Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 37


__ADS_3

Airin dan pangeran Syam kembali ke istana. Apel yang di beri oleh nenek tua itu masih Airin pegang. Gadis itu ke halaman belakang istana untuk bertemu Damar yang sedang berlatih di sana.


"Damar" Tegur Airin menghampiri laki-laki itu.


"Sudah pulang? Bagaimana jalan-jalan nya? Apa seru?" Tanya Damar dengan cemburu kepada putri mahkota itu.


Yah bisa terlihat dengan jelas raut wajah cemburu Damar yang ditunjukkan nya kepada gadis itu.


"Cemburu?"


"Gak, Aku hanya bertanya kok" Elak Damar.


"Kamu jangan berbohong Aku bisa membaca raut wajahmu dimana kamu sedang cemburu saat ini"


"Baguslah jika kamu tahu"


"Maaf Damar. Aku tidak mau sebenarnya untuk pergi bersama pangeran Syam. Namun ayahanda memaksaku untuk pergi bersamanya. Padahal aku sudah memberi alasan bahwa aku mempunyai janji untuk berlatih bersamamu di mana kita mengadakan waktu latihan tambahan" Jelas Airin menundukkan kepala karena merasa tidak enak hati terhadap laki-laki yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


Damar menarik nafasnya dalam dan dihembuskannya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa kekesalan di hatinya. Yah ia tidak pantasnya marah kepada gadis itu, karena memang benar Airin telah mencoba untuk mencari alasan agar tidak pergi bersama pangeran Syam. Namun, raja Agung memaksanya untuk pergi menemani pangeran Syam. Dimana raja Agung sudah menjelaskannya tadi kepada Damar.


"Maaf Airin, Tidak sepantasnya aku marah kepadamu seperti ini. Kamu memang tidak bersalah dalam hal ini. harusnya aku mengerti posisi kita saat ini seperti apa"


"Kita jalani saja hubungan kita ini. Hadapi semua nya dan semoga saja suatu saat nanti ayahanda akan mengerti tentang hubungan kita ini" Ucap Airin tersenyum manis. Damar pun ikut tersenyum manis. Tampa di sadari ia melihat sebuah apa yang berada di tangan Airin. Apel yang diberikan oleh nenek tua saat mereka jumpai di desa..


"Airin, dari mana kau mendapatkan apel itu?" Tanya Damar.


"Oh ini, aku mendapatkannya dari nenek tua yang sudah ku tolong tadi. Di mana nenek itu sedang tertimpa dahan pohon dan mengakibatkan kakinya cedera. Dan sebagai ucapan terima kasihnya, ia memberikan apel ini kepadaku" Jelas Airin.


"Coba ku lihat apelnya, sepertinya apa ini tidak terlalu asing bagiku"


"Sepertinya apel ini sangat mencurigakan. Ini apel seperti tidak sama dengan apel-apel yang lainnya. Warna merah darahnya itu terlihat pucat dan seperti ada yang salah pada apel ini" Ucap Damar terus mengamati apel tersebut.


"Airin, entah mengapa aku merasa Curiga dengan apel ini. Sebaiknya apel ini kamu buang saja dan jangan kamu makan sedikit. Bukan nya menfitnah nenek tua yang telah perbaiki hati memberikanmu apel ini, hanya saja aku takut apel ini telah dibumbui dengan racun untuk mencelakai kamu. Karena, sewaktu ibumu mau diracun juga mendapatkan apel seperti ini dari nenek tua yang berpenampilan seperti penyihir"Jelas Damar lagi.


"Apa? Kamu tahu tentang ibu ku?"

