
Airin telah pergi merantau bersama Damar menuju ke goa Bagiri untuk mencari siapa sebenar nya diri nya itu.
Damar dan Airin memutuskan untuk beristirahat karena hari sudah mulai larut dan tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan dalam keadaan yang semakin gelap seperti ini.
***
Airin menggosok-gosok mata nya yang masih terasa berat.
"Uwah... " Gadis itu menguap. Ia menggosok-gosok tengkuk nya yang terasa pegal karena baru bangun tidur. Gadis itu berusaha menyatukan kembali nyawa nya yang sempat melayang tadi malam.
Airin keluar dari tenda nya. Ia menggeliat sambil menghirup udara segar dan sejuk di hutan itu.
"Damar?" Ujar Airin mencari keberadaan laki-laki yang bersamanya tadi malam.
"Kemana pergi nya dia?" Batin gadis itu bertanya-tanya.
Sek... Sek...
Terdengar suara dari bali semak-semak yang tidak jauh dari Airin. Airin melihat ke arah semak itu. Terlihat daun-daun yang ada di sana bergoyang seperti baru saja ada yang lewat.
"Damar... " Tegur nya lagi. Dengan perasaan takut dan juga penasaran, gadis itu mulai mendekati semak-semak itu untuk melihat makhluk apa yang ada di sana.
Airin pun melangkah dengan hati-hati. Beberapa kali gadis itu menelan saliva nya untuk menghilangkan rasa takut di hati nya.
Semakin dekat, semakin dekat Airin melangkah di semak itu, hingga pada akhir nya Airin menyibak semak itu dan bisa ia melihat seekor kelinci di sana. Melihat Airin, kelinci tadi pun takut dan berlari menjauh dari Airin.
"Ternyata hanya seekor kelinci" Ujar Airin merasa lega.
"Damar kemana sih?" Ujar nya lagi mencoba mencari keberadaan Damar.
Airin pun berbalik ingin menuju kembali ke tenda nya. Gadis berkulit putih itu pun tiba-tiba tersungkur ke tanah karena kaget secara tiba-tiba ada orang di belakang nya.
__ADS_1
"Damar, kemana saja sih kamu?" Ujar Airin kesal.
"Ini tadi aku sedang menangkap ikan untuk sarapan kita pagi ini" Jelas Damar memperlihat kan beberapa ekor ikan segar yang di basa nya tadi.
"Aku pikir kamu sudah pergi meninggalkan ku tadi" Ujar Airin berjalan meninggalkan Damar dan duduk di api unggun yang telah mati itu. Damar mengikuti Airin dan duduk di hadapan gadis itu.
"Ya gak mungkin aku meninggal kan kamu di tempat seperti ini sendirian. Lagian, aku sudah berjanji kepada kedua orang tua mu dan juga tok Wan untuk menjaga mu. Terlebih aku memang di tugas kan dari bangsa ku untuk menjaga mu" Ujar Damar menusukkan ikan yang di tangkap nya tadi dengan kayu agar mudah untuk di bakar.
"Bagaimana tidur mu malam ini? Apa nyenyak?" Tanya Damar mulai membakar ikan yang di tangkap nya tadi.
"Yah, nyenyak kok" Jawab Airin.
"Kamu bagaimana?" Tanya Airin.
"Nyenyak juga kok" Ujar Damar berbohong kepada gadis itu. Padahal semalaman ia tidak tidur sama sekali karena menjaga Airin dari bangsa yang takutnya akan datang secara tiba-tiba menyerang mereka dan merebut Airin dari tangannya.
"Ini silahkan di makan, Setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan kita. Yah perjalanan kita masih panjang" Ujar Damar memberikan ikan bakar yang telah matang tadi kepada Airin untuk disantap.
"Damar di sekitar sini ada sungai?" Tanya Airin.
"Ada, di sebelah sana ada sungai nya. Kenapa?" Tanya Damar menunjuk ke arah sungai tempat di mana ia mencari ikan.
"Aku ingin mandi sebentar. Apa kamu bisa mengantar ku di sana?"
"Oh, boleh"
Airin dan Damar pergi menuju ke arah sungai. Airin pun langsung membersihkan diri di sebalik batu besar di mana batu itu lebih besar dari nya agar Damat tidak melihat nya sedang mandi.
Air sungai yang sejuk dan jernih menambah keindahan di sungai itu. Wah sungguh sungai yang bersih dan belum tercampur tangan manusia. Pantas saja Damar dengan mudah mendapatkan ikan di sungai itu. Secara sungai itu masih alami.
"Sudah?" Tanya Damar saat melihat Airin kembali dengan berganti pakaian baru nya.
__ADS_1
"Sudah ayo" Jawab Airin.
Sebelum berangkat, Airin membereskan tenda nya dan melanjutkan perjalanan mereka.
Di sepanjang jalanan, Airin sangat menikmati pemandangan di hutan itu. Yah suara burung yang berkicauan menyambut sang mentari yang bersinar terang, tupai-tupai berlompat kesana kemari dengan gembira nya. Para kelinci berlarian untuk mencari makanan mereka. Sungguh ini pemandangan yang jarang ia lihat. Ini lah kali pertama ia melihat nya. Karena baru kali ini dia merantau seperti ini.
"Damar"
"Ya" Jawab Damar masih fokus mengemudi kereta kuda nya.
"Terima kasih ya"
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena kamu telah menjaga ku dengan baik. Kamu mau menemani ku seperti ini. Aku beruntung bisa mengenali mu"
"Sama-sama Airin. Sudah menjadi tugas ku untuk menjaga mu" Jawab Damar. Mereka pun kembali saling menatap satu sama lain. Getaran-getaran halus mulai kembali terasa di hati kedua nya. Airin dan Damar memang saling suka dan saling memendam perasaan mereka masing-masing. Mereka saling tersipu malu.
***
"Pak, apa Airin berhasil ya pak menemukan siapa diri nya? Apa dia akan kembali bersama kita pak? Siapa tahu ia memilih untuk tingg bersama bangsa nya" Ujar Aisyah gelisah.
"Jangan khawatir" Ujar tok Wan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka. Di mana saat ini mereka sedang duduk di teras yang ada di rumah tok Wan. Tok Wan duduk di samping Raksi.
"Kamu jangan khawatir Aisyah, Airin pasti kembali. Dia hanya ingin mengetahui asal usul nya. Bukan untuk kembali bersama bangsa nya" Ucap tok Wan dengan santai sambil menuang kan teh hangat ke dalam gelas yang sudah di siapkan oleh Aisyah tadi dan menghirup teh itu.
"Percayakan semua ini kepada mereka. Apa lagi Damar. Dia pasti bisa menjaga Aisyah dengan baik. Dia adalah prajurit terbaik di bangsa nya yang telah di percayai untuk menjaga Airin" Jelas tok Wan lagi
"Iya buk, benar apa yang di katakan tok Wan tadi. Sebaik nya kita mendoakan saja semoga perjalanan putri kita lancar tampa ada kendala apa pun. Terlebih mereka terhindar dari makhluk yang jahat yang menganggu mereka" Ujar Raksi dengan bijak.
"Iya pak, semoga saja apa yang kita harapkan akan terjadi ya pak. Ibu benar-benar tidak bisa melepaskan Airin dan berpisah dengannya. Ibu rela melakukan apapun agar Airin bisa kembali bersama kita. Bahkan, Ibu sanggup mengorbankan nyawa ibu demi Airin karena ibu sangat menyayanginya lebih dari dirimu sendiri" Ujar wanita paruh baya itu dengan mantap.
__ADS_1