Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 50


__ADS_3

Airin dan seorang gadis desa pergi menuju orang pintar yang ditunjukkan oleh dayang nya untuk meminta bantuan agar bisa menyembuhkan raja Syam.


Airin menunggu orang pintar itu di kereta kencananya. Perlahan namun pasti orang pintar tadi itu pun mendekati kereta kencana di mana ada Airin di dalam nya.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya nya setelah tiba di tempat Airin. Airin membuka pintu kereta kencana tersebut. Betapa tercengangnya wanita yang memiliki darah campuran itu melihat siapa orang pintar yang di maksud oleh dayang itu tadi. Yah dia adalah Damar mantan pengawal pribadinya, mantan kekasih nya dan mantan prajurit terbaik istana.


"Damar" Ujar Airin dengan lirih. Ia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu lagi. Seketika kembali terbayang momen-momen saat mereka bersama.


"Airin" Jawab Damar berlaga kaget. Padahal ia memang sudah mengetahui akan kedatangan Airin untuk menemuinya.


Mereka sama-sama tercengang dan terpana satu sama lain. Meski saat ini Airin telah bersama raja Syam, tetap saja memori-memori kebersamaan mereka tetap tersimpan di benak wanita itu. Cukup lama mereka saling terpanas dan tercengang seperti itu.


"Yang mulia. Ini lah orang pintar yang saya maksud" Ujar gadis tadi membuat mereka sadar dari lamunan nya.


"Oh, dia orang nya?"


"Iya yang mulia"


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Damar berlaga tidak tahu.


"Begini tuan Damar..."


"Damar, panggil saja saya dengan sebutan Damar seperti biasa nya" Potong Damar.


"Oh baiklah. Begini Damar, kedatanganku ke sini untuk meminta bantuan kepadamu agar kamu bisa menolong suami ku. Suami ku raja Syam sedang tidak sadar kan diri. Ia seperti kesurupan seperti ada sihir yang menyelimuti diri nya. Apa kamu bisa membantu ku?" Tanya Airin dengan hati-hati agar perkataannya itu tidak menyinggung perasaan Damar.


Meski rasa sakit di hati nya masih ada, namun Damar mencoba untuk menahan diri agar tidak terlihat terasa sakit hatinya terhadap wanita itu.


Damar tampak terdiam memikirkan apa yang harus ia putuskan saat ini.


"Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan kepadamu. Tapi untuk saat ini Tolong lupakan kesalahan itu dan bantulah suamiku. Aku rela melakukan apapun demi untuk menyelamatkan suamiku itu" Ujar Airin memohon.


Mendengar Airin memohon kepadanya seperti itu membuat hati damai semakin merasa perih. Goresan luka di hati nya kembali berdarah karena rasa cemburu terhadap wanita yang ada di hadapan nya itu.


"Tolong bantulah aku Damar aku mohon" Ucap nya lagi menangis memohon di hadapan laki-laki itu.


"Baiklah aku akan menolong mu. Sekarang bawa aku ke istana untuk melihat keadaan suami mu" Ucap nya setuju.


Airin tersenyum senang mendengar keputusan dari Damar.


"Terima kasih Damar" Ucap nya tersenyum senang.


"Sama-sama" Jawab Damar dengan ekspresi dinginnya di hadapan wanita itu.


Mereka pun kembali ke istana untuk mengobati raja Syam yang sedang tidak sadarkan diri di tempat tidur.


***


Setelah memakan waktu beberapa jam akhirnya Damar dan Airin tiba di istana dengan selamat.


"Silahkan masuk Damar" Ucap Airin mau minta Damar masuk ke dalam kamar pribadi mereka untuk melihat keadaan raja Syam.


Sontak Damar pun sedikit kaget melihat keadaan rah Syam yang seperti mayat hidup. Mata nya terbuka, tubuh nya serta wajah nya pucat pasi, mata nya memerah dengan lingkaran hitam di sekitar mata nya. Bibir nya pun pecah-pecah saat itu. Sungguh penampilan raja Syam sangat mengerikan bila di lihat oleh siapa pun.


"Begini lah keadaan nya. Sangat-sangat memprihatinkan. Apa kamu bisa untuk menyembuhkannya?" Tanya Airin penuh dengan harapan.

__ADS_1


"Ini ilmu sihir yang begitu kuat Airin. Cukup sulit menyembuhkan penyakit ini. Tapi aku akan mencoba nya. Aku akan berusaha semampuku untuk menyembuhkan suamimu agar kembali seperti sedia kala" Jawab Damar memberi harapan kepada wanita itu.


Airin tersenyum senang penuh dengan harapan mendengar ucapan dari Damar. Akhir nya suami yang ia cintai akan sembuh seperti sedia kala.


***


Damar mempersiapkan bahan-bahan ritual yang langka dan memulai proses yang rumit. Dia membuat lingkaran sihir di sekitar raja Syam dan memulai pengucapan mantra yang kuat untuk mengatasi kutukan yang menguasainya.


Damar mengirimkan energi penyembuhan melalui gerakan tangan yang terampil dan memusatkan kekuatan pikirannya untuk mempengaruhi kutukan yang mengendalikan raja Syam.


