Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 27


__ADS_3

Damar menjelaskan beberapa teknik untuk berlatih memanah.


"Berikutnya adalah gerakan anchoring. Pada saat full draw itu kan beban ada di titik paling berat tapi kamu masih harus menahan beberapa detik buat proses selanjutnya. Nah, si tangan biar enggak goyang-goyang ditempelin di anchor point. Supaya anchor point ini bisa diulang terus menerus dengan konsisten, kamu harus punya beberapa titik referensi. Misalnya string nempel di ujung hidung, string nempel di pinggir dagu, atau lain-lainnya" Sambung Damar menjelaskan.


"Ini adalah gerakan menahan sikap panahan" Jelas Damar sambil mempraktekan.


"Beberapa saat, setelah penjangkaran dan sebelum anak panah dilepas. Pada saat ini otot-otot lengan penahan busur dan lengan penarik tali harus berkontraksi agar sikap panahan tidak berubah. Bersamaan dengan itu pemanah melakukan pembidikan. Jadi pada saat membidik, sikap pemanah harus tetap dipertahankan" Tambah nya lagi.


"Begini?" Tanya Airin mencoba mengikuti gaya Damar.


"Begini yang benar" Ujar Damar membenarkan posisi lengan Airin agar lurus selaras dengan anak panah.


Mendapat sentuhan itu membuat Airin menatap Damar begitu juga dengan sebaliknya. Damar menatap Airin sehingga membuat mereka beradu pandang. Dan timbullah getaran-getaran halus di hati keduanya. Getaran yang selama ini telah menghantui mereka berdua. Getaran yang diartikan oleh mereka. Lama mereka saling menatap dan saling mengagumi satu sama yang lainnya.


Hingga seperti yang menit Damar pun tersadar dari magnet yang dipancarkan oleh Airin kepadanya.


"Pada posisi membidik, posisi badan dari pemanah diharapkan tidak berubah, kemudian pemanah tidak hanya fokus kepada sasaran tetapi diutamakan pada teknik, dengan kondisi badan yang relaks fokus akan lebih baik" Jelas Damar mencoba untuk bersikap biasa saja dan melanjutkan penjelasannya terhadap gadis yang ada di sampingnya itu agar sadis itu tidak mengetahui perubahan sikap nya.


".Terakhir melepaskan string. Otot punggung tetep terus menarik string, tidak berhenti, tapi dalam kecepatan yang sangat lambat. Lalu lemaskan otot jari yang megang string. Kalau drawing atau menarik string berhenti, namanya dead release atau plucking. Intinya bakal berpengaruh ke akurasi" Damar menjelaskan panjang lebar tentang teknik memanah yang baik dan benar dan langsung melepaskan anak panah langsung menancap ke sasaran nya.


"Wah hebat" Puji Airin kagum dengan bidik kan Damar yang tepat sasaran.


"Kamu pasti akan menjadi lebih hebat dari ku Airin. Karena takdir mu memang seorang ksatria. Asal kan kamu terus berlatih dan berusaha. Pasti kamu bisa melakukan nya lebih baik dari ku" Ujar Damar memberi semangat kepada Airin.


Airin pun langsung mencoba membidik sasaran sesuai dengan keterangan yang di berikan Damar tadi. Sekali dua kali gadis itu gagal membidik tepat di sasaran nya. Yah harap maklum ya mak nama nya juga pemula dan baru kali ini dia memegang busur dan anak panah. Jadi butuh waktu untuk berlatih agar menjadi lebih hebat lagi.


Hampir dua jam Airin berlatih membidik anak panah nya. Namun semua tembakan nya selalu meleset di target yang berbentuk bulat dengan warna biru di tengah nya itu. Jangan kan tepat di lingkaran yang berwarna biru itu, tepat di lingkaran yang berwarna putih yang terdapat di pinggir lingkaran biru pun tidak tepat. Semua tembakan nya meleset.


Hingga pada tembakan terakhir Airin berhasil menepatkan anak panah nya ke bagian lingkaran paling luar. Yah meski pun masih belum tepat dengan sasaran sesungguhnya, tapi Airin sudah melihatkan perkembangan nya. Yaitu tepat di sasaran meski di lingkaran yang paling luar.


***


"Aduh, ternyata capek juga" Ujar Airin duduk di kursi taman beristirahat karena sudah dua jam mereka berlatih. Damar pun ikut duduk di samping gadis itu. Para dayang pun memberikan air minum untuk kedua insan yang berbeda jenis kelamin itu.


Mereka berdua pun meneguk minuman yang diberikan oleh para dayang tadi kepada mereka.


"Dalam sekejap, kamu sudah memperlihatkan perubahan dan perkembangan di mana kamu sudah bisa menempatkan sasaran tembakan mu meskipun di bagian terluar" Puji Damar.


