
Damar dan Airin berlatih memainkan pedang di belakang halaman istana. Yah pagi itu mereka tampak bersemangat sekali untuk berlatih. Airin pun berlatih dengan giat nya karena waktu gerhana bulan sudah semakin dekat. Segala pasukan dan persiapan untuk peperangan pun sudah di persiapkan oleh pasukan raja Agung. Tak lupa raja Sulaiman pun mengirim kan bala bantuan nya mengirim pasukan-pasukan terbaik di istana nya.
Airin menyerang Damar bertubi-tubi dari belakang, depan, samping. Namun serangan itu bisa di patah kan oleh Damar dan bisa membaca serangan dari gadis itu.
Lentingan bunyi pedang yang beradu membuat suasana latihan menjadi sedikit berisik. Airin memegang pedang dengan belati bergambar elang di tangan nya. Itu adalah pedang kebesaran sang raja yang kini di turun kan kepada putri semata wayang nya.
Napas Airin terhengah-hengah karena latihan itu, ia berhenti sejenak untuk mengambil posisi agar bisa kembali menyerang Damar. Airin memasang kuda-kuda dan pedang yang ia pegang berhadapan lurus di mata nya.
"Hiya... " Airin kembali menyerang Damar. Namun di dalam serangan itu, Airin sedikit memainkan mata nya sehingga membuat Damar kehilangan fokus dan pada akhir nya Airin bisa melumpuhkan laki-laki itu. Damar jatuh ke tanah dengan posisi terlentang dan pedang Airin berada di leher laki-laki itu.
"Bagaimana? Apa aku hebat?" Tanya Airin tersenyum.
"Kamu curang, masa ia dalam berperang nanti nya kamu akan bertingkah seperti tadi. Apa bangsa Orx akan terpikat juga seperti ku?" Protes Damar bangkit dari tanah.
"Aku hanya menggunakan tekni ini hanya untuk mu kok. Bukan untuk mereka" Ujar Airin seenak nya.
"Baik lah, aku akui kamu memang sudah memiliki kemajuan. Dan yah aku yakin dalam waktu dekat kamu pasti bisa menjadi seorang ksatria sesungguhnya" Ujar Damar.
Airin tersenyum senang mendengar pujian dari laki-laki yang ia cintai itu.
"Bagus, seperti nya kamu memang sudah ada kemajuan yang baik" Ujar raja Agung yang secara tiba-tiba datang menghampiri mereka. Ternyata Saya dari tadi raja Agung memang sudah memperhatikan mereka berlatih dari jauh. Karena itulah ia bisa menilai bahwa Airin sudah memiliki kemajuan karena mampu mengalahkan Damar. Meski ia tidak tahu bahwa Airin mengalahkan Damar dengan curang.
"Ayahanda" Ujar Airin memberi hormat kepada sang raja.
"Yang mulia" Damar pun ikut memberi hormat kepada lelaki paruh baya itu.
"Sejak kapan ayahanda di sini?"
"Sejak tadi. Cukup lama aku memperhatikan kalian berlatih di sana dan bisa kulihat bahwa memang Airin memiliki potensi untuk menjadi seorang ksatria" Ujar raja Agung..
Airin dan Damar menghela napas lega karena raja tidak mengetahui apa uang terjadi sebenar nya kepada mereka berdua.
"Ampun yang mulia. Di ruang penghadapan ada tamu yang ingin bertemu dengan yang mulia" Ujar salah satu pengawal kepada raja nya.
"Baik lah sebentar lagi aku ke sana" Jawab raja itu lagi. Pengawal tadi pun langsung mengundurkan diri untuk mengatakan kepada tamu yang datang itu bahwa raja akan bertemu dengan nya sebentar lagi.
"Airin, Damar aku ke ruang penghadapan dulu. Kalian lanjutkan saja latihan nya"
Mereka berdua pun kembali memberi hormat kepada raja Agung saat meninggalkan mereka di sana.
"Untuk hari ini kita sudahi latihan nya" Ujar Damar.
"Kenapa? Apa kamu takut lagi kalah melawan ku?" Canda Airin.
"Aku kalah karena kamu curang. Masa ia harus memainkan mata seperti itu membuat ku jadi tidak fokus saja" Protes Damar.
"Eits, dalam pertempuran kita harus melakukan segala cara agar kita bisa menang. Termasuk dengan cara yang curang" Ujar Airin tersenyum manis.
"Oke, aku akui kamu memang telah menang. Menang dalam mencuri hati ku" Ujar Damar mencolek manja hidung mancung gadis yang ia cintai itu.
"Kamu juga telah berhasil mencuri hati ku" Balas Airin pula melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Damar kepadanya.
Mereka sama-sama tersenyum senang dan menatap satu sama lain dengan penuh rasa cinta di hati kedua nya.
