
"Mami, bisakah kita memberi daddy kesempatan, Leon tidak ingin keluarga kita tercerai berai lagi." Bocah kecil itu berdiri di depan pintu menyaksikan kedua orang tuanya dengan tatapan nanar.
Lia menghempaskan panttatnya ke atas ranjang. Menatap kedua pria di hadapannya dengan tatapan gelisah.
^^^"Haruskah aku meninggalkan dia, ataukah aku harus memberinya satu kesempatan lagi?"^^^
Seperti mengerti akan kegelisahan ibunya, Leon menganggukkan kepalanya. "Mami. Please," bujuknya dengan mata berkaca-kaca. "Semuanya akan baik-baik saja."
Lia menghela nafas setelah diam beberapa saat. "Leon, mami ingin bicara berdua dengan daddy. Bisakah kau menunggu sebentar di luar?"
Leon menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sedih. Namun bocah kecil itu tetap patuh, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar orang tuanya.
Lia memegang kedua lengan suaminya yang masih menekuk lututnya beradu dengan lantai keramik yang dingin. Ia berlutut pula di hadapannya. Sam memberanikan diri memandang wajah kekasih hatinya. Sepasang mata yang indah itu kini tak lagi memperlihatkan kobaran api kemarahan.
"Sekali kesempatan saja. Apa kau setuju?" Suara lembut wanita itu terdengar merdu di telinga Samuel. "Dan aku ingin semua segera teratasi. Aku ingin keluarga ini seperti keluarga normal lainnya."
"Tentu saja. Aku juga ingin menikmati hidup tenang." Samuel mengulurkan kedua tangannya dan memeluk istrinya erat-erat. Hatinya terasa sangat lega. Lagi-lagi putranya menyelamatkannya.
Tiba-tiba Sam teringat kembali pada Black. Apa yang harus diperbuatnya pada orang yang telah mengganggu ketenangan keluarganya itu. Seorang pria bayaran untuk melakukan semua perbuatan kotor orang lain. Seorang pria yang sama sekali tak mempunyai loyalitas pada relasi bisnisnya dan dengan mudahnya berbalik arah.
"Sayang, aku telah menangkap pria yang menculikmu. Tapi aku tak tahu harus bagaimana memperlakukannya." Sam tiba-tiba menceritakan kegalauan hatinya.
Lia terkejut, "Sebuah kejutan yang lain?"
"Maaf, sayang. Tapi ini bukan keinginanku. Dia -- "
"Sam, apa kau ingin berurusan dengan hukum? Aku tak ingin suamiku mendekam di penjara. Jangan sentuh dia." Lia tak ingin mendengar lagi penjelasan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya kau sudah memberiku ide bagaimana harus memperlakukan dia." Sam tersenyum manis dan mengecup lembut tatto lebah di tengkuk istrinya.
🍀🍀🍀🍀
Pria berkostum hitam itu masih tergeletak di lantai semen dengan tangan dan kaki yang terikat tali tambang bersimpul mati. Kedua tangannya mulai lecet dan berdarah karena gerakannya yang intens untuk meloloskan tangannya.
Tiba-tiba pintu ruangan sempit itu terbuka. Pria itu menutup matanya karena sinar matahari yang masuk membuat silau matanya. Terlihat bayangan sosok manusia menghampirinya. Ia memicingkan matanya, berusaha mengenali bayangan orang yang mendekat kepadanya.
Pria itu bahkan tak dapat bertanya atau bahkan meminta tolong karena sebuah lakban yang menutup mulutnya.
"Black! Kau sudah mengecewakanku. Aku selalu menganggapmu kawan yang bisa kuandalkan. Tapi begitu ada seseorang memberikanmu tawaran, puff... hilanglah arti seorang kawan."
Pria itu menarik lakban yang menempel pada mulut Black. Black meringis kesakitan, kulitnya terasa sakit saat lakban itu dilepas dengan gerakan cepat serasa dikuliti.
"Aku akan mengajukan sebuah penawaran untukmu." Pria itu mengulurkan selembar kertas perjanjian di dekat wajah Black.
Black memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas deretan tulisan yang cukup panjang di depannya. "Jelaskan padaku tentang perjanjian itu."
