
Damar memberikan Airin waktu untuk menyelamatkan raja Syam. Dimana Airin harus mengambil bola yang dilempar oleh Damar tadi keluar kamar sebelum pukul dua belas malam. Ini merupakan salah satu ritual yang harus Airin lakukan untuk menyelamatkan suaminya.
Namun, di saat-saat terakhir Airin melihat suaminya berdiri di ambang pintu kamar. Wanita itu pun langsung berlari memeluk suaminya itu dengan penuh haru.
Secara tiba-tiba sosok yang ia peluk tadi berubah menjadi bayangan yang sangat menyeramkan membuatnya kaget setengah mati dan berlari untuk menyelamatkan diri dari sosok yang mengerikan itu.
Sosok emang gak di kan itu berupa bayangan hitam dengan wajah yang hancur. Ia mencoba untuk menggapai Airin. Namun ketika tangannya hampir mendapatkan Airin, Damar datang dengan membaca mantra-mantra untuk mengusir roh tersebut.
Airin yang masih menutup wajahnya karena ketakutan itu pun menangis. Damar mendekati wanita itu dengan langkah hati-hati.
"Airin, Airin, buka matamu! Ia sudah pergi. Ini aku Damar" Ujar Damar.
Airin membuka wajah nya yang ditutupi oleh kedua tangannya tadi. Dengan wajah yang ketakutan dan dipenuhi dengan air mata, wanita itu memeluk mantan kekasihnya itu sambil menangis terisak-isak.
Damar terhenyak mendapat pelukan dari wanita yang pernah mengisi hari-harinya yang suram. Sejujurnya rasa rindu di hatinya kini masih ada untuk wanita itu walau hanya setetes saja. Namun, rasa itu ia tepis sejauh mungkin karena mengingat Airin telah mengecewakannya lima tahun yang lalu.
Rasa ingin membalas pelukan dari wanita itu agar wanita itu bisa sedikit tenang, tidak di lakukan nya. Seketika rasa dendam di hatinya kini terasa ketika Airin sudah menikah dengan raja Syam.
"Sudah ayo bangun" Ujar Damar dengan wajah dingin.
"Kamu gagal untuk menyelamatkan suamimu Airin. Waktu yang ku berikan sudah habis" Ujar Damar lagi.
Air mata Airin kembali mengalir karena ucapan Damar tadi. Wanita itu merasa kecewa dan putus asa karena kini ia kembali gagal untuk menyelamatkan suaminya. Keadaan raja Syam semakin memprihatinkan. Di mana kini kulitnya pun terlihat sangat kering dan berjamur karena kutukan itu.
"Apa yang harus aku lakukan lagi? Bagaimana cara nya aku harus menyelamatkan suami ku. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi?" Ujar Airin dengan putus asa menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang telah penuh dengan air mata.
"Sabar lah Airin, suami mu pasti akan baik-baik saja. Kita berdoa saja semoga suamimu bisa bertahan dan kuat dalam menghadapi hal ini" Ujar Damar terdengar memberikan semangat kepada wanita itu.
"Siapa yang sebenar nya begitu tega memberikan kutukan ini kepada suami ku? Apa yang membuat mereka melakukan hal setega ini kepada raja Syam" Ujar Airin dengan suara yang terisak-isak.
Damar menatap Airin dan juga menatap tubuh tidak berdaya raja Syam yang terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya.
Kini laki-laki itu tampak sedang membacakan sebuah mantra yang tidak tahu artinya apa.
"Seperti nya ada orang yang tidak suka melihat keluarga kalian bahagia seperti ini. Ia sengaja untuk menyiksa keluarga kalian dan membuat kalian tersiksa dan hancur secara perlahan" Ujar Damar dengan sangat yakin.
Airin menatap Damar dengan tatapan heran. Ia sama sekali tidak menyangka ada orang yang tidak suka melihat keluarga mereka bahagia seperti itu.
"Siapa Damar? Apa kamu mengetahui siapa yang tega melakukan hal ini?"
Lagi-lagi Damar mencoba untuk mencari tahu siapa yang mengirim kutukan itu terhadap raja Syam. Mantan prajurit terbaik istana itu kembali mengucapkan mantra nya.
"Seperti nya ini dendam lama yang telah membuat nya di permalukan secara tidak adil" Ujar Damar lagi.
"Apa kamu ada mendapatkan sesuatu kiriman yang kamu tidak tahu itu dari siapa?" Tanya Damar kepada Airin.
Airin tanpa berpikir dengan pertanyaan yang diberikan oleh Damar kepada tadi. Siapa yang mempunyai dendam kepadanya yang telah di pendam selama bertahun-tahun dan itu merupakan orang terdekat nya.
Seketika Airin memikirkan seseorang yang pernah membuat masalah kepada nya.. Paman Ali, yah paman Ali pernah membuat masalah kepada nya beberapa tahun lalu. Mungkin saja saat ini dia masih dendam dengan nya hingga ia tega berbuat setega ini kepada Airin dan raja Syam.