__ADS_1


"Apa sebelum bangsa Orx datang menyerang dan membuat Ibuku terbunuh, ibuku juga mau diracun sama orang jahat"


"Yah begitu lah. kejadian itu kira-kira ada delapan belas tahun yang lalu di saat aku usia delapan tahun. Sebelum ayahmu bertemu dengan ibumu, ada seorang penyihir di negeri ini di mana penyihir itu adalah penyihir terkenal dan terpercaya di istana. Namun, penyihir itu telah jatuh cinta kepada raja yaitu ayahmu. Namun, ayah mu sudah bertemu dengan Ibumu dan membuatnya jatuh hati hingga membuat penyihir yang mencintai ayahmu itu sakit hati dan tidak terima atas pernikahan yang terjadi kepada ayahmu dan juga ibumu. Karena Ibu memiliki hati mulia dan suka menolong seperti halnya kamu saat ini. Kebaikan hati ibu itu dimanfaatkan oleh penyihir tersebut. Di mana ia berpura-pura meminta tolong kepada ibumu. Setelah itu ia memberikan apel seperti apa yang kamu dapatkan saat ini sebagai ungkapan terima kasihnya yang telah ditolong"


"Ibu kamu yang baik hati itu menerima apel tersebut tanpa merasa curiga sedikit. Yah ia percaya kepada penyihir itu karena merupakan penyihir kebanggaan istana. Namun apel tersebut telah diracuni oleh penyihir tadi hingga membuat ibumu keracunan. Untung saja sang raja menyadari dengan cepat keadaan ibumu sehingga ibumu bisa diselamatkan secepatnya oleh tabib istana"


"Penyihir itu pun di usir dari istana karena ketahuan ingin membunuh sang ratu"


"Terus bagaimana keadaan penyihir tersebut saat ini? Apakah ia masih ada?"


"Aku juga tidak tahu keadaan penyihir itu .Namun yang jelas ia telah diusir dari negeri ini. B isa saja dia masih berada di dunia ini. Aku tidak mengetahuinya dengan pasti yang jelas kamu harus berhati-hati dan juga waspada. Aku takut hal yang sama akan terjadi kepadamu. Ya bisa jadi penyihir itu masih hidup dan dia ingin membalas dendam kepadamu karena kamu adalah anak dari raja yang ia cintai itu. Karena dia pernah bersumpah akan membalas dendam rasa sakit yang ia alami saat itu kepada sang raja. Ia tidak mau melihat raja bahagia di atas penderitaannya selama ini" Jelas Damar menceritakan kisah lalu saat delapan belas tahun yang lalu di mana saat itu usia nya masih delapan tahun Itu arti nya ia dan Airin berjarak usia sembilan tahun. Yah untuk bocah yang berusia delapan tahun itu memang sudah memiliki daya ingat atas kejadian yang terjadi di sekitar nya. Begitu pun dengan Damar saat itu yang bisa mengingat dengan jelas kejadian waktu itu.


Airin tidak menyangka bahwa ibu nya mengalami hal yang buruk itu. Ternyata sebelum kejadian peperangan itu, ibu nya ingin di bunuh.


"Lebih baik apel ini kamu buang saja. Aku tidak mau kamu mengalami nasib yang sama. Apa lagi nenek yang kamu tolong tadi kamu tidak kenal dia siapa. Bisa saja ada maksud tersendiri dia melakukan itu kepada mu" Ujar Damar lagi yang memang masuk akal.


"Baik lah Damar aku akan membuang apel ini" Airin pun membuang apel itu.

__ADS_1


***


Seorang pelayan istana yang bertugas memelihara kuda istana pun melihat sebuah apel tergeletak di tanah belakang istana itu. Tampa berpikir panjang, pelayan istana yang berjenis kelamin laki-laki itu pun mengambil apel tersebut. Ia pun membawa apel itu ke kandang kuda dan memberikan apel itu kepada salah satu kuda yang ada di sana. Sontak kuda itu pun memakan apel itu dengan lahap nya. Setelah beberapa menit, secara tiba-tiba dari mulut kuda tadi mengeluarkan busa. Yah kuda itu mati keracunan.


__ADS_2