Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 43


__ADS_3

Damar telah dipindah tugaskan oleh sang raja Agung ke perbatasan. Airin memeluk kekasihnya itu dengan erat sebagai ucapan perpisahan mereka di malam itu. Karena besok pagi-pagi sekali Damar sudah harus berangkat ke tempat tugasnya yang baru. Yah malam itu adalah malam terakhir untuk mereka berdua sebagai pengawal pribadi Airin si putri mahkota.


***


Deraian air mata mengiringi kepergian Damar. Yah Airin menangis melihat kekasih nya itu pergi meninggalkan istana.


"Sudah lah Airin, ini adalah yang terbaik untuk hubungan kalian" Ujar raja Agung menepuk bahu putrinya itu agar putrinya tenang dan tabah dalam menghadapi perpisahan ini.


Airin sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh ayahnya. Ia menatap dengan rasa kecewa kepada ayahnya lalu pergi menuju ke kamarnya.


Raja Agung sebenar nya merasa serba salah saat ini. Memang ia tidak ingin melarang putri semata wayang nya itu untuk menjalin hubungan kepada siapapun. Namun karena saat ini ia adalah putri mahkota dan status sosialnya sangat berpengaruh penting untuk keturunan mereka nanti hingga ia harus melakukan hal ini agar darah bangsawan keturunannya tidak hilang.


"Maaf kan ayah nak, ayah harus melakukan ini semua untuk kebaikan keturunan kita" Batin raja Agung.


Airin kembali menangis di dalam kamar nya. Gadis itu memeluk bantal guling nya. Sungguh ia sangat tidak bisa menerima keputusan ayah nya. Namun, ia hanya bisa menerima semua ini karena ia tidak bisa menentang keputusan raja.


***


Dua hari sudah kepergian Damar di daerah perbatasan. Dua hari juga Airin di istana yang megah itu tanpa kehadiran kekasih hatinya. Hati nya benar-benar terasa suram dan sepi saat ini. Ia merasa tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan apapun.


"Biduri" Tegur Surya melihat keponakan nya itu melamun sendirian di taman istana.


"Eh, tante"


"Boleh tante duduk di samping mu?"


Airin mengangguk membenarkan wanita paruh baya itu duduk di samping nya. Mereka pun terdiam larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Biduri, beberapa hari ini tante tidak melihat kamu makan malam bersama kami. Apa kamu tidak suka dengan kedatangan kami di istana ini?" Tanya Surya membuka pembicaraan di antara mereka berdua. Wanita itu tampak tidak enak hati melihat tingkah Airin karena semenjak pertama kali mereka datang akhirnya sama sekali tidak ikut makan bersama bersama mereka. Itu sebabnya Surya ingin bertanya tentang masalah ini kepada keponakannya itu agar semuanya bisa menjadi jelas.


"Ha? Tidak kok tante. Airin hanya tidak lapar saja. Dan Airin kurang bersemangat untuk melakukan hal apapun akhir-akhir ini. Maafkan Airin jika sikap Arin selama ini membuat tante dan paman merasa tidak nyaman dan salah paham" Ucap Airin dengan lembut.


"Jadi apa yang membuat kamu seperti itu Biduri?"


"Tidak Airin hanya rasa sedikit kecewa kepada ayahanda karena.... jangan di bahas lagi tante. Pokok nya Airin minta maaf dengan sikap Airin selama ini yang membuat tante dan paman jadi salah paham ya" Ujar gadis yang memiliki darah campuran itu kepada tentunya. Ia tidak mau menceritakan apa yang membuatnya merasa kecewa kepada ayahnya. Cukup lah hanya dia, ayah nya dan juga Damar yang tahu masalah ini.


"Ya sudah Jika kamu tidak mau menceritakan apa yang membuat hatimu merasa tidak nyaman tidak masalah. Tante tidak akan memaksamu untuk menceritakannya. Tapi, jika nanti kamu membutuhkan teman untuk saling bertukar pikiran tante akan siap menjadi teman curhatmu" Ucap wanita itu lagi.