__ADS_1
"Yah apa mungkin ini perbuatan paman Ali? Waktu itu aku juga mendapatkan kiriman dari orang terdekat yang aku tidak tahu itu siapa. Yah hanya paman Ali lah yang memiliki masalah dengan ku dan bisa jadi dendam di hati nya belum kelar dan melakukan hal ini kepada kami" Ujar Airin penuh keyakinan.
Mendengar apa yang di katakan oleh Airin tadi Damar pun tersenyum puas. Ia merasa senang karena Airin sama sekali tidak ingat dan menyadari bahwa diri nya lah yang telah di sakiti oleh wanita itu. Dan ia juga merupakan orang terdekat Airin di mana mereka pernah menjalin cinta.
"Mana gelang nya? Aku harus membuang gelang itu di sebuah sungai dengan di bacai mantra-mantra agar kutukan dan roh jahat yang ada pada tubuh raja Syam hilang serta terkunci di sungai itu." Jelas Damar lagi.
Tanpa berpikir panjang, Airin pun mengambil dan memberikan gelang tersebut kepada Damar. Yah wanita itu begitu percaya terhadap mantan kekasih nya itu tampa berpikir sedikit pun yang buruk terhadap nya.
Damar mengambil gelang itu dan menatap nya dengan penuh kepuasan.. Ia memang sangat puas dan senang melihat Airin menderita seperti ini. Air mata wanita itu terus saja mengalir di pipi nya yang putih bersih.
"Besok, aku akan pergi ke sungai untuk melakukan penetralisir roh jahat ini. Dan untuk saat ini gelang ini sebaik nya aku yang pegang. Karena aku takut nanti nya membuat raja Syam semakin parah" Jelas Damar lagi
Airin hanya mengangguk tanda setuju. Ia hanya bisa percaya dan pasrah dengan apa yang di lakukan Damar demi kesembuhan suami yang ia cintai itu.
***
"Hahaha....rasakan itu Airin, rasakan pembalasan ku. Ini semua tidak seberapa di bandingkan rasa sakit dan kekecewaan yang aku alami selama ini" Ujar Damar berkata pada diri nya sendiri dengan tertawa lepas di dalam kamar nya. Dimana Damar di minta untuk menginap di istana untuk mengobati raja Syam
"Kamu telah menghancurkan hati ku. Kamu telah menghancurkan cinta ku. Kamu pantas mendapatkan semua ini" Ujar nya lagi benar-benar merasa puas melihat Airin dan raja Syam tersiksa seperti itu.
Damar menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan hati yang sangat senang. Suara tawanya terus saja bergemuruh di ruangan itu. Ia merasa sangat puas dengan kutukan yang ia pelajari sewaktu di dalam tahanan.
***
Airin menatap tubuh yang tidak berdaya terbaring di atas tempat tidur. Sungguh keadaan raja Syam sangat memperlihatkan. Air mata kesedihan kini kembali mengalir di pipi. Andai saja ia bisa merubah keadaan biarlah ia saja yang berada di posisi raja Syam saat ini. Wanita itu benar-benar tidak tega melihat suaminya tersiksa seperti itu.
"Maafkan aku sayang. Aku telah membuat mu seperti ini. Karena dendam paman Ali kamu yang tersiksa seperti ini sayang. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa seperti ini. Apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkan kamu dari siksaan ini?" Ujar Airin terus menangis.
"Yang mulia, maaf menganggu. Ini saat nya sarapan. Damar sudah menunggu di meja makan" Ujar salah satu Dayang memanggil Airin untuk sarapan bersama Damar.
"Baiklah aku akan turun sebentar lagi"
Dayang tadi itu pun pergi meninggalkan Airin menatap wajah suami dengan tetapan iba.
"Cepat sembuh sayang. Aku di sini menunggu mu. Ingat lah Apapun yang terjadi kepadamu aku akan selalu berada di sisimu" Ucap Airin dengan penuh rasa cinta di hatinya. Ia pun memberi kecupan hangat di dahi suaminya.
***
"Silahkan Damar di makan sarapan nya" Tawar Airin.
"Apa tidak masalah aku duduk bersamamu di meja makan ini?" Tanya Damar.
"Lo, kenapa kamu bertanya seperti itu? Kenapa aku tidak memperbolehkan kamu untuk duduk makan bersamaku di meja ini? Secara kamu adalah tamu istana yang ku undang untuk menyembuhkan raja. Sebagai seorang tuan rumah, sudah sepantasnya aku memperlakukan kamu sebaik mungkin sebagai seorang tamu" Jelas Airin dengan senyuman manis nya.
Deg...
Sontak Damar terdiam melihat senyuman yang dipancarkan oleh Airin kepadanya. Ia begitu merindukan senyuman manis itu yang sudah lama tidak ia lihat.
Senyuman yang mampu membuat hari-harinya menjadi ceria, senyuman yang mampu membuatnya kuat dalam menghadapi apapun. Senyuman yang mampu mengusiknya di saat ia tidur di mana senyuman itu selalu menghantuinya di setiap malam. Tidak bisa dipungkiri rasa cinta itu masih tersisa di hati Damar untuk Airin.
