Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 52. Sang Tamu


__ADS_3

"Ya, aku tahu. Pasti sangat sulit membesarkan anak sepandai Leon sendirian." Sam mengapresiasi istrinya.


Lia menggeleng, "Tidak. Dia terlalu banyak memberikan aku kejutan manis atas prestasinya sebelum kepindahan kami kemari. Dan aku sangat menikmatinya." Lia melepas tali pengikat rambutnya dan berbalik menatap suaminya.


"Ada sesuatu yang mengusik pikiranku, Sam. Tentang Black." Lia naik ke atas ranjangnya dan mulai menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Ya, katakan saja."


"Bukankah suatu ironi, dia yang mencoba mencelakaiku tiba-tiba akan kau ubah menjadi seorang penjaga untukku." Sepasang matanya menatap suaminya yang mulai beringsut masuk ke dalam kehangatan selimutnya.


"Dia seorang yang tangguh, pemegang komitmen yang kuat. Dia akan sangat berbahaya jika berada di pihak yang tidak tepat." Kini kedua pasang mata itu saling bertemu tatap. "Karena itulah, aku ingin dia menjagamu. Aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya."


Samuel mengecup kening istrinya. Tangannya membelai lembut rambut hitamnya yang panjang terurai. "Terima kasih untuk tetap tinggal bersamaku. Terima kasih atas semua jerih payahmu membesarkan anak kita. Dan aku mohon tetaplah disisiku selama-lamanya."


Segaris senyum terlihat di bibir Lia, sementara matanya telah terpejam. Hari ini benar-benar sangat melelahkan baginya.


Sebuah kecupan-kecupan lembut di tubuhnya membangkitkan gairahnya. Tanpa membuka matanya ia menggeliat. "Sam. Please. Hari ini aku sangat capek."


Pria itu mengacuhkannya. Dan memeluk tubuh istrinya lebih erat.


🐢🐢🐢🐢


Black menatap langit-langit kamar barunya. Rasanya seperti sebuah mimpi, mendapatkan sebuah tawaran yang tidak bertentangan dengan hukum. Mungkin benar, kini saatnya dia berubah. Ia mulai memejamkan matanya dan mulai terlelap dalam tidurnya.


"Alexa, Alexa!" Black mengejar gadis SMA yang terus berlari menghindarinya. Lorong sempit di sebelah SMA mereka terlihat lengang.


"Nich -- jangan mendekat. Kita harus akhiri hubungan kita." Air mata gadis itu meleleh di pipinya. Tangannya mengusapnya dengan kasar.


"Apa kau marah padaku?" tanya Black.


"Maaf, bukan kau yang bersalah. Aku merasa tak pantas." Suara isakannya semakin terdengar. "Mereka akan mencelakaimu -- jika aku -- terus --"


Black tak mau membuang kesempatan. Ia berlari mendekat dan hendak memeluk kekasihnya. Sepasang mata gadis itu membulat, dengan cepat ia mendorong Black ke dinding lorong sebelum terdengar sebuah letusan.

__ADS_1


Tubuh gadis itu roboh. Kemeja putihnya bersimbah darah. Sepasang matanya mengerjap dengan bibir yang terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya.


"Nicho, aku suka kamu," lirihnya sebelum tak sadarkan diri.


"Alexa!"


Pria itu membuka matanya. Menatap jam dinding yang masih dengan setia beredar pada porosnya. Berdetak di setiap langkahnya. "Masih pukul dua, rupanya."


Entah mengapa kenangan masa lalunya kembali menyeruak dalam pikirannya.


Gadis itu, cinta pertama dan juga cinta terakhir baginya. Saat itu dia masih sangat muda, terlalu lemah untuk mencari tahu kebenaran, terlalu lemah untuk bertindak.


Black mencoba memejamkan lagi matanya, mencoba kembali terlelap dalam tidurnya. Namun dalam pikirannya kini hanya ada sosok gadis bernama Alexa.


"Nicho, apa kau menyukaiku?" tanya gadis bertubuh mungil itu sambil menengadahkan wajahnya pada kekasihnya. Tangannya bergelanyut manja seakan tak ingin lepas.


"Alexa, perlukah aku mengatakannya hingga ratusan kali?"


Gadis itu mengangguk dengan cepat. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Aku ingin mendengar kalimat itu sesering mungkin. Bahkan aku ingin semua orang tahu, bahwa Nicholas adalah kekasih Alexa Wijaya."