***
"Airin, aku mendapatkan berita dari tok Wan bahwa bapak mu sedang sakit saat ini" Ujar Damar saat Airin siap berlatih lagi di pagi ini.
"Apa? bapak sakit? kita harus pergi ke dunia manusia untuk bertemu dengan bapak. Aku mau melihat keadaan bapak bagaimana saat ini" Ucap Airin dengan cemas mendengar kabar orang tua angkatnya sedang sakit di dunia manusia.
Airin dan Damar pergi ke ruang rahasia yang berada di bawah tanah istana. Di mana ruangan itu terdapat cermin ajaib yang bisa membuat lorong waktu menuju ke dunia manusia dalam waktu yang singkat.
Sebelum gadis itu pergi ke ruang bawah tanah ia sudah meminta izin kepada sang raja untuk menggunakan cermin ajaib itu agar ia bisa pergi ke dunia manusia untuk bertemu dengan kedua orang tua angkatnya. Untung saja raja Agung memberi izin kepada mereka karena ia pun merasa mempunyai hutang budi kepada kedua orang tua angkat Airin yang telah merawat Airin dengan baik. Raja Agung sama sekali tidak pernah melarang putri semata wayangnya itu untuk bertemu dengan kedua orang tua angkatnya.
"Kamu tidak perlu meminta izin kepada ayahanda untuk memakai cermin ajaib itu. Kamu boleh menggunakan cermin itu semau mu karena kamu merupakan keturunan dari kerajaan ini. Jadi apapun yang dimiliki oleh ayahanda itu juga adalah milikmu" Jelas raja Agung kepada Airin.
__ADS_1
"Damar tolong jaga Airin di sana. Pastikan bahwa bangsa Orx tidak mengetahui keberadaan kalian di dunia manusia" Ujar sang raja.
"Menjunjung perintah tuan ku" Damar memberi hormat kepada raja Agung.
Airin membaca mantra yang diberikan oleh sang raja untuk membuka lorong waktu menuju ke dunia manusia. Dengan sekejap mereka pun sudah berada di depan halaman rumah tok Wan.
Airin berlari masuk ke rumah panggung itu sambil berteriak memanggil bapaknya.
"Bapak" Teriak nya sambil memeluk lelaki paruh baya itu yang sedang terbaring di kasur yang berada di dalam kamarnya.
"Airin putri ku" Ujar Raksi membalas pelukan Airin dengan penuh kerinduan.
"Apa bapak baik-baik saja? Bapak kenapa bisa sakit sih pak?"
"Bapak baik-baik saja kok nak tidak ada yang perlu kamu khawatirkan terhadap bapak. Bapak hanya perlu istirahat dan yang pasti sakit bapak ini, karena bapak merindukan kamu" Jelas Raksi lagi. Yah berbeda dengan Aisyah yang selalu terlihat satiya mengkhawatirkan dan memikirkan keadaan Airin di dunia Bunian. Raksi justru hanya memendam perasaannya saja dan tidak mau mengungkapkan apa yang ia rasakan karena ia tidak mau membuat istrinya semakin khawatir dan cemas memikirkan putrinya itu. Ia berusaha bersikap tenang dan sewajarnya agar istrinya tidak semakin khawatir terhadap Airin. Akibatnya ia memendam perasaannya sendiri dan membuatnya jatuh sakit seperti ini.
"Airin kamu pulang nak" Ujar Aisyah yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan di tangannya untuk Raksi.
"Ibu" Airin memeluk wanita paruh baya itu dengan penuh kerinduan.
"Sayang, ibu kangen nak" Ucap. Aisyah lagi.
"Iya buk, Airin juga rindu sama ibu dan bapak"
"Buk, sini makanan nya biar Airin yang nyuapin bapak makan" Ujar Airin mengambil makanan yang ada di tangan ibu angkatnya itu.
***
Hari terus berganti sudah tiga hari Airin dan Damar berada di dunia manusia.. Meski begitu, Airin tidak pernah absen dalam latihan. Ia terus berlatih di belakang rumah tok Wan bersama Damar.
Raksi yang terlihat semakin sehat pun melihat putri mereka bermain pedang dengan lihai nya.
Ia tidak menyangka gadis yang ia besar kan dengan penuh kasih sayang dan juga selalu dimanja itu ternyata sudah pintar dalam bela diri.
"Buk, coba lihat meski anak kita itu bermain pedang seperti seorang laki-laki, tapi ia tetap saja terlihat cantik dan anggun saat memainkan pedang itu. Aura kewanitaan nya tidak luntur sama sekali" Ujar Raksi memuji putri angkatnya itu.
