapangan terbuka. Airin di persilahkan duduk di depan bersama Damar.


Mereka menyaksikan wayang yang di mainkan oleh dalang nya. Tertawa lepas mereka semua menyaksikan pertunjukan itu. Sungguh kebersamaan ini sulit untuk di dapatkan oleh Airin.


Dalang memainkan sebuah cerita tentang bangsa Bunia dan bangsa Orx. Di mana di cerita itu bangsa Orx bisa di kalahkan dengan mudah oleh Airin. Ksatria yang telah di ramalkan bisa mengalahkan pemimpin bangsa Orx itu. Yah begitu lah cerita yang di mainkan oleh dalang di wayang kulit nya.


***


Airin sibuk melamun saat mereka dalam perjalanan pulang menuju ke istana. Gadis itu sibuk dengan pikiran nya yang terus saja bermain di benak nya.


"Airin? Kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Damar melihat gadis itu terdiam dari tadi.


"Ha?" Airin kaget seketika lamunan nya buyar mendengar Damar menegurnya tadi.


"Oh gak ada apa-apa kok" Ujar nya.


"Jangan berbohong. Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu sedang merindukan kedua orang tua mu? Atau bahkan kamu memikirkan tentang cerita wayang kulit tadi?" Tebak Damar.


Airin menatap Damar dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sungguh laki-laki yang bersamanya itu sangat mengetahui apa yang ia pikirkan saat ini. Hanya Damar yang bisa mengerti dan bisa memahami perasaan Gadis itu saat ini.


"Iya Damar. Aku memikirkan tentang wayang tadi. Aku takut nanti aku malah mengecewakan mereka yang telah berharap banyak terhadapku. Kamu tahu sendiri kan aku belum memiliki perkembangan dalam latihan. Jika nanti aku tidak bisa menjadi harapan mereka bagaimana?" Ujar Airin dengan hati yang bimbang.


"Saat ini kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Yang harus kamu pikirkan saat ini adalah fokus dengan latihanmu agar kamu bisa menjadi seorang ksatria sesungguh nya" Ujar Damar memberi motivasi.


Airin terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Damar kepadanya. Gadis itu sibuk dengan pikirannya yang bermain di benaknya.


"Kamu benar Damar. Aku seharus nya semakin semangat untuk berlatih dan harus giat lagi dalam latihan agar bisa menjadi ksatria dengan cepat" Ujar Airin lagi penuh semangat.


"Nah gitu dong. Kamu harus yakin kamu bisa menjadi ksatria"


"Terima kasih ya Damar. Kamu memang selalu bisa menenangkan hati ku yang gelisah" Ujar Airin penuh dengan perasaan. Mata nya menatap Damar dengan perasaan nyaman dan kagum dengan laki-laki itu.


Sontak pandangan mereka kembali bertemu pandang. Sungguh Damar tidak bisa menahan gejolak di hati nya lagi. Sungguh ia ingin mengatakan kepada gadis yang memiliki darah campuran itu bahwa ia mencintai nya dan ingin memiliki gadis itu seutuh nya. Namun, kembali ia hanya bisa menahan perasaan itu di hati nya. Karena status sosal mereka berbeda.


***


"Biduri, ayahanda perhatikan dari tadi kamu hanya melamun saja. Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya raja Agung melihat putri nya duduk melamun di bangku taman istana.


"Ayahanda"


"Airin hanya merindui kedua orang tua ku di dunia manusia. Ayahanda, apakah aku bisa bertemu dengan mereka sebentar untuk melepaskan rasa rindu ini?" Tanya Airin kepada ayah kandung nya.


Sang raja tampak berpikir dan keberatan dengan permintaan Airin saat ini. Hal itu di karena kan untuk mencapai dunia manusia mereka harus menempuh perjalanan tiga hari tiga malam. Dan takut nya selama di perjalanan nanti secara tiba-tiba bangsa Orx menyerang mereka.


"Ayahanda kenapa diam? Apa aku tidak boleh bertemu dengan mereka?" Ujar Airin dengan sedih.


Sang raja Agung menghela napas berat nya. Ia tidak tega melihat putri nya itu sedih seperti ini.


"Boleh kok nak. Jika kamu pergi ke dunia manusia seperti apa yang kalian lakukan kemarin, maka kalian akan membutuhkan waktu lama. Dan takut nya nanti secara tiba-tiba bangsa Orx akan datang menyerang kalian. Secara kamu belum siap untuk bertempur dengan mereka karena kamu belum menjadi seorang ksatria" Ujar raja Agung.


"Jadi apa yang harus Airin lakukan ayahanda?"


"Ayo, ikut dengan ayahanda" Ujar raja Agung lagi.


"Dayang, tolong panggilkan Damar" Ucap sang raja kepada salah satu dayang nya.


"Menjunjung perintah tuan ku" Ucap dayang tadi langsung pergi memanggil Damar.


***


Tiba lah mereka di ruangan rahasia yang ada di bawah tanah istana. Di sana terdapat sebuah cermin besar yang berukuran sebesar manusia. Cermin itu berdiri tegak sempurna.


"Ayahanda, ruangan apa ini?"

__ADS_1


"Ini adalah ruang rahasia. Dimana di sini lah ibu dan ayah mu bisa saling bertemu ketika kami berada di ruangan berbeda. Dan karena kamu adalah putri ku, maka akan aku tunjukkan bagaimana cara menggunakan nya" Ujar raja nya.


"Dengan menggunakan cermin ini, maka kamu akan langsung tiba di dunia manusia dalam waktu sekejap tampa memerlukan waktu lama" Jelas sang raja.