Damar merasakan kekuatan kutukan yang melawan balik, memerangi upayanya untuk menyembuhkan raja Syam. Dia harus berjuang melawan kekuatan jahat yang kuat untuk meraih kemenangan.


"Tidak ada kekuatan jahat yang bisa menahan saya! Aku akan membebaskan mu, raja Syam!" Ujar Damar penuh keyakinan dan tekad yang kuat.


Ketika perjuangan semakin intens, Damar mengalami kelelahan dan hampir menyerah.


"Airin, mohon ampuni kelemahanku. Kutukan ini terlalu kuat!" Ujar nya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Damar, Airin kembali menangis. Ia merasa kembali terpukul karena suaminya tidak bisa disembuhkan oleh Damar. Harapan yang tadinya ia bangun bersama kedatangan Damar, kini telah hancurlah sudah.


"Maaf kan aku Airin, ilmuku belum bisa mengalahkan kutukan ini. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan kembali ke tempatku untuk mempelajari beberapa ilmu yang menyembuhkan raja" Damar meminta waktu untuk belajar ilmu sihir untuk menyembuhkan suami dari mantan kekasih nya itu.


***


Setelah mencoba dan gagal melalui upaya sebelumnya, Damar, seorang dukun yang gigih, tidak menyerah dalam usahanya untuk menyembuhkan Raja Syam. Dia kembali ke kamar rahasia yang penuh dengan buku-buku ilmu sihir dan ramuan-ramuan langka, mencari cara alternatif yang mungkin dapat menyelamatkan raja dari kutukan.


"Di antara semua pengetahuan yang saya miliki, harus ada sesuatu yang bisa menyembuhkan raja Syam. Saya tidak boleh menyerah." Ujar Damar sambil mengamati buku-buku kuno itu.


Damar mengamati setiap buku dengan cermat, mencari petunjuk dan ramuan yang mungkin berhubungan dengan kutukan yang melanda raja Syam.


"Ini dia! Buku ilmu terlarang tentang penyembuhan yang pernah saya pelajari." Ujar Damar saat menemukan buku kuno nya. Ia membawa buku itu kepada Airin agar Airin yakin Damar bisa menyembuhkan suami nya.


"Ini adalah cara lain untuk menyembuhkan raja Syam. Saya berharap ini bisa menjadi jawaban yang saya cari." Ujar Damar kepada Airin.


Airin mengangguk dengan penuh harapan di hati nya. Ia sangat berharap cara ini bisa membuat suami nya sembuh dan kembali ke dalam pelukan nya.


Damar mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dan mempersiapkan ritual penyembuhan yang baru.


"Baik lah kamu juga harus terlibat dalam pengobatan ini Airin" Ujar Damar lagi.


Deg...


Tentu saja Airin kaget mendengar ucapan dari Damar. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Airin.


"Untuk membuat raja Syam sembuh, kamu harus membawa bola kecil ini kembali ke dalam kamar ini sebelum pukul dua belas malam. Kamu juga harus mengucap kan mantra ini tanpa henti" Ujar Damar memberikan secarik kertas yang bertuliskan mantra yang harus di baca oleh Airin tampa henti hingga ia berhasil membawa kembali bola kecil itu kembali ke kamar nya.


"Ingat lah Airin, apa pun yang terjadi, dan apa pun yang kamu hadapi nanti, jangan pernah berhenti untuk membaca mantra ini" Jelas Damar lagi.


"Sekarang sudan pukul sepuluh malam. Kamu mempunyai dua jam untuk membawa kembali bola ini" Ujar Damar lagi.


Yah di istana hanya ada Damar, raja Syam dan Airin saja. Sedangkan para dayang dan pengawal nya di minta untuk tunggu di luar istana. Begitu kah syarat dari Damar saat itu.


"Apa kamu siap Airin?" Tanya Damar.

__ADS_1


Wanita itu beberapa kali menelan Silva nya. Rasa ketakutan kini mulai menyelimuti hatinya namun ia harus melakukan hal itu demi menyelamatkan suaminya. Airin membulatkan tekadnya untuk melakukan hal itu demi suaminya.


Beberapa kali Airin menghela napas berat nya.


"Baiklah Damar aku siap" Ujar Airin mantap.


"Baik lah mari kita mulai. Ingat lah apa pun yang terjadi, kamu jangan pernah berhenti membaca mantra ini" Ulang Damar lagi


Airin mengangguk mengerti. Damar pun menyalakan lilin-lilin kecil di sekitar tempat tidur nya raja Syam. Mantan kekasih Airin itu terlihat sedang membaca mantra yang entah mantra apa kemudian ia langsung melempar bola kecil yang dipegangnya tadi keluar kamar.


"Sekarang silahkan kamu pergi untuk mengambil bola tadi" Perintah Damar lagi.