"Iya, tapi masih belum sesuai dengan harapan"


"Pelan-pelan Airin. Kamu baru saja berlatih. Semua itu butuh waktu dan proses nya. Tidak instan dan langsung jadi seperti bolak-balikkan telapak tangan" Jelas Damar.


Airin terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Damar barusan kepadanya.


"Tapi, bagaimana jika aku tidak berhasil dan gagal dalam berlatih saat bangsa Orx menyerang negeri ini? Pasti semua rakyat akan merasa kecewa kepadaku karena pahlawannya mereka harapkan selama ini gagal melindungi mereka semua" Jelas Airin merasa sedih.


"Jangan pikirkan itu dulu Airin. Aku yakin kamu pasti bisa menjadi hebat sebelum bangsa Orx datang menyerang kita. Kamu pasti bisa menjadi seorang ksatria seperti yang di ramalkan selama ini" Jelas Damar memberikan semangat kepada gadis itu.


"Airin, Damar" Tegur raja Agung datang menghampiri mereka.


Sontak hal itu membuat damar dan Airin berdiri dan memberi hormat kepada sang raja Agung.

__ADS_1


"Yang mulia" Ujar kedua nya memberi hormat.


Raja Agung membalas hormat mereka berdua.


"Damar, bagaimana latihan Airin hari ini? Apa sudah ada perubahan dan perkembangan?" Tanya raja Agung.


"Ampun yang mulia. Untuk saat ini tuan putri Airin sudah terlihat perubahan nya. Ia sudah bisa membidik sasaran meski pada lingkaran terluar. Tapi untuk di hari pertama ini dia sudah memperlihatkan kemajuan yang baik" Jelas Damar kepada sang raja Agung.


"Syukurlah jika sudah ada perubahan yang di perlihatkan oleh Airin. Aku senang mendengar perubahan ini. Semoga saja sebelum gerhana bulan terjadi, Airin sudah menjadi ksatria sesungguh nya" Ujar raja Agung dengan penuh harapan.


"Saya yakin tuan putri Airin bisa menjadi ksatria secepat nya yang mulia" Ujar Damar penuh keyakinan.


Sang raja Agung mengangguk mengerti. Sesungguh nya itu lah yang ia harap kan. Tidak hanya diri nya, rakyat nya pun mengharapkan hal yang sama.


***


"Tok Wan, apakah sudah ada perkembangan dan kabar dari Airin saat ini? Apakah Airin akan pulang dari negeri asalnya cepat nya?" Tanya Aisyah kepada tok Wan orang yang terkenal pintar di negeri Kuda Emas itu.


saat itu tok Wan sedang duduk bersantai sambil menikmati secangkir teh hangat di depan teras rumahnya.


"Airin akan pulang setelah tugas nya selesai di negeri nya itu"


"Tugas? Tugas apa?" Tanya Aisyah bingung.


"Tugas yang di berikan oleh ayah nya. Dimana menurut ramalan, hanya Airin lah yang bisa mengalahkan bangsa Orx yang selama ini menyerang dan menyerang negeri mereka" Jelas tok Wan lagi.


"Tunggu, apa itu arti nya Airin akan ikut berperang?"


"Begitulah kira-kira. Yang jelas setelah tugas nya selesai Airin akan pulang dan berkumpul bersama kalian lagi"


Ibu angkatnya Airin itu merasa cemas Dimana sebagai seorang ibu ia takut bahwa anaknya akan gugur di medan perang dan pasti dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan putrinya itu bahkan jasadnya pun tidak bisa ia bawa pulang.


"Kamu tenang saja Airin pasti akan baik-baik saja di sana dan dia juga akan bisa melawan bangsa Orx itu. Sesuai dengan ramalan yang telah ditentukan oleh langit kepadanya. Kamu jangan cemas seperti itu. Doakan saja semuanya akan baik-baik saja dan Airin akan pulang dengan selamat seperti apa yang kita harapkan selama ini" Ujar tok Wan sambil menyedu teh hangat yang ada di atas meja tepat di mana ia duduk.


Meski tok Wan sudah menjamin bahwa Airin akan selamat dan bisa mengalahkan bangsa Orx itu sesuai dengan ramalan. Tapi tetap saja Aisyah merasa cemas dan khawatir dengan keselamatan putri semata wayang nya. Ibu mana yang tidak cemas jika anak nya ikut berperang. Terlebih ini anak satu-satunya dan seorang gadis. Tentu rasa cemas itu berkali-kali lipat yang dirasakan Aisyah saat ini.