__ADS_1
Tidak bisa ia begitu saja melupakan masa-masa Indah mereka bersama. Banyak memori dan kenangan yang mereka ukir bersama. Namun, kenangan itu hanyalah tinggal kenangan. Di mana mereka tidak akan mungkin bisa bersama karena Airin saat ini telah memiliki kehidupan lain bersama suaminya. Dan Damar hanya bisa menelan pil pahit nya saja.
"Damar, Damar" Tegur Airin membuat Lamunan Damar hilang.
"Eh iya Airin" Jawab nya salah tingkah.
"Di makan dong sarapan nya. Jangan hanya diam" Ujar Airin lagi.
Damar tersenyum dan langsung menyantap sarapan di pagi itu bersama Airin.
"Oh ya, bagaimana keadaan bapak dan ibumu di dunia manusia? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Damar mencoba menguasai suasana hatinya saat ini.
Airin menghela nafas beratnya mendengar pertanyaan dari Damar.
"Bapak dan ibu sudah tidak ada di dunia ini Damar. Mereka telah pergi meninggalkan ku ke alam lain dua tahun yang lalu. Mereka mengalami kecelakaan saat berlayar menuju ke sebuah negeri untuk mengantarkan kain yang di pesan. Kapal mereka tenggelam dan membuat mereka tidak bisa di selamat kan. Semenjak kepergian mereka, Aku tidak pernah lagi kembali ke dunia manusia" Jelas Airin dengan wajah yang sedih.
"Maafkan aku Airin. Aku sama sekali tidak tahu akan kejadian itu yang menimpa bapak dan ibumu. Maaf kan aku telah membuatmu kembali bersedih dan mengingat peristiwa yang menyakitkan itu" Ujar Damar merasa bersalah.
Airin mencoba untuk tenang dan mengukir senyuman di hadapan laki-laki itu. Ia merubah ekspresi wajah nya yang tadi nya sedih kini mulai tersenyum lagi.
"Tidak mengapa Damar. Semua ini sudah takdir hidup ku. Aku harus menerima semua ini dengan lapang dada" Ujar Airin tersenyum.
Damar dan Airin kembali melanjutkan sarapan mereka.
***
"Baik lah Airin aku harus pergi untuk membuang gelang ini agar roh jahat yang ada di dalam nya terkunci dan tidak bisa lagi masuk ke dalam tubuh raja Syam" Ujar Damar setelah mereka selesai sarapan. Laki-laki itu berpamitan kepada Airin. Ia harus membuang gelang itu ke sungai yang ada di perbatasan desa.
"Baik lah Damar lakukan yang menurut mu baik yang bisa menyembuhkan raja Syam" Ujar Airin penuh harapan kepada Damar yang sangat di percayai nya.
"Doa kan aku semoga tidak ada halangan dan ujian yang menganggu ku. Kamu tahu sendiri kan banyak sekali yang mencoba untuk menggagalkan proses penyembuhan ini"
"Iya aku tahu. Aku pasti akan mendoakan mu dan berhasil dalam menjalan kan ritual ini dengan selamat"
***
Damar tiba di sebuah sungai yang berada di batas desa seperti yang ia katakan kepada Airin. Ia berdiri di tepi sungai tersebut sambil memandang air yang tenang di sana.
"Tenang....damai...seperti layaknya suasana hati ku yang kini sudah merasa tenang karena dendam ku terbalas. Aku benar-benar merasa puas melihat Airin tersiksa seperti ini. Hahaha...." Ujar Damar tertawa lepas.
"Kamu pikir jika aku membuang gelang ini, akan membuat suamimu selamat? Salah Airin, kamu salah. Justru ini akan semakin membuat roh suami mu terkurung di dalam dunia lain. Perlahan namun pasti, kamu tidak akan bisa menyelamatkan nya dan pada akhir nya suami mu akan pergi menyusul bapak dan ibu mu. Hahaha...." Tambah nya lagi merasa sangat senang melihat Airin terluka seperti itu.
"Aku puas Airin, aku puas melihat kamu seperti ini. Kamu yang telah membuat ku malu. Kamu yang menuduh mu melakukan hal yang tidak aku lakukan hingga membuat ku mendapatkan hukuman. Aku menderita Airin. Tapi semua itu sudah terbayarkan melihat kamu seperti ini" Ujar nya lagi.
Hati laki-laki itu memang penuh dengan kebencian dan dendam terhadap wanita itu. Ungkapan maaf dari wanita itu tidak bisa ia terima.
Damar hanya duduk di tepi sungai sambil sesekali melempar batu ke dalam air. Hampir satu jam juga dia berada di tempat itu. Hingga akhir nya ia membuang gelang itu ke dalam sungai.
Ia menjedotkan kepala nya di pohon yang tumbuh di tepi sungai hingga mengeluarkan darah. Tangan nya ia goreng dengan batu taham untuk mengeluarkan darah. Hal itu ia lakukan untuk mengelabuhi Airin agar wanita itu percaya bahwa ia sedang bertarung dengan roh jahat untuk menyelamatkan raja Syam.
__ADS_1