
Airin bertanya kepada ibu nya siapa sebenar diri nya. Ia ingin mengetahui asal usul diri nya saat ini.
Aisyah tampak kebingungan mau menceritakan dari mana. Ia masih tidak mengerti dari mana Aisyah mengetahui diri nya itu.
"Apakah aku harus menceritakan sebenarnya kepada Airin?" Batin Aisyah masih bimbang.
"Buk, kenapa ibu diam aja. Tolong buk cerita kan semua nya" Pinta Airin kepada ibu nya.
"Sayang, sebaik nya kita bahas hal ini di rumah saja ya. Alangkah baik nya ayah mu yang juga ikut menceritakan segala nya.
Airin mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh ibu nya itu.
***
"Pak, pak" Ujar Aisyah menarik suami nya ke dalam kamar sewaktu diri nya pulang dari pasar.
"Ada apa buk?" Tanya Raksi dengan bingung.
"Pak, tadi Airin bertanya tengang siapa diri nya. Ibu gak bisa menjawab pak. Dari mana dia tahu tentang keadaan nya" Ujar Aisyah.
"Yang benar buk? Kenapa bisa seperti ini?"
"Ibu juga gak tahu pak. Ibu gak tahu dari mana dia tahu pak. Ibu juga bingung jadi nya" Ujar Aisyah.
"Apa kita ceritakan saja semua nya?" Tanya Aisyah meminta persetujuan dari suami nya.
Raksi tampak berpikir tentang apa yang di katakan oleh istri nya itu.
***
Selama seminggu tok Wan melakukan semedi nya di goa Lapit. Kini lelaki paruh baya itu sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Airin.
"Pak sudah pulang" Sambut Suri kepada suami nya.
"Iya buk. Tolong buat kan aku minuman buk" Ujar tok Wan terhengah-hengah karena kelelahan menempuh perjalanan panjang.
__ADS_1
"Sebentar pak" Jawab Suri langsung bergegas menuju dapur untuk membuat kan secangkir teh hangat untuk tok Wan.
"Ini pak teh nya" Suri memberikan secangkir teh yang di buat nya tadi. Tok Wan langsung menyedu teh tersebut.
"Bapak mau makan?"
"Tidak buk, nanti saja. Oh ya di mana mereka buk?"
"Ada di kamar nya pak"
"Tolong panggilkan mereka buk. Ada yang mau bapak bicarakan sama mereka"
Suri pun pergi memanggil Raksi dan juga istri nya berserta Airin di kamar mereka masing-masing.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara pintu kamar Raksi dan Aisyah di ketuk. Seketika obrolan antaran suami istri itu pun terhenti.
"Aisyah, Raksi, tok Wan sudah pulang. Beliau ingin bertemu dengan kalian. Ada hal yang mau ia sampaikan kepada kalian" Ujar Suri kepada kedua pasangan suami istri itu.
***
Airin, Raksi dan Aisyah duduk di kursi yang berada di ruang tamu rumah tok Wan.
"Begini, aku telah melakukan semedi selama seminggu untuk mengetahui apa yang sebenar nya terjadi kepada putri kalian. Dan pada akhir nya aku mengetahui bahwa putri kalian ini bukan manusia sembarangan. Ia memiliki darah campuran" Jelas tok Wan.
Deg...
Sontak penjelasan itu membuat kedua pasangan suami istri itu kaget.
"Darah campuran? Sama seperti yang di katakan Damar tadi" Batin Airin.
"Apa benar Airin bukan anak kandung kalian?" Tanya tok Wan.
Kedua pasangan suami istri itu kembali saling pandang. Memang berat untuk menceritakan hal yang sebenar nya. Tapi apa lah daya ini harus di lakukan untuk mendapat titik terang dari masalah yang di hadapi oleh Airin.
__ADS_1
"Iya tok. Airin sebenar nya bukan darah daging kami. Aku menemui nya saat di sebuah goa uang berada di negeri ini. Sewaktu itu hujan lebat. Aku berteduh di goa itu. Dan di sana lah aku bertemu dengan Airin dan juga ibu nya Airin. Ibu Airin menyerahkan Airin kepada ku untuk ku rawat seperti anak sendiri terlihat saat itu ibu Airin mengalami pendarahan hebat. Tanpa berpikir panjang aku pun mengambil Airin dari tangan nya. Hingga ibu Airin menghembuskan napas terkahir nya. Aku berpikir ini lah jalan sang pencipta memberikan kami anak. Karena selama ini kami tidak pernah memiliki anak. Berbagai cara kami lakukan tapi hasil nya tetap sama" Jelas Raksi menceritakan semua nya kepada semua yang ada di sana.
Airin mendengar hal itu tampak kaget. Ia sungguh tidak menyangka bahwa diri nya adalah anak angkat dari pasangan suami istri itu.
"Meski Airin bukan darah daging kami, aku dan Aisyah tetap mencintai dan menyayangi Airin seperti anak kami sendiri. Kasih sayang kami tidak pernah berkurang kepada nya. Selama tujuh belas tahun ini kami menyembunyikan kebenaran ini. Kami tidak mau orang lain tahu tentang ini begitu pun dengan Airin" Tambah lelaki paruh baya itu lagi.
"Airin maaf kan kami ya nak. Kami tidak menceritakan hal yang sebenar nya. Kami tidak mau kamu mengetahui semua ini. Karena kami takut kamu akan pergi meninggalkan kami" Ujar Aisyah memeluk putri nya itu.
"Semua yang di alami Airin saat ini ada hubungan nya dengan asal usul putri kalian. Yah Airin memiliki darah campuran separuh manusia dan separuh nya lagi darah Bunia. Di mana setelah Airin berusia tujuh belas tahun, Airin harus kembali ke bangsa asal nya" Jelas tok Wan lagi.
"Apa? Bangsa Bunian?" Raksi dan Aisyah kaget mendengar nya.
"Yah bangsa Bunian. Makhluk yang tidak kasat mata. Di mana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat keberadaan mereka"
"Gak tok, kami tidak mungkin melepaskan Airin. Airin adalah putri kami. Airin anak kami tok. Kami tidak mau kehilangan putri kami satu-satu nya" Ujar Aisyah menangis.
"Apa ada hal yang bisa kami lakukan agar kami tidak kehilangan Airin tok?" Tanya Raksi.
Tok Wan tampak berpikir mendengar pertanyaan dari kedua insan yang berlainan jenis kelami itu.
"Buk, pak, apa boleh Airin mengatakan sesuatu?" Tanya Airin akhir nya membuka suara.
"Apa nak?"
"Apa boleh Airin mengetahui siapa orang tua Airin sebenar nya? Airin ingin kembali ke goa tempat di mana bapak menemukan Airin pertama kali" Ujar Airin.
"Sayang goa itu terlalu jauh. Tidak mungkin bapak dan ibu membiarkan kamu ke sana sendirian"
"Airin tidak sendirian buk, pak. Airin ke sana bersama Damar"
"Damar?" Tanya Aisyah.
"Iya Damar" Jawab Airin membenar kan.
"Damar adalah salah satu bangsa Bunian yang di tugas kan untuk menjaga Airin selama ini. Dia lah yang selalu menolong Airin dari mimpi-mimpi buruk nya" Jelas tok Wan.
__ADS_1
"Tapi nak, sangat berat hati kami untuk melepaskan kamu. Kami tidak mau kehilangan kamu" Ujar Aisyah terus saja menangis karena tidak rela berpisah dari putri nya itu.