"Baiklah tante, terima kasih atas kebaikan nya" Ujar Airin tersenyum manis kepada tante nya itu.


"Iya sama-sama"


Semenjak itu Airin pun kembali ikut makan bersama dengan mereka. Yah karena gadis yang memiliki darah campuran itu tidak mau tentunya berpikir yang bukan bukan seperti yang sudah-sudah.


***


"La.. La... La...Na... Na... Na" Pagi itu Airin bersenandung di dalam kamar nya. Yah gadis itu tampak ceria sekali hari ini. Kicauan burung ikut berdendang menyambut pagi yang cerah.


Yah tidak seperti biasa nya Arin tidak bersemangat dalam melakukan kegiatan, pagi ini gadis yang memiliki darah campuran itu terlihat sangat bersemangat dan aurat kecantikannya kembali terpancar. Hal itu dikarenakan hari ini adalah hari minggu yang telah dijanjikan oleh Damar dan telah disepakati oleh mereka berdua bahwa hari ini mereka akan bertemu di sebuah bangunan tua yang terdapat di ujung desa. Gadis itu mengenakan pakaian terbaiknya untuk bertemu dengan kekasih hatinya.

__ADS_1


"Akhir nya waktu yang telah ku tunggu-tunggu telah tiba" Batin Airin tersenyum senang.


Biasa nya saat ingin keluar dari istana gadis itu selalu meminta izin kepada ayahnya. Namun berbeda dengan kali ini ia pergi keluar istana diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya dan juga para dayang-dayang ada di sana. Hal itu ya lakukan karena jika ia mengatakan sejujurnya kepada sang raja pasti raja Agung tidak akan memberikannya izin untuk keluar apalagi bertemu dengan Damar. Karena itulah Airin memilih untuk pergi keluar istana secara diam-diam.


***


Airin tersenyum senang ketika melihat kekasih pujaan hatinya itu sedang duduk menunggu di pintu gerbang bangunan tua itu. Ternyata Damar telah tiba lebih dahulu darinya dan ia sedang menunggu kedatangan Airin di sana.


"Damar" Tegur Airin dengan senyuman di hati nya. Gadis itu langsung berlari dan memeluk lelaki yang ia cintai itu dengan penuh kerinduan di hati. Jelas Damar pun membalas pelukan gadis pujaan hatinya itu karena sudah seminggu mereka tidak bertemu. Tentu saja hal itu sangat sulit mereka lakukan karena selama ini mereka selalu bersama. Kemanapun mereka Airin pergi Damar selalu berada di sampingnya.


"Maaf ya aku telat. Sudah lama menunggu?" Tanya Airin melepaskan pelukan mereka setelah cukup lama mereka berpelukan.


"Lumayan. Tapi tidak masalah jika aku menunggumu meskipun seribu tahun lagi" Ujar Damar sedikit menggoda.


Airin tersipu malu mendengar pujaan hatinya menggodanya seperti itu. Yah laki-laki itu sekarang sudah seperti pujangga cinta yang pandai menguntai kata-kata di mana kata-kata itu bisa membuat Airin tersipu malu.


Mereka menghabiskan waktu sepanjang hari berdua. Mereka pergi bejalan-jalan untuk menikmati pemandangan yang ada di daerah itu, terkadang memancing bersama, bahkan terkadang mereka juga melakukan latihan di bangunan tua itu seperti yang mereka lakukan di belakang istana tempat mereka biasanya latihan.


Matahari mulai ditelan oleh bumi menandakan bahwa hari sudah malam. Airin dan Damar pun bergegas untuk kembali ke tempat mereka masing-masing. Yah pertemuan mereka pada hari itu harus berakhir meskipun di hati keduanya masih menyisakan rindu.


***


"Selamat malam semua, ayo kita makan bersama" Sapa Airin ketika tiba di meja makan di mana raja Agung, Surya dan juga Ali sudah berada di sana untuk makan malam.


