
"Ray, apa kau yakin?" Lia masih tak bisa mempercayainya.
Ray mengangguk dengan mantap. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Lia. Hatinya berdegup kencang, perasaannya bercampur aduk. Ada rasa takut akan suatu penolakan.
"Ray, apa kau akan mencintai Leon seperti anakmu sendiri jika aku menerimamu?"
"Tentu saja aku sudah mencintainya saat ini, sebelum kau memintanya."
Apakah ini yang direncanakan oleh bocah kecilnya? Dia benar-benar selalu penuh kejutan. Lia masih ternganga tak percaya pada kenyataan.
"Jadi katakan padaku, Cornelia Savero. Apakah kau mau menerimaku sebagai kekasihku?" Kali ini Ray menekuk kakinya dan mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang terbuka. Di dalamnya terlihat sebuah cincin cantik dengan mata yang berkilau memantulkan cahaya matahari.
Lia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak bisa mempercayai hal yang terjadi di depan matanya. Setelah semua hal yang terjadi padanya, bahkan ia masih bisa mendapatkan sebuah perlakuan romantis dari lawan jenisnya!
Tanpa terasa setetes air mata hangat mengalir turun ke pipinya. Ia menganggukkan kepalanya dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
"Dia pria yang baik. Tak ada salahnya aku menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Dia pria yang mampu menerima gelap masa laluku dan mencintai Leon sebanyak cinta yang aku berikan," kata Lia dalam hati.
"Mami, Pak Ray." Bocah kecil itu tiba-tiba berada di belakang Lia.
Lia segera menghapus air mata yang meninggalkan jejak di pipi mulusnya dengan telapak tangannya.
"Kenapa mami menangis? Apa mami menolak Pak Ray?" tanya Leon. "Apa Pak Ray berbuat jahat pada mami?"
"Ti-tidak Leon. Mami hanya ingin bertanya kepadamu, sebelum mami menerima Pak Ray," kata Lia pada putera kesayangannya itu. "Apa kau menyukai Pak Ray? Apa kau benar-benar berharap dia menjadi ayah bagimu?"
Lia memegang pundak puteranya dan menatap kedua matanya dengan bersungguh-sungguh. Bagi Lia ini adalah keputusan yang sangat penting. Ia tak mau keputusannya membuat puteranya menjadi menderita.
Leon tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya mam. Leon mau Pak Ray menjadi daddy buat Leon."
Lia tak kuasa menahan air matanya menetes lagi. Ia tersenyum dengan air mata berlinang. Leon menyekanya dengan tangannya. "Mami jangan nangis. Leon ingin mami bahagia seperti Leon."
Ray tersenyum, ia berdiri dan segera meraih tangan Lia. Diselipkannya sebentuk cincin di jari manis tangan kirinya. "Terima kasih Lia, terima kasih Leon. Kalian sudah menerimaku dalam hati kalian. Aku akan berjuang untuk selalu membahagiakan kalian."
Ray mencium kening Lia untuk pertama kalinya. Kecupan hangat yang mendarat di keningnya. Awal sebuah hubungan baru di antara mereka, hubungan mesra sebuah keluarga.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
"Ray, jangan berbuat yang aneh-aneh. Leon bahkan belum tidur." Lia kembali menegakkan tubuhnya dari sandarannya pada dada bidang Ray.
"Leon sedang berlatih di kamarnya. Bahkan kita bisa mendengar suara gesekan biolanya dari sini," kata Ray dengan lembut di telinga kekasihnya.
Ray kembali mengecup bibir calon istrinya yang cantik. "Kau benar-benar seperti candu bagiku, Lia. Aku sepertinya tak bisa terlepas darimu," desahnya. "Apakah sebaiknya kita mempercepat pernikahan kita?"
Ray membelai lembut rambut panjang wanita yang bersandar di dadanya.
Lia tertawa terkekeh. "Ray, apa kau serius ingin mengikat diri padaku?"
"Hmm... aku benar-benar harus mengikatmu. Aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi ayah Leon," sahutnya. "Aku bisa membayangkan, mungkin aku akan menjadi gila jika kau meninggalkanku, Lia."
