Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 63. Bos Kecil Beraksi


__ADS_3

Semua terlihat membosankan bagi Lia. Berjalan ke sana kemari tanpa sebuah tujuan yang jelas. Ia yang telah terbiasa hidup dengan jadwal yang jelas, tak bisa menerima perubahan ini.


"Sebaiknya kita akhiri petualangan yang membosankan ini, Radith. Kita harus memanfaatkan setiap waktu dalam hidup ini." Lia memutuskan melanjutkan hal yang ingin dilakukannya tanpa menunggu lagi.


"Tapi kau tak akan bisa melakukan apapun." Radith kembali mengingatkannya. "Bahkan tak ada seorangpun akan melihat bahkan menyadari kehadiranmu."


"Dith, mungkin kita diberikan kesempatan seperti ini untuk mengetahui hal-hal tak terduga. Aku akan melihat perkembangan kantor ayah. Semoga aku bisa melihat sesuatu yang tak bisa kulihat dengan ragaku." Lia tersenyum, sebuah ide muncul di kepalanya.


.


Leon duduk di depan meja kerjanya. Mempelajari beberapa data yang disajikan di hadapannya.


"Uncle Nicho. Aku sudah selesai memeriksa pembukuannya. Angka 60 juta ini apa perlu kita laporkan pada yang berwajib untuk proses lebih lanjut?" tanya bocah itu kepada pria dewasa yang mendampinginya.


"Apa yang membuatmu ragu? Bahkan ibumu merasa begitu gemas ingin melenyapnya tikus ini." sahut Black.


"Aku perlu bertemu dengannya," kata Leonard tiba-tiba. "Aku percaya granpa telah memilih orang-orang terbaik. Dia tak mungkin melakukan hal seperti ini tanpa sebuah alasan yang tepat."


Black mengerutkan keningnya. "Aku rasa kau terlalu lembek. Seharusnya kau tidak mempedulikan hal-hal seperti itu."


"Percayalah padaku, Uncle. Mami pasti akan melakukan hal yang sama denganku." Leonard menarik sudut bibirnya, tidak memberikan pria di hadapannya pilihan untuk membenarkan pendapatnya sendiri.


"Yah.... Kau memang selembut ibumu. Terlalu baik hati." Pria itu berdiri dari kursinya dan membuka pintu ruang kantor untuk berbicara dengan Nelson, sekertaris pribadi kakeknya.


"Nels, Leonard ingin bicara pribadi dengan Ardyan. Tolong kau panggil dia kemari." Tanpa menunggu jawaban sang sekretaris, Black kembali menutup pintunya.


"Aku rasa ini akan semakin sulit, Leon. Kau akan mengikuti perasaan daripada logika." Black kembali duduk di kursinya.


"Kita butuh penjelasannya, Uncle. Jika memang perasaan lebih dibutuhkan, aku tak akan segan mengikutinya." Leonard menutup arsip di hadapannya.

__ADS_1


"Aku butuh kudapan dan jus untuk menyegarkan pikiranku. Mungkin mami tidak akan butuh 3 hari sepertiku untuk melacak keuangan kantor ini," keluhnya.


Black tertawa. "Kau cukup hebat, Nak. Tiga hari untuk melacak beberapa bulan pembukuan yang telah berlalu, bukan sebuah pekerjaan ringan. Aku akan ke kafe kantor untuk mengambilkan kudapan dan jus untukmu. Tetaplah di sini."


"Baiklah. Lagi pula, aku tak akan kemana. Aku sedang menunggu pria itu. Aku benar-benar penasaran dibawa kemana uang senilai 60 juta itu." Leonard kembali memainkan buku-buku jarinya di atas papan ketik laptop di samping mejanya.


Black mengangkat bahunya dan bersiap untuk pergi ketika tiba-tiba teringat sesuatu. "Leon, setelah berbicara dengan Ardyan, aku rasa kau harus segera menemui ayahmu."


"Iyah... Kuharap mami akan segera sadar. Daddy bahkan tak mau beranjak dari kamarnya." Suara bocah itu kembali sendu.


"Jangan terlalu khawatir. Lexa ada di sampingnya. Ia akan memberikan kabar jika terjadi sesuatu." Pria itu bergegas menutup pintu meninggalkan Leonard.


.


"Jadi, katakan padaku Ardyan. Dimana kau simpan uang itu? Seandainya kau mempunyai itikad baik untuk mengembalikannya, aku tak akan memperpanjang urusan ini." Leonard menatap sepasang pria berperawakan kecil di hadapannya.


"Jadi uang itu telah habis kau pakai?" tanya Leonard. "Bagaimana bisa uang sebegitu banyak, habis sekaligus? Apa kau berjudi?"


Pria itu menggeleng. "Aku hanya membutuhkannya."


"Baiklah.... Jika kau tetap tak ingin mengatakan alasanmu, apa sebaiknya aku menyerahkan semuanya kepada yang berwajib?" Suara lembut Leonard benar-benar membuatnya tersentak.


"Tolong, jangan laporkan pada kepolisian, Tuan. Ada seseorang yang masih harus kuhidupi." Pria muda itu mulai berkaca-kaca.


"Jadi, apa kau mau menceritakan semuanya dengan sejujurnya walau aku tak yakin aku dapat menerima alasanmu?" tanya Leonard. "Tapi siapa tahu aku bisa membantumu."


"Aku mempunyai seorang ibu yang masih harus kurawat. Dan dia...." Air mata pria itu bergulir di pipinya. Ia menunduk menyembunyikan air mata yang kembali berkumpul di kelopak matanya dan siap untuk kembali bergulir.


"Leukimia. Aku memakai uang itu untuk melakukan kemoterapi," katanya lirih. Kepalanya masih terkulai, menunduk, tak berani menatap boss kecil di depannya.

__ADS_1


"Dan sekarang, bagaimana keadaan ibumu?" tanya Leon.


"Aku berharap dia akan berangsur membaik. Walaupun kata dokter, prosentasenya sangat kecil. Tapi aku tak ingin menyerah begitu saja."


Leon menghela nafas. Ia lebih berharap pria itu menghamburkan uangnya sehingga dengan tenangnya ia dapat mengirimnya ke penjara. Kenyataannya sebaliknya. Mungkin benar kata Uncle Nicho, perasaannya terlalu lemah.


Black terkejut ketika masuk ke dalam ruangan itu. Ia seperti melihat sebuah drama yang konyol. Seorang pria dewasa tertunduk menangis di depan seorang bocah kecil.


"Ada apa ini?" tanyanya sambil menyodorkan kudapan dan segelas jus pear kesukaan Leon.


Leon tak mempedulikan pertanyaan Black. "Jadi bagaimana rencanamu untuk mengembalikan sejumlah uang itu pada perusahaan?"


"Anda bisa mengambil dari gajiku, Tuan. Aku rasa aku juga akan mengambil part time job," sahutnya. "Aku tahu, jumlah itu tidak sedikit. Tapi aku mohon dengan sangat, jangan kirim aku ke penjara. Aku masih harus merawat ibuku. Dia tak memiliki siapapun selain aku."


"Leon. Kau tidak boleh lemah. Ibumu terbaring di rumah sakit karena kasusnya. Dan apa kau yakin yang dikatakannya adalah sebenarnya?" Black mulai kesal.


.


.


.


Jadi bagaimana nasib Lia, Sam dan Leon?


Apakah Lia akan sadar dari koma?


Apa Leon akan berhasil diperdaya oleh Ardyan?


Jangan lupa klik like ya, untuk next chapter. Gumawo!! 🤗

__ADS_1


__ADS_2