Black tertawa terkekeh. "Aku terbiasa hidup bebas. Aku tak bisa terikat."
"Jadi kau ingin hidup tanpa penghasilan tetap dan mati perlahan ketika usiamu sudah tua karena tak ada lagi yang akan memakai jasamu." Pria itu tertawa membalas penolakan Black.
"Baiklah. Tak perlu menunggu lama. Aku tak ingin kau mengancam nyawaku. Sebaiknya kau mati dan membusuk di sini, karena kurasa tak akan ada yang akan mencarimu bahkan melaporkan kehilanganmu." Pria itu tertawa kembali, kali ini tangannya menarik lakban hendak menutup mulut Black kembali.
"Tunggu -- Kau belum mengatakan padaku perjanjian tentang apa ini?" tanya Black. Rupanya ia tak ingin menyia-nyiakan seandainya itu adalah penawaran yang bagus.
Pria itu mendekatkan wajahnya pada Black. "Kau akan menjadi penjaga istriku! Aku tak ingin ada seorangpun menyentuh atau menyakitinya."
__ADS_1
Black tertawa keras. Semuanya terlihat sebagai sesuatu yang ironis bagi Black. Setelah apa yang dilakukannya pada Lia, sekarang ia diberikan tugas untuk menjaga keselamatannya? Apakah Sam sebodoh itu?
"Baiklah, apa kau benar-benar mempercayaiku untuk menjaga istri cantikmu, Sam?" tanyanya sementara tawanya masih terdengar di penjuru ruangan.
"Sebuah kesempatan yang kuberikan padamu. Namun kau akan sangat menyesal jika gagal melakukannya." Sam menatap kedua mata Black dengan sangat tajam. "Kau akan berurusan denganku dan satu hal yang kau harus tahu. Aku sangat mencintai istriku. Dan aku tak akan tanggung-tanggung jika kau gagal melindunginya."
"Ow... Aku sangat takut sekali." Black mengejek Sam dengan kata-katanya.
Sam mengeluarkan revolvernya, "Aku rasa kau ingin mencicipi sebutir peluru dari senjataku ini. Ah, sayang sekali. Seharusnya sebutir itu kemarin sudah bersarang di jantungmu."
Black kembali tertawa, "Jika kau tembak aku, maka aku tak akan bisa menandatangani surat perjanjian itu. Dan kau tak akan mempunyai penjaga untuk istri tercintamu."
"Bukan suatu masalah bagiku, setidaknya satu orang yang akan mengganggunya sudah kuhabisi." Samuel kembali menggertaknya dengan menodongkan revolvernya ke kepala Black.
Sebuah bayangan lain, masuk ke dalam ruangan menyusul Sam. Melihat siluetnya, Black dapat memastikan bahwa itu seorang wanita! Lia, istri Samuel.
"Hentikan Sam! Aku sudah katakan kepadamu untuk tidak lagi menyakiti orang lain." Lia menarik lengan suaminya. Sam berdiri dan kini bertatapan dengan istrinya.
"Aku sedang memberikan kesempatan pada bajingan ini untuk bertobat. Mengajaknya menjalani hidup normal bersama kita." Sam menjelaskan pada istrinya.
Lia melihat lembaran kertas di tangan Samuel dan merebutnya. Sejenak matanya terlihat bergerak-gerak membaca setiap kalimat yang terukir di atas kertas bersegel itu.
Lia menyerahkan kembali lembaran itu pada suaminya. "Sebuah usul yang bagus. Tapi kau tidak perlu memaksakan niat baikmu. Sepertinya dia membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum memutuskan menjauhi dunia hitam."
Lia berbalik meninggalkan Black dan Sam. Sam tertawa terkekeh, "Baiklah. Berpikirlah dahulu." Ia menutup kembali mulut Black dengan lakban tebal. "Mungkin rasa lapar akan membuat otakmu berpikir lebih waras."
Black ingin menyetujui perjanjian itu, namun terlambat. Sam telah menutup kembali ruangan itu dan menguncinya. Ia kembali terkurung di tempat yang sepi, gelap tanpa sebuah tanda kehidupan sama sekali itu.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian, ia melihat seorang bocah kecil masuk melalui lubang kecil pada tembok ruangan itu.
Bocah kecil itu tersenyum padanya.