
Jika ia pulang, maka ia akan dinikahkan dengan seorang pria tua yang bahkan usianya lebih tua dari ayahnya. Alexa merasa tak punya pilihan lain, dengan pasrah dan harapan akan seseorang untuk menolongnya, ia melangkah mengikuti pria itu.
Gadis berusia 18 tahun itu memandang lembaran kertas yang disodorkan kepadanya. Sebuah surat kontrak. "Kau hanya perlu menandatanganinya. Dan aku akan membantumu mencukupi semua kebutuhanmu."
Pria berwajah dingin itu menatapnya dengan tatapan yang aneh seperti mengintimidasinya. Alexa dengan gugup menerima pena yang diberikan kepadanya dan menandatanganinya.
"Bagus, Alexa. Kau boleh tinggal di sini. Semua kebutuhanmu akan kucukupi." Pria bernama Aleandro itu tertawa terkekeh. "Kau cukup menemaniku di saat aku membutuhkanmu."
Alexa menelan salivanya, berharap pilihan yang diambilnya bukan sebuah pilihan yang keliru. Berharap pria berwajah dingin di hadapannya tak seperti yang terlihat.
Tinggal di sebuah rumah besar, tanpa seseorang yang menyayangi benar-benar seperti seekor burung di dalam sangkar emas. Kesempatan menikmati kebebasannya hanya ketika ia sedang bersekolah. Bahkan Aleandro menempatkan beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga di sekelilingnya.
Seperti siang sepulang sekolah, ketika ia menghampiri kekasihnya. Duduk di bangku taman, melihat para pemain basket unggulan sekolahnya bertanding.
"Nicho, apa kau menyukaiku?" tanya gadis bertubuh mungil itu sambil menengadahkan wajahnya pada kekasihnya. Tangannya bergelanyut manja seakan tak ingin lepas.
"Alexa, perlukah aku mengatakannya hingga ratusan kali?"
Gadis itu mengangguk dengan cepat. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Aku ingin mendengar kalimat itu sesering mungkin. Bahkan aku ingin semua orang tahu, bahwa Nicholas adalah kekasih Alexa Wijaya."
"Alexa Wijaya, aku mencintaimu!" teriak pria muda itu.
Gadis bertubuh mungil itu memeluk leher kekasihnya, kedua kakinya berjingkat kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Sang kekasih membalas memeluknya di pinggangnya.
Tiba-tiba seseorang menepuk punggung pria muda yang sedang mabuk cinta itu. Sepasang muda-mudi itu terkejut ketika masing-masing tangan mereka dihempas dengan begitu kuat hingga terpisah.
__ADS_1
Sebuah pukulan yang keras bersarang di tulang pipinya. "Jauhi Alexa, atau kau akan kehilangan nyawamu."
Alexa berteriak dan berusaha menutupi kekasihnya dengan tubuhnya sendiri. Namun tubuh kecilnya kembali dihempas. Setelah puas menghajar remaja SMU itu, mereka menyeret Alexa pulang.
Demikian setiap hari yang dilaluinya, Alexa mulai menjauh dari kekasihnya. Ia sangat mencintai Nicholas. Ia tak ingin kekasihnya celaka karena dirinya. Ia telah memilih jalan yang salah.
Tapi siang itu, sepertinya Nicholas telah kehilangan kesabaran. Ia kembali menemui Alexa yang mati-matian berusaha menghindar darinya.
"Alexa, Alexa!" panggil Nicholas sambil terus mengejarnya. Lorong sempit di sebelah SMU mereka terlihat lengang. Tak ada seorangpun yang berlalu lalang di gang sempit tersebut.
"Nich -- jangan mendekat. Kita harus akhiri hubungan kita." Air mata gadis itu meleleh di pipinya. Tangannya mengusapnya dengan kasar.
"Apa kau marah padaku?" tanya kekasihnya.
Nicholas seperti tak mau membuang kesempatan. Ia berlari mendekat dan hendak memeluk kekasihnya yang terlihat sangat sedih. Namun sepasang mata gadis itu membulat, dengan cepat ia mendorongnya ke dinding lorong sebelum terdengar sebuah letusan.
Tubuh gadis itu roboh. Kemeja putihnya bersimbah darah. Sepasang matanya mengerjap dengan bibir yang terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya.
