
Lia menatap sekelilingnya. Gelap dan bau lembab jamur dimana-mana. Black mengikat tangannya dengan begitu kuat. Lia berusaha terus bergerak agar ikatannya semakin mengendor.
Tiba-tiba sesuatu yang tajam dan dingin bergerak melintasi kakinya. Lia terpekik karena terkejut. Ia mengerjapkan matanya, berusaha untuk dapat melihat suasana di sekelilingnya.
Semakin lama, matanya mulai bisa beradaptasi. Sebuah gudang, sepertinya itu sebuah gudang. Ia dapat melihat beberapa lemari menempel pada temboknya dan tumpukan kardus yang tersusun tak terawat.
"Sam, tolong aku." lirihnya sedih merasa tak ada harapan lagi baginya untuk melarikan diri dari tempat ini.
Setelah tangannya menggeliat dan terus bergerak cukup lama, akhirnya ikatan dari lakban kain berwarna hitam dengan ukuran 2 inchi itu melonggar. Lia mulai berpikir mencari celah untuk melarikan diri.
Ia segera bersembunyi ketika melihat dua pria berbadan besar berjalan mendekatinya tempatnya disekap. Ia mengambil sebuah balok kayu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Cahaya yang masuk terlalu menyilaukan bagi Lia. Ia tak dapat melihat wajah kedua pria yang masuk ke dalam ruangan itu sehingga mereka dengan mudahnya merebut balok kayu dari tangannya. Kedua pria berbadan besar itu memegang tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam rumah induk.
Kedua pria besar itu masuk ke dalam rumah dengan interior yang sangat mewah, dengan lampu kristal tergantung di langit-langit ruangannya. Sebuah lukisan foto besar terpampang di dinding ruang tamunya.
Tunggu, Lia merasa mengenal pria itu. Pria di dalam foto itu! Lia meronta sekuat tenaga. Ada hubungan apa antara pria itu dengan suaminya hingga melibatkan dia.
"Lepaskan aku!" teriaknya.
Black keluar dari sebuah ruangan, dilambaikannya sebuah amplop berwarna coklat. Senyum kemenangan tampak jelas di wajahnya. Pria itu berdiri sejenak di depan Lia, ia mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Bersenang-senanglah, cantik."
Black keluar dengan langkah yang angkuh.
🐾🐾🐾🐾
Sebuah kamar dengan design yang mewah dengan sebuah ranjang antik berukuran king size berada di tengahnya. Sebuah meja rias, lemari pajangan, sebuah lemari besar berdesign minimalis berwarna putih dan sebuah foto besar menempel di dinding ruangannya.
Kedua pria berbadan besar itu mulai mengikat kedua tangan Lia di teralis ranjang. Lia meronta sekuat tenaga, ia sangat ketakutan hingga menangis.
Pria di dalam foto itu masuk ke dalam kamar. Wajahnya tersenyum sinis seolah mengejek.
"Cornelia Christa Hartomo. Ha, sang pengantin wanita. Seseorang yang berhasil membuat prianya bertekuk lutut bahkan mengorbankan segalanya." Pria muda itu berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar cantik. Sempurna. Bahkan jika dilihat dalam jarak sedekat ini." Pria itu semakin mendekatkan hidungnya pada wajah Lia.
Lia membuang muka. Berusaha menghindar dari niat buruk yang mulai terlihat. "Jangan berusaha menyentuhku, atau kau akan menyesal berurusan dengan suamiku." Lia berusaha menggertaknya.
Pria itu tertawa. "Apa kau bercanda? Dia tak akan bisa menemukanmu di sini. Kau akan jadi milikku, tenanglah. Black akan mengurus suamimu."
Lia meludahi wajah pria itu. "Jangan bermimpi."
Sebuah tamparan mendarat di wajahnya. Lia memekik terkejut. Pipinya memerah dan darah segar mengalir dari bibirnya.
"Uh... itu pasti sakit sekali," ejek pria itu sambil mengusap pipinya yang kotor.
Lia tertawa terkekeh, "Tak sesakit jiwa seseorang yang hanya bisa menculik seorang wanita." Lia kembali meludahi wajah pria itu.
