
Karena hari sudah larut, tok Wan hanya memberikan air jampi-jampi kepada Airin. Dan besok, baru lah mereka akan mencari alat untuk pengobatan Airin.
Aisyah pun menyerahkan air yang di jampi-jampi tok Wan tadi kepada Airin. Sebelum tidur Airin harus meminum nya dan mengusapkan air itu di seluruh wajah nya. Sambil berdoa agar malam ini Airin bisa tidur dengan tenang tampa di teror dengan mimpi buruk lagi.
***
Tok Wan terbangun dari tidur nya. Yah baru kali ini dia mengalami mimpi buruk saat mengobati seseorang. Selama pengobatan, ia sama sekali tidak pernah bermimpi seperti ini.
Tiba-tiba meruak bau harus kembang melati dan daun sirih di hidung nya. Beberapa kali tok Wan menghirup bau tersebut untuk memastikan indra penciuman nya benar atau tidak.
"Ya Ampun, kenapa kali ini aku mencium bau seperti ini. Baru kali ini aku mengalami hal ini. Apa ini ada kaitan nya dengan Airin. Yah dia tampak seperti bukan anak sembarangan. Sulit untuk ku membaca apa yang sebenarnya terjadi kepada nya" Ujar tok Wan. Yah lelaki itu tampak tidak bisa membaca penyakit apa sebenar nya di derita oleh Airin itu.
"Anak itu seperti di tutup oleh kabut putih yang membuat ku sulit mengetahui apa yabg terjadi kepada nya"
"Seperti nya aku harus bersemedi besok untuk mencari tahu tentang gadis itu" Ujar tok Wan meyakin kan diri nya.
***
"Tok Wan, tok mau kemana?" Tanya Raksi saat melihat lelaki itu membawa perbekalan seperti orang mau berangkat saja.
"Maaf pak sebelum nya. Saya harus pergi ke sebuah goa Lapit yang ada di hutan sana untuk bersemedi" Jelas tok Wan.
"Bersemedi?"
"Iya, saya harus bersemedi untuk mengetahui apa yang menganggu putri bapak saat ini. Malam tadi saya sama sekali tidak bisa membaca penyakit yang di alami putri bapak. Airin seperti di tutupi oleh kabut putih yang membuat saya sulit untuk mengetahui makhluk yang meneror nya. Karena itu saya harus bersemedi untuk meminta petunjuk agar bisa mengetahui tentang putri bapak" Jelas tok Wan lagi.
"Jadi kami harus bagaimana pak? Apa kami harus pulang dulu atau bagaimana?" Tanya Raksi kepada orang pintar itu.
__ADS_1
"Tidak perlu kalian pulang. Kalian tunggu saja di sini hingga ritual semedi saya selesai. Saya permisi dulu" Ujar tok Wan itu lagi meninggalkan Raksi yang masih terbengong di sana.
"Sudah, jangan khawatir tok Wan pergi nya gak lama kok. Paling lama itu seminggu. Dan biasa nya setelah pulang dari semedi nya, ia langsung bisa menyembuhkan orang yang mengalami gangguan makhluk mistis. Doa kan saja tok Wan lancar semedi nya" Ujar istri tok Wan yang bernama Suri.
"Ayo kita sarapan" Ajak wanita paruh baya itu kepada Raksi.
***
"Pak, apa yang harus aku siapkan untuk pengobatan Airin? Dan dari tadi ibu tidak melihat tok Wan di mana" Ujar Aisyah kepada suami nya saat melihat Raksi duduk di depan teras rumah panggung itu. Yah rumah panggung terbuat dari bambu itu adalah tempat tinggal nya tok Wan dan istri nya Suri. Rumah yang seperti pada rumah dulu-dulu. Tidak terbuat dari papan atau pun batu.
Mendengar pertanyaan dari istri nya itu Raksi hanya bisa menghela napas berat nya.
"Tok Wan sedang pergi buk"
"Apa? Pergi? Kemana pak? Kenapa gak mengabari kita dulu?" Ujar Aisyah kaget.
"Tok Wan tidak bisa membaca apa yang terjadi kepada putri kita itu buk. Airin di selimuti oleh kabut putih yang membuat tok Wan tidak bisa membacanya" Jelas Raksi lagi.
"Jadi sekarang kita harus bagaimana pak?"
"Untuk saat ini kita hanya bisa menunggu hingga tok Wan selesai melakukan semedi nya. Doa kan saja buk semoga tok Wan lancar melakukan semedi nya itu" Ujar Raksi lagi.
"Apa lama ya pak semedi yang di lakukan tok Wan?"
"Palingan juga seminggu sih buk. Oh ya selama tok Wan gak ada kita tetap di sini menunggu nya dan air yang di berikan tok Wan terus di minum oleh Airin ya buk. Lakukan seperti apa yang di katakan tok Wan" Jelas Raksi lagi.
Aisyah mengangguk mengerti.
__ADS_1
***
"Sayang, ibu mau pergi ke pasar bersama buk Suri. Apa kamu mau ikut?" Tanya Aisyah kepada putri nya yang sedang melamun di depan jendela kamar nya.
"Ikut buk. Lagian Airin bosan berada di rumah. Airin juga mau melihat-lihat pemandangan di negeri ini" Ujar Airin.
"Airin juga takut tinggal sendirian di rumah" Tambah Airin lagi. Yah saat itu memang Raksi sedang pergi keluar untuk mengantar buk Minah kembali ke pelabuhan. Karena buk Minah harus pulang hari ini secara tugas nya untuk mengantarkan Raksi dan keluarga nya ke rumah tok Wan sudah selesai.
"Ya sudah, ayo kita berangkat" Ajak Aisyah kepada putri nya itu.
Mereka pun pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan yang akan mereka masak untuk makan siang mereka.
Sepanjang perjalanan, para lelaki yang melihat kehadiran Airin yang duduk manis sambil menikmati perjalanan di atas kereta kencana itu merasa terpesona dengan kecantikan gadis itu.
Yah tidak ada gadis yang secantik Airin di negeri itu. Meski Airin mengalami teror di setiap malam nya, tapi tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Kulit putih bersih, bulu mata yang lentik, alis yang tebal, hidung yang mancung serta bibir tipis berwarna merah alami menambah pesona kecantikan gadis itu.
Melihat para lelaki yang menatap nya dengan tatapan terpesona, Airin mengukir senyuman ramah di bibir nya. Yah gadis itu memang terkenal ramah dan baik hati. Ia tersenyum bukan karena tebar pesona atau apa. Airin tersenyum karena memang dasar nya ia gadis yang ramah.
***
Airin dan kedua wanita paruh baya itu turun dari kereta kencana mereka. Karena mereka sudah tiba di pasar untuk berbelanja.
"Buk, Airin lihat-lihat tempat ini ya buk" Ujar Airin kepada Aisyah. Di mana Aisyah dan Suri sedang sibuk memilih sayuran.
"Iya sayang, jangan jauh-jauh ya nak"
Airin melihat sekeliling tempat itu. Yah ini kali pertama ia menginjak kan kaki di pasar.
__ADS_1
"Kasihan kak, sudah dua hari tidak makan" Ujar salah satu pengemis yang biasa ada di pasar itu meminta belas kasihan orang-orang yang sedang berbelanja di sana. Pengemis itu berusia sekitar tujuh tahun. Tentu saja Airin merasa kasihan kepada anak malang itu.