"Ini, bacakan mantra ini maka cermin itu akan bisa kamu masuki menuju dunia manusia" Ujar raja tadi memberikan selembar kertas yang bertuliskan mantra untuk membuka jalan dari dunia Bunian ke dunia manusia.


Airin mengambil kertas tadi dan membaca nya. Sontak cermin tadi bereaksi dengan berputar seperti air.


"Biduri, hanya keturunan kerajaan saja yang bisa membuka jalan dari dunia Bunian ke dunia manusia seperti ini dengan menggunakan cermin ini. Sekarang kamu masuk lah, dan kamu akan langsung berada di dunia manusia. Damar akan menemani mu di sana untuk menjaga mu" Ujar raja tadi lagi.


"Baik lah, terima kasih ayahanda"


"Dan jika kamu ingin kembali, maka baca lah mantra yang ada di sebalik kertas tadi. Maka lorong waktu akan terbuka di hadapan mu dan membawa mu kembali ke dunia ini"


"Baik lah Ayahanda"


"Tolong jangan pergi terlalu lama. Karena kamu masih harus berlatih"


"Baiklah ayahanda"


"Damar jaga lah putri Biduri dengan baik"


"Menjunjung perintah yang mulia"


Airin dan Damar pun masuk ke cermin tadi. Seperti berada di lorong waktu saja dengan waktu sekejap Airin dan Damar berada di depan rumah tok Wan. Orang pintar yang terkenal di negeri Kuda Emas itu.


Airin berlari masuk ke rumah panggung itu dengan perasaan rindu yang menggebu-gebu di hatinya.


"Ibu, bapak" teriaknya sambil mencari kedua orang tua angkatnya.


Aisya dan Raksi keluar dari kamar mereka ketika mendengar suara putri semata wayang memanggil mereka.


"Ya ampun, Airin kamu kah ini nak?" Tanya Aisyah sambil memegang bahu putrinya itu dan memeriksa putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk memastikan bahwa itu benar putri semata wayang mereka.


"Iya buk ini Airin"


"Ya ampun nak, ibu senang sekali kamu sudah kembali. Ibu sangat merindui kamu dan cemas dengan keadaan kamu selama ini" Ucap wanita paruh baya itu penuh haru sambil memeluk putri mereka itu begitupun dengan Raksi.


"Iya nak kami pikir kami tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi" Ujar Raksi pula.


"Maaf kan Airin ya buk, pak. Airin sudah pergi lama tinggalkan bapak sama ibu di sini"


"Tidak apa-apa nak, yang penting sekarang kamu sudah pulang" Ucap Aisyah mencium lembut puncak kepala anak nya itu.


"Ibu pikir kamu tidak akan kembali lagi terlebih mendengar kamu akan ikut berperang" Tambah wanita paruh baya itu lagi.


"Airin pulang tidak lama kok buk. Airin akan kembali lagi ke dunia Bunian itu lagi. Ada tugas yang harus Airin selesaikan di sana" Ujar Airin.


"Tugas? Apa peperangan itu?" Tanya Raksi.


"Iya buk, pak. Airin ke sini hanya sebentar untuk melihat keadaan kalian dan meminta doa kepada kalian agar Airin bisa menang nanti nya" Ujar Airin lagi.


"Ya ampun nak, jadi kamu beneran mau ikut dalam peperangan itu? Bukan kah kamu sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal itu?"


"Buk, aku harus melakukan semua ini. Airin harus menyelamatkan rakyat ku dari teror yang selalu menghantui mereka. Airin tidak mungkin membiarkan mereka dalam bahaya seperti ini. Mereka berharap banyak kepada Airin buk" Ucap Airin memberi pengertian kepada kedua orang tua angkat nya.


"Tapi nak, ibu dan bapak mu tidak bisa membiarkan kamu ikut dalam peperangan itu. Ibu takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mu"


"Buk, pak saat ini tolong doa kan saja Airin semoga bisa menjadi ksatria seperti harapan mereka. Saat ini Airin sedang berlatih untuk menjadi ksatria buk, pak"


"Ya sudah kami tidak bisa melarang mu jika memang ini sudah menjadi keputusan mu. Kami hanya bisa memberikan doa restu kepada mu nak" Ucap Raksi pula.


"Oh ya, apa kamu sendirian di sini?" Tanya Raksi yang memang tidak bisa melihat keberadaan Damar yang selalu setia berada di samping Airin.


"Tidak pak. Airin ke sini bersama Damar. Dia selalu menemani Airin kemana pun Airin pergi"


"Syukurlah jika dia selalu menemani mu nak. Ibu merasa tenang jika kamu bersama dia. Terus dia nya di mana?"


"Ada di samping Airin"


"Terima kasih ya Damar kamu memang laki-laki yang baik, terima kasih telah menjaga Airin dengan baik" Ucap Aisyah meski pandangan nya entah kemana karena ia tidak bisa melihat keberadaan Damar.


"Iya sama-sama buk. Saya akan selalu menjaga Airin semampu saya. Nyawa pun sanggup saya korban kan untuk Airin" Ucap Damar dan langsung di sampaikan oleh Airin agar kedua orang tua nya tahu bahwa Damar mengatakan hal itu.


"Kamu memang anak yang baik Damar. Ibu merasa beruntung karena Airin bertemu dengan mu" Ucap Aisyah.


Damar hanya tersenyum mendengar pujian dari wanita paruh baya itu. Ia sungguh merasa melayang-layang saat di puji seperti itu. Terlebih dari orang tua gadis yang ia cintai itu. Itu berarti ia mendapatkan lampu hijau untuk mendapatkan restu.

__ADS_1


__ADS_2