Gadis bertubuh mungil itu memeluk leher kekasihnya, kedua kakinya berjingkat kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Sang kekasih membalas memeluknya di pinggangnya.


Tiba-tiba seseorang menepuk punggung pria muda yang sedang mabuk cinta itu. Sepasang muda-mudi itu terkejut ketika masing-masing tangan mereka dihempas dengan begitu kuat hingga terpisah.


Sebuah pukulan yang keras bersarang di tulang pipinya. "Jauhi Alexa, atau kau akan kehilangan nyawamu."


"Tidak!"


Pria itu kembali terbangun. Tubuhnya penuh dengan peluh bercucuran. Bibirnya berdecih ketika melihat lampu indikator pada pendingin ruangan kamarnya mati.


"Sial! Mungkin aku harus terperangkap selamanya dengan perasaanku ini." Black membanting tubuhnya kembali ke atas ranjangnya.


🧒🧒🧒🧒

__ADS_1


"Selamat pagi, apa benar ini kediaman Samuel Augusto, suami dari Cornelia Hartomo?" tanya seorang pria muda di depan pintu gerbang.


Black menatapnya dengan penuh kecurigaan. "Ada perlu apa anda mencari tuan rumah kami?"


Pria itu menunjuk ke arah sebuah mobil hitam yang terparkir di depan pintu gerbang. "Tuan Hartomo, ayahnya ingin bertemu."


Black mengeluarkan ponselnya, terlihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Namun tak lama kemudian, Lia terlihat berlari-lari keluar dari rumah utama.


Seorang pria tua turun dari dalam mobil hitam itu. Sebuah senyum merekah di wajahnya. Lia berlari memeluknya. "Papa! Akhirnya Papa kemari." Wajah Lia terlihat sangat ceria.


Pria tua itu memegang tongkatnya dan berjalan perlahan. "Bagaimana kehidupanmu, Nak? Apa kau bahagia?"


Lia tersenyum. "Semuanya berkat doa Papa."


"Ah--syukurlah. Apakah cucu pintarku sehat?" tanyanya lagi.


Belum sampai mereka ke pintu utama, seorang bocah kecil keluar dengan senyum cerahnya menghampiri mereka. "Grandpa!" serunya.


Hartomo terkekeh, pria tua itu membelai rambut cucunya yang sedang memeluknya. "Cucuku sudah besar, pintar dan tampan pula."


Samuel menyambutnya di depan pintu dengan senyum lebarnya. Hartomo menghela nafas. Tiba-tiba ia teringat kejadian delapan tahun silam. Betapa kasarnya ia mengusir putri tunggalnya gara-gara pria yang sedang berdiri di hadapannya ini.


Sam terlihat kikuk, ia menurunkan tangan yang terulur tanpa sebuah balasan. Ah-- ini bukan sesuatu yang baik. Bagaimanapun juga Sam memang bersalah. Dan bagaimanapun dia harus mencari cara agar dapat berbaikan dengan ayah mertuanya.


"Papa, Sam ternyata telah mencariku selama delapan tahun. Dan semua bukan kesalahannya. Ia tak akan bisa menemukanku karena dia bahkan tak tahu namaku." Kali ini Lia terkikik sendiri.


Lia tahu, dia harus membantu suaminya memperbaiki image-nya yang dianggap telah bersalah karena tak bertanggung jawab.


Hartomo tersenyum, bukan hanya itu yang membuat ia tak bisa menerima suami putrinya. Ia bahkan tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena harus mengusir putrinya. Dan kesalahan ini gara-gara pria ini.


"Papa, aku sudah melupakan semua yang terjadi pada delapan tahun lalu. Mari kita hidup bahagia pada lembaran baru ini." Lia melihat kegalauan di hati ayahnya.


"Lia, papa akan mencoba melupakan semuanya. Selama ini papa belum bisa memaafkan diri sendiri. Berpikiran pendek dengan mengusirmu," lirihnya.

__ADS_1


Lia menggenggam tangan Hartomo, menepuk lembut tangan berkeriput itu. "Papa. Semua sudah berlalu."


Hartomo menghela nafas panjang. "Sebenarnya ada sesuatu yang ingin papa sampaikan. Ini tentang perusahaan kita. Papa sudah tak sanggup untuk terus mengelolanya. Papa akan segera pensiun."


__ADS_2