
"Ray. Disaat aku sedang pusing mencari keberadaan pamanmu, bahkan kau sedang bersenang-senang. Melakukan sebuah pernikahan." Suara bariton itu menyadarkan Ray bahwa ia sedang berhadapan dengan pimpinan tiga pria berbadan besar yang menangkapnya.
"Aku tak ada sangkut pautnya dengan urusan paketmu. Bahkan aku sudah memberikanmu kompensasi yang cukup, bukan?" Ray membela dirinya.
Terdengar suara benda di seret mendekat padanya. "Itu jauh dari kata cukup. Kau tau, paketku adalah barang ilegal. Itu berarti aku harus menemukannya dan memastikan barang itu tidak berada di tangan yang salah."
Ray terkejut menyadari pamannya telah melakukan kegiatan ekspor impor barang ilegal. Dengan siapa kini ia harus berurusan? Bahkan ia tak merasa jelas apa yang harus dipertanggungjawabkannya.
"Karena kau selalu membuatku kesal dan juga sudah tak berguna lagi, maka sebaiknya aku segera menghabisimu. Lagipula kau sudah tahu terlalu banyak."
Tiba-tiba Ray merasakan ada dua pasang tangan mencengkeram lengannya. Ray merasa ketakutan. Apakah mereka benar-benar akan membunuhku?
Terdengar suara pistol dikokang yang dengan sukses membuat nyali Ray menjadi ciut. Bahkan ia baru saja menikah, bagaimana bisa ia mati dengan cara begini.
"Tunggu, tunggu sebentar. Bagaimana jika aku ikut mencari pamanku. Aku bahkan masih sangat berguna. Aku bisa menghubungi semua kenalannya untuk mencarinya." Ray berusaha bernegosiasi. Ia harus bisa lepas dari situasi ini. Lia pasti sudah sampai di rumah dan sedang panik sekarang.
Terdengar suara gemertuk, saat pistol itu diletakkan di atas sebuah meja kayu. Ray merasakan sedikit kelegaan.
"Tiga hari. Waktumu hanya tiga hari untuk mencari pamanmu dan menemukan barang itu." Suara bariton itu kembali terdengar. "Setelah tiga hari, jika kau tidak menemukan pamanmu, maka kau akan mati. Ingat itu."
"Tiga hari, sangat tidak mungkin untuk menemukannya. Tapi--"
"Aku tidak bisa bersabar menunggumu lebih dari tiga hari. Bahkan kau sudah cukup menikmati tiga hari tambahan hidupmu untuk bersenang-senang dengan istrimu, bukan." Sebuah pukulan mendarat di rahang kirinya.
"Ingat pukulan ini, setiap kau akan bersenang-senang. Karena itu tak akan berlangsung lama, waktu akan terus berjalan."
Suara tawa yang keras membahana di ruang kecil itu. Suara tawa yang terdengar begitu mengerikan di telinga Ray. Badannya terasa lemas dan tercium anyir darah dari dalam mulutnya.
Ketiga pria itu kembali menyeret Ray ke dalam mobilnya dan menempatkannya kembali ke dalam bagasinya yang sempit.
Dengan tangan terikat dan mata yang tertutup, Ray hanya bisa pasrah. Sementara otaknya berpikir keras, kemana ia akan mencari pamannya.
Lia terkejut melihat Ray dengan tangan terikat dan mata tertutup kain terbaring di halaman.
Ia segera membuka penutup matanya dan memeluknya. "Apa yang terjadi?"
🐥🐥🐥🐥🐥
Lia meletakkan gelas berisi air mineral di depan Ray. Pria itu segera meminumnya sampai habis sebelum menceritakan hal yang dialaminya.
"Pria pemilik paket itu sangat marah. Dia hanya memberikanku waktu tiga hari untuk menemukan pamanku. Ia menuntut paketnya."
__ADS_1
"Jadi, masalah ini masih belum selesai?"
"Sebaiknya aku segera menemukan pamanku. Aku juga sangat penasaran tentang isi paket itu." Ray berdiri dari kursinya.
"Dimana kau akan mencarinya?"
