Biduri Gadis Bunian

Biduri Gadis Bunian
Bab 34


__ADS_3

Saat Airin bersama Damar pergi berkunjung ke dunia manusia untuk melihat bapak angkatnya Airin yang sedang sakit saat itu, mereka telah diserang oleh bangsa Orx. pada awalnya Damar berhasil mengalahkan ketiga bangsa Orx itu dengan tebasan maut nya. Namun di saat ia lengah, ia tidak menyadari bahwa ada satu lagi bangsa orx yang bersembunyi di balik pohon dan menyerangnya dengan cara memanah sehingga anak-anak itu tertancap di bahu kanannya. Melihat hal itu Airin pun langsung melempar belati yang selalu ia bawa di bajunya ke salah satu bangsa Orx yang menyerang Damar tadi.


Airin dan Damar pun memutuskan untuk kembali ke dunia Bunian agar bisa mengobati Damar yang sedang terluka dengan tabib istana.


Airin menangis melihat kondisi Damar yang sudah tidak berdaya itu. Di mana racun yang ada di anak panah itu sudah menyebar di seluruh tubuh Damar. Untung saja tabib istana bisa mengeluarkan racun itu dengan memberikan Damar ramuan yang ia buat sendiri. Akibatnya Damar pun mengeluarkan muntah darah yang bercampur lendir berwarna hijau yang merupakan racun yang menyebar di tubuh nya tadi.


"Biarkan dia beristirahat. Dan kalian jangan khawatir, dia akan baik-baik saja karena racun nya sudah keluar" Ucap tabib istana itu lagi dan berpamitan pergi.


***


"Uhuk... Uhuk... " Damar terbangun dari tidur nya. Laki-laki itu batuk karena tenggorokan nya terasa gatal.


"Damar, kamu sudah sadar?" Ujar Airin menghampiri kekasih nya itu dengan membawa bubur di tangan nya. Raut wajah kesedihan yang tadi ditampilkan oleh gadis itu kini berubah menjadi senyuman yang sangat manis saat melihat kekasihnya sadar dari tidur nya.


Airin langsung laki-laki itu dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Ia sangat bahagia saat ini melihat Damar baik-baik saja. Sungguh ia tidak bisa membayangkan Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada laki-laki itu. Hatinya pasti terasa hancur, semangat hidupnya pun akan berkurang karena telah kehilangan laki-laki yang ia cintai.


"Damar, aku senang sekali melihat kamu baik-baik saja seperti ini" Ujar Airin terus memeluk laki-laki itu beberapa air bening pun kini mengalir di pipinya. Gadis itu menangis tapi bukan menangis karena kesedihan, melainkan menangis karena kebahagiaan melihat kekasihnya telah siuman.


"Aku baik-baik saja Airin. Bukan kah aku sudah berjanji akan baik-baik saja demi kamu. Dan aku akan bertahan demi cintaku kepadamu" Ujar Damar membalas pelukan gadis itu. Prajurit itu pun menghapus air mata Airin yang telah membasahi pipi yang mulus dan putih itu.


"Terima kasih Damar, terima kasih karena telah baik-baik saja" Ujar Airin lagi.


"Oh ya, ini aku bawakan bubur untuk mu" Ucap Airin melepaskan pelukan mereka dan mengambil bubur yang ada di nakas yang berada di samping tempat tidur Damar.


"Aku suapi ya" Tawar Airin lagi.


Damar hanya mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Airin tadi. Airin pun menyodorkan sesuatu demi sesuap bubur ke dalam mulutnya Damar. Damar pun memakan bubur itu dengan perasaan yang bahagia. Sungguh ia tidak mau waktu cepat berlalu saat mereka seperti ini.


"Ternyata enak juga ya sakit. Bisa selalu di manja sama kamu" Canda Damar.


"Jadi kamu mau terus-terusan sakit seperti ini?" Airin menatap Damar dengan kesal.


"Jika sakit bisa di manjain terus sama kamu" Jawab Damar seenak nya.