***
Setelah selesai berlatih Airin dan Damar memutuskan untuk pergi berjalan-jalan keliling kampung untuk menghilangkan rasa mereka karena seharian berlatih. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke pasar tempat di mana pertama kali mereka bertemu.
Mereka pun duduk di pinggir danau yang tidak jauh dari pasar tersebut. Yah di sinilah tempat kali pertama mereka ngobrol satu sama lain.
"Ini lah tempat yang penuh kenangan dan bersejarah di dalam kehidupan kita ya Damar. Di mana tempat inilah kita pertama kali bertemu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama" Ujar Airin tersenyum sambil mengingat kejadian itu. Damar pun ikut tersenyum senang mendengar perkataan dari Airin.
Secara tiba-tiba, entah dari mana datang nya sebuah anak panah berusaha mengenai bahu Airin, untung saja Damar menyadari hal itu hingga ia segera menarik Airin ke dalam pelukan nya.
"Awas Airin" Ujar Damar membuat Airin berada di dalam pelukan laki-laki itu.
Mereka pun melihat arah dimana anak panah itu berasal. Terlihat tiga bangsa Orx datang menyerang mereka. Airin membulatkan mata nya sungguh baru kali ini ia melihat bangsa Orx dengan mata nya sendiri secara nyata. Selama ini ia hanya melihat di dalam mimpi nya di mana hanya tampak bayangan hitam saja yang terlihat.
"Hati-hati Airin kita telah di serang" Ujar Damar. Kamu tetap berada di belakang ku" Perintah Damar bersiap dengan pedang yang ada di tangan nya.
Damar dan tiga bangsa Orx itu saling berkelahi. Damar menepis serangan demi serangan yang di lontarkan oleh bangsa Orx itu. Meski bangsa Orx tadi menyerangnya bersaman berjumlah tiga makhluk, ia berhasil melawan nya dengan sempurna. Saat salah satu bangs Orx menyerang dari arah kanan, Damar menepis serangan itu dengan pedang nya dan menendang makhluk itu hingga tersungkur ke tanah. Begitupun saat diserang dari arah depan dan belakang Damar mengelak serangan tersebut dan berhasil membalas mereka sehingga membuat mereka semua jatuh tersungkur ke tanah. Saat mereka lengah dan jatuh ke tanah itu lah Damar kembali menyerang bangsa itu dengan brutal nya.
Dengan sekali tebas kepala tiga bangsa Orx berhasil terputus. Damar berhasil melumpuhkan bangsa Orx. Yah karena Damar merupakan prajurit terbaik dan bangsa Orx tadi bukan tandingan nya sehingga sangat mudah ia kalahkan.
Namun, saat menang melawan ketiga bangsa Orx tadi secara tiba-tiba di bahu Damar tertancap anak panah yang berasal dari salah satu bangsa Orx yang berada di balik pohon itu.
Damar merintih kesakitan karena bahunya kini telah berdarah. Melihat hal itu Airin yang selalu membawa belati di balik baju nya pun mengeluarkan belati itu dan melemparkan nya ke arah bangsa Orx yang memanah Damar tadi.
Karena telah berlatih bersama Damar, tembakan Airin tepat pada sasaran nya sehingga membuat bangsa Orx tadi tidak bernyawa. Belati itu telat tertancap sempurna di jantungnya.
Airin menghampiri Damar yang telah mengeluarkan darah di bahu ya itu.
"Damar, kamu tidak apa-apa?" Tanya Airin.
__ADS_1
Damar terus nyengir menahan rasa sakit yang berada di bahunya itu. Yah anak panah itu telah dibaluri dengan racun yang mematikan. Sehingga rajin itu masuk ke dalam tubuh Damar saat ini. Karena itulah Damar merasakan sakit yang teramat di lukanya.
"Airin kita harus kembali ke dunia Bunian. di sini sudah tidak aman. Mereka sudah tahu keberadaan kita. Dan aku harus mengobati luka ini" Ujar Damar.
"Iya Damar kita akan pulang" Airin pun memapah Damar untuk berjalan dan kembali ke rumah tok Wan.
***
"Ibu, pak, kami harus kembali ke dunia Bunian. Di sini sudah tidak aman. Bangsa Orx sudah mengetahui keberadaan Airin di sini. Dan Damar, Damar telah di serang sama mereka" Jelas Airin kepada kedua orang tua angkatnya itu.
Tok Wan ya melihat keadaan Damar yang terluka pun berusaha untuk mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh Damar. Yah karena hanya tok Wan dan Airin saja yang melihat keadaan Damar di sana.
"Obat ini hanya lah sementara. Ini akan menahan pergerakan racun itu agar tidak cepat menyebar ke seluruh tubuh mu" Jelas tok Wan tidak berhasil mengeluarkan racun yang telah menyebar di tubuh laki-laki itu.
"Baik lah tok Wan. Terima kasih telah membantu ku" Ujar Damar.
