
Airin masih ragu dan belum yakin apakah dia mampu menjadi seorang ksatria seperti yang di harapkan oleh sang ayahanda nya si raja Agung. Secara dia selama ini tidak pernah belajar bela diri sama sekali.
"Ksatria sesungguhnya bukan lah dari kekuatan fisik tuan putri Airin. Tapi dari ketulusan hati yang mau membantu sesama. Itu adalah ksatria sesungguhnya. Tuan putri sudah melakukan itu selama ini. Ketulusan hati tuan putro yang ikhlas membantu orang yang sedang kesusahan itu lah yang sangat sulit di temukan di dalam dunia ini" Jelas Damar meyakinkan kan gadis itu.
Airin tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh Damar tadi.
"Jangan memanggil ku dengan sebutan tuan putri. Panggil saja aku dengan sebutan nama seperti selama ini kamu memanggil ku" Ujar Airin.
"Tapi saya merasa kurang pantas jika hanya menyebut dengan nama saja" Ujar Damar keberatan.
"Tidak mengapa. Jika kita berdua seperti ini, panggil saja aku dengan sebutan nama" Titah Airin lagi.
"Baiklah jika begitu"
"Oh ya untuk masalah menjadi ksatria, kamu tidak perlu takut atau ragu Airin. Ramalan itu sudah menjelaskan hanya kamu yang bisa mengalahkan pemimpin Orx. Itu arti nya kamu pasti menang dalam pertarungan itu" Jelas Damar lagi.
"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa mengalahkan nya. Bagaimana aku bukan seperti apa yang di ramalkan itu"
"Ramalan tidak pernah salah Airin. Tujuh belas tahun kami menunggu kepulangan mu yang kelak akan menjadi ksatria dalam mengalahkan bangsa Orx. Kamu pasti bisa. Aku akan mengajarkan mu menjadi seorang ksatria" Ujar Damar.
"Aku tidak tahu Damar. Aku masih ragu dan belum yakin dengan semua ini" Ujar Airin lagi masih menatap ke depan penuh dengan keraguan di hati nya.
Matahari telah bersembunyi di balik awan. Gelap pun mulai datang menyelimuti negeri Bunian itu. Sang raja Agung telah menyiapkan pesta untuk menyambut kepulangan putri nya itu. Yah pesta itu memang di khusus kan untuk kedatangan Biduri alias Airin di negeri asal nya.
Tampak pernak pernik lampu hias berkelap kelip menghiasai taman istana yang megah itu. Berbagai makanan dan juga minuman turut serta tertata rapi di atas meja untuk di santap oleh tamu-tamu yang datang nanti nya. Para penari persembahan untuk menyambut kedatangan Airin pun telah siap untuk menampilkan tarian terbaik mereka. Sungguh cara ini tampak meriah di malam ini.
Tok... Tok... Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Airin. Airin yang tidak tahu akan di adakan pesta penyambutan kedatangannya tampak bersantai di atas kasur yang besar di dalam kamarnya.
"Tuan putri" Ujar salah satu dayang yang di tugas kan untuk mempersiapkan Airin dan mengajak nya pergi ke pesta yang telah di siapkan itu.
"Iya, masuk saja. Gak apa-apa" Ujar Airin masih dengan posisi berbaring di kasur nya.
Dayang tadi pun masuk ke dalam kamar tuan putri nya itu.
"Ya ampun tuan putri. Kenapa masih bersantai seperti ini. Ayo bersiap-siap! Sebentar lagi acara nya akan di mulai lo" Ujar dayang tadi.
"Acara? Acara apa sih dayang? Aku tidak mengerti" Ucap nya heran.
"Lo tuan putri, apa tidak tahu bahwa malam ini akan di adakan pesta penyambutan kedatangan tuan putri di negeri ini. Yang mulia raja telah mempersiapkan segalanya untuk kepulangan tuan putri" Jelas dayang tadi lagi.