Airin semakin kesal namun senang juga saat Damar telah bisa bercanda seperti itu kepada nya.


"Kamu ini ya, jika sakit terus aku jadi khawatir seperti ini. Emang kamu suka melihat aku sedih seperti ini?" Ujar Airin kesal sambil memukul bahu Damar yang terluka.


"Aduh" Rintih Damar memegang bahu nya yang kembali terasa sakit karena telah dipukul oleh Airin tadi.


Melihat Damar merintih kesakitan Airin pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sungguh ia tidak sengaja melakukan hal itu terhadap Damar. Itu hanya tindakan reflek nya saja.


"Maaf, maaf ya Damar. Aku gak sengaja" Ucap Airin merasa bersalah.


"Sebenar nya aku tidak mau membuat mu sedih Airin. Maaf kan aku ya yang telah membuat mu khawatir terhadapku" Ucap Damar.


Airin hanya menjawab ucapan Damar tadi dengan tersenyum dan kembali menyodorkan sesuatu bubur ke dalam mulutnya Damar. Saat Airin melihat bubur yang ia sendok, Damar pun mencolek bahu Airin.


"Kenapa?" Tanya Airin.


"Sakit" Ujar Damar dengan manja nya sambil menurut lagu yang terluka itu.


"Bukan kah sudah di obati?" Ujar Airin dengan polos nya.


"Tapi kan sakit kembali karena kamu pukul tadi"

__ADS_1


Airin melihat kiri kanan dan juga pintu kamar Damar apakah ada yang melihat mereka di sana. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar mereka,


Cup...


Satu kecupan hangat berhasil mendarat di pipinya Damar. Mendapat ciuman dari gadis yang ia cintai, Damar pun tersenyum bahagia. Dia tidak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan kecupan hangat dari gadis impiannya itu.


"Sudah sembuh" Tanya Airin.


"Sudah kok, sudah mendingan. Tapi, pipi di sebelah sini tiba-tiba juga terasa sakit" Ucap Damar lagi.


"Itu sih mau nya kamu ya" Airin mencubit pinggang Damar. Damar kembali merintih kesakitan karena di cubit manja oleh gadis yang ada bersama nya itu.


***


"Bagaimana keadaan Damar? Apa dia sudah sadar?" Tanya raja Agung saat melihat putri nya yang sedang berlatih sendirian di halaman belakang istana.


"Ayahanda" Ujar Airin menghentikan latihannya dan memberi hormat kepada ayah kandungnya itu.


"Damar sudah siuman kok Ayahanda. Seperti nya dia semakin membaik saat ini" Jawab Airin.


"Bagus lah jika begitu. Ayahanda juga ingin menjenguk nya tadi. Hanya saja raja Sulaiman datang berkunjung tadi di istana kita"


"Raja Sulaiman? Apa pangeran Syam juga ada?" Tanya Airin terlihat kaget dengan kedatangan raja dari seberang itu. Gadis itu bukan mengharapkan kedatangan pangeran Syam untuk menemuinya di istananya itu. Melainkan sebaliknya gadis itu tidak ingin bertemu dengan pangeran tersebut karena jika ia bertemu dengan pangeran itu maka itu akan membuat Damar menjadi cemburu. Hal itu justru menjadi tidak baik untuk Damar karena akan mengganggu proses penyembuhannya nanti karena terlalu memikirkan rasa sakit di hatinya akibat rasa cemburu.


"Wah, ternyata Biduri menanyakan tentang kedatangan pangeran Syam di istana ini. Itu berarti Biduri memang mengharapkan pangeran Syam. Jadi rencanaku dan juga raja Sulaiman untuk menjodohkan mereka tidak salah. Ternyata mereka sama-sama suka satu sama lain" Batin raja Agung berpikir bahwa Airin juga menyukai pangeran Syam.


"Pangeran Syam tidak datang tadi nak. Hanya raja Sulaiman yang datang dengan beberapa pasukan terbaiknya agar pasukan tersebut bisa tinggal di istana ini dan berlatih di sini hingga peperangan itu berakhir nantinya" Jelas raja Agung.