Raja Agung mengurutkan keningnya merasa heran dengan sikap putri semata wayang nya itu yang biasanya banyak diam namun kini ia terlihat ceria.


Gadis yang memiliki darah campuran itu duduk di tempatnya dan mengambil menu makan malam yang tersaji di meja makan itu kemudian langsung menyantapnya dengan lahap.


***


Airin kembali berlatih memanah di halaman belakang istana. Ali yang merupakan suami dari tantenya itu terus memperhatikan gadis yang memiliki darah campuran itu.


Laki-laki yang bisa dikatakan usianya tidak mudah itu lagi pun sangat terkesima dan terpesona terhadap Airin. Ia sungguh penasaran dengan keponakan dari istrinya itu.


"Kamu benar-benar cantik Biduri. Kamu benar-benar telah menyihir ku dengan seribu pesona mu" Batin nya merasa sangat ingin memiliki Airin seutuhnya.


"Aku tidak akan melepaskan mu jika aku memiliki kesempatan untuk memiliki mu. Semoga saja kesempatan itu akan segera datang" Tambah nya lagi. Ia pun memberanikan diri untuk mendekati Airin yang sedang fokus berlatih itu.


"Ternyata kamu sangat pintar dalam memanah ya. Kamu benar-benar gadis yang hebat dan juga kuat pantas saja kamu bisa mengalahkan bangsa Orx" Puji Ali kepada Airin. Airin yang tadinya masih berlatih pun menghentikan kegiatannya mendengar pamannya berbicara kepada dirinya.


"Paman" Tegur nya dengan tersenyum ramah kepada laki-laki paruh baya itu.


Melihat senyuman yang terukir di wajah Gadis itu membuat Ali semakin jatuh hati. Rasa ingin memiliki di hatinya semakin besar. Kini jantung yang berdetak begitu cepat seperti ia baru saja selesai berlari maraton seribu km.


"Aku pandai dalam memanah karena telah di ajarkan oleh pengawal pribadi ku yang begitu ahli juga dalam memanah" Ujar Airin kepada paman nya.


"Oh ternyata kamu mempunyai pengawal pribadi?" Tanya Ali mencoba mencari keberadaan pengawal pribadi yang dikatakan oleh Airin tadi kepadanya.


"Iya, dulu nya tapi sekarang tidak lagi" Ujar Airin mengukir raut wajah kesedihan di hatinya.

__ADS_1


"Kenapa?"


Airin tidak menjawab pertanyaan dari Ali melainkan Ia hanya tersenyum sebagai Jawaban dari pertanyaan itu.


"Ternyata saat ini Biduri tidak memiliki pengawal pribadi. Wah ini merupakan kabar yang baik untukku karena aku bisa menjalankan rencana ku kepada Biduri saat ada kesempatan. Terlebih lagi biduri tidak ada yang mengawali. Itu akan membuatku semakin mudah dalam melancarkan rencana ini dengan baik" Batin Ali sambil tersenyum licik.


"Oh ya Biduri, apa kamu bisa mengajariku tentang cara memanah? Sejujurnya aku sangat bisa bermain panah seperti kamu" Ucap Ali mencoba mencari alasan agar bisa berlama-lama bersama Airin. Airin yang tidak menyadari niat buruk Ali kepadanya pun setuju untuk mengajari Ali dalam memanah.


Gadis yang memiliki darah campuran itu pun menjelaskan cara memanah yang baik dan benar seperti apa yang dijelaskan oleh Damar kepadanya waktu Ia baru saja memulai pelatih pemain panah ini. Bukan nya mendengarkan dengan baik apa yang dijelaskan Airin kepadanya, Ali malah sibuk menatap wajah ayu gadis itu. sambil berpikir dengan keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan Airin seutuhnya.


"Paman, paman" Panggil Airin menyadarkan Ali dari lamunannya. Ali kaget dan sadar dari lamunannya itu.


"Apa paman sudah mengerti dengan apa yang aku katakan tadi?"


Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena sebenarnya ia sama sekali tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh Airin kepadanya. Karena ia sama sekali tidak fokus dengan penjelasan tersebut. Ia hanya memikirkan rencana untuk mendapatkan gadis itu.


"Iya, sudah kok. Aku sudah paham dengan apa yang kamu jelaskan tadi" Bohong Ali.


"Nah, jika paman sudah paham dengan apa yang aku jelaskan tadi, sekarang coba paman memanah sasarannya ada di sana" Airin penunjuk sasaran yang akan dipanah oleh Ali. Meskipun tidak mengerti, Ali pun langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Airin kepadanya. Namun sangat disayangkan anak panah tidak tepat dengan sasaran.


"Tidak apa-apa kok paman. Coba aja lagi, lama-kelamaan nantinya pasti akan bisa" Ujar Airin memberi semangat kepada pamannya agar tidak mudah berputus asa.


***


"Raja Agung, apa kabar?" Tanya raja Sulaiman. Raja itu kembali berkunjung ke istana raja Agung untuk menjalankan silaturahmi.


"Ayo silahkan duduk" Sambut raja Agung dengan ramah nya.


"Sendirian? Pangeran Syam tidak ikut?"


"Pangeran Syam sedang berada di luar negeri untuk melakukan kerja sama dengan kerjaan yang lain" Jawab raja Sulaiman.


"Oh ya, aku datang ke sini hanya untuk mengetahui bagaimana keputusan kamu tentang lamaran yang pernah kami lakukan waktu itu" Tanya raja Sulaiman tampa basa basi.


Raja Agung menelan Silva nya. Sejujurnya ia bingung harus memberi jawaban apa kepada sahabatnya itu. Hal itu di karena kan Airin tidak menyetujui Perjodohan ini karena ia telah mencintai Damar pengawal pribadinya itu.


"Maaf raja Sulaiman, aku tidak bisa memberi jawaban ini kepadamu sekarang. Karena putri ku Biduri baru saja kembali dari dunia manusia. Aku belum sempat bertanya kepadanya. Tapi aku yakin Biduri pasti menyetujui hubungan ini. Ya walau bagaimanapun ia harus menikah dengan keturunan raja juga. Agar darah bangsawan keturunan dari kedua belah pihak kerajaan tidak terputus" Ujar raja Agung.


"Iya kamu benar. Kita melakukan semua ini hanya karena untuk garis keturunan kita yang nantinya akan menjadi pewaris tahta kerajaan" Jawab raja Sulaiman pula menyetujui apa yang dikatakan oleh raja Agung kepadanya tadi.


"Nanti aku akan berbicara kepada Biduri tentang rencana kita Untuk menjodohkan mereka" Ujar raja Agung. Padahal Ia sudah mengatakan hal itu kepada Airin tempo hari. Dan Airin menolak mentah-mentah perjodohan yang direncanakan oleh kedua raja ini. Namun raja Agung tetap bersih keras ingin menyatukan Airin dan juga pangeran Syam.


"Tidak usah terburu-buru. Kami akan sabar menunggu keputusan yang akan diberikan oleh Biduri kepada kami. Terlebih saat ini pangeran Syam juga sedang sibuk dalam kerjasama kepada kerajaan lain. Jadi biarlah Biduri memikirkan hal ini secara matang-matang. Meski pun aku tahu putra ku itu sangat ingin secepatnya menikah dengan putrimu itu" Ujar raja Sulaiman tertawa.


"Yah begitu lah nama nya juga sudah cinta. Jelas ingin sekali bersatu dengan orang yang kita cintai. Bukan kah kita juga seperti itu dulunya" Jawab raja Agung sedikit tertawa.


"Iya kamu benar. Aku juga dulu nya seperti itu"


"Benar apa dikatakan oleh pepatah buah itu tidak jatuh jauh dari pohon nya. Kamu dan anak mu sama-sama tidak sabar untuk bersatu dengan orang yang kalian cintai" Ujar raja Agung tertawa.

__ADS_1


__ADS_2