"Ha? Pesta menyambut kedatang ku? Kapan pesta itu di siapkan?" Tanya nya lagi. Yah setahu Airin ia tidak melihat sama sekali ada nya persiapan pesta tadi.
"Ya ampun tuan putri. Jika sang raja mau, dalam waktu sekejap semua nya sudah di persiapkan dengan singkat" Jelas dayang itu lagi.
Yah nama nya juga raja. Ia bisa memerintahkan seluruh pengawal dan dayang-dayang untuk mempersiapkan segalanya dengan cepat. Jadi tidak perlu menunggu waktu lama untuk mempersiapkan segalanya.
__ADS_1
"Ayo tuan putri. Saya bantu untuk bersiap-siap. Nanti kita bisa terlambat" Pinta dayang itu lagi.
Airin yang masih bingung pun hanya bisa menuruti kemauan sang dayang nya itu. Ia duduk dumi meja hias untuk di hiasi oleh dayang tadi. Dan tak lupa sebelum itu ia di minta mengenakan gaun kembang berwarna biru muda selayaknya gaun para putri raja yang berada di negeri dongeng itu. Gaun kembang dengan panjang menutupi mata kaki dengan lengan yang panjang juga. Hell setinggi lima senti pun turut menghiasi kaki nya di malam itu. Mahkota kecil menjadi pelengkap penampilan nya di malam itu. Sungguh Airin semakin cantik dan anggun saat berpakaian seperti itu. Jiwa kebangsawanan nya pun terpancar sempurna di diri nya.
"Ya ampun tuan putri, tuan putri kelihatan sangat cantik dan anggun. Pasti semua mata akan terpana melihat kecantikan tuan putri nanti nya" Ujar dayang tadi setelah selesai mendadani Airin.
"Kamu bisa aja dayang. Aku jadi malu" Ujar nya tersipu malu.
"Benar lo tuan putri. Tuan putri sangat cantik"
"Terima kasih atas pujian nya" Ucap Airin tersenyum ramah.
"Ya sudah, ayo tuan putri, sebentar lagi acara nya akan di mulai" Ajak dayang tadi. Airin dan dayang nya itu pergi ke halaman istana untuk menghadiri pesta yang du adakan sang raja untuk menyambut kepulangan nya.
***
"Terima kasih kepada para rakyat ku yang sudah hadir di acara yang sangat istimewa ini. Di mana acara ini saya adakan untuk menyambut kedatangan putri Biduri yang telah kita nanti-nanti kehadiran nya selama ini" Ucap sang raja Agung memberikan kata sambutan kepada rakyat nya yang hadir di acara nya itu.
"Kembali nya putri Biduri ini sangat kita harap kan untuk menjadi penyelamat kita. Sesuai dengan yang telah di ramalkan selama ini. Hanya putri Biduri lah yang bisa menyelamatkan negeri kita ini dan bisa mengalahkan pemimpin bangsa Orx. Karena itu kita harus mendukung putri Biduri sebagai ksatria. Mari kita sambut bersama-sama putri ku Biduri" Ujar raja Agung memanggil putri semata wayang nya untuk hadir di tengah-tengah acara mereka.
Mendengar nama nya di panggil, putri Biduri alias Airin pun keluar dari pintu istana yang megah itu menuju taman istana nya. Sungguh seperti apa yang di katakan oleh dayang tadi. Semua mata yang tertuju kepada nya. Semua orang yang hadir terpesona dengan kecantikan putri Biduri itu. Keanggunan dan kecantikan yang alami, aura kebangsawanan nya pun muncul saat itu.
Airin berjalan berlenggang lenggok menuju Baginda raja. Dengan senyuman ramah ia pancarkan ke semua orang yang di lalui nya. Sungguh mata mereka tidak bisa lepas dari wajah anggun airin saat itu.
Ia benar-benar layak menjadi seorang putri raja karena paras nya yang begitu sempurna.