Airin menghela nafas leganya karena mendengar penjelasan dari ayahnya itu di mana pangeran Syam tidak ikut bersama raja Sulaiman datang ke istananya.


"Yah mereka sudah tiba. Semoga saja dengan bertambahnya pasukan kita ini akan membuat kita semakin kuat melawan bangsa Orx" Harap sang raja Agung.


***


"Jadi kamu berlatih sendirian?" Tanya Damar saat Airin mengunjungi nya di kamar.


"Yah, aku berlatih sendirian. Dan aku pastikan kamu pasti akan kalah nantinya melawanku setelah kamu sembuh nanti" Ucap Airin dengan penuh percaya diri.


"Berarti kamu semakin ada kemajuan dong"


"Yah benar. Para pengawal istana bisa ku lumpuhkan"


"Waw aku merasa bangga kepada mu" Puji Damar. Airin tersenyum senang mendengar pujian dari kekasih nya itu.


"Oh ya, pasukan dari kerjaan raja Sulaiman sudah tiba di istana. Mereka akan tinggal di sini dan berlatih hingga peperangan itu berakhir" Jelas Airin.


"Terus apa pangeran Syam juga hadir?"


"Tidak sih,. tadi hanya raja Sulaiman saja yang mengantarkan pasukan nya"


"Syukurlah" Ucap Damar menghela napas lega nya.


***


"Jadi mereka mendapatkan bantuan dari kerajaan Bunga Teratai?" Ujar mantap penyihir dari negeri Bunian itu yang kini telah menjadi pemimpin bangsa Orx itu kepada mata-mata nya yang memang di tugas kan untuk melihat perkembangan di kerajaan musuh nya.

__ADS_1


"Iya tuan ku dan saat ini pasukan itu telah tiba di istana untuk tinggal dan berlatih di istana itu hingga peperangan berakhir"


"Itu berarti, pasukan mereka akan semakin banyak. Sekarang perintahkan kepada anak buah mu untuk membuat lebih banyak lagi pasukan. Meski pasukan yang baru ini tidaklah terlalu kuat namun bisa membantu kita untuk melawan mereka" Pinta pemimpin itu lagi.


"Baik tuan ku,. akan aku buat perintah kan mereka untuk melaksanakan tugas dari tuanku secepatnya" Ujar mata-mata tadi langsung melaksanakan tugas nya.


"Kurang ajar kamu Agung, ternyata kamu menjalin kerja sama dengan kerajaan Bunga Teratai. Kenapa aku tidak mendapatkan informasi tentang ini ya?" Ujar nya lagi.


"Kita lihat saja, meski kamu telah mendapatkan bala bantuan namun aku yakin pasukanku bisa mengalahkan pasukan kamu dengan sangat mudah" Ucap pemimpin tadi dengan penuh percaya diri dan tertawa lepas.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagian. Agung. Akan ku pastikan kamu menyesal karena telah melukai hati ku"


***


"Ayahanda kenapa tidak bilang jika pergi berkunjung ke kerajaan raja Agung. Aku bisa bertemu dengan Biduri di sana" Ujar pangeran Syam yang merasa kecewa terhadap ayahnya karena tidak mengatakan kepadanya bahwa pergi ke kerajaan Airin.


"Bukan kah tadi kamu mengadakan pertemuan dengan kerajaan Sri Lanka. Dan pertemuan itu sangat penting untuk kerajaan kita. Jadi ayahanda tidak mau mengatakan hal itu kepadamu agar pertemuan dengan kedua kerajaan kita bisa berjalan dengan baik" Jelas raja Sulaiman lagi.


"Tapi ayahanda, bukan kah ayahanda tahu sendiri bahwa aku sangat mencintai Biduri"


"Iya ayahanda tahu. Kamu mencintai gadis itu.. Lain kali, jika ada kesempatan kamu boleh pergi menemui nya dan biarkan ayahanda yang akan mengadakan pertemuan dengan kerajaan-kerajaan yang akan mengadakan kerjasama dengan kita" Jelas raja Sulaiman lagi.