"Perempuan sial!" Sekali lagi pria itu menampar pipi Lia.
"Hahaha... Kau hanya seorang pria yang sakit jiwa!" teriak Lia sambil tertawa. Ia tak lagi merasakan sakit dan ketakutan.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan sebuah senyum kemenangan dia menerimanya. "Black, kawanku. Apa kau sudah bersamanya?"
"Baiklah, kau boleh menyalakan videonya, agar sepasang suami istri ini bisa melepaskan rindunya untuk yang terakhir kali." Pria itu menyalakan kamera videonya.
"Jadi Sam, aku merasa kecewa karena kau akan mengakhiri bisnismu ini. Dan aku putuskan akan menghapus semua jejakmu, selamanya." Pria itu memperlihatkan keadaan Lia dengan kamera ponselnya.
"Troy, jangan berharap kau akan bernapas jika kau mengusik Lia!" teriak Sam.
Troy tertawa terkekeh. Ia meletakkan ponselnya di sebuah tripod dan mulai mendekati wanita tak berdaya itu.
"Sam, Sam... tolong aku!" teriak Lia dengan ketakutan. Kedua tangannya meronta namun hanya rasa sakit yang ada. Kedua kakinya terus menendang agar tak dapat di raih.
Sam melihatnya dengan kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, seekor anjing berjenis German Shepherd menggigit panttat Troy. Troy melompat ke atas ranjang, namun anjing itu terus mengejarnya.
Leon berdiri di depan pintu dengan sebuah senyum di bibirnya. "Mami, apakah aku datang terlambat?"
Lia menangis lega. Leon membantunya membuka ikatan di tangannya, sementara Troy dan anak buahnya masih disibukkan dengan Thomas, anjing German Shepherd milik Angela, teman sekolahnya. (bab 5*)
🐾🐾🐾🐾
Sam bernapas lega ketika di dalam video tiba-tiba muncul seekor anjing berjenis German Shepherd. Ia seperti mendapatkan sebuah semangat baru, dengan cepat ia berhasil mengamankan Black.
Kini Black hanya bisa menunggu kemurahan hati Sam untuk melepaskannya karena sepasang kaki dan tangannya telah diikat dengan kuat dan dibaringkan begitu saja di dalam markas mereka.
"Black tak akan ada yang tahu dan menolongmu. Markas kami tak pernah dikunjungi oleh siapapun, bagaikan rumah kosong yang berhantu." Sam mulai menggertaknya.
Black tertawa. Ia telah terbiasa, kehidupannya telah ditempa melalui masalah-masalah rumit. "Baiklah. Aku akan membiarkanmu berpikir tentang masa depanmu di sini. Tentang bagaimana kau melewati hari-harimu terikat tanpa makan dan minum."
Black terlihat mengertakkan giginya karena kesal.
"Ah-- aku akan mengunjungimu lagi. Aku penasaran berapa lama seorang Black akan bertahan tanpa makanan dan minuman." Sam memapah Brando yang terluka saat penyerangan Black sebelumnya.
"Brando, bertahanlah." Sam menyemangati anak buahnya yang mulai terlihat lemah.
🐾🐾🐾🐾
"Lia, kau tidak apa-apa?" tanya Sam saat mereka bertemu di rumah.
Tubuh wanita itu bergetar, ia masih merasa shock dengan kejadian yang menimpanya. Leon menarik tangannya untuk duduk lalu ia segera berlari mengambilkannya air minum.
"Mami, minumlah. Semua sudah berlalu." Leon menyodorkan segelas air mineral pada ibunya. Lia segera menerimanya.
Pikiran Lia terasa kacau, semua tercampur aduk. Rasa takut, marah, kesal, dan sedih semuanya berbaur menjadi satu. Apa jadinya jika Leon tak muncul tepat pada waktunya. Leon sepertinya paham apa yang dirasakan oleh ibunya. Ia memeluk ibunya erat-erat.
"Mami, semuanya sudah berlalu. Kita semua akan baik-baik saja," kata bocah kecil itu berusaha menenangkan hati ibunya.
__ADS_1
Tiba-tiba Lia berdiri dan menghampiri Samuel. Ia mengangkat tangannya dan menampar suaminya dengan sangat keras.