"Ayahanda" Ujar Airin memberi hormat kepada ayah kandung nya.
Para hadirin dan rakyat yang hadir pun memberi tepukan dan sorak meriah menyambut kehadiran putri Biduri itu.
"Hidup tuan putri"
"Hidup tuan putri" Ujar semua yang hadir dengan penuh semangat yang menggebu-gebu.
Airin yang melihat semangat dan kepercayaan rakyat nya kepada nya itu semakin terharu. Yah bagaimana ia tidak terharu secara rakyat nya begitu percaya kepada nya yang bisa memberikan harapan untuk mengalahkan pemimpin bangsa Orx.
"Ya ampun, mereka begitu memberikan harapan yang begitu besar terhadap ku. Mereka begitu percaya bahwa aku bisa mengalahkan pimpinan bangsa Orx itu. Bagaimana bisa aku mengecewakan mereka yang telah berharap banyak kepada ku" Batin Airin dengan rasa haru di hati nya.
Ia melihat semua wajah-wajah rakyat nya yang hadir di sana dengan senyuman yang merekah di bibir mereka masing-masing. Ia sangat tersentuh melihat itu. Bagaimana bisa ia mengatakan tidak dan menghancurkan harapan mereka para rakyat yang sangat berharap banyak kepada nya itu.
"Aku tidak bisa menghancurkan harapan mereka. Aku akan berusaha semampu ku untuk membantu para rakyat ku ini agar mereka terbebas dari bangsa Orx yang selalu menganggu kedamaian negeri ini" Batin Airin dengan mantap.
"Terima kasih kepada kalian yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan kepada ku sebagai seorang ksatria. Sesungguhnya aku belum mempunyai pengalaman dalam menjadi seorang ksatria. Tapi aku berjanji aku akan belajar dan berusaha agar bisa mengalahkan bangsa Orx itu dan membuat bangsa ini terbebas dari teror-teror yang mengerikan itu" Ujar Airin memberikan sepatah dua patah kata.
"Hidup tuan putri"
"Hidup tuan putri" Lagi-lagi sorak sorai suara dari rakyat negeri itu memberikan semangat kepada sang putri mereka. Airin tersenyum senang mendengar sorak sorai dari rakyat nya itu.
__ADS_1
***
"Kamu terlihat cantik malam ini" Puji Damar yang tiba-tiba dari belakang.
"Damar, ngagetin aja" Ujar Airin kaget.
"Maaf jika aku mengagetkan kamu. Tapi beneran, kamu memang sangat cantik malam ini. Aura kebangsawanan mu terpancar. Kamu memang pantas menjadi seorang putri" Ujar Damar lagi.
"Kamu bisa aja deh Damar. Jangan terlalu memuji ku seperti itu. Nanti aku nya melayang lo" Ujar Airin sedikit bercanda.
Damar hanya tersenyum manis mendengar ucapan Airin barusan. Tanpa sengaja keduanya saling bertatap muka. Ke dua mata mereka saling beradu pandang. Kembali timbul getaran getaran halus di hati keduanya. Perasaan yang sulit diartikan oleh diri mereka masing-masing di mana mereka tidak pernah merasakan getaran ini sebelumnya.
Jantung keduanya berdegup cepat seperti baru selesai Marathon sepuluh kilo meter. Hati dan perasaan keduanya tidak karuan.
"Ya ampun perasaan ini lagi. Kini kembali muncul di hati ini" Resah Airin merasa salah tingkah.
"Hmm.... " Damar mencoba untuk mencari bahan pembicaraan mereka agar mereka tidak terlihat kaku.
"Oh ya, aku merasa bangga kepada kamu, karena pada akhirnya kamu setuju untuk menjadi seorang Ksatria dan mau menolong negeri ini dari bangsa Orx" Ujar Damar mengubah topik pembicaraan agar perasaannya yang sedang tidak karuan tidak terlihat oleh gadis yang ada di hadapannya itu.