"Baik lah ayahanda, Oh ya aku mau meminta izin kepada ayahanda untuk ikut berperang nanti nya melawan musuh yang menyerang kerajaan raja Agung. Aku tidak mungkin tinggal diam saat melihat gadis yang ku cintai bertempur melawan musuh nya. Aku ingin membantu juga" Ujar pangeran Syam menyampaikan niat nya kepada raja Sulaiman.


"Baik lah jika itu yang menjadi keputusan kamu. Ayahanda hanya bisa mendukung apa yang terbaik untukmu"


"Terima kasih ayahanda Aku sangat berharap peperangan ini cepat selesai dan kita mendapatkan kemenangan sehingga aku bisa mempersunting Biduri secepatnya menjadi istriku. Aku tidak bisa menahan perasaan cinta itu lagi terlalu lama"


"Jika kamu tidak bisa menahannya, kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaanmu saja secara langsung kepada gadis itu. Kenapa harus menunggu hingga peperangan ini berakhir"


"Bukankah sudah ku jelaskan bahwa aku tidak mau membuat raja Agung berpikir yang bukan-bukan terhadapku. Karena saat ini mereka sibuk mempersiapkan peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Aku akan bersabar ayahanda. Bersabar saat waktu yang indah itu tiba"


***


Hari telah berganti, dan malam kini telah berganti menjadi siang. Airin kembali menghampiri Damar di kamarnya dengan membawa sop sayur yang hangat untuk laki-laki itu sebagai sarapannya.


"Selamat pagi prajurit yang telah berhasil melumpuhkan hatiku" Sapa Airin kepada Damar.


Damar yang memang sedari tadi sudah bangun dari tidurnya dan duduk di kasur nya itu tersenyum menyambut kedatangan gadis yang memiliki darah campuran itu.


"Selamat pagi putri mahkota impian ku" Sambut nya.


"Bagaimana keadaanmu di pagi ini apa merasa semakin baik" Ujar Airin sambil melangkah mendekati Damar.


"Seperti yang kamu lihat saat ini, aku semakin baik dan merasa semakin sehat. Terlebih aku dirawat dengan baik oleh gadis impianku" Puji Damar lagi.


Airin tersipu malu mendengar ujian dari prajurit terbaik istana itu.


"Bisa aja gombal nya. Ayo sarapan dulu. Aku suapin" Ucap Airin lagi dengan menyodorkan sesuatu demi sesuap sayur yang ia bawa tadi ke mulutnya Damar. Yah semenjak Damar sakit Airin terus saja dengan setia menemani dan berkunjung ke kamar Damar untuk melihat keadaan laki-laki itu. Ia pun dengan setia merawat laki-laki itu dengan baik. Dan juga ia pun selalu membawa makanan dan menyuapi Damar dengan penuh kasih sayang. Untung saja raja Agung tidak melarangnya untuk terus-terusan berada bersama Damar dan merawat laki-laki itu dengan baik karena raja Agung merasa berhutang nyawa kepada Damar yang telah menyelamatkan putri nya.


Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak merasa curiga dengan kedekatan mereka berdua saat ini. Ia hanya berpikir bahwa Airin merasa telah berhutang nyawa kepada Damar yang telah menyelamatkannya. Sehingga gadis itu memutuskan untuk merawat Damar dengan baik sebagai ungkapan terima kasih kepada laki-laki itu yang telah menyelamatkan nyawanya.


Setelah selesai menyantap sarapan paginya tabib istana datang untuk memeriksa keadaan Damar. tabib tadi pun memeriksa denyut nadi yang ada di tangan Damar agar dapat memastikan keadaan laki-laki itu.


"Syukurlah, sepertinya kamu semakin membaik. Itu bisa kurasakan dari denyut nadimu yang sudah mulai normal kembali" Jelas tabib itu lagi.

__ADS_1


mendengar penjelasan dari tabib itu pun membuat Damar dan Airin tersenyum senang.


__ADS_2