"Sementara aku akan mencarinya di rumah kerabatnya. Setidaknya aku bergerak dan terus berusaha."
"Ray, berhati-hatilah."
Ray menganggukkan kepalanya. "Maafkan aku, Lia. Aku tak menyangka akan membuatmu cemas." Pria itu mengecup kening Lia sebelum melangkah keluar dari rumah.
Sebaiknya ia segera menuntaskan masalah ini sebelum batas waktu yang ditentukan.
🐥🐥🐥🐥🐥
Samuel melambaikan tangannya pada bocah kecil berseragam merah putih yang berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya.
Bocah kecil itu berlari padanya. Tas ranselnya bergoyang naik turun di punggungnya seirama langkah kakinya.
Sebuah senyuman terukir di wajah mungilnya.
"Hai, apa kau siap mengunjungi rumah produksi hari ini?" tanya Sam dengan wajah ramah.
Sam tertawa. "Baiklah anak kecil, itu tak akan menjadi suatu masalah bagiku."
"Yeay." Leon melompat kegirangan. Ia segera masuk ke dalam mobil Sam.
Hari yang sangat indah. Dia akan berkunjung ke production house ayahnya! Ini benar-benar menyenangkan.
Leon segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Sam mengikuti di belakangnya.
"Mami," kata bocah itu memeluk pinggang ibunya dari belakang.
"Leon, kau sudah pulang? Yuk kita makan, mami buat soup kesukaanmu," kata Lia. Dia terkejut ketika melihat Sam telah berdiri pula di hadapannya.
"Duduklah, makanlah bersama kami." Lia menawarkan. Wajahnya begitu tegang. Benar-benar situasi yang canggung buatnya. Masih diingatnya peristiwa malam itu, ketika Ray memukul Sam dihadapan banyak mata.
Tapi rasa canggung karena terlanjur mempersiapkan makan siang untuk anaknya, jadi mau tidak mau ia harus menawarkannya pada tamunya.
Samuel tahu benar, Ray tak mungkin ada di rumah setelah ancamannya. Sam bahkan sangat yakin Ray tak akan berhasil mencari pamannya dalam tiga hari.
__ADS_1
Sam tersenyum dan duduk di meja kaca berbentuk lingkaran itu. Sekarang adalah saat yang baik untuk mulai melakukan pendekatan pada wanita yang dikaguminya itu. Ia tak akan kehilangan kesempatan emas ini.
"Mr. Samuel, soup buatan mami adalah yang terlezat. Apa kau ingin mencobanya?" tanya bocah kecil itu.
"Tentu saja, Leon. Aku akan sangat menyesal jika menolak menu favoritmu," sahut Sam.
Leon segera mengambil mangkok soup dan menyendok untuk mengisi mangkok itu hingga dua pertiga bagiannya terisi, lalu ia menyerahkannya pada Sam.
"Terima kasih, Leon."
"Sama-sama," jawab bocah itu.
Lia menatap dua pria yang sedang menikmati makanan buatannya itu. Hatinya begitu sedih. Seandainya Sam tahu bahwa Leon adalah anaknya, maukah dia mengakuinya?
"Leon, kau sudah selesai, sayang?" tanya Lia. " Bersihkan badanmu dan gantilah seragammu."
"Mami, Mr. Sam akan mengajakku ke rumah produksinya. Kami akan membuat sebuah album." Leon begitu antusias.
"Baiklah. Tapi kau lakukan perintah mami. Basuh badanmu, dan ganti seragammu, sayang."
Leon menganggukkan kepalanya dengan patuh lalu ia berlalu dari sana.
Lia kembali dengan kesibukannya, membersihkan peralatan masaknya, hingga sentuhan di pinggangnya mengejutkannya.
"Lia, kenapa kau lebih memilih dia. Bukan aku!"
Lia melepas sebuah gelas di tangannya. Dan gelas itu jatuh ke bak pencuci piring. Lia membalikkan badannya dengan kesal.
Namun kedua pasang manik mata itu kini berhadapan, saling bertatapan berusaha mencari sebuah jawaban jujur dari pertanyaan di hati mereka masing-masing.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.
Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.
사랑 해요
__ADS_1
salang haeyo 😘