"Iya aku juga tidak tahu mengapa. saat aku melihat wajah-wajah mereka yang sangat percaya dan yakin bahwa aku bisa mengalahkan pemimpin Orx itu, aku menjadi tidak tega untuk menolah permintaan mereka. Aku harus bisa mengalahkan bangsa itu dengan negeri ini. Mereka para rakyat ku telah menaruh harapan yang begitu besar kepada ku" Ujar Airin menatap lurus ke depan melihat para rakyat nya itu.
"Lihat lah wajah-wajah yang penuh dengan keceriaan dan harapan itu. Aku tidak mau wajah-wajah ceria ini hilang nanti nya. Aku harus berusaha berlatih agar bisa mengalahkan bangsa Orx" Ujar Airin dengan mantap.
Damar tersenyum senang dan bangga mendengar keyakinan yang di katakan oleh Airin itu. Laki-laki itu semakin kagum dan terpesona terhadap gadis yang ada di hadapannya itu. Namun, rasa yang ia miliki saat ini hanya bisa di pendam di dalam hati nya. Secara Airin dan dirinya sangat berbeda jauh. Di mana Airin adalah seorang putri raja sedangkan dia hanyalah seorang prajurit yang bertugas untuk menjaga dan melindungi kerajaan ini. Bagaimana bisa seorang prajurit bersatu dengan seorang putri raja. Jelas darah ke bangsawan keturunan raja akan hilang. Secara Airin adalah seorang gadis, jika ia seorang laki-laki garis keturunan kebangsawanannya tidak hilang karena keturunan itu berasal dari laki-laki.
Yah begitu lah nasib cinta Damar dan Airin. Yang hanya bisa memendam perasaan tidak bisa di ungkapkan. Karena Damar tahu status nya seperti apa. Dan pasti sang raha akan menentang dengan keras hubungan mereka.
"Damar, kapan kita mulai berlatih?" Tanya Airin penuh dengan semangat.
"Kamu semangat sekali untuk berlatih nya" Ujar Damar tersenyum senang melihat semangat Airin yang menggebu-gebu saat itu.
"Iya, aku harus mempersiapkan segalanya dengan sesegera mungkin karena aku tidak mau ketika gerhana bulan itu tiba aku tidak mempunyai cukup kekuatan untuk mengalahkan bangsa Orx" Ujar Airin.
"Iya kamu benar. Kita harus mengumpulkan tenaga agar bisa mengalahkan mereka. Kita juga harus mengumpulkan pasukan agar kita bisa membantu kita untuk berperang"
"Airin, Damar" Tegur raja Agung menghampiri kedua insan yang berlainan jenis kelamin itu.
"Ayahanda"
"Yang mulia" Ujar Damar memberi hormat.
"Seperti nya kalian ngomong serius sekali"
"Iya yang mulia. Tuan putri Biduri sangat bersemangat untuk memulai latihan besok" Ujar Damar tersenyum senang kepada ayah dan anak itu.
"Benar itu Ananda? Sungguh ayahanda merasa senang sekali mendengar kabar baik ini" Ujar sang raja.
__ADS_1
"Iya ayahanda. Aku merasa sangat bersemangat karena telah di berikan kepercayaan dan dukungan dari rakyat ini. Sungguh mereka lah menjadi penyemangatku saat ini dan aku tidak mungkin mengecewakan mereka yang telah memberikan harapan yang begitu besar terhadap ku" Jelas Airin lagi.
Sang raja Agung tersenyum penuh kebanggaan terhadap putri satu-satunya itu. Sungguh sifat sang putrinya mencerminkan sifat ibunya terdahulu yang rela berkorban demi menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi. Hati yang tulus dan baik nya itu lah yang membuat Raja Agung jatuh cinta kepada wanita yang telah melahirkan Airin saat itu.