"Nicho, aku suka kamu," lirihnya sebelum tak sadarkan diri.
"Alexa!"
Nicholas mendekati kekasihnya, namun langkahnya terhenti ketika seseorang menodongkan pistol di punggungnya. Seorang pria bertubuh tegap lainnya mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari tempat itu.
Beberapa bulan ia habiskan untuk penyembuhan akibat sebuah peluru yang menyasar ke perutnya. Ia bahkan hampir tak dapat diselamatkan. Aleandro tak membawanya ke rumah sakit, ia memanggil seorang dokter khusus untuknya. Alexa seakan menghilang dari bumi!
__ADS_1
Saat Alexa sadar, tak ada sesuatu yang bisa ia ingat. Ia tahu namanya adalah Alexa hanya karena Aleandro selalu memanggilnya demikian. Ia tak dapat mengingat apapun. Setiap kali ia kesakitan, pria itu selalu saja memberikan sebuah pil yang dapat membuatnya melayang tanpa beban dan membuat sakitnya menghilang.
Aleandro terlihat bagai malaikat di mata Lexa. Tak ada seorangpun selain Aleandro dalam hidupnya, karena ia tak pernah menginjakkan kaki keluar dari rumah mewah itu selama bertahun-tahun. Aleandro bahkan menciptakan seorang tokoh kejam untuk membuatnya selalu ketakutan dan tidak berani melangkahkan kakinya sejengkal pun keluar dari rumah itu.
Alexa melayani kekasaran pria itu tanpa perlawanan. Melakukan segala keinginannya walaupun tak pernah dirasakan kelembutan dari sikap Aleandro. Ia menganggap semua tindakannya sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Hingga suatu saat Aleandro memutuskan untuk pindah ke Pulau Bali. Tempat dimana semua harus memiliki surat lengkap untuk sekadar keluar atau masuk. Dan Alexa semakin tak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.
Perpindahan itu membuka mata Alexa bahwa dunia ini tak hanya di dalam rumah itu saja. Pemandangan yang indah di luar sana membuat jiwanya mulai memberontak. Jiwanya tak mau lagi terkurung, jiwanya ingin hidup bebas.
Keinginan itu membuatnya mulai berniat untuk melarikan diri. Dia tak peduli, walaupun tanpa suatu tujuan, dia harus tetap keluar dari rumah itu.
"Aku telah mencukupi semua kebutuhanmu. Menolongmu mengatasi semua masalah hidupmu. Apa kau ingin tertangkap kembali oleh orang jahat itu?" Suara bass yang memekakkan telinga itu terdengar menakutkan.
Aleandro sangat kesal ketika Alexa tiba-tiba melarikan diri. Wanita itu berjongkok, menutup kedua telinganya dengan ketakutan. Namun hal itu tak meredakan emosinya. Ia terlihat semakin kesal.
"Kau kupilih dari sekian banyak gadis, namun nyatanya nol, kosong. Aku tak mendapatkan keinginanku darimu," suara itu semakin menggelegar.
Alexa tak memberinya respon apapun. Dan itu membuat pria di hadapannya menjadi semakin kesal. "Seharusnya tugasmu menemaniku, menyenangkan aku, dan melayaniku. Tapi lihat, kau terus menerus melarikan diri dariku." Pria itu menarik rambut Lexa sehingga kepala wanita itu mendongak menghadapnya. Sepasang matanya yang berkaca-kaca tak melemahkan hati Aleandro. Sebuah tamparan mendarat di pipi Lexa. "Jangan pernah lupakan, kau sudah menandatangani kontrak itu. Kau tak akan bisa lari dariku."
"Lexa, Daddy disappointed." Pria itu menatap sepasang mata wanita di hadapannya.
Wanita bertubuh mungil itu perlahan-lahan melangkah mundur menghindari pria yang terlihat menakutkan itu. Aleandro pun maju selangkah demi selangkah membuat Lexa semakin gugup dan terdesak.
Wanita itu melihat sebuah pisau buah di atas meja makan di dekatnya. Dan tanpa pikir panjang ia mengarahkannya pada pria itu. "Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!" teriaknya dengan nada putus asa.
__ADS_1