***


"Pak, pak" Ujar Aisyah dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar tempat di mana suaminya sedang duduk di kasur yang ada di kamar mereka itu. ya saat ini mereka masih berada di rumah tok Wan sesuai dengan apa yang mereka janjikan kemarin. Di mana mereka akan pergi dan meninggalkan rumah tok Wan saat Airin sudah kembali bersama mereka.


"Ada apa sih bu, kenapa terlihat panik seperti itu?" Tanya Raksi dengan santai.


"Pak, tadi tok Wan mengatakan bahwa ayah dan akan ikut berperang mengalahkan bangsa Orx yang selama ini telah menyerah dan menyerang bangsa mereka. Katanya ramalan telah mengatakan hanya Airin lah yang bisa mengalahkan pemimpin bangsa Orx dan memenangkan peperangan" Jelas Aisyah lagi.


Bukannya kaget ataupun bagaimana Raksi masih bersikap santai mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Hal itu dikarenakan Raksi sudah mengetahuinya terlebih dahulu saat ini. Di mana tok Wan sudah mengatakannya kepada laki-laki paruh baya itu.


"Pak, kok bapak masih bersikap santai sih mendengar berita ini. Apa bapak tidak cemas dengan keadaan anak kita di sana? Ia akan berperang lo pak, bagaimana jika nanti Airin gugur di medan perang? kita pasti tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Bahkan jasadnya saja kita tidak akan bisa bertemu untuk yang terakhir kalinya jika ia gugur di negeri nya itu" Ujar Aisyah tanpa terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi wanita paruh baya itu.


Aisyah menangis membayangkan akan kehilangan putri semata wayang mereka di medan perang. Sungguh ia merasa tidak sanggup jika kehilangan Airin anak satu-satunya mereka ada yang paling mereka sayangi di dunia ini. Bahkan Aisyah sanggup menukarkan nyawanya demi Airin putri mereka itu.


"Buk, kita doakan saja untuk keselamatan putri kita itu di sana. Saat ini kita tidak bisa melakukan apapun. kita hanya bisa memberikan dukungan dan juga doa untuk keselamatan Airin di sana" Ujar Raksi terdengar bijaksana. Yah benar apa yang dikatakan oleh Raksi. mau saat ini mereka hanya bisa memberikan doa untuk keselamatan Putri mereka itu.

__ADS_1


"Pak, Bagaimana bisa bapak berbicara seperti itu dan tidak khawatir sama sekali dengan keadaan putri kita di sana. Secara bapak sendiri juga tahu kan bahwa Airin sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam hal itu bahkan melihat pedang saja Airin tidak pernah. Jadi, bagaimana bisa dia mengikuti peperangan ini. Pasti ia akan kalah sebelum berperang"


"Buk, yakin lah buk bahwa putri kita bisa melakukan ini semua. Tidak mungkin Damar atau ayah kandung nya Airin tidak mempersiapkan Airin secara matang dalam peperangan ini. Pasti mereka akan mempersiapkan Airin secara matang agar Airin bisa mengalahkan musuh mereka dengan cepat" Ucap Raksi yang memang benar ada nya.


Aisyah tanpa berpikir menurut apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Ia merasa bawa Apa yang dipikirkan oleh suaminya itu ada benarnya juga. Tidak mungkin dalam sebuah peperangan mereka tidak menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Jelas mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang agar mereka bisa meraih kemenangan dan terbebas dari teror yang selama ini selalu menghantui mereka.


Aisyah hanya bisa menghela nafas beratnya sambil berdoa di dalam hati untuk keselamatan putri semata wayangnya.


"Sudah lah buk, mari kita sama-sama berdoa agar Airi selalu di dalam lindungan sang Kuasa" Ucap Raksi lagi.


Aisyah kembali melamun. Sungguh ia tidak bisa menghilangkan rasa bimbang dan cemas di hatinya memikirkan Airin yang berada jauh di mata.


Rasa rindu di hati semakin membuatnya gelisah. Ingin rasanya wanita paruh baya itu menyusul Airin yang berada di negeri asalnya itu. Hanya saja ia tidak tahu di mana tempat Airin saat ini berada. Meskipun Raksi tahu di mana goa yang pertama kali ia menemukan Airin saat di lahirkan itu, tapi ia tidak bisa masuk ke negeri asal nya Airin. Secara hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalam negeri Bunian itu. Jadi percuma saja jika mereka pergi menyusul Airin di sana. Karena mereka tidak akan bisa masuk ke negeri Bunian dan bertemu dengan Putri semata wayang mereka itu.


Raksi mendekati istrinya yang masih merasa cemas. Laki-laki paruh baya itu memeluk istrinya yang ia sayangi itu agar merasa lebih tenang dan tidak terlalu cemas terhadap putri mereka. Meski pun di hati Raksi juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Aisyah saat ini, namun ia masih bisa menyembunyikan perasaannya dan bersikap biasa saja agar tidak membuat Aisyah semakin cemas.


