
Airin membuka mata nya saat rasa ngantuk yang ia alami sudah terasa hilang. Kembali ia memperhatikan sekeliling nya. Ternyata pemandangan yang sama yang ada di hadapan nya saat ia belum terlelap tadi.
"Ternyata aku tidak bermimpi. Aku sudah berada di negeri Bunian" Batin nya.
Airin bangun dari tidur nya. Ia pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar nya itu untuk bersih-bersih.
***
Raksi melamun jauh di teras rumah tok Wan. Laki-laki paruh baya itu memikirkan keadaan putri nya yang jauh di mata itu. Yah rasa bimbang dan penasaran bagaimana kabar sang putri menyelimuti hati nya.
"Sungguh bapak sangat merindukan mu nak. Bagaimana kabar mu di sana? Apa kamu berhasil menemukan apa yang kamu cari?" Batin Raksi bertanya-tanya.
"Kamu tenang saja, putri mu baik-baik saja di sana. Damar menjaga putri mu dengan baik sesuai dengan janji nya. Dan sekarang, mereka sudah tiba di negeri Bunian. Airin sudah berhasil bertemu dengan ayah kandungnya" Jelas tok Wan yang secara tiba-tiba muncul dari belakang Raksi yang sedang melamun. Sontak Hal itu membuat laki-laki baru baik itu kaget.
"Tok Wan" Ujar nya.
"Tenang saja, jangan cemas dengan putrimu ia berada di tangan yang benar" Ucap tok Wan lagi.
__ADS_1
Yah laki-laki yang terkenal pintar itu terus saja mengawasi dan berkomunikasi dengan Damar melalui ilmu batinnya agar mengetahui perkembangan yang terjadi diantara mereka yang sedang berada di negeri Bunian.
"Syukurlah mereka baik-baik saja. Aku sangat senang mendengarnya"
"Iya kamu tenang saja. Airin pasti akan kembali jika tugas nya di negeri Bunian itu selesai" Jelas tok Wan lagi.
Raksi hanya bisa mengangguk pasrah dan lega mendengar apa yang di katakan oleh tok Wan tadi.
"Semoga saja tugas nya cepat selesai. Aku sangat rindu dengan nya" Ujar nya lirih. Yah hampir setengah bulan sepasang suami istri itu tidak bertemu dengan putri mereka.
***
Yah tentu saja ia memikirkan tentang apa yang diminta oleh sang raja. Bahwa ia harus menjadi kesatria untuk mengalahkan bangsa Orx. Padahal gadis itu sama sekali tidak ada pengalaman soal menjadi ksatria itu.
"Sedang mikirin apa sih?" Tegur seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampirinya.
"Eh Damar" Ujar Airin setelah mengetahui siapa yang menegurnya tadi.
__ADS_1
"Boleh saya duduk?"
"Oh silahkan. Duduk saja di samping ku" Ujar Airin tersenyum ramah.
Damar pun langsung duduk di samping gadis nya itu.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Damar tanpa basa basi.
Airin kembali menatap ke depan.
"Aku hanya bingung harus bagaimana. Aku sama sekali tidak yakin bahwa aku bisa membantu negeri ini. Aku sama sekali tidak ada pengalaman untuk menjadi ksatria. Memegang pedang saja aku tidak pernah" Ucap Airin dengan sedih.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan bangsa ini di kalahkan oleh bangsa Orx. Aku tidak mungkin membiarkan hal itu" Ucap nya lagi.
Damar menghela napas berat nya mendengar apa yang di katakan oleh Airin tadi.
"Kamu bisa belajar Airin. Ksatria sesungguh nya tidak berasal dari kekuatan fisik. Tapi dari ketulusan hati yang rela membantu sesama" Ucap Damar dengan bijak.
__ADS_1