Seketika suasana istana menjadi sangat mencengkam. Lampu-lampu yang ada mulai memancarkan cahaya nya yang redup. Bahkan sekali lampu-lampu tersebut hidup mati dengan sendirinya. Tentu saja Airin semakin merasa ketakutan di hatinya. Ia melangkah dengan hati-hati dan takut. Mata nya melirik ke sana kemari mencari bola yang di lempar oleh Damar sedangkan mulut nya sibuk membaca mantra yang tertulis di carik kertas itu


Damar duduk santai di kursi yang berada di dalam kamar nya Airin. Ia tersenyum penuh dengan kepuasan melihat kehancuran Airin saat ini. Ia membuka selembar kertas berwarna merah yang di bawa nya tadi. Dengan santai ia mencoret kertas tersebut dengan pena.


Hal itu bertujuan agar bola yang di lempar nya tadi menggelinding sesuai dengan kemauan nya.


"Na....na.....na..la...la...la..." Ujar nya menarik satu garis lurus di atas kertas tadi yang membuat bola kecil itu menggelinding pelan melalui Airin.


Airin kaget melihat bola itu menggelinding dengan sendirinya. Lagi-lagi rasa ketakutan mulai menyelimuti hati nya. Namun ia berusaha untuk menepis rasa takut itu demi menyelamatkan suaminya.


Airin mendekati bola itu dengan langkah hati-hati. Saat ia merasa sudah begitu dekat dengan bola itu, ia pun mencoba untuk meraih nya. Lagi-lagi Damar membuat garis di kertas itu hingga bola itu pun kembali menggelinding menjauh dari Airin.


"Tidak semudah itu Airin, tidak semuda itu kamu mendapatkan bola itu. Permainan nanti tidak akan seru jika urusan mu di permudah" Ujar Damar dengan senyum kepuasan.


Airin kembali memasang mata nya baik-baik untuk mencari bola tersebut. Dari balik samar-samar bayangan lampu ia melihat ada sosok hitam melintasi nya. Sontak wanita yang memiliki darah campuran itu kaget setengah mati.


Ia pun semakin kuat dan laju membaca mantra yang di berikan oleh Damar itu untuk menghilangkan rasa takut di hati nya.


Tak ..tak...tak...


Terdengar suara pantulan bola menuruni anak tangga. Airin mengejar bola itu sambil menuruni anak tangga. Ia berlari mencari keberadaan bola itu lagi Hingga bola itu ia temui di bawa meja makan istana.


Kembali Airin mendekati dan menunduk untuk mengambil bola tersebut. Sontak ia melihat dari kursi sebrang meja ada seseorang yang duduk di hadapan nya. Airin kembali menelan silva nya. Semakin takut dan semakin takut lah hati nya saat itu. Ia menutup mata dan membaca mantra yang di berikan oleh Damar tadi. Beberapa saat kemudian ia kembali membuka mata dan ternyata sosok itu sudah tidak berada di sana.


Airin mencoba meraih bola itu. Kini bola tersebut berhasil di dapatkan nya. Airin kembali menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat di mana kamarnya berada. Namun setelah tiba di lantai dua, Airin tersandung dan terjatuh ke lantai membuat jidat nya terbentur hingga berdarah. Bola yang di pegang nya tadi pun terlepas dan kembali bergulir menjauhi nya.


Dengan masih merasa sakit dan pusing di kepala nya, Airin mencoba bangkit dan kembali mengambil bola tersebut. Dan seperti biasa Damar tidak membiarkan Airin mendapatkan bola itu secara mudah. Airin mencoba melirik jam di tangan nya untuk mencari tahu berapa lama waktu yang tersisa. Ternyata wanita itu memiliki waktu tersisa hanya setengah jam.


"Selamat bersenang-senang Airin. Selamat bersenang-senang dengan bola yang ku berikan kepada mu" Ujar Damar dengan rasa puas di hati nya.


Yah seperti janji nya untuk membalas semua rasa sakit hati ini kepada Airin. Ia sudah lama menunggu saat-saat ini.


Tiba-tiba lampu yang tadi nya redup dan mati kini kembali menyala. Airin kaget melihat perubahan suasana itu.


"Permaisuri ku" Terdengar dari arah kamar suara yang sangat tidak asing bagi wanita itu. Airin berbalik dan melihat siapa yang menegur nya tadi.


Ternyata raja Syam berdiri di pintu kamar. Ia terlihat sudah sembuh dari kutukan itu. Senyum kegembiraan terpancar dari bibir wanita itu. Airin berlari mendekati suaminya itu dan memeluk suaminya dengan penuh rasa kerinduan di hati.


"Syukurlah raja Syam kamu sudah sembuh. Aku sangat senang melihat mu sembuh seperti ini. Aku sangat merindukan mu sayang" Ujar Airin dengan air mata haru meleleh di pipi nya.


"Iya aku juga bahagia karena bisa bersama mu" Ujar raja Syam namun bersuara lain, suara yang sangat mengerikan.


Airin kaget dan melepaskan pelukan nya. Kini wanita itu membulatkan mata nya melihat orang yang di peluk nya berubah menjadi sosok yang mengerikan.

__ADS_1


Teng....teng.....teng....


Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam. Waktu yang di berikan oleh Damar kini telah selesai. Airin menangis karena ia gagal melakukan tugasnya untuk menyelamatkan suaminya itu.


__ADS_2