Airin dan Damar berdiri ke halaman rumah tok Wan dan kembali membaca mantra untuk membuka lorong waktu menuju ke dunia Bunian. Setelah lorong waktu terbuka, mereka pun masuk ke dalam lorong waktu itu.
***
Damar semakin lemah. Airin membawa Damar ke luar dari ruang rahasia itu. Betapa kaget nya raja Agung melihat Damar terluka.
"Ada apa ini Biduri? Kenapa dengan Damar?"
"Kami telah di serang tadi ayahanda. Damar sepertinya terluka parah dan anak panah yang tertancap di bahunya tadi telah baluri dengan racun" Jelas Airin.
"Apa? Pengawal, panggilkan tabib istana agar bisa mengobati Damar" Titah raja.
Tanpa menunggu disuruh untuk yang kedua kalinya pengawal tadi berlangsung pergi memanggil tabib istana.
Airin membawa Damar ke kamar laki-laki itu. Yah memang selama ini Damar ikut tinggal di istana karena ia merupakan pengawal pribadi dari putri mahkota. sehingga ia harus selalu siaga berada di samping putri mahkota itu kemanapun ia pergi.
"Sabar ya Damar, bertahan lah. Sebentar lagi tabib istana akan datang untuk mengobati" Ujar Airin membaringkan Damar di tempat tidur nya.
Melihat keadaan Damar yang semakin tidak berdaya membuat Airin semakin cemas.. Sungguh ia tidak bisa membayangkan jika laki-laki yang ia cintai itu akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Hei, Airin kenapa kamu menangis?" Tanya Damar dengan suara yang lemah.
"Aku sedih melihat mu seperti ini Damar. Karena telah menyelamat ku kamu jadi seperti ini" Ucap gadis itu merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada laki-laki itu.
"Jangan merasa bersalah seperti itu Airin, aku sudah terbiasa mengalami hal seperti ini. Apa lagi luka ini karena melindungi kamu yang memang sudah menjadi tugasku dari sang raja" Ucap Damar.
"Kamu harus bertahan Damar demi aku. Demi cinta kita"
"Aku akan bertahan Airin karena kamu. Kamu jangan sedih seperti ini. Justru dengan kamu bersedih seperti ini akan membuat aku semakin merasa lemah" Ujar Damar menghapus Airin mata air yang membasahi di pipinya.
"Bagaimana aku tidak cemas dan khawatir melihat laki-laki yang aku cintai terbaring tidak berdaya seperti ini" Ujar Airin terus memegang Damar yang menghapus air mata gadis itu.
"Aku pasti akan sembuh, aku akan bertahan untuk mu. Kamu tenang saja" Ujar Damar lagi.
Raja Agung masuk ke dalam kamar Damar bersama dengan beberapa pengawal dan juga tabib istana.
Airin yang sedari tadi duduk di pinggir tempat tidur menemani Damar bangun dari duduknya dan berdiri di samping ayahnya. Tabib istana itu pun mulai melihat luka yang ada di bahu sebelah kanan Damar. Setelah mengamati luka tersebut, tabib tadi itu pun membuat ramuan untuk di baluri ke luka yang ada di bahunya Damar dan ia pun membuat ramuan untuk Damar minum nantinya agar luka serta racun yang telah menyebar itu hilang.
Setelah selesai membuat ramuan, tabib tadi langsung mengobati luka Damar dan memberikan Damar minum ramuan nya itu. Setelah diobati dan juga meminum ramuan tersebut Damar pun terlelap.
"Jangan khawatir, racun yang ada di tubuh Damar belahan sudah mulai menghilang. Dalam beberapa hari ke depan ia akan sembuh. Dan untuk saat ini biarkan ia beristirahat" Jelas tabib itu lagi.
"Terima kasih ya tabib" Ucap Airin dengan wajah yang cemas.
"Iya sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu dan besok saya akan datang kembali untuk mengobati Damar lagi"
Tabib, raja Agung serta beberapa pengawal pun pergi keluar kamar dan meninggalkan Airi yang masih sendirian bersama laki-laki itu yang sedang terlelap.
Airin melangkah mendekati laki-laki yang ia cintai itu. Ia menatap wajah yang sedang tertidur pulas itu.
__ADS_1
"Terima kasih Damar, Terima kasih atas pengorbananmu terhadapku. Kamu rela terluka seperti ini demi melindungi aku. Sungguh aku merasa beruntung telah bertemu denganmu. Aku mencintai kamu Damar. Cepat sembuh ya, berjuanglah untuk melawan sakit ini demi aku. Aku akan selalu bersamamu dan mendampingi kamu" Ucap Airin mengelus lembut rambut laki-laki itu dengan penuh rasa cinta di hati nya.