"Kau terlalu berlebihan, Ray. Aku bahkan bukan seseorang yang sepenting itu." Lia menepis perkataan Ray.
"Mungkin bagi orang lain kau tak penting. Tapi bagiku, kau adalah segalanya," sahut Ray. "Jangan pernah jauh dari aku, Lia."
Sebuah kecupan hangat kembali mendarat di bibir wanita cantik itu. Hingga suara biola berhenti digesek, kedua insan itu segera bangun dan duduk tegak di kursinya masing-masing.
Tak lama kemudian terdengar langkah-langkah kecil di belakang mereka.
Lia tersenyum. "Kau ingin makan apa sayang?"
"Aku ingin steak, mami," kata bocah kecil itu.
"Steak? Apa kau ingin mencicipi steak buatan chef Ray, Leon?" Ray tiba-tiba menawarkan dirinya. Ia segera berdiri dan berjalan menuju dapur kering. Memakai apron yang tergantung di dinding.
Lia segera mengeluarkan wagyu dari dalam freezer-nya dan memberikannya pada Ray. Setelah semua bahan telah lengkap di meja dapur, Lia duduk di sebelah Leon. Mereka melihat Ray sibuk memasak bagi mereka.
Lia tersenyum dalam hatinya dia berdoa, "Mungkin memang dialah jodohku. Tuhan, satukanlah kami jika memang dia jodohku. Tapi jauhkanlah kami, jika ternyata dia bukan orang yang tepat."
Leon menatap wajah ibunya. Ia merasa gembira, melihat sang ibu bahagia. Ah, seandainya dia benar-benar ayah kandungku. Daddy, siapa kau sebenarnya dan dimana kau berada.
Sepasang ibu dan anak itu asik dengan pikirannya masing-masing hingga makanan telah siap di depan mereka. Ray membuka apron yang menempel di pakaiannya dan bergabung di meja makan.
"Leon, makanlah."
__ADS_1
"Leon--" Ray melambaikan tangannya ke depan wajah bocah kecil itu. Leon tersadar dari lamunannya.
"Iya, terima kasih," katanya spontan.
"Kembali kasih," kata Ray. "Ada pikiran yang mengganggumu, Leon? Tak biasanya kau melamun."
"Ti-tidak. Aku hanya memikirkan bagaimana rumah karantinaku nanti," jawabnya sekenanya. Ia tak mungkin mendapatkan jawaban atas pertanyaan siapa ayahnya, bukan.
"Kau belum mengatakan padaku dimana kau akan menjalankan masa karantinamu, Leon," kata Lia sambil memotong steak di piringnya.
"Aku akan menetap sementara di tempat pembimbingku. Di rumah seorang juri yang aku pilih saat audisi waktu itu, mam," jawab Leon dengan jujur.
"Baiklah, dimanapun juga kau harus bersikap sopan, jujur dan tetaplah menjadi anak yang disiplin dalam penggunaan waktu," kata Pak Ray. "Aku yakin pembimbingmu adalah orang yang berpengalaman. Jadi galilah ilmu sebanyak mungkin darinya."
Lia menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Benar. Kau harus sopan dan tunjukkan kau adalah anak yang baik. Bagaimanapun juga dia lebih tua darimu. Bersikaplah hormat."
"Iya mam," sahutnya singkat. Ia kembali asik dengan garpu dan pisau di tangannya.
Tiba-tiba Lia teringat seseorang yang melintas di depannya saat mengantar Leon ke audisi. Bagaimana jika dia adalah salah seorang jurinya. Perasaannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimana jika dia adalah pembimbing Leon. Bagaimana jika dia menyadari bahwa Leon adalah puteranya. Bagaimana jika-- . Seribu pertanyaan menghujam pikirannya.
Tidak! Aku harus tak bisa terus mengira-ngira. Aku harus tahu siapa pembimbingnya di masa karantina. Aku harus tahu, dimana dia akan tinggal.
"Leon, siapa juri yang kau pilih saat itu?" tanya Lia dengan suara bergetar.
"Samuel Augusto, mam."
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.
Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.
사랑 해요
__ADS_1
salang haeyo 😘