"Tenang ya buk. Yakin lah semua akan baik-baik saja dan Airin akan kembali bersama kita dengan selamat" Ucap Raksi mengelus lembut rambut wanita yang telah menemaninya selama puluhan tahun itu.


Aisyah membalas pelukan sang suami dengan penuh kehangatan kini air mata wanita paruh baya itu tidak bisa terbendung lagi. Aisyah menangis di pelukan suaminya. Raksi terus mengelus rambut sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Ibu rindu sama Airin pak. Ibu ingin sekali bertemu dengan nya? Ibu sudah tidak tahan lagi berpisah dengannya pak" Ucap Aisyah dengan lirih.


"Iya buk, bapak juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ibu rasakan. Tapi saat ini kita hanya bisa mendoakan putri kita itu. Dan semoga saja waktu cepat berlalu agar kita bisa berkumpul bersama-sama lagi" Ujar Raksi.


Aisyah tidak menjawab wanita paruh baya itu memeluk suaminya semakin erat dan terus menangis di pelukan sang suami.


***


Airin menghempas tubuhnya di atas kasur yang empuk di kamar megah miliknya itu untuk menghilangkan rasa lelah seharian berlatih di belakang istana bersama Damar.


Sontak kejadian saat Damar menyentuh tangannya itu kembali terbayang di pelupuk matanya Airin. Membayangkan saja membuat jantung gadis itu bertekuk begitu cepat seperti baru selesai Marathon sepuluh kilo meter saja. Apa lagi langsung bertemu pandang dengan laki-laki yang telah membuat dirinya tidak karuan seperti ini.


Airin tersenyum bahagia saat membayangkan kejadian itu. Gadis itu benar-benar telah jatuh cinta kepada Damar prajurit yang telah menjaganya dengan baik selama ini dan saat ini sudah menjadi pelatihnya untuk menjadi seorang ksatria dalam mengalahkan bangsa Orx.


"Damar, siapa sih kamu sebenarnya? Kenapa hati ini merasa berbeda saat bertemu denganmu. Yah aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini terlebih saat kita pertama kali bertemu waktu itu. Apa ini yang di namakan cinta ya?" Batin Airin bertanya-tanya.


"Jujur saja hanya kamu satu-satunya laki-laki yang bisa membuatku seperti ini. Selama ini banyak para laki-laki yang mendekatiku. Namun aku bersikap biasa saja kepada mereka dan tidak ada timbul rasa yang berbeda seperti apa yang aku rasakan terhadap mu saat ini. kamu telah berhasil menyihir ku dengan sifatmu yang begitu dingin terhadapku dan membuat aku penasaran" Batin nya lagi.


Tok... Tok... Tok....


Terdengar suara pintu kamar Airi diketuk dari luar. Sontak hal itu membuat lamunan Airin buyar seketika.


"Ya masuk" Teriak nya.


Masuk lah seorang dayang yang memang menjadi asisten nya saat itu. Di mana dayang itu lah yang diberikan kepercayaan untuk keluar masuk kamar Airin dan memastikan Airin berpenampilan sempurna.


"Maaf tuan putri. Yang mulia raja Agung menunggu tuan putri di meja makan untuk makan bersama siang ini" Ujar dayang tadi sambil menunduk tidak menatap wajah sang putri. Yah para dayang atau pun prajurit tidak boleh menatap wajah sang raja maupun putri nya karena hal itu tidak sopan. Hanya Damar lah yang bisa menatap wajah cantik gadis itu. Itu pun ketika mereka hanya berdua saja tidak ada raja bersama mereka. Jika ada sang raja, maka Damar akan bersikap layaknya sebagai seorang bawahan yaitu seorang prajurit istana yang selalu melindungi sang raja dan juga keselamatan tuan putri serta para isi istana.


"Apakah Damar juga ikut makan bersama?" Tanya Airin dengan penuh harapan.


"Damar? Tentu tidak tuan putri. Mana boleh seorang prajurit makan di meja yang sama dengan sang raja dan putri nya" Jelas Dayang tadi.

__ADS_1


Tampak wajah kecewa yang diperlihatkan oleh Airin saat itu. Sungguh gadis itu mengharapkan Damar bisa makan bersama mereka di meja yang sama. Namun harapan nya kini sia-sia.


"Ya sudah, sebentar lagi aku ke sana" Ujar Airin kepada dayang nya tadi. Dayang itu pun kembali keluar dari kamar Airin dan menunggu tuan putri nya di luar kamar.


__ADS_2